“Wahhh … bagus banget Om, jadi mau deh punya begini. Berapa Om harganya?” Wanita itu bertanya seolah dalam bayangannya akan sama dengan membeli rumah di kampung.
Dia masih mengitari area apartemen milik Angelo. Terutama mengagumi dapur sekaligus ruang makannya.
Angelo terkekeh, “memangnya kamu mau beli juga?” tanyanya, berbalik.
“Ya … siapa tau nanti kebeli, entah berapa tahun lagi, ya … mimpi dulu aja!” Sarmila terkikik membayangkannya.
“Aku yakin kamu pasti bisa membelinya.” Angelo tak turut mematahkan impian gadis itu dan Sarmila senang mendapatkan dukungan, berbeda dengan teman-temannya saat dia mengutarakan mimpi dan khayalannya, mereka akan tertawa dan mematahkannya dengan mudah.
“Jadi berapa Om? Biar aku ancang-ancang nih, kumpul duit.” Masih seberani itu Sarmila bertanya.
“Euhm … maybe, 2 milyar?”
Angelo menatap Sarmila, dan wanita itu sampai membuka mulutnya lebar-lebar begitu mendengarnya. Dongkol sendiri membayangkan bahwa harganya tak main-main.
“Yah … itu mah aku harus kawin sama tua-tua biang kerok dulu Om,” dengusnya. Lalu kembali mengitari apartemen milik Angelo.
Dia nyaman dengan apartemennya. Entah kenapa, ini menjadi salah satu yang dia kagumi. Hasil arsitek yang memang jelas tak main-mainnya.
Dia lantas mengusap sofa yang ada di depan televise. Merasakan lembutnya si kulit asli itu.
Angelo membuka kulkas, mengambil soft drink kalengan dan membawanya. Lalu menyodorkannya pada Sarmila.
“Ini. Sedari tadi kamu berkeliling, memangnya tak haus?”
“Thank you Om!” Wanita itu berkedip genit.
Mereka duduk berdua, di tengah berantakannya apartemen yang baru ditempati oleh Angelo itu. Barang-barangnya masih berada did alam kardus besar yang belum terbongkar sama sekali.
Keduanya diam. Menikmati kondisi dan suasana yang ada di dalam apartemen. Meskipun hanya diam, namun Sarmila merasa sedang menjelajah.
Tak ada yang ingin memulai percakapan sebelum akhirnya Sarmila bertanya sesuatu pada Angelo.
“Om?”
“Hm?”
“Memangnya Mas Gen kapan baliknya?”
Angelo pun menoleh, melihat Sarmila dari sisi kanannya. Dia menegakkan tubuhnya kembali, duduk tegak sambil menatap serius.
“Kamu … benar-benar jatuh cinta dengannya?” tanyanya memastikan.
Sarmila menoleh, menatap serius Angelo. Mengangguk. Tak ada kebohongan di balik iris coklat milik wanita itu, entah kenapa netranya tak bisa berbohong soal ini.
“Bagaimana kamu tahu, kamu jatuh cinta dengannya?” Kembali Angelo bertanya. Sebenarnya sudha pahit dengan jawaban gadis itu. Tapi dia juga ingin tahu.
“Hati enggak bisa berbohong Om. Meskipun Mas Gen cuek, enggak respond, tapi … hati aku tetap suka. Rasanya deg-degan kalau liat dia. Beda, beda kalau aku cuma suka Om. Enggak akan kepikiran sampai saat ini.”
“Cinta juga akan hilang, Mila.”
“Kenapa Om?”
Sarmila menunggu, berharap ada jawaban yang bisa dia temukan soal Gentala. Satu sisi yang tak bisa diungkapkan olehnya adalah bahwa dirinya juga tak bisa menjabarkan bagaimana perasaan cinta itu sendiri.
“Mungkin … Gentala tak akan pernah kembali ke sini.”
Deg!
Pernyataan itu sungguh membuat semua yang dia pegang runtuh seketika. Dia yang berniat menunggu sampai Gentala kembali sudah dipatahkan terlebih dahulu.
Suaranya tertelan, susah untuk berkata-kata.
“Dia … belum tentu kembali, Mila.” Angelo menatap tepat pada manik coklat Sarmila. Serius dengan perkataannya saat ini.
Seketika semakin rasanya sakit. Mendengar hal yang paling tak ingin dia dengar malah sudah dilemparkan kepadanya.
“Ke--kenapa?” Hanya itu yang bisa dia tanyakan.
Sudah kosong otaknya begitu mendengar pernyataan Angelo.
Angelo menghela napasnya, diam. Tak bisa berkata-kata apa-apa lagi. Memang Gentala yang memberitahukannya begitu. Sepupunya sedang kesulitan. Namun, dia juga tak bisa menceritakan apa-apa kepada Sarmila. Dia tak berhak atas itu.
Angelo diam saja. Sarmila juga sudah kehilangan apa yang ada di dalam pikirannya. Semuanya buyar, ambyar. Tangannya bergetar, membayangkan dia tak akan pernah bisa bertemu dengan Gentala lagi.
“Padahal aku belum berterima kasih padanya,” lirihnya.
Angelo bisa mendengarnya juga. Dia ingat bagaimana mereka bertiga bertemu di awal. Gentala lah yang mempertemukannya dengan Sarmila. Sarmila yang juga ternyata menaruh rasa pada pria itu.
Sayangnya, Sarmila sudah tak bisa menangis meskipun hatinya lara. Dia hanya bisa menghela napasnya yang terasa berat bak ditimpa ribuan kilo batu di sana. Hatinya kosong dan hampa, dia kehilangan apa yang menjadi tujuannya.
Dia belum menyatakan rasa cintanya dan dia yang kini dipatahkan untuk menunggu. Perasaannya seolah harus sudah hilang di tengah ketidak pastian.
Dia sudah hilang rasa untuk bersedih. Menangisi cintanya yang kemungkinan tak akan kembali lagi.
Dan ini … sudah minggu ketiga dirinya hampa, tak ada sosok yang bisa dijahili maupun dia ganggu. Tak ada sosok yang akan memberikan nasihat melalui kata-kata pedasnya. Kenapa Gentala yang hadir sesaat begitu berarti padanya?
“Kau tak makan?” Angelo bertanya, sudah satu jam berlalu dengan gadis itu diam saja dan menatap kosong televise yang menyala.
Menayangkan sebuah tayangan drama korea yang dia sendiri tak paham dan gadis itu sudah tanpa ekspresi.
Angelo menghela napasnya, merasa kasihan. Padahal ini bisa menjadi kesempatan baginya agar bisa menarik hati Sarmila mendekat tapi dia malah tak tega.
Angelo membawakan dua piring makanan yang dipesan melalui aplikasi online. Menaruhnya di atas meja yang menjadi sela antara televise dan sofa.
“Mila.”
Sarmila mendengarnya, dia menoleh namun tatapannya kian datar.
Angelo seolah melihat sosok yang paling dia tak mau temui. Seseorang yang depresi dan kehilangan arah dan tujuannya.
“Apa kamu mau menyusulnya?” tanyanya tiba-tiba.
Entahlah, kenapa juga dia malah menawarkan sesuatu yang membuat dirinya menyesal sendiri karena kehilangan kesempatan.
Mata Sarmila berkedip-kedip pelan. “Maksudnya?”
“Apa mimpimu selama ini?”
Ditanya mimpi, entah kenapa sekarang menjadi momok yang tak dia pahami. Dia menggeleng menjawab dengan penuh kejujuran.
Angelo duduk berganti arah, menghadap Sarmila. Dia menarik bahu wanita itu agar mau menghadapnya. Dan mereka duduk saling berhadapan.
“Kamu tau apa yang aku pikirkan saat pertama kita bertemu?”
“Apa?”
“At first impression. I think you are unique! You know that?”
Mendengar kata unik, setidaknya Sarmila tahu bahwa yang tengah Angelo puji adalah dirinya.
“Kamu tahu? Apa yang menjadi tanda tanyaku saat itu? Bagaimana seorang gadis bisa mengenal Gentala? Apa yang kamu miliki sampai Gentala mau bersusah payah mengurus seorang calon karyawan yang jabatannya hanya bersih-bersih saja?” Angelo kini menatap Sarmila semakin serius.
“Dan kamu tahu apa lagi fakta tentangmu yang membuat ku semakin terkejut?” imbuhnya.
Sarmila menggelengkan kepalanya.
“Adalah bahwa kamu seorang janda, wanita berstatus istri yang kemudian bercerai.”
Sarrmila terkekeh, merasa menertawakan dirinya yang terbilang memiliki nasib yang buruk. “Apes ya Om hidup saya?” tanyanya.
Angelo seketika menggelengkan kepalanya tegas. “Siapa yang berkata begitu?”
“Banyak. Setiap orang yang tau aku bercerai, mereka akan mengasihaniku, Mbak Nia, Tante Lina, staf HRD, staf hotel dan juga … para tetangga.”
Angelo menelan ludahnya kasar. Merasa kering tenggorokannya secara tiba-tiba.
“Tante Lina bahkan bilang hidupku memang tak mujur. Dinikahkan di usia belia, dan juga dicerai karena tak kunjung hamil. Aku hanya istri kedua yang dijadikan cadangan agar mantan suamiku bisa memiliki keturunan, Om.”
Fakta menyakitkan apa lagi yang sedang dirinya dengar dari bibir Sarmila.
Angelo seolah sedang ditusuk tepat di jantungnya. Perih, nyeri dan menyakitkan. Ternyata, senyuman yang selalu gadis itu berikan rupanya adalah sebuah perisai kehidupannya yang sudah lara.
“Aku … harus kehilangan orang tuaku saat aku belum siap, aku kehilangan keluarga saat aku sudah dibuang Om. Kadang aku berpikir, mungkin Tuhan memang memberikanku hukuman atas yang keluargaku perbuat.”
Wajah Angelo mengeras seketika. Dia tak terima saat Samila menyalahkan dirinya atas situasi yang sedang mengarah padanya.
Grep!
Dia sudah tak tahan mendengar derita yang gadis itu tuturkan. Tangannya menarik tubuh Sarmila cepat dan dia memeluknya erat. Sangat erat sampai-sampai dirasa tulang-tulang gadis itu patah seketika dan kehilangan ruang untuk bernapas.
“Om--sesak ….” Sarmila berusaha melepaskan dirinya.
“Diam saja. Jangan kamu lepaskan. Aku sedang memberikan kekuatan padamu.”
Entah kekuatan yang seperti apa yang dimaksud, gadis itu hanya bisa melemaskan tubuhnya agar dirinya tak merasa kesakitan dan juga bisa sedikit bernapas.
Angelo sedang memaki dalam hatinya. Kepada orang yang telah tega berbuat jahat dan menghancurkan kehidupan gadis itu termasuk mendiang orang tuanya.
Setega apa sampai gadis remaja dinikahkan untuk dijadikan istri kedua? Sekejam apa sampai gadis itu mengalami perceraian dan seorang diri?
Berapa banyak wanita yang mengalami hal yang sama dengan gadis yang ada di pelukannya itu?
Rasanya dadanya terasa dihimpit kencang sampai jantungnya pun terasa begitu susah untuk berdetak.
Menyakitkan.
“O--Om … lepas dong! Enggak bisa napas ini!” sentak Sarmila berusaha mendorong Angelo.
Barulah Angelo melepasnya. Kali ini tatapan matanya yang jenaka dan jahil pun berubah. Sarmila tak senang menerimanya, tatapan yang sama yang diberikan orang-orang kepadanya. Selama ini, dia senang berada di sisi Angelo karena pria itu saja yang tak mengasihaninya.
“Om enggak usah kasihan sama aku, aku udah biasa kok. Udah baik-baik aja,” ketusnya berusaha mengalihkan tatapannya dan sedikit menjauh.
“Tidak, aku bukan kasihan kepadamu. Tapi aku kasihan kepada orang tuamu yang tak sempat menyadari keputusannya yang salah.”
Deg!
Sarmila menoleh, menatap Angelo dengan terkejut.
“Aku mengasihani mantan suamimu yang tak bisa menghargai kehadiran dirimu. Persetan dengan dia yang terlalu bajingann itu.”
Mendengar penuturan Angelo malah membuat Sarmila tersenyum. Hanya Angelo yang membela kondisinya.
“Kamu mau membalas dendam kepada mantan suamimu?”
“Hah? Hahaha mana ada, aku emang punya apaan sih Om?”
Sempat terlintas untuknya bisa membalas dendam atas perlakuan Cakra kepadanya, tapi itu hanyalah angan-angan saja.
“Apa kamu tak mau menunjukkan bahwa kamu bukanlah wanita biasa? Kamu wanita kuat dan kamu adalah orang yang berani mengambil mimpimu untuk diwujudkan?”
Entah kenapa Angelo berkata begitu, yang jelas ucapan itu membuat Sarmila berani membayangkan mimpi-mimpi yang dulu sudah dia buang.
“Memang bisa Om?” tanyanya.
“Memang apa impianmu?”
“Banyak Om. Aku mau jadi chef, mau punya mobil, mau menjadi wanita berkarir yang punya karyawan dan jabatan. Aku mau beli rumah, keliling dunia juga.”
Entah hal sembrono apa yang sedang gadis itu lakukan namun Angelo menyanggupinya.
“Ayo kita wujudkan impianmu itu.”
“Eh?”