Uang Tutup Mulut

1505 Kata
Angelo terduduk, terbengong-bengong sendiri dengan kejadian malam ini. Dia benar-benar kehilangan kewarasannya begitu menyadari kini kaus yang dipakai sudah bersimbah air mata dan juga … cairan hidung akibat menangis, ingus. Dia hanya bersandar, tenang dan ya … sebenarnya bercampur depresi dan frustrasi. Tak berbeda jauh kondisinya dengan Sarmila yang duduk di sebelahnya. Sudah tenang juga, depresi juga, tapi … depresinya tak santai, sungguh lasak. Masih saja dia memegang tisu dan sudah berkepal-kepal tisu yang berserakan di bawah kakinya. Angelo meringis, merasa begitu jijik memandangi bawah kaki Sarmila. Bekas ingus ada di mana-mana. Slime in everywhere, ouuu, iyeeekkks! Tapi tidak dengan si pembuatnya alias asal sumbernya, Sarmila. Gadis itu tak memandang ingus sebagai sesuatu yang menjijikkan. Melainkan hasil sebuah karya akibat rasa kesedihan. Ah, katakan saja begitu. Kembali dia mengambil selembar tisu yang ada di tengah-tengah mereka. Lalu dia melipatnya menjadi seperempat bagian, dan mulai menempelkannya di bawah dua lubang hidungnya dan ibu jari serta telunjuknya mulai menjepit. Kembali Angelo memejamkan mata, menahan napasnya sendiri. Sarmila mulai menarik napasnya panjang dan … srrrooot!!! Oh God!! Pelepasan yang menakjubkan bagi Sarmila. Dia bisa bernapas lega, tapi berbeda dengan Angelo yang bergidik merasa ngeri kembali. Menjijikkan! Dia baru bisa berkata bahwa Sarmila memang … wanita ekstrimisme! Dia mencatatnya! “Om … sudah, ayo pulang,” ucap Sarmila sengau akibat menangis. Suara bindeng memang selalu menjadi alasan dari orang menangis. Angelo kini melihat sendiri perubahan Sarmila. Dia masih bergerak pelan-pelan untuk menegakkan punggungnya, menahan napas dan berusaha agar perutnya mencekung ke dalam, agar tak menyentuh sisa-sisa ingus yang belum kering. “Ah, sudah? Tak mau cerita?” Dia harus menutupi rasa jijiknya sendiri dan berakting baik-baik saja. Matanya memperhatikan perubahan wajah Sarmila. Mata bengep, hidung mengembang merah, bibirnya merah dan berubah bengkak, wajahnya … barulah terbilang buruk rupa. Tapi sebenarnya tak buruk-buruk amat lah ya. “Ceritanya apa? Dikejar enggak diladenin tau-tau pergi, pergi lamaaa! Gimana ceritanya coba?!” Kali ini semakin lama semakin tinggi nada suara Sarmila. “Euhm … Mila, calm, kamu bisa pelan-pelan ceritanya? Suaranya lembut saja,” sergah Angelo, dia waspada kalau sampai dirinya menjadi pelampiasan emosi untuk kedua kalinya, bahaya. “Hah … itu .… Om! Aku belum sempat ya yang namanya nembak dia! Belum menyatakan perasaan suka aku sama Mas Gen, Om! Sakit enggak sih?! Masa cinta sepihak?! Aku kena karma dong?! Huaaaa!” Kembali tangisan gadis itu memecah sunyi. Mereka sudah berada di parkiran satu jam, beruntung sepi! Angelo hanya bisa mendesah saja. Dia mengambil beberapa lembar tisu dan memberikannya pada Sarmila. Tak bisa berkata-kata sudah. Tisu-tisu penuh ingus akan bertambah di bawah sana. Wanita dan tingkat kompleksitasnya benar-benar … tak diduga-duga. Namun, tangisan kali ini cepat berhenti. Gadis itu memang merasakan patah hati. Ditinggal pas sedang sayang-sayangnya. Sayangnya memang cinta sepihak juga. Apes dirinya yang move on dari sang mantan suami yang tak pernah dia cintai malah mencintai pria yang antah berantah di mana, disusul pun uang tak punya. Angelo menunggu. Sarmila sudah mulai tenang. Tiba-tiba terlintas ide gila untuk mewujudkan apa yang akan dilakukannya tapi tak keburu. “Om, punya nomor Mas Gen kan? Enggak mungkin enggak?” Dia menodong Angelo juga. Angelo mulai spaneng, dia kira Sarmila tak akan berpikiran begitu. Kan dia agak … ortodoks? “Euhm … untuk apa?” Angelo padahal sedang menyusun siasat lainnya juga. Siasat menggantikan kedudukan Gentala tentunya. Memangnya tak sakit saat melihat wanita yang disuka malah mengejar pria lain dan itu sepupunya juga! “Ya seenggaknya biar aku bisa ngomong dulu sama Mas Gen, biar akunya lega. Masa aku mengejar tapi cuma setengah jalan! Nanggung! Capek iya, lega enggak!” sembur Sarmila dengan nada dongkol, dia tak rela jika hatinya retak sekarang. “Euhm … aku tak bisa memberikannya kepada orang lain Mila ….” Sarmila memberengut kesal. “Ayolah Om, ini kan biar aku lega, abis itu aku enggak akan ganggu-ganggu dia lagi, please ….” Sarmila mencoba untuk membuat puppy eyes. Ah, lemah saat dirinya melihat Sarmila yang bertingkah manja begitu. “Euhm ….” Sarmila kini menunduk, memandang Angelo lalu dia dengan tersenyum genit, menyisipkan sedikit rambutnya ke belakang telinga. Angelo semakin waspada, tubuhnya sudah merinding disko melihatnya. “Mila, kamu tak akan melakukan hal aneh bukan?” tebaknya. “Angelo … masa sama Mila begitu sih? Hm?” Semakin Sarmila mencondongkan tubuhnya ke depan, semakin mepet dengan Angelo. Angelo kehilangan orientasi sesaat. Dia tak fokus akibat tubuh Sarmila yang mendekatinya itu. “Mila, bisa kamu mundur?” tanyanya semakin gugup. Sarmila tak kehilangan akal, dia memang harus mendapatkan nomor Gentala. Orang yang memiliki nomornya hanyalah Angelo seorang. Semakin dia menatap berani Angelo, semakin dia berani memojokkan Angelo sampai pria itu pun malah semakin mundur. Mentok! Dia bahkan seperti wanita yang sedang diserang. Kenapa jadi berbalik?! Dia tak bisa ke mana-mana. Hanya bersandar di pintu mobil dan Sarmila ada di hadapannya, seolah siap menerkam. “Angelo … kasih dong nomornya Mas Gentala?” pinta Sarmila. Grep! Bahkan Sarmila dengan berani menggenggam kedua telapak tangannya. Ah, lemas! Angelo lemah tak berdaya seketika. Tak pernah dirinya berpikir akan mendapatkan sentuhan dan kontak tubuh begini. Jantungnya semakin maraton tak jelas, otaknya semakin bersorak memberikan yel-yel bagi Sarmila untuk terus maju. Tapi hatinya menolak! Tak bisa sama sekali mendapatkan sebuah dukungan moril karena perlakuan Sarmila. Dia dimanfaatkan tapi tubuhnya malah menerima kesenangan. Sialannya memang hormon pria akan bergejolak penuh semangat, dia menjadi lemah tak berdaya! “Ayolah Angelo … Angelo kan baik sama Mila.” Suara gadis itu semakin mendayu-dayu. Otaknya sudha berpikir cepat untuk menghentikan Sarmila. Kedipan mata genit milik gadis itu sangat jelas terlihat di depannya. “Mila akan kasih apa pun deh buat Angelo, kalau kasih nomornya.” Dapat! “Euhm … boleh, tapi … ada bayarannya, katakan saja uang tutup mulut.” “Uang tutup mulut?” Sarmila membeo, tak paham. Angelo mengangguk. Seketika Sarmila diam, dia pun tersenyum. Melepaskan genggaman tangannya dan kini mundur, mulai normal kembali dengan wajah senang. Karena bisa mendapatkan apa yang harus dia miliki saat ini. “Oke, oke, aku harus bayar berapa Om?” Dia sibuk merogoh saku tas kecil miliknya. “Memangnya aku butuh uang itu? Kamu tadi beli jajanan saja dari ku bukan?” Angelo tergelak melihat kepolosan Sarmila. Sangat tak tega jika dia memanfaatkan gadis itu saat ini. “Ya iya sih, tapi Om minta uang tutup mulut tuh?” “Tapi bukan bentuk uang, Mila.” “Terus?” Gadis itu masih menatap Angelo bingung. Angelo mengetuk-ketuk bibirnya, tersenyum menyeringai. “Ini.” “Itu? Itu apa Om?” Sarmila masih tak paham. Dia malah mencoba memperjelas apa yang ada di bibir Angelo, melihatnya dengan jarak dekat. “Kamu tak paham?” Sunggu Angelo semakin menganga dibuatnya. Sarmila memundurkan wajahnya. “Ya Om begitu, nunjuk-nunjuk bibir Om? Emangnya kenapa? Kering? Luka? Om minta lipstik apa obat sariawan?” Mood Angelo anjlok seketika saat mendengar respon Sarmila. Dia berpikir kembali, apa benar gadis itu sudah janda? Bercerai? Atau … bagaimana? Dia yang bingung sendiri jadinya. “Mila, maksudku adalah … kiss--ciuman?” bisiknya menyeringai. Sarmila menegang, dia merasa tubuhnya kini kaku seketika saat mendengarnya. Benar-benar di luar nalar pikirannya. Dia terkekeh, salah tingkah. Bahkan ucapannya kacau dan gagap. “Ah, a--apa Om? Ki--kiss? Ci--um … an? Hehe, Om bercanda kan? Enggak mungkin kan Om minta itu? Apanya yang mau dicium sih, Om nih kayak belum pernah aja deh ….” Dia tertawa, tawa yang aneh untuk didengar, tawa yang terdengar bergetar karena rasa canggung. “Ya kalau tidak mau ya sudah, susah untuk menutupi dan memberikan alasan kenapa aku memberikan nomor Gentala. Bisa-bisa aku dilaporkan pada Kakek dan Ayahku, atau bisa-bisa bisnisku dibuat bangkrut olehnya.” Angelo berpura-pura santai, tak masalah. Sebenarnya memang tak masalah. Sarmila lemas mendengarnya, tak mungkin juga. Sudah berapa lama dia tak berciuman? Ah, yang bagaimana dulu? Dia tak pernah sukarela menyerahkan bibirnya pada sang mantan suami. Kalau dibilang sebagai pembuka sebelum aktivitas ranjang? Dia tak paham! “Yah … Om ganti dong, yang lainnya gitu ….” Kembali gadis itu berusaha melobby. Dia benar-benar kukuh menginginkan nomor Gentala, hanya sekadar untuk menyatakan perasaannya saja! “Tidak ada negosiasi untuk ini, Mila. Harga mati. You know that so well.” Angelo sudah berpikir Sarmila akan menyerah. “Bagaimana? Masih mau?” tanyanya kembali, memastikan pikiran Sarmila berubah. Namun, tak diduga dan sangat tak terduga. Sarmila malah menjawab iya. “Oke Om. Ayo! Mumpung di mobil nih! Abis itu, aku dapat nomor Mas Gen.” Doeng! Angelo ternganga, mulutnya terbuka lebar begitu mendengar Sarmila yang terdengar menantangnya. Dia bingung sendiri pada ujungnya. Sarmila berdeham sebentar, menutup matanya dengan tubuh yang tegak, lalu dia pun malah memajukan bibirnya bak pantatnya si ayam negeri yang bohayy bukan mainnya. Mencucu dan siap maju. Angelo masih berpikir, entah kenapa dia malah menjadi menahan tawanya sendiri. Gadis itu malah semakin mencondongkan bibirnya. Seketika Angelo terbahak-bahak. “Hahaha! Apa begitu caranya untuk menciumku heh?” sergahnya sambil membekap bibir Sarmila. Sarmila membuka mata, melotot karena kesal, padahal dirinya sudah menahan malu untuk melakukan ini. Demi Gentala! Tapi Angelo malah menghentikannya terlebih dahulu. Tak napsu dia melihat seorang wanita bernama Sarmila yang berinisiatif duluan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN