Sesekali Nepotisme

1678 Kata
“Om--katanya ….” Kata-kata tergantung di mulutnya begitu menyadari beberapa hari ini Angelo selalu ada di hotel. “Wah … kamu kerja sore ya?” Angelo berhenti sebentar, dia sendiri senang melihat Sarmila. “Kok Om di sini?” Kembali Sarmila bertanya. Belum sempat Angelo menjawab, Nia sudah menghampirinya. “Mil, ayo, kita sudah mau rapat nih,” selanya. Lantas dia terdiam begitu melihat Angelo. “Ha--halo Pak,” sapanya dengan gugup saat menyadari kehadiran Angelo. “Oh, halo. Kalian, bekerja keraslah!” Lantas dia mengalihkan tatapannya dan kembali tersenyum pada Sarmila, “aku pergi dulu ya? Bye ….” Sarmila yang belum tau apa-apa tentu mengangguk saja, melambaikan tangannya kepada Angelo. “Ayo Mbak, katanya mau rapat.” Sarmila kini menggamit lengan Nia, menyeretnya untuk menuju ruang rapat. Sangat jarang sekali departemen bersih-bersih mengadakan rapat seperti saat ini. “Ngomong-ngomong kok Angelo di sini ya? Dia kan udah pindah tempat kerja,” seloroh gadis itu. Nia terdiam sesaat, lantas menoleh, “kamu nih … kudet ya?” “Lah? Kudet apaan sih?” “Ya udah ayo, kita ke ruangan rapat aja dulu.” Sarmila mengangguk bersemangat, tak menyangka akan ada kegiatan lain selain dari yang namanya bersih-bersih kamar dan sejuta keanehan di dalamnya. Termasuk sprei berdarah, atau lantai kotor yang super berantakan dengan tisu di mana-mana. Mereka segera duduk, di belakang. Memperhatikan presentasi yang sedang tayang di screen, terpana menyaksikan bagaimana teknologi canggih kini mendunia. Sarmila sendiri antusias mendengarkan berbagai kalimat sambutan, dia semakin melihat bagaimana suasana pekerjaan yang halus, yang hanya bertugas berpikir saja bukannya mengandalkan tenaga seperti dirinya, kuli bebersih. “Baik, seperti yang sudah dijelaskan. Program ini merupakan program besutan dari CEO pelaksana, Bapak Angelo Vandeers.” Seketika Sarmila mencoba mencocoklogi, nama yang disebutkan tak asing sekali. “Dia … menggantikan Pak Gentala sementara waktu,” bisik Nia kepada temannya, Sarmila yang kini terbengong-bengong. “Yang benar Mbak?” Sarmila kini menatap horor, entah kenapa dia merasa kalau hal itu memang mengejutkan dirinya. Seketika list penganiayaan sudah ada di dalam otaknya, kenapa Angelo tak memberitahukan hal sepenting itu? Dia merasa bersalah karena terkadang mengganggu Angelo di saat libur, meskipun tahu kalau Angelo sibuk. Sarmila menenggelamkan wajahnya di kedua lipatan tangannya, menghela napasnya gusar. ”Kenapa kamu?” Nia kembali bertanya. “Enggak kenapa-kenapa kok.” Sarmila memilih untuk tak melanjutkan topik pembicaraan, dia benar-benar tak bisa berkata-kata . Sekeluarnya dari ruangan, gadis itu kembali banyak diamnya. Merasa kalau perlahan orang-orang yang dikenalnya akan menjauh. Gentala dengan kepergiannya yang entah kapan pulang dan Angelo yang tiba-tiba menjadi CEO dan jelas akan sibuk setiap waktu, seperti Gentala. Mengerikan saat membayangkan bagaimana jadinya dia jika tak memiliki teman lagi. Sarmila tak tahu, saat dirinya berjalan menuju halte, ada seseorang yang menunggunya. Siapa lagi kalau bukan Angelo. Pria itu berjalan di belakang Sarmila, masih diam saja sambil mengamati pergerakan sang pujaan hati. Saat Sarmila sudah sampai di halte, berdiri dan menunggu angkutan umum yang lewat. Saat itu juga Angelo berdiri di sampingnya. “Gimana rapat tadi?” Mendengar suara berat yang tiba-tiba saja terdengar, Sarmila menoleh dengan horornya. Terjeda satu dua detik menahan napas dengan degupan jantungnya yang kencang, lantas segera membentak pria itu. “Ya Allah, Om! Kok bisa-bisanya berdiri di sini?!” Wajah terkejutnya benar-benar membuat Angelo terkekeh sendiri. Merasa lucu jika membuat wanita itu kaget. “Dari tadi aku mengikutimu tapi kamu tak sadar-sadar, kenapa melamun begitu?” “Om juga kenapa di sini sih? Orang sibuk ada waktu ya buat jadi stalker aku?” sindirnya, merasa kalau Angelo ini sesuka hatinya kalau bertindak. “Ah, pantas tadi Nia bilang kalau kamu sedan bad mood. Karena baru tahu kalau aku menggantikan Gentala? Kamu kecewa karena Gentala artinya belum akan kembali?” Mendengar pertanyaan itu entah kenapa sangat menyebalkan. Dia menatap tajam Angelo, “ih! Pertanyaannya enggak ada yang lain apa?! Enggak tau apa akunya lagi kesel, bisa-bisanya enggak kasih tau sih Om? Nanti akan ada berita miring tentang aku nih, gosip di mana-mana, nanti aku kena bully gimana?” tuntutnya. “Hm, rasanya wajah kamu ini cocok sebagai ratu bully, Mil.” “Om mau ngajak gelut nih ceritanya?” Angelo menggelengkan kepalanya sambil terus tersenyum lebar. “Mau pulang denganku tidak?” Kali ini Angelo kembali bertanya. Sarmila menoleh, mendengus, “dari tadi kek nawarinnya, ish!” ketusnya. Angelo ternganga dibuatnya, lantas tertawa. Sarmila berjalan lebih dahulu, dia kesal-kesal senang juga saat Angelo menemaninya. Sementara Angelo sudah tertinggal. “Mila, kenapa kamu tak menunggu si pemilik mobilnya huh? Memangnya kamu bisa menyetir mobilnya?” “Ya enggak sih Om! Tapi udah capek dari tadi berdiri mulu, dikerjain sama om-om!” sindirnya, setengah berteriak. Mana bisa Angelo tak terhibur kalau sudah bersama Sarmila, meskipun kepalanya serasa akan pecah ketika memikirkan pekerjaannya yang tak kunjung selesai setelah Gentala meminta khusus padanya untuk menggantikan dirinya sementara waktu. Mereka rupanya tak segera pulang. Terbukti dengan Sarmila yang malah melihat-lihat menu di selembar kertas HVS A4 yang sudah dilaminating. “Om, maunya pecel lele atau pecel ayam?” Angelo masih sibuk melihat ponselnya, sudah kembali banyak laporan yang harus dia baca untuk saat ini, sekretaris Gentala benar-benar tak memberinya jeda untuk sekadar beristirahat. Tak kunjung mendengar jawaban, Sarmila pun menaruh menu dan melihat Angelo yang terus saja melihat layar ponsel. “Om, kalau mau kerja di hotel aja sana! Ngapain di sini!” semburnya. Dia sudah terlalu lapar dan Angelo semakin mengulur waktu makan malam. Angelo pun menaruh ponselnya, teresenyum dan merasa bersalah. “Maaf, benar-benar menyusahkan sekali bekerja menjadi Gentala, Mil,” keluhnya. “Ya tolak aja, suruh Mas Gennya balik Om!” dengus Sarmila. Angelo hanya tersenyum saja. “Seandainya bisa begitu Mil.” “Emang secapek itu Om jadi CEO?” Sarmila kembali membuka suara setelah dia berhasil memesan makanan dan tengah menunggunya. Angelo mengangguk, “aku bahkan kurang tidur.” “Wah … kan banyak anak buahnya?” “Tak semua bisa diserahkan kepada bawahan kita, Mila. Ada beberapa hal yang harus dikerjakan oleh kita sendiri. Seperti kamu yang harus menyuapi diri kamu saat lapar bukan?” Sarmila mengangguk setuju, namun dia merasa iba kepada Angelo. Tiba-tiba teringat perihal rapat yang ia hadiri. “Tapi ngomong-ngomong Om, soal rapat di departemen Cleaning And Service, emang Om tuh ngasih ide apa?” Sarmila tak mendengarkan rapat sama sekali, hanya masuk kuping kanan dan keluar kuping kirinya. Semprong. “Ah, bagaimana? Kamu berminat? Tapi khusus kamu, aku bisa langsung menggunakan koneksiku saja.” Angelo bersemangat mendengarnya. “Minat apaan? Om aja enggak jelasin sama aku.” “Loh? Kamu juga ikut rapat bukan, tadi?” “Ah Om, orang kayak aku cuma ikut hadir aja, serius memperhatikan sih enggak. Lumayan snack dan waktu istirahat tambahan, hihi.” Sarmila cekikikan. “Hm, jadi … aku sudah mendapatkan persetujuan untuk pengembangan skill untuk beberapa staf karyawan hotel meskipun tak semua. Tapi semua bisa mengajukan dengan beberapa persyaratan, yang memenuhi kriteria akan mendapatkan kesempatan itu. Pengembangan skill yang akan didapatkan yaitu bersekolah sesuai dengan yang diminati tapi masih dalam lingkup perhotelan.” Sarmila serius mendengarkannya, “itu gratis Om?” Angelo menganggukkan kepalanya pasti. “Wah … sekolahnya di mana Om?” “Euhm … di negara Prancis dan Italia, kami mendapatkan kerja sama di sana.” Seketika mata Sarmila membulat penuh, mulutnya sudah terbuka lebar dengan penuh rasa kagum, “waaah .. Om! Aku mau ikutan juga dong kalau gitu!” pekiknya kegirangan. Angelo terkekeh melihat reaksi gadis yang ada di hadapannya itu. “Boleh, asalkan kamu bisa berbahasa asing. Minimal inggris ya?” Seketika ciut sudah nyalinya begitu Angelo meyebutkan persyaratannya. Dia manggut saja, “dah deh Om, aku menyerah kalau gitu.” “Mil, kamu belum mencobanya, kamu bahkan belum belajar dengan serius bukan? Berapa umurmu?” Angelo mulai mengajak dialog serius kepada wanita yang jarang-jarang akan serius itu. Hanya sekali dia melihat keseriusan Sarmila, saat menangisi Gentala. “Euhm umur? 21 sekarang, Om.” “Kamu bahkan masih sangat muda. Begitu jauh dari hal yang seharusnya kamu jalani saat ini. Kamu hanya bekerja, mencari uang tapi tak membuat kamu berkembang sedikit pun. Aku sempat bertanya mimpi apa yang kamu punya bukan?” Sarmila tenggelam dengan tatapan serius Angelo. “Saatnya kamu move on Mil, jangan pikirkan soal cinta lagi. Kesempatan kamu belajar dan bisa menjadi wanita karir masih terbuka lebar.” Seketika hatinya dipenuhi harapan dari kata-kata yang Angelo ucapkan. “Apa aku bisa Om?” Dia mulai bertanya, mencari keyakinan untuk dipegang oleh tangannya. “Why not? Kamu punya aku, Mila. Aku adalah segalanya yang bisa membantu kamu meraih mimpimu. Ah, bedakan aku dengan Tuhan yang kamu anut ya? Hehe, anggap aku perantara.” Sarmila terkekeh mendengarnya. “Jadi apa yang harus aku lakukan Om? Aku mau--” Ucapannya terputus oleh perkataan Angelo, “besok, ikut aku saja, cuti saja, aku akan mengatur semuanya.” Seketika Sarmila tertawa, “haha, begini nih enaknya punya teman CEO! Lanjutkan Om! Nepotisme kita, hahaha!” Angelo seketika menoyor dahi wanita itu dengan telunjuknya, kesal sendiri dengan ucapan sumbar Sarmila. “Loh? Benar kan? Etapi enggak apa-apa lah, demi memuluskan perjalananku. Siapa juga yang mau jadi tukang bersih-bersih mulu sih.” “Haha, kamu baru sadar sekarang? Kemarin selama mengenal Gentala, kenapa kamu tak berpikir begitu juga?” Sarmila hanya bisa termangu saja memikirkannya. “Mana berani Om, Mas Gen jutek parah. Dapat kerja juga karena usil-usil aja tadinya, karena pengangguran dan cuma numpang di rumah Tante Lina.” “Lalu kenapa padaku berani?” Bertanya seperti itu sama saja membuat wanita itu berpikir keras, kenapa berbeda? “Om nih, serius tanya begitu? Ya bedalah Om! Sama Om itu teman, rasanya beda! Enggak canggung juga, kalau mengingat Mas Gen itu berjasa atas pekerjaanku saat ini Om. Kurang ajar sih kalau akunya kelewatan, dikasih hati minta jantung, yang ada kayaknya aku dipecat Om!” tuturnya berapi-api. ‘Aku tak mau hanya sekadar berteman.’ Namun itu hanyalah kalimat yang terurai di dalam hati seorang Angelo, dia masih harus berusaha lebih jauh untuk mendapatkan Sarmila. “Hm, jadi kami berbeda ya?” Sarmila sudah mengabaikan pertanyaan itu, memilih melahap pecel lele dan nasi uduk yang sudah ditata di meja mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN