“Ayo, kenapa kamu malah melamun begitu sih?” Angelo membuyarkan lamunan Sarmila yang sedang ternganga di depan gedung tinggi dengan semua dindingnya adalah kaca.
Area SCBD, yang terkenal dengan pendapatan karirnya yang wah.
“Kenapa ke sini Om?” Gadis itu lantas bertanya.
“Untuk membuatmu sukses nanti, jadi ayo!” Angelo segera mendekap kedua bahu Sarmila dan mendorong wanita itu masuk.
Mereka melangkah masuk dan Sarmila tetap tak tahu apa yang dimaksud oleh Angelo. Rupanya Angelo ingin melakukan tes bakat minat pada Sarmila. Dia bersungguh-sungguh untuk membuat gadis itu agar bersekolah lagi, mencoba untuk mengeksplore dunia kembali.
Dia sudah bersumpah di dalam hatinya, ingin membuat wanita itu bersinar dengan segala pencapaiannya.
Dia menggunakan kuasanya untuk membuat Sarmila tak lagi berada di kasta terendah dalam pekerjaan. Dia juga yang memiliki segala dukungan untuk Sarmila.
“Cepat sana masuk,” tegas Angelo yang baru saja berbincang dengan kenalannnya saat ini.
“Ish, Om, mau ngapain sih?” Tentu Sarmila masih menginginkan jawaban kenapa dirinya malah berada di gedung besar ini. Seharusnya dia bekerja hari ini, tapi karena nepotisme yang disajikan oleh Angelo maka dirinya sudah di sini tanpa harus memikirkan gaji terpotong.
Angelo pun sambil tersenyum terus saja mendorongnya.
Sarmila mau tak mau akhirnya mengangguk sopan dan menyapa seseorang yang rupanya sudah menunggu.
“Halo Bu, euhm … saya kenapa di sini ya?” tanyanya sambil menggaruk kepalanya bingung sendiri.
Wanita dengan blazer hitam dan rambut tergelung rapi itu pun berdiri dan merespon Sarmila. “Oh, ini dari hotel Menhatten Sky itu ya?”
Gadis itu berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya sesaat.
“Kalau begitu silakan duduk,” pinta wanita yang sudah nampak statusnya sebagai ibu yang memiliki anak, jelas terlihat dari wajahnya.
“Memangnya saya mau diapain Bu?” Kembali gadis itu buka suara meskipun sudah duduk di kursinya.
Wanita yang sedari tadi ramah kepadanya itu pun memberitahukan maksud kenapa Sarmila ada di ruangan ini.
Sarmila yang masuk ke ruangan dan tengah malaksanakan tes bingung sendiri. Sangat lama sampai-sampai perutnya keroncongan.
“Tau begini mah, aku bawa makanan! Mana lama! Si Om menyiksa!” ketusnya berbisik sambil terus menggambar sesuatu yang diminta.
Dia tak pernah melaksanakan tes seperti ini.
Setengah hati dia mengerjakannya, namun di saat dirinya membaca pertanyaan, kuis, cerita, ada beberapa yang menyenangkan untuknya.
Tiga jam!
“Oke, sudah selesai semuanya?” tanya wanita itu menghampiri Sarmila.
Sarmila mengangguk saja sambil meringis, dia harus segera keluar ruangan dan menodong Angelo untuk makan. Dia benar-benar disiksa oleh Angelo rupanya.
Wanita itu mengambil lembar jawabannya dan segera memperbolehkan Sarmila keluar ruangan.
Sarmila terburu-buru mencari sosok pria yang tadi membawanya, dia memindai seluruh area berharap melihat Angelo.
Kena!
Sudah melangkah dengan tegas penuh rasa emosi dan lapar, namun dia terhenti setelah jaraknya beberapa langkah lagi di depannya ada Angelo yang berdiri dan tengah mengobrol dengan seseorang.
Hidungnya kembang kempis saat melihat Angelo tersenyum kepada wanita yang menatapnya malu-malu itu.
“Ck! Bisa-bisanya dia malah senyum-senyum tebar pesona, dasar buaya buntung!” desisnya memaki.
Dia benar-benar kelaparan dan Angelo malah berbincang asyik dengan wanita yang memamerkan pahanya yang mulus dengan bokongnya yang seksi dengan rok span leather yang sudah mencetak bentuk tubuhnya.
Meorngrong sudah jiwanya.
Melihat bagaimana tatapan wanita itu tengah mengharapkan lebih dari Angelo dengan gesture pergerakan dan cara menjawabnya yang mendayu-dayu, sudah jelas bahwa wanita itu memang tertarik pada Angelo.
Dia pun memiliki ide tersinting saat ini.
Segera Sarmila berjalan kembali dan setengah meneriakkan nama Angelo diimbuhi kata lainnya, “Angelo Sayang,” serunya.
Angelo menoleh cepat saat dirinya mengenali suara siapa yang memanggilnya.
Grep!
Sarmila tersenyum lebar dan tangannya segera menggamit lengan milik Angelo, tak lupa tubuhnya juga mulai mepet-mepet di sisi pria itu.
Wanita yang tengah berbincang dengan Angelo pun terperanjat, merasa terlempar dengan panggilan itu bahwa Angelo sudah memiliki … wanita?
“Kenapa kamu memanggilku begi--”
“Ah, Sayang, dicariin kok malah ada di sini sih? Aku keburu lapar nih, yang di dalam perut juga sudah berontak, kamu kok malah ada di sini sih?” sambar Sarmila cepat agar penyamarannya dan keusilannya tak terbongkar karena ucapan Angelo.
Angelo semakin mengernyit keheranan. Sementara wajah si wanita cantik dengan dandanan sempurna itu semakin pucat, berdiri kaku. Semakin terdengar penjelasan Sarmila adalah seperti istri Angelo. Di dalam perut? Bayi mereka?
Dia tersenyum kecut, apalagi saat Sarmila malah memicing padanya dan menatapnya curiga.
“Siapa dia, Sayang?” tanyanya.
Angelo baru menyadari kalau Sarmila sedang usil. Dia pun berdeham, lantas tangannya berpindah, lepas dari rangkulan tangan Sarmila dan merangkul bahu gadis itu untuk semakin merapat padanya.
“Ah, iya, maafkan aku. Karena terlalu lama menunggumu, jadi aku sedikit berbincang dengan staf di sini. Kenalkan, dia Mikaila, namanya cantik bukan?” seloroh Angelo, mengikuti permainan Sarmila.
Sarmila sedikit tersentak begitu tangan Angelo malah berbalik memeluknya. Namun, kepalang tanggung. Dia pun tersenyum dan menjulurkan tangannya, “oh, hai, perkenalkan saya Mila,” ucapnya seolah tengah mendeklarasikan kehadirannya.
Wanita itu dengan malas menjabat tangannya. Dia sudah ingin segera kabur dari sini dari pada harus berlama-lama melihat kemesraan yang baru saja diketahuinya itu.
“Kalau begitu saya permisi ya Pak?” ucapnya sopan lantas pergi.
Sarmila menahan tawa, dia benar-benar melihat wajah kecut yang penuh terkejut karena dirinya.
Sarmila segera melepaskan diri namun Angelo menahannya, “hm? Apa maksudmu Sayang? Kok tiba-tiba memanggilku begitu?”
Dan kali ini Angelo rupanya berbalik mengerjai Sarmila.
Sarmila berusaha melepaskan dirinya, “ya karena Om bukannya nunggu aku malah asik tepe-tepe begitu, dih, udah kayak buaya buntung aja,” kilahnya cepat.
“Loh? Itu kan karena kamu lama tesnya, lagi pula no problem dong? Karena aku masih single, apa kamu yang jadinya mau menikah denganku?” Kembali Angelo berargumen.
Sarmila memutar bola matanya, jengah. Dia pun berdiri menghadap Angelo dengan wajah mendongak karena tubuh Angelo yang terlalu tinggi.
“Om! Enggak usah mulai deh, ini aku diseret ke sini, enggak bilang-bilang mau tes, aku belum makan dan Om nyiksa aku di sana tiga jam Om!” semburnya sudah mulai protes.
Angelo terkekeh mendengarnya. Dia pun segera merangkul leher gadis itu dan menariknya pergi. “Oke, ayo kita makan dan setelah ini kita akan pergi ke tempat lainnya.”
“Ke mana lagi sih om?!” Sarmila merengek.
“Kamu akan tahu nanti.”
Sarmila mendengus saja mendengarnya, moodnya hanya perlu naik saat sudah terisi penuh perutnya.
“Sudah makannya?” tanya Angelo yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat dua porsi habis digasak oleh Sarmila.
Gadis itu menyandarkan tubuhnya sambil menepuk-tepuk perutnya yang kekenyangan dan menyengir puas. Menganggukkan kepalanya karena dia sudah tak kuat untuk berbicara lagi.
“Kalau begitu ayo.”
Angelo bangkit duluan, dia membayar makanan barulah Sarmila mengikutinya dengan ogah-ogahan. Terlalu kekenyangan.
Bahkan gadis itu malah tertidur sepanjang perjalanan dan membiarkan Angelo berbicara dengan sekretarisnya melalui sambungan seluler karena memang dirinya harus bekerja.
Dia menatap Sarmila, berpikir dalam hatinya sendiri.
Kenapa dia begitu mau merelakan waktu demi gadis itu? Kenapa dirinya seolah bersemangat untuk membuat Sarmila meraih apa yang diimpikannya? Dan kenapa dirinya masih tak bisa menghilangkan perasaannya kepada wanita itu? Ah entahlah!
Dia terlalu menikmati keberadaannya di samping Sarmila.
Sambil terus menguap karena kantuk masih menyambangi dirinya, Sarmila hanya duduk menunggu selagi Angelo berbicara dengan seseorang di dalam ruangan. Sementara dirinya menunggu di luar ruangan, duduk di kursi berendeng.
Dia melihat sekelilingnya, sedari tadi banyak yang mengenakan baju perhotelan dan juga F&B seperti pelayan restoran dan juga chef.
Dia memperhatikannya terus menerus, begitu tertarik dengan sekelompok gadis yang berjalan sambil mengobrol, di tangan mereka ada yang membawa buku.
Apa ini sekolahan?
Merasa iri saat menyadari bahwa usia muda mereka dipenuhi hal menyenangkan.
Sedikit rasa iri itu menyelinap di dalam hatinya saat ini. Sepertinya dia terlalu banyak mendapatkan realita sepanjang dirinya hidup di sini.
Tanpa disadari olehnya, Angelo sudah berdiri di depannya dengan memperhatikan wajahnya. Angelo tersenyum maklum saat melihat tatapan iri yang terpancar di mata Sarmila.
“Kenapa melamun?” Angelo membuyarkan pikiran Sarmila.
Gadis itu pun menoleh, sedikit terhenyak lantas menggelengkan kepalanya.
“Enggak ada Om.”
“Ya sudah, ayo.”
Kembali Sarmila menuruti langkah kaki Angelo, entah menuju ke mana lagi. Yang jelas saat dia memasuki ruangan, di dalamnya sudah banyak tatanan meja dan juga segala hal yang berhubungan dengan perhotelan dan juga food and beverage.
“Om, kita mau ngapain?” tanyanya berbisik.
“Sudah duduk saja.”
Angelo tak mau repot-repot menjelaskannya kepada Sarmila. Pria itu malah sedang asyik dengan dengan smartphone miliknya sendiri.
Sarmila hanya mendengus saja, dia pun menyeletuk ringan, “sudah tau sibuk, sok-sokan nyulik aku ke sana ke mari, dih.”
Angelo hanya terkekeh mendengarnya.
Namun, semua perhatiannya kini teralihkan dengan seorang wanita dan pria yang tiba-tiba datang meletakkan gelas dan piring di meja mereka. Lalu diikuti dengan penyajian dessert indah yang menggoda mata dan mulut.
Sementara seorang pria datang menuangkan soda di gelas berkaki di sisi Angelo dan Sarmila.
“Om, kita mau makan?” bisiknya, merasa ingin tahu.
Tapi setelahnya, Sarmila dibuat terpukau dengan presentasi yang dibawakan oleh kedua orang yang berdiri di depan ruangan. Gadis itu melahap sedikit demi sedikit makanan dan terus saja mendengarkan apa yang sedang mereka persembahkan untuknya dan Angelo.