Tak ada yang tahu bagaimana cinta mengubah karakter seseorang. Begitupun Sarmila, dia yang sedang dilanda patah hati pun membuat segala sikapnya berubah. Termasuk orang rumah yang tengah memperhatikannya.
Gadis itu yang biasanya sering grasak-grusuk tanpa ada tenang-tenangnya kini malah setenang lautan sebelum ada badai.
Disiplin dan tepat waktu.
Bahkan mendadak beberapa hari sebelum hari ini, gadis itu menyiapkan sarapan untuk keluarga Lina.
Lina terperanjat melihat kehadiran Sarmila di dapur. “Loh Mil? Kok enggak bilang Tante kalau mau buat sarapan,” selanya mencoba untuk segera membantu.
“Ah, enggak usah Tan, ini mudah kok.”
Keponakannya itu tak tersenyum ceria seperti sebelumnya. Hanya senyuman kecil lantas kembali fokus pada masakannya.
“Mil, kamu kenapa toh?” Lina akhirnya membuka suara ketika Sarmila memindahkan makanan ke atas meja makan.
Tapi gadis itu pura-pura tak paham saja. “Kenapa apanya sih Tan?”
“Kamu berubah banget, biasanya enggak begini.” Lina semakin resah gelisah melihat perubahan drastis keponakannya.
Dia merasa kalau keponakannya itu memang berubah, menjadi lebih baik dengan membantunya dan juga pekerjaannya digeluti dengan tekun tapi tidak dengan suasana hatinya yang terbilang hancur.
“Ah, perasaan Tante aja itu. Masa Mila bangun pagi, bikin sarapan, Tante malah bertanya-tanya sih?”
Sarmila masih mengelek.
“Mila, seorang wanita itu sangat tahu perasaannya, bahkan perubahan benda di sekitarnya saja walau sekecil apa pun akan nampak jejaknya. Apalagi kamu, keponakan Tante, yang sudah tinggal berbulan-bulan. Enggak mungkin Tante enggak tahu.” Lina menyentuh punggung tangan Sarmila, “kalau ada yang masalah kamu bisa cerita sama Tante, Mil,” imbuhnya.
Sarmila semakin pahit mendengarnya.
“Apa sih Tan? Abis nonton sinetron suara hati bapak-bapak ya sampai kebawa begini?” kelakarnya, berusaha menutupi apa yang sedang dirasakannya.
Lina mendesah kecil, mengalihkan pandangannya dan mengusap wajahnya, halus. Dia tak mau kalau kelihatan bersedih dengan hal ini.
“Ayo makan dong Tan, aku panggil Kak Meydi sama Dion, sama Bapak juga.” Sarmila buru-buru pergi, dia hanya berdiri diam di depan kamar Meydi yang tertutup.
Menghela napasnya sesaat demi membuat hatinya kembali tenang walau dipaksakan.
Setelah memanggil ketiganya untuk sarapan, dia memilih ke atas. Bersiap untuk bekerja. Hanya itu yang bisa dilakukannya untuk saat ini.
Dia menatap cermin, lalu beralih pada kalender yang dia coret-coret, memberi tanda silang di setiap tanggal yang sudah dilaluinya.
Cinta sepihak.
“Mas Gen masih enggak mau kabarin Mila?” gumamnya seorang diri.
Mengajak foto yang sengaja dia cetak lalu ditempel di kalender miliknya. Selalu dia melakukannya, berbicara sendiri seolah-olah Gentala yang nun jauh di sana bisa mendengar suaranya. Menyedihkan.
“Jahat banget sih, memangnya aku semudah itu dilupakan tah?” Kembali dia berbicara.
Dia kembali menghembuskan napasnya kasar, seolah berusaha melepaskan apa yang sedang dirasakan oleh hatinya. Termasuk berusaha untuk terbiasa dengan aktivitasnya sekarang ini.
Gadis itu keluar, menenteng tas gemblok miliknya, yang dia beli dari online. Ya, membuang duit seperti yang dikatakan Gentala. Dia memang membeli hal-hal yang tak perlu demi membuat hatinya bisa kembali terisi. Nyatanya tak bisa.
Ternyata dia terlalu lama berada di dalam kamar, begitu turun, semuanya sudah pergi. Karyono yang sudah pergi bekerja, Meydi juga dan Dion pergi kuliah.
“Eh? Sudah sepi lagi aja hehehe!” Dia malah terkekeh, melihat Lina yang menyadari kedatangannya dan duduk sambil menatapnya tajam.
Merinding seketika karena tatapan maut itu. Dia tak pernah menyaksikan Lina hanya diam dan menatap penuh menyelidik begitu.
Bau-bau sesuatu yang tak akan beres untuk saat ini.
“Mila, kamu sarapan dulu kan?”
Entah kenapa pertanyaan itu mendadak membuat tubuhnya merinding disko. Dia meringis, “iya Tan, sarapan kok. Masa udah capek-capek masak, Mila malah enggak makan sih.”
Dia duduk. Di depan Lina.
“Kamu sama Angelo gimana?”
Baru saja melahap satu suap nasi goreng, Sarmila kini sudah menelannya dengan susah payah. “Gimana apanya Tan?” tanyanya bingung.
“Angelo kayaknya suka sama kamu deh?”
Ah soal itu, sepertinya nampak sekali perasaan yang dimiliki oleh pria itu.
“Ah, enggak ada apa-apa kok Tan. Kami cuman temenan aja,” kilahnya, berdalih atas pertemanan. Padahal dia yang menolak Angelo juga.
Lina diam saja, dan Sarmila melanjutkan sarapannya perlahan, entah kenapa dia malah takut ketahuan mengunyah lagi.
“Tapi dia suka kamu kan?” Kembali Lina mencoba untuk memastikan.
Glek!
Gadis itu diam, tak menjawab. Berpura-pura sibuk dengan nasi goreng yang ada di piringnya.
“Dia pernah nembak kamu?”
Glek!
Kali ini pertanyaan itu entah kenapa tak bisa di abaikan seperti sebelumnya.
“Pernah enggak?” Kembali Lina bertanya, berusaha ingin tahu yang sebenarnya.
Sarmila mengangguk, tapi tak menjawab dengan kata-kata. Melihat reaksi Sarmila, Lina pun tersenyum, “berarti jadian dong?”
“Enggak.”
“Loh? Kenapa enggak?” Lina masih tak paham dengan anak muda zaman sekarang.
“Karena Mila enggak punya perasaan sama dia Tan, ih … kok Tante kepo amat, mana keponya telat lagi,” gerutu Sarmila sambil melanjutkan sesi sarapannya.
Lina manggut-manggut saat mendengarnya. “Oh … gitu.”
“Hm.”
Kembali Lina menatap Sarmila, “padahal dia ganteng loh Mil, bule lagi. Jarang-jarang orang bisa ketemu bule cuma-cuma Mil. Udah gitu, dia juga kaya, mapan, pengusaha sukses, masih muda juga. Cocoklah sama kamu mah, kamunya juga ayu begini.”
“Kok Tante malah cocoklogi begini?” Sarmila segera berusaha menghabiskan sarapannya terburu-buru, agar dia bisa cepat kabur.
Salah dia saat mau-maunya duduk dan sarapan, kalau kejadiannya begini mending dia segera kabur saja.
“Kalo kamu enggak suka sama dia, terus sukanya sama siapa Mil?”
Nah loh, kenapa pertanyaan itu semakin terdengar mengerikan baginya? Merinding disko ulala di tengkuknya saat ini. Pertanyaan itu membuat bulu kuduknya meremang seketika.
Glek! Glek! Glek!
Ditenggaknya s**u satu gelas yang dia sediakan memang pas untuk lima orang, tersisa susunya saja memang.
“Kamu … sukanya sama Gentala?”
Deg!
Seketika laju air yang masuk ke tenggorokannya berubah haluan, katup kerongkongannya yang tadinya tertutup kini malah terbuka.
“Huk! Uhuk! Uhuk!” Dia tersedak hebat, terbatuk-batuk karena air yang masuk ke kerongkongannya, menghalangi laju udara di sana.
“Uhuk! Uhuk!” Dia terbatuk-batuk, berdiri dan berusaha mencari air untuk dia minum. Rasanya terlalu gatal sampai sesak dan juga berair di sudut matanya.
Tapi Lina diam saja, tak membantu sama sekali. Dia sedang melihat apa yang dilakukan oleh sang keponakan.
Sarmila berdiri, lemas dengan sisa-sisa tersedak yang benar-benar menyiksa itu. Wajahnya memerah karena baru saja dia berhenti batuk hebat, napasnya masih sisa-sisa dengan air yang sepertinya belum keluar semua.
Semakin tak ada nyali untuknya menatap sang bibi, dan suaranya semakin ditelan di dalam tenggorokannya sendiri. Mendadak pita suaranya menipis sampai tak bisa digunakan untuk menimbulkan getaran agar bisa menghasilkan suara.
“Kenapa kamu malah batuk-batuk Mil?”
Dan bisa-bisanya Lina tenang begitu, sebenarnya hatinya tak tenang saat mendapatkan reaksi yang tak biasa dengan pertanyaan yang tiba-tiba terlontar dari bibirnya itu. Jelas-jelas itu jauh dari ekspektasi yang dia inginkan. Bukan pria yang sering mengajak Sarmila keluar, tapi pria yang bahkan dia tebak tak akan meladeni Sarmila untuk mengobrol.
Sarmila merah padam, merasa malu sendiri karenanya.
Dia pun duduk kembali, berusaha menghabiskan suapan terakhir nasi goreng buatannya.
‘Apa Mas Gen kangen masakan ku?’ Batinnya malah bertanya begitu, membuat hatinya mencelos juga mengingatnya.
Dia sudah sering memasakkan pria itu makanan, meskipun sama sekali tak pernah memujinya walau secuil.
“Mil, jadi kamu beneran suka sama Gentala?” Kali ini nada suara Lina berubah dari jahil menjadi lembut, begitu juga tatapan matanya.
Sarmila merasa bahwa manik yang tengah menatapnya itu mengharapkan kejujurannya.
Kepalanya mengangguk perlahan. Dan terdengar desah napas kasar dari bibinya.
“Kok bisa?”
“Emang kenapa enggak bisa Tan?” timpal Sarmila.
“Kenapa kamu baru bilang sekarang? Apa orangnya tau?” Lina kembali bertanya dan mendapatkan gelengan kepala Sarmila tanpa jawaban suara.
“Jadi ….”
“Aku lagi patah hati Tan, jadi itu yang bikin aku aneh. Apa aku kentara banget ya?” tanya Sarmila dan diangguki oleh sang bibi.
Mereka diam cukup lama. Lina pun berdecak kesal, “ck Mil, kenapa kamu sukanya sama perjaka bangkotan begitu coba?”
Sarmila terbelalak mendengarnya, baru saja bibinya tengah mencaci seseorang.
“Masa kamu patah hati sama perjaka bangkotan sih? Dia tuh … gimana ya Mil? Enggak cocoklah sama kamu, usia kalian beda jauh meskipun dia katanya perjaka yang enggak mau nikah doang dan gilani kerjanya. Tapi … kamu mendingan sama Angelo lah, toh sama-sama mapan. Dia bule loh ….”
Lah? Apa hubungannya jika bule?
Sarmila ternganga mendengarnya.
“Ya jarang orang sin nikah sama bule, Mil. Kamu nanti bisa memperbaiki keturunan, ntar kan anak kalian jadinya ganteng-ganteng cantik, blonde-blonde gitu loh, mancung!” Dengan penuh semangat Lina menjelaskannya.
Sarmila benar-benar terperangah mendengarnya, sungguh dia melihat Lina semangat sekali mempromosikan Angelo.
“Lagian, dia sering ke sini juga kan? Ajakin kamu jalan-jalan, baik banget deh. Enggak jadian aja sebaik itu, gimana kalau kamu jadi istrinya, udah jadi ratu Mil.”
“Hehehe ….” Sungguh kali ini Sarmila hanya bisa tertawa canggung mendengarnya.
“Tan, aku lagi gegana loh … gelisah, galau, merana. Kok Tante malah ngomongin Angelo sih? Enggak mau menghibur keponakannya nih?”
“Eh?” Lina terkekeh malu mendengarnya, “maaf Mil, kebablasan.”
Sebenarnya dia kasihan, kenapa keponakannya menyukai pria itu, yang seharusnya bisa saja menjadi pamannya dari pada pacar bukan?
“Lagian kamu aneh Mil, masa iya Gentala yang udah bangkotan dipanggil Mas, la wong Angelo yang masih muda banget malah kamu panggil Om, kan kebalik.”
Lina mendengus saja, kan hak dia memanggil begitu.
“Sudah Mil, kamu lupakan Gentala yang enggak jelas juntrungannya itu. Keberadaannya aja enggak tau, masa iya kamu galau terus sih? Memangnya kamu mau menunggu dia?”
“Maunya sih begitu Tan,” jawabnya jujur.
“Lah? Ngapain nunggu yang enggak pasti? Keburu kamu tuir terus tau-tau dia enggak balik?”
Semakin nelangsa lah hatinya mendengar ucapan sang bibi.
“Ih, Tante mah, kok bukannya semangatin aku malah menjatuhkan aku sih?” rengeknya tak terima.
Lina pun melihat jam dinding, mendesak Lina pergi, agar tak berkelanjutan memikirkan Gentala.