Angelo diam, menatap Sarmila yang nampak terkejut dengan keadaan Sarmila. Dia segera mengakhiri panggilan itu sepihak. Tak tega melihat Sarmila yang entah disengaja atau tidaknya menguping pembicaraan dia dan Gentala.
“Euhm Mil, kurasa ….”
Sarmila sendiri kini menatap datar Angelo, namun dia tersenyum kepada Angelo. “Om, Mila pulang? Liat nih, bajunya kedodoran.” Dia mengangkat kedua tangannya, memperlihatkan betapa berbedanya ukuran dia dan kaus yang dikenakannya saat ini. Sangat berbeda jauh, sampai dia seperti tenggelam dalam kaus Angelo.
“Mila, kurasa kamu harus mendengar--”
“Dadah Om ….” Sarmila memotong ucapan Angelo yang belum selesai, dia tak mau mendengar apa pun lagi. Hanya ingin pulang saja. Dia benar-benar sama sekali tak mau mendapatkan kabar tak mengenakkan untuknya.
Bahkan setelah wanita itu pergi, yang ada hanya sunyi. Bahkan pria itu bingung sendiri, merasa kalau dirinya memang seharusnya menjelaskan kepergian Gentala.
Sangat membingungkan.
Dia hanya bisa mendesah saja, duduk sambil melamun seorang diri.
Sementara Sarmila sudah berada di dalam kamarnya, membuka ponsel miliknya. Dia benar-benar teralihkan, lupa tak mengirim pesan kepada Gentala.
Ping!
Pong!
Hanya mendapatkan satu checklist saja. Biasanya saat dia mengirim chat pada nomor Gentala, tentu akan menjadi checklist dua meskipun tak berubah biru. Tapi setidaknya dia tahu kalau Gentala aktif.
Lalu bagaimana sekarang?
Dia duduk menyandar berselimutkan selimut bulu tipis yang dibelinya di pasar minggu.
Tangannya hanya bisa tergeletak lunglai saat menyadari bahwa memang benar Gentala pergi jauh.
Kembali dia mengangkat ponsel miliknya, berusaha untuk mengirim pesan kepada Gentala.
Kenapa Mas Gen enggak bilang kalau mau pergi? Rumahnya gimana? Nanti ada yang maling? Mas Gen belum ganti sandinya loh.
Ibu jarinya menekan segitiga mengarah ke kanan, untuk mengirim pesan yang ditulisnya.
Ah percuma. Hanya checklist satu. Tak akan pernah sampai kepada pemiliknya.
Hampa. Mendadak ruang hatinya kosong, pikirannya pun hanya sebuah ruang kosong. Kehilangan banyak atensi saat mendengarnya. Dia harus bagaimana sekarang? Ah, sudahlah.
Mendadak dia kehilangan rasa semangatnya saat ini. Hanya bisa memandangi kamarnya tanpa ada satu pikiran apa pun juga. Ponselnya dibiarkan menyala, tanpa terkunci layarnya. Dia benar-benar kehilangan semangatnya.
“Padahal Mila belum menyatakan perasaan Mila untuk Mas Gen,” bisiknya lirih.
Dia menjatuhkan tubuhnya, berbaring meringkuk, seperti dalam cangkang. Tangannya melingkari kedua lututnya yang tertekuk sampai ke d**a. Punggungnya melengkung sempurna. Matanya terpejam, tapi … ada anak sungai yang terbentuk di sana.
Untuk kedua kalinya, tanpa sebab dia pun menangis. Menangisi kehilangan cinta dan semangat hidupnya. Ah, menyedihkan sekali dirinya.
Bahkan menjelang malam, senja yang biasa dia tatap dari jendela berwarna kuning jingga yang biasanya penuh keindahan hanya menjadi senja yang penuh kesunyian saja.
Matanya berkedip-kedip tanpa mampu merasa sama sekali. Seni dalam hidupnya mendadak redup kembali.
Gentala pergi.
Dia sampai lupa bahwa ingin pergi malam itu, menjelajahi pameran makanan. Yang ada dia malah jatuh tertidur dengan kondisi terbungkus selimut.
Lina yang ingin membangunkan keponakannya, karena Angelo tiba-tiba datang dan menanyakan keberadaan Sarmila. Namun, dia diam sebentar. Kenapa Sarmila tidur saat menjelang magrib? Sangat anti gadis itu untuk tidur di waktu rentan begini.
Sedikit dalam hatinya bertanya-tanya, tapi akhirnya tangannya menepuk bahu gadis itu pelan dan berkata, “Mila, ayo bangun. Kamu belum salat magrib Mil.”
Sarmila merasa terganggu, kelopak matanya perlahan mulai berkedip-kedip pelan. Dia mengerang saat merasakan kepalanya begitu berat. “Eungh ….”
Dia mencoba duduk, meringis saat semakin dirasa pusing. “Aduh, pusing banget,” keluhnya.
“Kamu biasanya enggak tidur magrib--magrib begini loh. Ya sudah cepat salat ya? Itu, ada sepupunya Gentala nyari kamu.”
Sarmila menatap sang bibi heran, “sepupu?” beonya.
“Iya, Angelo. Udah salat dulu aja, cepetan.” Lina mengusap bahu Sarmila perlahan, lantas segera keluar dari kamar gadis itu.
Sarmila masih diam sesaat, sebelum otaknya bisa diajak kerja sama kembali agar cepat berpikir. Dengan malas, dia beranjak dari ranjangnya dan segera menuju kamar mandi. Mengambil air wudu dan segera melaksanakan ibadah.
Dia yang malas untuk berganti baju dan tengah memakai tank top hitam pun segera menyambar satu cardigan hitam yang mendukung kulitnya gar nampak cerah. Langkah kakinya menuju ke ruang tamu, tempat di mana Angelo tentu saja sedang menunggunya.
“Om?” panggilnya.
Angelo yang sedari tadi sedang mengobrol tentang Linda dengan Lina pun menoleh, dia tersenyum lega saat sudah melihat wajah Sarmila secara langsung. Sedari tadi dia kepikiran gadis itu yang nampak kecewa saat pergi dari rumah Gentala.
“Kamu belum siap-siap?” Kali ini malah Lina yang bersuara.
Sarmila masih lah mengumpulkan nyawanya, baru setengah terkumpul. “Siap-siap?” beonya kembali.
“Loh? Kata Angelo kamu mengajak dia mau ke culinary night? Kok malah belum bersiap?” Kembali Lina bertutur, memperjelasnya.
Sarmila menatap Angelo lama, pria itu bahkan mengangguk, membenarkan ucapan Lina.
Pikirannya mulai flashback menuju apa yang dikatakannya pada sebelumnya.
Puk! Telapak tangannya spontan menepuk dahinya. “Lupa Om! Tunggu sebentar, Mila ganti celana dulu ya?” ucapnya sambil berlalu.
Lina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja, “maklumi saja, dia jarang keluar rumah. Sekalinya mau keluar rumah malah lupa.”
Angelo tertawa mendengar penuturan dari bibi gadis itu.
Lina sendiri sudah menyambar celana jeans kebanggaannya, teringat saat dia memakainya pertama kali dan dapat dia beli di blok H, tempat berbelanja baju yang terkenal murah itu, pada akhirnya dia malah terkena omelan panjang lebar dari bibinya.
Ah, sekarang kan waktunya trendy.
Segera saja dipakainya blue jeans yang terdapat sobekan di lutut dan juga sedikit di bagian bawah celananya. Trendy dan modern. Dia pun segera mencepol rambutnya, tak berlama untuk berdandan. Dia tak peduli sama sekali dengan penampilan wajahnya yang ileran sekali pun jika bersama dengan Angelo.
Yang jelas, sempurna!
Saat menatap cermin yang menampilkan seluruh tubuhnya, dia tersenyum bangga. Tubuhnya masih langsing dengan celana yang pas membalut kakinya sampai nampak jenjang saat ini, bahkan bagian pinggulnya pun jelas terbentuk, melengkung sempurna.
Kaus crop top yang dipakainya sedikit menyisakan tank top yang dipakainya. Setidaknya bagian perutnya tak nampak, jadi tak mungkin Lina akan mengomel kembali.
Gadis itu kembali hanya dalam hitungan menit saja.
“Ayo Om,” selanya di obrolan seru Angelo dan Lina.
Lina terbelalak melihatnya, “Mila, celananya?! Kamu masih belum buang itu celana kurang bahan?” Lina sudah bersiap menyemburkan seribu omelan dari mulutnya.
Namun, Sarmila segera menghentikannya. “Aduh, Tante. Sudah dong, nanti aja ngomelnya ya? Mila pergi dulu ya? Ini namanya trendy Tan.” Segera tangannya mengambil punggung tangan Lina, bibirnya mencium sebentar sebelum melesat keluar rumah.
Disusul Angelo yang tertawa melihatnya.
“Assalamualaikum Tante, nanti Mila bawakan oleh-oleh deh!” teriaknya yang entah dirinya sudah menjauh dan Lina tak sempat untuk mengomel tentunya.
Lina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. “Tolong jaga Mila ya?” pesannya kepada Angelo selagi pria itu pamit dengan sopan kepadanya.
“Iya, tenang saja.” Dia tersenyum.
Lina bahkan ikut takjub akan senyuman pria yang menjadi keponakan dari temannya itu. Benar-benar takdir yang luar biasa menghampiri Linda, begitu pikirnya.
“Kita naik apa Om?” Gadis itu mulai membuka suara selagi Angelo mencoba mengunci pintu gerbang rumah Lina.
“Mobilku.”
“Oke!” Sarmila sudah berbalik, berjalan menuju mobil yang sudah ada di pinggir jalan. Dia tahu, mobil yang sering Angelo tumpangi dan hapal bentuknya.
“Om, cepat buka pintunya,” pintanya tak sabaran.
Angelo hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja, merasa salah karena memikirkan yang tidak-tidak soal Sarmila.
“Sebentar, pamerannya tak akan ke mana-mana kok,” kekehnya menertawakan sikap konyol gadis itu.
“Ish Om, nanti malah terburu habis makanannya.”
“Okey, up to you, Mila.”
Angelo segera melajukan mobilnya begitu melihat Sarmila sudah aman dengan terpasangnya seatbelt di tubuhnya.
Sesuai arahan yang gadis itu berikan, mereka pun sampai di kampus yang disebutkan oleh Sarmila.
Mereka keluar secara bersamaan saat Angelo sudah memarkirkan mobilnya di tempat aman.
“Ayo Om!” seru gadis itu dengan penuh semangat.
Area kampus yang begitu padat pun sudah dapat diterka oleh Mila. Gadis itu terlalu bersemangat sampai bisa membelah kerumunan dengan cepat. Ah, tidak. Itu karena adanya kehadiran Angelo yang berjalan di samping Sarmila.
Banyak yang mulai berbisik-bisik tetangga, menerka dari mana asal kehadiran pria tampan berdarah Eropa yang terbilang tak pernah mereka temui itu, lebih tepatnya sangat jarang untuk area kampus kecil yang hanya terkenal bagi beberapa golongan masyarakat menengah ke bawah.
Dia berdiri di belakang Sarmila, memastikan gadis itu aman dan ada di dalam jangkauan matanya. Mereka sedang antre.
Melihat orang-orang menyodorkan selembar kertas sebelum bisa memasuki area pun, membuat Angelo bertanya.
“Mil, kita … tiketnya?”
Gadis itu menoleh sambil menyengir, “udah aku beli kok Om, tenang aja.”
Angelo tertawa mendengarnya, spontan tangannya mengusap gemas pucuk kepala Sarmila.
“Ih, Om, berantakan ntar.” Gadis itu malah repot merapikan kembali helaian rambutnya.
Angelo memilih diam saja, antre dengan anteng.
Mereka sudah memasuki area stand kuliner. Mata Sarmila seketika segar dibuatnya, mulutnya ternganga sampai dia terbengong-bengong begitu melihat banyak stand berjajaran.
“Waaah … Om, seru banget ya,” selorohnya sambil berjalan cepat-cepat.
“Memangnya mau beli apa?” Angelo lebih memilih menanyakan tujuan keberadaan mereka di sini, pusing melihat banyak orang berseliweran.
“Itu Om!” Telunjuk Sarmila menunjuk pada stand Japan Street Food.
“Oke, ayo.” Seketika Angelo menggenggam tangan Sarmila tanpa permisi. Tujuannya agar Sarmila tak banyak berhenti seperti sebelumnya.
Area kampus dipenuhi lampion-lampion yang bergantung dan menjadi penerangan luar. Warna-warna cahaya yang beragam semakin menampilkan keindahan di sana. Banyak hiasan-hiasan lampu yang diberikan pada pohon-pohon hidup, meskipun termasuk pencemaran cahaya tapi sesekali bisa untuk dikagumi.
Mereka antre pada stand dengan pembeli yang sudah menjalar.
Angelo menggelengkan kepalanya takjub, sebelum akhirnya mereka mendapatkan bagian untuk memesan makanan.
“Satu porsi takoyaki dan okonomiyaki ya?” pinta Sarmila yang tak menunjukkan lelah sedikit pun.
Senyumannya terkembang sempurna begitu memikirkan soal makanan, Angelo sampai berpikir untuk terus menyuap Sarmila dengan makanan saat nanti mereka ada masalah nantinya.