Perut Gentong

1641 Kata
Angelo masih tak habis pikir. Dia kira ketika datang ke tempat yang salah atau memang Sarmila sedang kerasukan? Matanya hanya bisa mengerjap-kerjap pelan, berusaha mencerna permintaan gadis itu. “Itu … belum kamu makan, Mila. Tak mungkin kamu bisa menghabiskan semuanya,” sela Angelo berusaha untuk menghentikan ambisi Sarmila yang ingin membeli beberapa camilan lagi. “Apa Om? Enggak abis? Om ini pernah liat porsi kuli enggak?” Sarmila bertanya. Dia harus mematahkan pendapat yang pria itu katakan demi bisa memuaskan hasrat keinginannya untuk mencoba makanan yang belum pernah atau hanya baru mencobanya sekali saja. “Oke, oke, tapi kamu habiskan semuanya bukan? Aku tak mau boros cuma karena membeli makanan dan akhirnya dibuang.” Sarmila menggelengkan kepalanya, “Om emang pernah liat aku makan enggak abis? Enggak kan?” Kalau dipikir-pikir, memang gadis itu selalu menghabiskannya. Mau dalam kondisi dan situasi bagaimanapun, dia akan tetap lahap. Ah, lupa, memang wanita itu agak … aneh. “Ayo Om! Ih, lelet deh! Masa mikirnya lama banget?! Itu antrenya bisa lama!” keluh Sarmila yang melihat Angelo enggan untuk menyetujui keinginannya. “Mil, aku ngeri ….” Angelo mendadak bergidik, dia melihat antre yang mengular dan entah kenapa banyak sekali yang beli jajanan itu. “Ya udah, Om cari tempat duduk buat kita makan aja. Mila titip makanannya ya?” Gadis itu memindah tangankan semua yang ada di tangannya ke tangan Angelo. “Oke, jangan lama-lama,” pesannya. “Kenapa Om? Takut digondol kolong wewe ya?” Sarmila cekikikan menggoda sang partner bepergiannya. “Aku tak pernah mengakui adanya hantu atau makhluk astral apa pun, Mila.” Segera saja pria itu pergi, mencoba mencari tempat untuk mereka berdua. Sedangkan Sarmila hanya mengedikkan bahunya tak mau banyak ambil pusing oleh ucapan Angelo. Dia memang anti berpikir yang berat-berat, bisa kacau nantinya bukan? Memilih untuk segera mengantre, gadis itu sudah berjalan menuju stand penjual makanan. Dengan senyuman semringah tiada tara, dia kembali untuk mencoba mengantre dan membeli jajanan. Angelo sudah menemukan tempat duduk strategis. Meja dengan dua kursi di bawah pohon rindang yang dihiasi dengan lampu hias yang menyala terang. Dia terkekeh, “belum pernah aku melakukan hal konyol begini,” ucapnya seorang diri. Dia tak tahu, kalau keberadaannya yang sendirian mengundang lalat berkerumun. Tak tahu kalau lalat akan segera datang pada makanan yang terbuka tanpa ada yang berjaga. Tangannya asyik membuka mobile phone, yang terbilang memilih untuk sedikit mengurusi pekerjaannya terlebih dahulu. Bukan hanya lalat sepertinya, nyamuk-nyamuk nakal yang melihat korban seorang diri, sudah menjadikan darahnya sebagai target. Plak! Plak! Sruk srukkk! Plak! Sruuuk, sruuuk …. Angelo tak sadar selalu menggaruk bagian kaki atau tangannya. Sedikit demi sedikit mulai kesal, kenapa juga dia malah digigit nyamuk begini. “Oh God! Kenapa nyamuk di sini ganas sekali?!” kesalnya, kepalanya melongok ke kanan dan ke kiri, mencoba melihat barangkali Sarmila sudah selesai membeli makanan yang diinginkannya. Tapi … tak sengaja dia melihat dua gadis yang melihat ke arahnya juga. Dia buang muka, tak tahu kalau dua gadis itu adalah dua gadis genit yang ingin sekali berkenalan dengannya. Tak tahu kalau dua wanita itu mulai menghampirinya dan menyapa dirinya. “Euhm … hi, Sir,” sapa salah satunya. Mendengar suara selain suara dirinya, Angelo pun menoleh. Melihat dua gadis yang tersenyum-senyum malu kepadanya. “Oh, ya hi,” balasnya dengan aksen inggris yang terbilang biasa. “Where are you from?” “Alone?” Kedua gadis itu bertanya bergantian. “Now, I am alone. Waiting my friend.” Dia masih cuek saja, dan tanpa basa basi, kedua gadis itu sudah duduk di sampingnya. “Can we take a photo, Sir?” pintanya tiba-tiba. Angelo mengernyit bingung, dia sungguh aneh dengan kelakuan dua gadis yang sepertinya seumuran dengan Sarmila. Sarmila yang sudah selesai dengan jajanannya pun mulai mencari keberadaan Angelo. Dia yang tadinya menyungging senyum karena puas malah menjadi datar, bengis. Matanya melihat kedua gadis mengeroyok Angelo. Terlihat pria itu tak nyaman, sesekali tangannya menepuk permukaan kulit tangannya yang lain. “Angelo, betul kan? Apa yang kubilang, kamu pasti diganggu oleh kolong wewe, eh bukan ini mah, tapi siluman!” teriak Sarmila sengaja menyindir kedua gadis yang mengeluarkan ponsel untuk berselfie dengan Angelo. “Kamu sudah dapat makanannya?” tanya Angelo, dia senang karena Sarmila sudah datang. Sarmila melotot pada dua gadis itu, buru-buru kedua gadis itu kabur sambil berkata, “anjir! Gue kira enggak punya gugug dia!” “Gug! Gug! Guguk!” Sarmila malah menyalak kencang, lalu berteriak, “jangan kegatelan sama bule kali! Katrok!” ejeknya lantas cekikikan. “Akhirnya kamu datang juga. Aku tak tahu cara mengusir mereka bagaimana,” desah Angelo merasa lega. “Om sih, enggak usah senyum-senyum makanya, nanti digondol sama mereka gimana? Ntar hilang lagi,” cerocos gadis itu sambil membuka makanan-makanan yang dibelinya. Sarmila tak melihat wajah Angelo. Dia sibuk dengan seluruh makanan yang sudah dibelinya. Sementara Angelo sendiri ikut tersenyum melihat Sarmila yang malah terlihat antusias dengan banyak jajanan yang dibelinya. “Om mau coba yang mana dulu?” “Kamu akan coba yang mana memangnya?” “Euhm … cumi bakar dulu aja ya Om? Ini!” Dia memberikan satu tusuk cumi bakar kepada Angelo. Cumi yang sudah berlumur saus dan juga mayonnaise menjadi semakin membuat air liur Sarmila sudah menetes. Angelo menerimanya dengan senang hati. Mereka pun mulai melahapnya, ah dia menjadi ikut-ikutan lapar karena menunggu terlalu lama. Dia belum selesai menghabiskan satu makanan, Sarmila sudah membuka makanan yang lainnya. Kali ini dia tak tahu apa namanya. “Kamu sudah habis?” tanyanya terkejut dan terkesima. Sarmila tersenyum menyeringai, “ah, makan itu mah enggak ada apa-apanya. Om mau coba cilornya enggak? Kalau udah abis mah colok aja ke sini pake lidinya ya?” Ah, jadi namanya cilor? Makanan yang ditaruh di dalam gelas plastik, tak berbentuk dengan bahan tepung dan juga … micin. Angelo meringis, kenapa gadis itu senang makanan yang tak sehat begini? Dia menggelengkan kepalanya saja melihat banyaknya minyak yang ada di sekeliling wadah jajanan itu. Dia memilih menghabiskan cumi bakarnya dulu saja. “Oke Om.” Selanjutnya gadis itu bersemangat menghabiskan banyak jajanan. Angelo bergidik saat mengabsen semua jajanan yang sudah masuk ke dalam perut Sarmila. Cilor, cumi kabar, tahu gejrot, toepokki, ramyun, lalu …. Sekarang dia menyodorkan okonomiyaki ke hadapan Angelo. “Mau enggak Om? Enak loh ….” “Ke mana semua makanan itu berakhir, Mila? Rasanya kamu tetap kecil saja,” ejek Angelo yang sebenarnya sedang takjub dengan keberadaan perut Sarmila. “Perut saya gentong Om, isinya anaconda semua, jadinya muat lah banyak.” Gadis itu kembali menyengir kuda. “Ya Tuhan, aku yang melihatmu makan sebegitu banyak saja sudah kekenyangan.” Angelo hanya bisa menatapnya tanpa mau menyentuh makanan yang lain yang sudah dibeli oleh Sarmila. Katakan saja Sarmila kesurupan, bisa-bisanya makan sebegitu banyaknya namun tak juga kekenyangan. Sekarang hanya sisa-sia kulit dan bekas wadah saja. “Ayo Om pulang.” Setelah diam beberapa saat demi mengeluarkan angin dalam perutnya, Sarmila kembali menyengir dan bangkit. “Sudah? Serius? Tidak mau nambah?” Angelo sedikit memancing Sarmila. Gadis itu menggeleng pelan sebelum akhirnya malah bersendawa kencang, “Eughhhh!” Angelo kaku mendengarnya, tak pernah dia melihat wanita akan bersikap begitu sebelumnya. Sekarang? Sepertinya hanya dengan Sarmila lah dia bisa merasakan sebuah ledakan dahsyat atas sikap wanita yang selalu berlawanan. “Hahahaha!” Pecah sudah tawanya, mengingat hanya Sarmila yang berani begitu padanya. “Sopan ya kamu? Di depanku malah bersendawa begitu.” “Hahaha emang kenapa Om? Ilfeel? Atau udah enggak suka sama aku lagi nih?” “Aku tetap menyukaimu.” Jawaban lembut yang dilontarkan Angelo seketika membuat bibir Sarmila terkatup rapat dan memilih berjalan untuk pulang saja. Malam dengan banyak cahaya dan juga suara musik yang masih mengalun di sekitaran mereka membuat gadis itu tak merasa sendirian saat ini. “Om,” panggil Sarmila tiba-tiba. “Apa?” “Mas Gentala berapa lama enggak di sini?” tanyanya maish dengan menatap jalanan depan dengan banyaknya orang berseliweran. “Kenapa? Mungkin satu tahun.” Angelo sekarang menjawab seadanya, tak mau menutup-tutupi keadaan yang sebenarnya. “Dia akan kembali ke sini kan?” Ya, Sarmila sangat berharap itu. “Entah, keadaannya belum bisa dipastikan.” Deg! Deg! Deg! Mendengar pernyataan Angelo malah membuat dadanya dirasa sesak, jalannya bahkan berhenti. Dia menundukkan kepalanya, merasa ingin tenggelam saja ke bumi. “Ada apa? Ayo pulang,” tukas Angelo lembut saat berada di sisi wanita itu. “Hiks … hiks ….” Tiba-tiba malah terdengar isak tangis kecil. Angelo menegang, “Mila … kamu menangis?” tanyanya hati-hati. Sarmila mengangkat pandangannya, dan wajahnya sudah dipenuhi air mata. Angelo kaku seketika, tak tahu kalau kehadiran Bastian sebegitu pengaruhnya terhadap gadis itu. “Om!!!! hiks … huaaa!” Pecah sudah tangisannya, Sarmila meraih tubuh Angelo begitu saja, memeluknya erat dan wajahnya menempel di d**a pria itu. Angelo hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya, dia benar-benar tak menyangka Sarmila akan menyambar tubuhnya dan kini memeluknya erat sambil menangis kencang. Tangan Angelo masih terangkat, dia melihat sekelilingnya yang sudah menatapnya dengan pandangan yang berbeda. “Eh? Euhm … bukan saya, bukan saya!” Dia menjadi salah tuduh akibatnya. “Mila, ayo ke mobil dulu ya?” bujuknya. “Huaaaa! Om, Mas Gen enggak balik-balik!” Sarmila berkata tapi bercampur tangisan, kata-katanya sudah semakin tak jelas saja. “Sttt … ada aku di sini.” Puk! Puk! Puk! Dengan meringis Angelo melihat orang-orang yang lewat. Tangannya terulur, melingkar di punggung Sarmila, menepuk-tepuk pelan demi memberikan dukungan. Mereka berdiri lama dan Sarmila masih saja menempelkan wajahnya di d**a Angelo. Angelo sudah merasakan rasa dingin di depan. Ah, air mata Sarmila mengenai kaus yang dipakainya dan … kenapa terasa lengket ya? Angelo menatap horor. “Euhm … Mila, ayo ke mobil dulu.” Dia berucap pelan penuh raut jijik saat menerka kalau ingus gadis itu juga sepertinya mengenai kausnya. ‘Oh Damngod! Please help meeee!’ batinnya berteriak menderita. Namun, Sarmila tetap masih menangis terus menerus, tak melepaskan Angelo sama sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN