Sarmila cemberut sepanjang perjalanan pulang. Dia sudah tak berminat berbicara, merasa lelah karena menangis, padahal dia sudah membuat perutnya kenyang. Lama kelamaan dia malah mengantuk, sedangkan Angelo berusaha menyetir dengan baik. Bahaya jika malah terjadi kecelakaan nantinya.
Bahkan di layar smartphone miliknya yang menyala pun, terlihat jam yang sudah menunjukkan hampir 12 malam. Itu artinya mereka pulang terlambat. Dia sedikit meringis karena janjinya akan pulang sebelum jam 10 malam.
Wanita itu segera turun begitu dibangunkan, menahan kantuk tak bisa membuat dirinya tetap sadar sepenuhnya. Lupa mengucapkan terima kasih dan juga basa basi busuk sedikit untuk Angelo.
Angelo hanya menggelengkan kepalanya saja, takjub.
Paginya, Sarmila malah ribut sendiri. Dia mendapatkan shift pagi dan terlambat!
Dug dug dug!
“Tante kok enggak bangunin Mila sih?” teriaknya sambil menyambar segelas s**u yang sedang diminum Dion.
“Eh … itu punya gue Mil--”
“Tante kira kamu masuk shift siang? Kan kamu semalam pulang aja terlambat, enggak biasa-biasanya,” timpal Lina yang sudah biasa melihat tingkah laku sembrono milik keponakannya.
Dion, anak bungsunya sudah misuh-misuh. “Ish! Lo mah ya, susunya itu juga!” semburnya kesal.
Sarmila meringis, “sorry, telat aku. Daahhhh semua!”
Gadis itu sudah melesat pergi, dia benar-benar kesiangan. Dia melihat jam di tangannya, bahkan tersisa 30 menit lagi untuknya agar bisa tepat waktu.
Ada dua harapan yang sedang dipikirkan olehnya, yaitu antara angkutan umum yang segera lewat atau Angelo dengan Gentala, satu paket lewat dan menawarkannya.
Sayangnya, harapan kedua sudah pupus, tak mungkin. Gentala sudah tak ada di sini dan Angelo pasti sudah pergi bekerja. Dia teringat kalau Angelo akan bekerja dengan tempat yang berbeda. Itu artinya hanya tersisa dia seorang di hotel Menhatten Sky.
Keringat dingin sudah mengucur di bawah terik matahari. Cuaca Ibu Kota memang dahsyat, jam setengah tujuh sudah seperti jam sepuluh. Ditambah dia gugup setengah mati, entah apa yang menjadi sangsi atas keterlambatannya untuk pertama kalinya.
“Duh! Pesan ojol aja deh!” serunya seorang diri.
Tangannya berusaha membuka tas backpack miliknya. Berusaha menjangkau dalamnya, tapi saat merogoh yang dicari tak ada.
Dia melepaskan tasnya, memindahkannya ke depan dan berusaha mencari-cari smartphone miliknya.
Apes sudah!
“Yah … ketinggalan di kamar!” pekiknya penuh rasa kecewa. Dia ingat belum memasukkan smartphone-nya ke dalam tas.
“Yah … udahlah! Alamat potong gaji,” ucapnya pasrah. Sudah berpasrah dengan keadaan pagi ini.
Dia benar-benar kesal sendiri karena tak tepat waktu.
Buru-buru dia melambaikan tangannya, memberhentikan mobil angkutan umum yang akhirnya muncul juga setelah ditunggu-tunggu sepuluh menit lamanya.
Sudah bersimbah keringat akibat muatan penuh, dia duduk mengincup, kedua lututnya sudah terjepit. Keringatnya sudah mengucur deras sekaligus dirinya menahan napas berkali-kali.
Bagaimana tidak?
Baru saja dia melongok ke dalam, matanya terbalalak melihat penumpang. Yang di pojok adalah dua siswi anak SMA, lalu di pojok seberangnya adalah bapak-bapak dengan barang dagangannya yang hampir memenuhi setengah muatan.
Menyengir canggung, Sarmila berusaha memasuki angkutan umum itu dengan berhati-hati. Menyebalkan saat dia ingin duduk di bagian terdekat pintu yang ada satu wanita egois tak mau bergeser dan bermurah hati padanya.
Yang dilihatnya adalah … celah sempit yang tak yakin muat untuk pantatnya agar bisa duduk.
‘Gusti … tulung Abi ….’ Batinnya meronta tak terima.
Mau tak mau dia mengisinya. Yang menjepitnya secara sempurna adalah … wanita bertubuh gemuk! Ditambah di sebelahnya malah menghadap 90 derajat tak searah dengan arah duduk penumpang lainnya.
Jendela kecil yang tak terlalu membawa angin segar pun semakin menambah, aroma-aroma percampuran dari berbagai jenis penumpang. Kecut, asem, wangi nyenggrak sampai bau rokok sudah bercampur aduk membuat perutnya yang hanya diisi segelas s**u tadi sudah bergejolak.
Menderita sekali paginya saat ini.
“Stooop Bannng!” teriaknya kesekian kali, sang sopir agak-agak b***k sampai-sampai tak mendengar permintaannya untuk berhenti.
Sarmila melotot kesal, dia turun dengan bersusah payah sambil menahan napas, lalu menempelkan kartu transportasi publik dengan kesal. Matanya memicing pada sang sopir.
“Kalau setel musik jangan kenceng-kenceng Pak!” teriaknya lagi misuh-misuh.
Sarmila sudah berbalik, menjatuhkan rahangnya saat menyadari bahwa jarak dia harus berjalan untuk sampai ke hotel adalah dua kali lipat.
Sukses sang sopir membuatnya terus mencaci maki dan bersumpah serapah, “dasar sopir sialun! Tompel kuda doangan! Ini aing jalannya sampe jauh begini! Aing sumpahin sia!” ketusnya sambil setengah berlari, padahal memang sudah terlambat.
“Hah … hah ….” Napasnya terengah-engah selagi ibu jarinya menekan fingerprint untuk absensi kehadiran miliknya.
Di belakangnya, kepala house keeping memperhatikannya. “Tumben telat,” selanya.
Sarmila berbalik, menatap horor sang kepala divisi. Dia meringis, “hehe … angkotnya lama Pak,” bisiknya tak yakin.
“Cepat sana bersihkan kamar bagian kamu, ada tamu baru nyaho ntar.”
Sarmila mengangguk, tubuhnya sedikit membungkuk dengan tangan tersorong sedikit ke depan, “iya Pak, saya permisi dulu,” ucapnya berbisik.
Sudah menjadi teguran untuknya pagi ini, tiba-tiba bertemu dengan kepala divisi. Belum lagi pasti akan mendapatkan teguran supervisor. Oh, apesnya dia ….
Dengan terburu-buru dia pun segera berganti baju seragam untuk membersihkan, menarik keluar ranjang peralatan perangnya, dia menuju lantai yang menjadi bagiannya.
Setiap dia bertemu dengan orang, mereka melihatnya seolah-olah orang asing.
“Apaan sih pada liatin begitu? Aku enggak datang dari Mars kok,” cibirnya, merasa sedikit malu juga.
Dia masih saja berjalan, menatap orang-orang dengan penuh heran.
Masih saja dirinya tak merasa harus berkaca, yang jelas dia membersihkan kamar-kamar tamu terlebih dahulu. Persoalan lainnya bisa nanti.
Sambil mencoba membentangkan sprei ke kasur, perutnya mulai berontak.
Krrruuuukkkk ….
Sudah mulai bergerilya.
Wanita itu berdiri sebentar, mengusap perutnya dengan tangannya sambil berbisik, “sabar ya Sayang … Mama lagi cari uang dulu, dua jam lagi istirahat kok.” Dia meringis, memejamkan matanya, terlebih sial saat otaknya malah mengirimkan gambar makanan.
Glek!
Dia menelan ludahnya kasar, semakin terbayang jelas bentuk makanan yang menggiurkan itu. Merana sekali dia hari ini.
Dengan berjalan gontai, dia pun kembali ke ruangan staf dan menaruh keranjang kebersihan miliknya.
Bokongnya mendarat mulus di kursi, “hah … akhirnya, istirahat juga.” kursi yang panjang itu sudah menjadi pembaringan untuknya sambil tangannya terbentang, dan tubuhnya penuh keringat.
Nia yang masuk pun segera mengajaknya makan siang.
“Ke mana aja Bu sampai telat?” sindirnya mengejek.
Sarmila hanya mendelik saja, malas meladeni.
“Ayo cari makan,” ajaknya.
Tentu saja ajakan itu menjadi sebuah undangan menggiurkan bagi Sarmila. Gadis itu segera berdiri dengan tersenyum lebar. Tangannya memeluk lengan Nia segera, “ayo Mbak!”
Nia hanya bisa mencibir, “giliran makan aja, semangat lo.”
“Hehehe ….”
Saat Sarmila menarik Nia untuk segera keluar ruangan, saat itu dia menyadari ada yang aneh dengan baju yang dikenakan oleh Sarmila.
“Sebentar, sebentar, kamu pakai baju serius begini?” tanyanya memastikan.
Sarmila mengangguk, “iya Mbak. Etapi tadi masa orang-orang liatin terus sih,” selorohnya.
“Ya iyalah Markonah … kamu pakai bajunya gimana sih?! ini kancing dua malah loncat heh?”
Mendengarnya, Sarmila segera berkaca, melihat dirinya sendiri.
“Huaahh! Mbak gimana dong?! Malu aku Mbak!” teriaknya panik, berusaha untuk membetulkan kancing bajunya.
“Cocok lo, cocok emang.”
Sesi laparnya berganti dengan sesi yang paling memalukan untuk saat ini. Dia benar-benar tak tahu kalau dirinya sekacau ini untuk hari ini.
Ingin rasanya dia menenggelamkan wajahnya ke dalam ember dengan air pel-an saja. Membawa baki makanan dengan menunduk. Beberapa orang yang mengenalinya pun tak tanggung-tanggung menggodanya.
“Mil, bajunya udah benar?”
“Mil, udah segar sekarang?”
“Nyawanya udah kumpul ya? Makanya enggak kebalik lagi bajunya.”
Sarmila sudah kepalang malu, hanya bisa meringis sambil terus melahap makanannya. Dirasa-rasa perutnya sudah berontak, akan sangat malu jika perutnya malah bernyanyi nyaring.
Nia tak henti-hentinya menertawakan dirinya.
Dia hanya bisa memendam rasa kesal dan berpikir untuk membalas dendam nantinya. Ah sudahlah, itu nanti!
Semua ini gara-gara Angelo semalam. Semua gara-gara dia menangisi Gentala.
“Kalau dipikir-pikir kayaknya aku dapat kesialan karena Mas Gen deh Mbak,” selorohnya pada Nia sambil kepalanya tersandar di meja.
“Hm, iya yah, lama enggak liat Pak Gentala.” Dan Nia baru menyadarinya.
Sarmila mengangkat kepalanya, mengaduk-aduk sisa kuah yang tersisa. Lesu.
“Lama dia enggak akan di sini Mbak. Patah hati aku.”
“Hah? Gimana-gimana?”
“Dia cuti. Angelo yang bilang. Padahal aku belum nembak dia Mbak, sedih. Malah patah hati duluan.”
“Bahasa lu patah hati. Kayak iya aja, dari tadi haha-hihi mulu.”
Tentu, orang tak akan percaya jika seseorang yang berkepribadian ceria akan bisa bersedih. Tapi itu malah tak mustahil dan sering. Perasaan dan emosinya mudah berubah.
Sarmila hanya mendesah saja.
“Aku engggak akan tau kapan dia balik.”
Nia kini menoleh, menatap serius Sarmila. “Serius kamu? Jangan ada-ada. Ya kali dia enggak akan balik.”
Sarmila kini menatap serius Nia. Mengangguk tanpa berkata-kata.
“Kenapa?” Entah kenapa Nia menjadi ingin tau alasannya.
“Enggak tau.” Jawaban paling jujur yang bisa Sarmila berikan untuk saat ini.
Dan di kepala teman kerjanya itu, sudah muncul banyak spekulasi.
“Denger-denger nih, Pak Bos kan berdarah campuran juga, kayaknya kerja di cabang perusahaan luar. Atau … dia emang pindah karena punya cewek, Mil.”
Seketika Sarmila menganga, menggeplak lengan Nia kencang sampai wanita itu mengaduh.
Plak!
“Awww!”
“Makanya kalau ngomong jangan semprul Mbak!” ketusnya.
Sambil mengusap-usap tangannya, Nia melotot. “Aduh, kan cuma perkiraan aja Mil. Kalau salah syukur, kalau benar ya wajar, namanya juga CEO. Ya kali enggak ada pendamping.”
Semakin nyes rasanya ke hati untuk saat ini.
Makanan yang baru dilahapnya tadi seolah tak menambah energi. Tubuhnya sudah lemas tak berdaya mendengarnya. Dia tak pernah berpikir kalau memang itu terjadi.
“Mbak … gimana dong? Aku patah hati ini,” rengeknya dengan merangkul Nia.
“Ya ada banyak orang kok yang siap menggantikan. Angelo? Oji? Saka? Mereka antre loh … kamu kan janda kembang, masih kayak perawan ting-ting!” Bisa-bisanya Nia berkata begitu, membuat Sarmila tak segan untuk menggaplok mulutnya yang asbun alias asal bunyi.