Terlalu menyedihkan bagi wanita yang baru saja kehilangan cintanya. Cinta yang membuatnya bersemangat kini sudah perlahan hilang. Seharusnya hilang, tapi tidak saat hatinya masih menyimpan cinta.
Baru saja gadis itu ingin keluar dengan penuh semangat, Lina menyapanya.
“Mau ke mana Mil?” tanyanya.
Sarmila menoleh dan menatap polos sang bibi. “Mau bersihin rumah Mas Gen, Tan,” jawabnya.
Lina sedikit terkejut mendengarnya, pasalnya kemarin dia baru saja diberitahu. “Loh? Kamu masih bersih-bersih ke sana?” tanyanya tak yakin.
Sarmila diam dan mengangguk. Dia sudah merasa janggal dengan pertanyaan Lina, sangat jarang Lina akan bertanya begitu.
“Memangnya kenapa Tan?” tanyanya kembali.
“Oh itu … kayaknya Angelo belum cerita ya?”
“Cerita apa Tan?” Sarmila semakin bingung dibuatnya.
“Itu, dia kemarin cerita katanya hari ini dia pindah ke apartemen. Jadi rumah Gentala kosong.”
Mendengar perkataan Lina membuat gadis itu tercenung. Merasa terkejut dan bimbang. Kenapa Angelo tak bercerita padanya?
“Tapi aku masa enggak dibilang soal udahan bersih-bersihnya sih Tan? Tante Linda enggak bilang apa-apa gitu sama Tante?” Sarmila mencoba memastikan.
“Wah, dia enggak telepon-telepon Tante juga sejak Gentala pergi.”
Sarmila semakin merasa kecewa, dia hampa. Tak pernah dia merasa kehilangan banyak hal yang sudah menjadi kesehariannya itu. Menjadi teman kala dirinya selagi tinggal di rumah Lina.
Dia mengangkat pandangannya, melempar senyum, “ya sudah deh Tan, aku ke kamar lagi aja. Nonton drama hihi.” Wanita itu cekikikan, memperlihatkan bahwa dia selalu ceria tapi berbeda jauh dengan kondisi hatinya.
Padahal pikirannya kosong, bahkan dia hanya bisa bengong saja selagi dia duduk di atas kasur. Matanya memandang menerawang tembok yang ada di depannya. Tak tahu apalagi yang bisa dia lakukan, hatinya terlalu hampa.
Kembali dia melihat ponselnya.
Entah kenapa banyak sekali pesan yang dikirimkan kepada nomor Gentala meskipun sudah tak aktif dan hanya meninggalkan tanda checklist saja.
Ah, apa yang sedang diharapkannya saat ini?
Bahkan dia sendiri seolah kehilangan separuh nyawa dan semangatnya.
Kembali dia berbaring, padahal dia sudah bosan tidur saking tak ada lagi yang bisa dikerjakannya. Dia sendiri ogah untuk menghubungi Angelo meskipun sudah tahu nomornya. Dia benar-benar kehilangan minat, merasa Angelo engah berusaha berkhianat. Padahal, apa hubungan mereka?
Tapi, dengan Angelo yang tak berkata apa-apa dan memberitahukannya saja sudah bertanda bahwa mereka hanya sekadar berteman yang tak penting.
“Kayaknya aku memang cuma upil yang nempel di roda motor Rossi yang lagi balapan aja, enggak kelihatan sama sekali,” desahnya sambil memejamkan matanya.
Tidur pun sudah bosan, sampai kepalanya sudah pusing tujuh keliling akibat kelebihan tidur.
Drrrt … drrrt ….
Getaran di ponsel setidaknya membuat Sarmila mau tak mau batal memejamkan matanya untuk kembali tidur. Dia melihat nomor kontak yang menghubunginya, ah rupanya Angelo.
Mendadak dia kesal, teringat cerita Lina.
Segera dia menerima panggilan itu dan berujar ketus, “apa sih Om? Tumben amat nelepon?”
Angelo sedikit mengernyit, “memang tidak boleh ya?” tanyanya.
“Hm, udahan pindahannya? Masih ingat aku nih?” Kembali Sarmila menuduh Angelo.
Angelo paham maksud perkataan Sarmila, dengan sesal dia pun berkata, “sorry, bukan maksudku begitu. Hanya saja aku ingin memberitahukan kamu saat sudah beres. Ternyata kamu sudah tahu.” Dia meringis sendiri.
Baru saja dia sampai di apartemen yang dipilihnya, merasa lelah sampai lupa untuk memberitahukannya kepada Sarmila.
“Au ah gelap! Dah sana! Lupain aku aja kayak Mas Gen yang tiba-tiba pergi!” sewotnya.
Angelo semakin meringis, tak tahu kalau respon Sarmila sebegitu kesalnya. Ah, jika diingat, Sarmila selalu seperti adik yang menggemaskan. Sayangnya, hatinya masih saja menginginkannya.
Dia berdeham sedikit, “ehm … mau lihat apartemenku tidak?”
Sejenak Sarmila diam, dia beringsut bangun. Duduk bersila di atas kasurnya dengan rambut terurai kusut dan wajah kumal karena belum cucu muka.
Hanya mendengar keheningan saja semakin membuat Angelo tak enak hati. Dia pun menekan ikon video, mengubah panggilan chatting miliknya menjadi video call.
Tut … tut … tut ….
Sarmila pun memisahkan ponsel dari sisi telinganya. Melihat apa yang dilakukan Angelo. Ibu jarinya menggeser ke atas, lalu dia melihat wajah tampan Angelo. Ah, seandainya dia bisa meminta dengan sesuka hatinya untuk jatuh cinta pada Angelo, pasti mereka sudah berpacaran saat ini.
“Ngapain VC?” tanyanya galak.
Angelo sedikit menyipit saat di layarnya belum berubah menjadi wajah gadis itu karena sinyal yang ngadat. Tapi begitu layarnya sudah menampilkan apa yang ingin dilihatnya, dia malah shock sendiri.
Wajah Sarmila sudah seperti Sadako yang keluar dari layar televisi. Menyeramkan!
“Euhm Mil,” panggilnya sambil membuat jarak dengan smartphone yang ada di tangannya.
“Apa sih Om?!” Semakin galak lah Sarmila.
“Kamu … sudah mandi?”
“Ya udahlah Om! Aku mah rajin tau!” Dan kenapa juga Sarmila menjadi super sensitif begini.
“Kenapa kamu marah-marah padaku?” Angelo merasa tak terima dengan nada tinggi gadis itu.
“Ya abis Om itu! Enggak jelas banget!”
“Tak jelas bagaimana? Aku menghubungi kamu juga karena aku ingin menjelaskan situasinya kepada kamu,” selorohnya berusaha untuk menjelaskan tujuannya.
“Alah! Bilang aja mau pamit kan? Enggak mau temanan lagi sama aku!” tuduh Sarmila berapi-api.
“Pamit bagaimana? Ya Tuhan, Mila … kalau kamu marah-marah terus aku tak jadi datang ke sana menjemput kamu!” putus Angelo tiba-tiba.
Seorang pria mana pun akan sangat kebingungan ketika wanita merajuk dan marah tiba-tiba begini. Memangnya akan ada kalimat yang muncul di dahinya sehingga dia bisa tahu kondisinya?
Mendadak Angelo ikut menggerutu.
Mendengar pembelaan Angelo, Sarmila merasa ingin tahu.
“Kenapa Om tiba-tiba pindah? Pindah ke mana? Terus rumah Mas Gen gimana Om?” tanyanya beruntun.
Angelo sedikit ringan mendengar Sarmila yang kembali bersemangat. “Yah … karena pekerjaanku sudah pindah, akan jauh kalau dari rumah Gentala. Aku hanya pindah ke apartemen kok, kamu bisa datang kapan saja.” Ah, seolah dia mempersilakan Sarmila untuk mendapatkan privasi spesial darinya, padahal dia tak pernah begitu sebelumnya.
Sarmila diam mendengarkan.
“Rumah Gentala akan begitu, diam dan ya sudah, tak berpenghuni,” tutur Angelo kembali.
“Ya udah Om jemput aku!” perintah Sarmila tiba-tiba.
Angelo terkekeh mendengarnya, “ya sudah, jangan marah-marah lagi. Kalau kamu masih marah-marah, aku tak jadi ke sana.”
Sarmila mendesis kesal, namun akhirnya melempar senyumannya meskipun tak tulus di mata Angelo. “Iii … sudah nih, aku sudah enggak marah lagi.”
Sedikit mengobrol berbasa-basi, mereka pun akhirnya mengakhiri sesi panggilan video dan Sarmila menunggu Angelo menjemput.
Setidaknya, jika Angelo menjemput dirinya dan mereka mengobrol, maka dia tak akan lagi kesepian seperti ini. Dia belum terbiasa untuk menjadi sendirian lagi. Pada akhirnya dia butuh seseorang untuk bercerita.
Selagi menunggu, dia malah melihat-lihat galeri smartphone. Sedikit banyaknya dia diam-diam mengambil foto Gentala, mengabaikan wajah pria yang dicintainya itu.
“Milaaa!” Suara Lina yang memanggilnya dari bawah pun terdengar.
Gadis itu segera keluar kamar dengan bersemangat dan turun ke bawah.
Dia melihat Angelo yang bediri dan mengobrol dengan Lina.
“Om!” panggilnya kencang, membuat Angelo mengalihkan pandangannya dan Lina menoleh kepadanya, terkejut dengan panggilan yang disematkan oleh keponakannya itu. Merasa shock, padahal Angelo tak beda jauh umurnya.
Sarmila menghampiri keduanya dengan wajah semringah.
Sementara Lina ternganga, pucat saat melihat Angelo. Apa … pria itu baik-baik saja dipanggil begitu oleh keponakannya?
“Sebentar ya Angelo,” ucapnya menyela.
Dia menyeret Sarmila menjauh.
“Mila, kamu manggil dia apa tadi?” tanyanya.
Dengan polosnya Sarmila menjawab, “Om?”
“Mila … kok kamu--kenapa kamu manggilnya begitu?” Lina frustrasi sendiri.
Padahal kemarin dia baru saja berpikir kalau … Angelo dan keponkananya itu … sedikit memiliki hubungan spesial, tapi kenapa sekarang seperti … Pria bandot yang menyimpan anak perawan?!
“Mila ….” Lina sedikit rungsing.
“Apa sih Tan? Itu aku manggil dia Om ada ceritanya, dan sampai sekarang ya udah enak aja manggil begitu, lagian dia enggak keberatan kok. Ih, udah deh Tan, Mila ke depan dulu.”
Dan gadis itu meninggalkan Lina yang masih shock mendengarnya.
Di luar eskpektasi dirinya. Sarmila selalu memiliki hal yang out of the box.
“Om, kita mau ngapain?” tanyanya menghampiri Angelo.
Angelo sedikit menghela napasnya, lupa kalau yang dihadapinya adalah Sarmila. Wanita itu malah memakai baju tidur bermotif beruang. Kenapa harus baju tidur di siang bolong begini?
“Memang maunya ke mana? Mau membantuku membersihkan apartemen hm?” Angelo malah berpikir begitu.
Sarmila mengangguk bersemangat, “iya, tadi Om bilang mau ngasih tau apartemen Om kan? Ya udah ayo!”
“Tapi berantakan Mila, sepertinya kita ke Warmindo saja, sudah lama aku tak kesana,” cetusnya tiba-tiba. Dia malu sendiri jika mengundang gadis itu ke unitnya yang sedang berantakan dan belum ditata.
Sarmila membuka mulutnya ikut terkejut. “Yah Om! Kalau cuma indomie mah aku masakin aja di rumah kali! Ngapain ke warung cuma buat makan indomie, enggak asik nih!”
“Supaya tak biasa, jarang-jarang kamu mencoba bukan? Ah sepertinya tak pernah deh.”
Sarmila diam, dia memang belum pernah. Tapi sepanjang dia melihat di media social, dia tak berminat sama sekali. Karena sama saja bentuknya, mi instant.
“Ayo Mil, aku yang bayar loh …” Angelo membujuknya.
Mendengar hal gratisan, tentu akan disambut suka rela.
“Ayo deh Om!”
Lihat kan?
Keduanya sudah duduk di kursi panjang dengan meja yang yang memanjang juga. Dia depannya terdapat rak berisi barisan mi instant dengan merk nasional itu.
“Om, pesankan aku yang paling mahal ya?” ucapnya dengan angkuh.
Angelo tertawa saja. “Oke, Tuan Putri.”
Sarmila bersemangat, dia duduk tenang sambil menggoyangkan kakinya saja. Tersenyum melihat keadaan sekeliling yang sepi.
“Pak, saya pesan dua, yang satu kuah dengan kornet, sayuran dan telur rebus setengah matang. Dan yang satu lagi … mau goreng atau rebus?” tanyanya melihat Sarmila.
“Goreng, telornya dua, goreng rebus setengah matang, kornet, sayuran dan sambalnya level 3!” tutur Sarmila penuh energi.
Angelo hanya bisa ternganga dibuatnya, benar-benar ajaib. Tadi misuh-misuh sekarang rusuh. Hanya Sarmila yang begitu.
Dan kehampaan Sarmila sejenak hilang tak berbekas karena kehadiran Angelo.