“Loh? Kamu masih bebersih di rumah Gentala ya?” Lina keheranan dan sedikit terkejut saat Sarmila meminta izin untuk keluar sebentar.
Kebetulan wanita itu tengah menyiapkan makan malam.
Sarmila mengangguk, “iya dong Tan, kan lumayan uangnya, kapan lagi bisa dapat tambahan uang kan?” Dia masih cengengesan.
“Enggak disuruh berhenti?” Kembali Lina mencoba memastikan.
Sarmila diam sesaat, mencoba berpikir sejenak tapi akhirnya menggeleng. “Tante Linda enggak ada bilang apa-apa kok.”
“Oh … rumahnya masih harus dibersihkan ya, padahal Gentala katanya lagi pergi lama ke Belanda,” seloroh Lina memberitahukan Sarmila soal apa yang diceritakan oleh Marlinda, ibu tiri Gentala.
“Ah? Masa sih Tan?” Sarmila masih tak percaya. Dia tak mendengar apa-apa soal kepergian Gentala sepanjang dia bekerja di hotel.
Angelo juga masih ada di sini?
“Tapi sepupunya Mas Gen masih di sini loh Tan,” timpalnya kembali.
“Ya sudah gih, bersih-bersih aja sana, takut keburu magrib entarnya,” usir Lina masih dengan memetik daun-daun kangkung yang ada di besek.
Sarmila mengangguk saja, dia segera melesat pergi menuju rumah Gentala. Pikirannya masih tak terganggu soal ucapan Lina. Gentala memang selalu pergi-pergi dan itu tak akan lama.
“Om!” panggilnya nyaring saat melihat Angelo yang tengah berenang di kolam renang yang bersih plus luas itu.
Sarmila duduk di pinggiran kolam, kakinya pun masuk ke dalam kolam renang, berkecipak dengan santainya, menggerak-gerakkan kakinya nyaman.
Angelo yang baru sampai di tangga kolam pun, muncul keluar dari air. “Wah, ada kamu.” Dia tersenyum saja.
Sarmila sendiri masih bermain-main air, belum mau membersihkan rumah Gentala. Ah, dia sudah sering seperti ini, bersantai di rumah Gentala walau sendirian ataupun dia yang tak melakukan apa-apa. Rumah Gentala seperti healer mood untuknya.
“Om, malam ini cari jajanan yuk? Katanya ada culinary night di kampus sebelah,” seru gadis itu.
“Wah, ayo, kebetulan aku sedang tak ada pekerjaan.”
“Oke, Mila mau beres-beres dulu ya Om?” Sarmila pun mengeluarkan kakinya dari kolam, sudah basah dan tak mengenai baju yang dipakainya.
Belum sempat dia berdiri, matanya tak sengaja melihat Angelo yang juga ikut keluar dari kolam renang.
Bukan lagi. Kejutan selalu ada di mana saja, termasuk di rumah Gentala.
Matanya sedang tak sengaja menyorot tubuh Angelo yang beranjak keluar, matanya memindai cepat bagian atas yang terbilang sering dia jumpai saat Angelo tinggal di rumah Gentala. Wajahnya yang tampan sempurna paripurna itu memang sedap dipandang, ditambah saat tetesan air dari rambutnya menetes, ikut mengalir bersamaan air yang masih membasahi tubuhnya, lalu turun mengikuti jalur air, sudah nampak dadanya yang kekar bersama bahu lebarnya, tubuh tinggi menjulang sangat mendukung wajahnya. Tapi tunggu … mendadak matanya membulat penuh dengan kelopak mata yang terbuka lebar. Kenapa ada kain segitiga?! Sebentar, apa dia hanya memakai ….
Seketika dia menjerit. “Aaaa!!! Om, kok malah bugiiil sih?!”
Tangannya seketika menutupi matanya yang tak sengaja menangkap area vital pria yang hanya tertutupi kain segitiga saja.
Angelo tak paham, dia malah berjalan santai ke bangku di pinggir kolam guna mengambil handuknya.
“Aduh Gusti … aing terpapar hal yang tak seharusnya, mata perawan aing ternoda karena kolor!” teriaknya kembali, histeris.
Angelo yang sudah biasa mendapatkan kekagetan Sarmila masih bertingkah biasa saja. Dia malah bisa-bisanya menghampiri Sarmila dengan handuk yang tersampir di bahunya saat ini.
“Kamu kenapa menutup mata?” tanyanya serasa tak berdosa sama sekali.
Sarmila pun membuka mata, merasa kalau Angelo barangkali sudah memakai pakaian lain yang tak sevulgar tadi.
“Aaaaa!” Dia kembali menjerit, selagi matanya menyaksikan Angelo yang hanya memakai pakaian renang yang hanya sebuah kain segitiga yang menutupi tongkatnya saja.
“Om!!! pakai baju enggak?! sana!” Kembali Sarmila menjerit sambil menutup matanya.
“Aku sedari tadi tidak telanjang Mil, kamu aneh sekali.” Angelo tentu tak paham.
“Om! Kalau mau renang pake CD aja tuh ya liat-liat kondisi dong! Mata aku ternoda, ya Gusti … kunaon kolor item malah ada di sini!” Sarmila berteriak-teriak kencang.
“Kamu bicara apa sih Mil?” Kembali Angelo bertanya, ia tak paham dengan kalimat yang diucapkan oleh Sarmila.
Berjongkok di depan Sarmila.
Sarmila masih menjerit histeris. “Om sana! Jauhan! Handuknya diiket dong?! Jangan ditaro di pundak begitu ih … om tuh pornooo!” Sarmila masih saja memejamkan matanya erat-erat, tak mau melihat sama sekali.
Dia malu bukan main.
Bagaimana tak malu? Dia bahkan jarang melihat tubuh tak berpakaian milik mantan suaminya, dan kini ada pria yang terang-terangan tak pakai baju, di hadapannya, kurang dari satu meter! Menggila lah dia!
Wajahnya memanas, entah kenapa dia menganggap hal itu tak biasa baginya! Otaknya masih belum seternoda itu, atau dirinya yang memang masih anak kecil?
“Mila, lihat! Ada cicak di kaki kamu!” sentak Angelo.
Sarmila menegang, dia yang mendengar ada hewan liat yang menjijikkan dengan tubuh yang selalu menemplok di dinding pun menjerit histeris, dia panik sampai mengibaskan tangannya kuat-kuat di area kakinya.
“Aaaa! Cicak!!! Om! Bantu usir Om!” teriaknya sambil membuka mata, dan yang ada di hadapannya malah Angelo berjongkok. Yang dipermasalahkan dari pemandangan itu adalah matanya semakin menangkap jelas gundukan yang tertutup celana renang saja.
Seketika tubuhnya oleng, kehilangan keseimbangan karena panik dan semakin jatuh! Jatuh ke kolam renang!
Byuuuur!!!
“Haffft …. Aaaa!!! Om, Mila tenggelam! Tenggelam!” Tangannya berusaha meraih permukaan yang sayangnya itu adalah air dan udara, tak ada yang bisa diraihnya.
Dia panik, tak bisa berenang dan kakinya terus bergerak acak, mencoba untuk mendorong tubuhnya.
‘Aku akan mati ….” Batinnya sudah mulai pesimis.
Merasa kalau dirinya tidak akan terselamatkan di sini.
Angelo menggeleng-gelengkan kepalanya. “Mil, kolam ini hanya 120 senti meter saja, kamu sedang apa berteriak-teriak begitu?”
Doeng!
Gadis itu membuka matanya, segera berusaha berdiri dan … hanya sebatas bahunya saja!
Mampus! Dia kepalang malu sendiri. Namun, dia sengaja berbalik, tak mau melihat Angelo sama sekali. “Om, tutupin itu burungnya! Ntar malah terbang!” ketusnya. Dia tak mau sama sekali keceplosan menatap Angelo yang masih betah hanya memakai kolor saja!
Dia sudah dipermalukan habis-habisan oleh Angelo.
Angelo terdiam. Dia baru memahami kenapa reaksi Sarmila seperti itu. Dia mendadak tertawa terbahak-bahak seketika.
“Jangan bilang kamu tak pernah melihat orang renang memakai celana renang begini Mil?” tebaknya.
Sarmila mendengus kesal, “itu bukan celana renang Om! Kolor!” ketusnya sambil berusaha memeras bajunya sendiri yang sudah basah sebasah-basahnya.
Dia datang ke rumah Gentala sudah seperti kucing tercebur saja. Basah kuyup sampai ke ujung rambut.
“Ah, maksud kamu hanya celana dalam saja? Apa yang sedang kamu pikirkan memangnya?” Angelo mulai genit, usil mengorek pikiran gadis berstatus janda itu.
Sarmila gelagapan mendengarnya, dia tak pernah tahu kalau Angelo bisa sevulgar saat ini.
“Om! Pergi jauh-jauh!” teriaknya panik.
“Ah, masa kamu tak pernah melihat orang bertelanjang begini Mil?” Masih saja Angelo menggoda. Dia sudah menutupi pinggulnya dengan kain handuk yang melilit.
Angelo semakin senang, memikirkan kalau Sarmila ternyata masih polos meskipun berstatus janda. Dia tak menyangka akan ada wanita yang masih amatir.
“Mil, pikiran kamu kotor ya?” Kembali dia berucap. Sementara Sarmila sibuk mengeringkan bajunya.
Dia kesal sendiri. Kenapa dia yang apes di sini? Bukannya seharusnya dia baik-baik saja?
Dia berbalik, wajahnya memberengut sementara matanya menatap tajam kepada Angelo. Bersyukur saat berbalik Angelo sudah memakai handuk menutupi area yang terlalu terbuka untuknya.
“Om tanggung jawab! Baju aku basah nih! Masa aku pulang begini?!” rengeknya.
Mendadak Angelo melihat sesuatu yang tak seharusnya dia lihat. Baju Sarmila yang putih kini menjadi transparan akibat basah. Yang dia lihat malah gundukan yang tertutup dua cup. Ah, sialnya dia. Kalau begini pikirannya terpancing kotor. Bahkan kain penutupnya saja berwarna merah menggoda.
“Oke, tunggu di sini! Aku ambilkan handuk untukmu,” sergahnya untuk tetap membuat Sarmila ada di tempatnya dan memastikan gadis itu tetap pada posisinya.
“Cepetan! Dingin tau!”
“Iya, iya, tunggu sebentar.”
Setidaknya Angelo tak pernah ikut meninggikan suaranya ketika Sarmila sewot sekali pun meski dirinya tak bersalah atas masalah yang menimpa wanita itu.
Angelo segera beranjak masuk, bahaya kalau otaknya mulai berpikir yang tidak-tidak.
Diambilkannya bathrobe miliknya yang ada di kamar, dan dia pun berganti memakai celana jeans pendek selutut miliknya.
Dia menyampirkan bathrobe di bahu Sarmila, Sarmila sampai tegang karena terkejut. “Eh, Om--ngagetin tau!” gerutunya.
“Keringkan dulu, baru masuk. Kamu malah jadi basah begini sih?”
Angelo malah merasa lucu dan kasihan. Wanita itu malah jadi mendapatkan masalah atas ketidaktahuannya sendiri.
Sarmila mengangguk. Segera mengenakan bathrobe dan mengeringkan rambutnya yang basah.
“Sekalian saja kamu mandi di dalam,” sela Angelo.
“Enggak ada bajunya Om.”
“Ada baju ku, kamu bisa pakai itu kan sementara?” Angelo semakin kasihan saat melihat Sarmila sudah menggigil kedinginan.
“Ya udah cepetan Om, ambilin! Dingin ini!” Bahkan suaranya bergetar dan tangannya sudah melingkar di tubuhnya sendiri, mencoba menghangatkan tubuhnya. Dia paling tak tahan soal dingin.
“Masuk saja dulu, di luar semakin dingin.”
Angelo juga masuk ke dalam rumah dan Sarmila mengikutinya. Dia benar-benar mendapatkan kesialan yang aneh di sore hari ini. Kenapa juga dia malah jadi apes begini?
Sarmila mendengus, memikirkan bagaimana cara membalas dendam kepada Angelo sedangkan pria itu memang tak bersalah pada sebenarnya.
Angelo kembali ke kamarnya, mengambil kaos miliknya yang paling kecil dan juga …. celana pendek? Ah, setidaknya rumah gadis itu bersebelahan jadi tak akan masalah kan?
“Ini.” DIa menyodorkannya pada Sarmila sementara gadis itu menerimanya dan masuk ke dalam kamar mandi cepat-cepat untuk membilas tubuhnya, membajurnya dengan air hangat terlebih dahulu.
Jalannya bahkan sudah tak imbang akibat dingin. Sekarang malah terlihat seperti anak kucing yang basah kuyup dan kehilangan bulu-bulunya.
Angelo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, menyadari bahwa mereka terkadang sangat ebrsikap childish.
Dia menunggu, selagi gadis itu mengganti pakaian.
Teleponnya berdering nyaring.
“Halo.”
“.…”
“Iya, akan aku katakan padanya, berapa lama kamu akan di Belanda?”
“.…”
“Satu tahun?” Sedikit nada suaranya meninggi.
“Apa Om? Mas Gen di sana … lama?” Suara Sarmila tercekat mendengarnya.