“Apa itu Om?” Sarmila melongok di belakang Angelo, dia mencoba melihatnya.
Dia berusaha memastikan kembali.
Angelo tersenyum, segera berbalik sambil menunjukkan kepada wanita muda itu. Begitu senang karena hadiahnya tak hilang.
Sarmila semakin terbelalak melihatnya, dia ternganga saat tahu apa yang berusaha diberikan Angelo kepadanya.
Apa itu?
Sarmila sampai menyipitkan matanya, mencoba memfokuskan irisnya untuk melihat objek yang ada di tangan Angelo.
Tubuhnay menegak, menegang hebat dengan napas tertahan dan dia mematung. Saat mencerna objek apa yang sedari tadi dia lihat.
Wajahnya pias, rasa takut dengan merinding bulu roma sudah terjadi. Merasa ruangan itu kini penuh mistis seperti tempat perdukunan untuk meminta ilmu pelet, ilmu santet, ilmu-ilmu lainnya yang terkampret-k*****t.
Yang dilihat melalui matanya saat ini bukan sesuatu yang bisa membuatnya senang dan terharu karena dibawakan oleh-oleh setelah Angelo keluar kota, bukan. Melainkan apa yang ada di tangan Angelo adalah … benda berkayu dengan memiliki tangan tentunya, jari-jarinya lengkap dan juga warna yang hitam dengan rambut terikat dan memiliki wajah! Ah, wajahnya … bagi dia tak asing tapi merasa … seram!
Wajah yang memiliki gigi tonggos, hidung mancung ke dalam, mata belo dan senyuman mautnya yang selalu dipraktikan oleh para dalang.
“Ya Allah, ya Rabbi, eta jenglot! panonna melotot kebetot-betot! Naha eta jenglot aya di hareupan aing, anak dongdot!” Kelatahan Sarmila kembali begitu dia menyadari apa yang ada di tangan Angelo.
Itu jenglo! Matanya melotot banget! Kenapa itu jenglot ada di depan saya, anakan dongdot!
“Kamu bicara apa sih Mil? Menyanyi? Atau pantun?”
Semakin Sarmila terbelalak mendengarnya.
Wayang! Boneka wayang!
“Om!” Sarmila menyentak hebat, wajahnya sudah memerah.
“Hah?” Angelo berdiri, mengangguk dan masih tersenyum.
Telunjuk Sarmila menegak, dia benar-benar menuding si boneka. “Ngapain beli jenglot Om?! Mau belajar ngepet? Enggak perlu! Om bisa jadi babinya, aku yang jaga lilinnya aja! Atau … Om melihara tuyul aja, asal enggak jenglot Petruk itu!” cecar Sarmila berapi-api.
“Ha? Apa itu Jenglot? Ini kan wayang, dari Jawa kan tradisi memainkan wayang masih ada, bagus loh, mencintai budaya kita,” bela Angelo yang sebenarnya tak begitu paham dengan kata-kata yang Sarmila ucapkan untuk saat ini.
“Om! Buang enggak?!” Sarmila semakin ganas meneriaki Angelo.
“Jangan dong, ini kan aku belikan khusus untuk kamu Mil, bagus loh.”
Sarmila mundur beberapa langkah, tangannya menggerayangi dinding secara buta. Mencari-cari apa saja yang berbentuk tongkat untuk dijadikan senjata dan bisa dia pakai untuk bisa menakuti Angelo.
Grep!
Dia masih menatap waspada Angelo yang menatapnya keheranan.
“Om, buang enggak?!” Dia mengacungkan sapu yang tak sengaja ada di sudut ruangan, entah punya house keeper mana yang tertinggal, yang jelas dia bisa gunakan untuk senjata saat ini.
“Mil, ini untuk kamu.” Angelo mengangkat wayang sedikit ke atas, bersampingan dengan wajahnya yang tersenyum, tampan tapi tidak dengan si wayang yang berdampingan.
“Om--buang enggak?! Mila pukul nih ya?” ancam Sarmila mulai ancang-ancang, kakinya sudah membentuk kuda-kuda seperti siap melakukan ilmu bela diri.
Semakin Sarmila tak sudi melihatnya, “Gusti nu Ageng, Gusti nu Kuasa, hancurkan eta jenglot, naha aya didieu, kumaha ai eta bengeut bisa mesem!” Sarmila semakin histeris dengan mantera dari bibirnya yang sebenarnya bahasa sunda tapi tentu tak dipahami oleh Angelo.
Tuhan yang Besar, Tuhang yang Kuasa, hancurkan itu jenglot, kenapa ada di sini, gimana kalau itu mukanya bisa senyum!
Angelo melihatnya semakin keheranan, tak pernah melihat bahwa ada orang yang takut dengan wayang.
Sarmila semakin menyabetkan gagang sapu ke udara, mencoba untuk membuat Angelo mundur.
“Om, jangan coba-coba ke sini?! Buang dulu itu boneka jenglotnya, Om … ngapain Om beli muka buluk begitu …,” rengeknya dengan bayangan-bayangan jenglot yang sering dia tonton di platform video nomor satu dunia, Tutube!
“Masa dibuang sih Mil?”
“Om kurang duit? Om mau dapat duit? Milaa bisa bantu jaga lilin, Mila jago kok, kita carinya malam jumat ya? Om jadi babi ngepet aja enggak apa-apa, asal buang jenglotnya Om … ih, eta jenglot petruk nyengir begitu, serem Om … ya Allah, aku tuh bukan Risa yang indigo Om, aku cuma wanita biasa yang berkelana mencari cinta untuk adinda ….”
Sungguh Sarmila memiliki seribu kata konyol yang bisa dia katakan demi membuat Angelo menaruh boneka wayangnya. Sayangnya, Angelo semakin usil dengan kehisterisan Sarmila.
Dia malah semakin menggerak-gerakkan si wayang, maju ke depan.
Sarmila pucat pasi, yang ada di pikirannya malah semakin menjadi kehororan, bermain boneka jailangkung.
“Ya Allah Om, serius, itu buang deh! Dari pada nanti malah minta diantar pulang, kita enggak tahu rumahnya juga!!!” teriak Sarmila sampai suaranya melengking memenuhi seisi ruangan.
“Om!!! jauh-jauh sana!!!” Gadis itu mengibaskan tangannya, baru kali ini dia benar-benar ingin menjauh dari Angelo, tak mau berdekatan sama sekali.
Braaak!!!
Dia berlari secepat kilat keluar ruangan Angelo saat Angelo menyeringai dan tiba-tiba melompat mendekatinya.
Jantungnya seperti bandulan yang sedang bergerak kencang akibat dilepaskan, menjadi berayun, namun bukannya melambat malah berdegup hebat.
Dug! Dug! Dug!
Dia berlari sekuat tenaga, berusaha menghindari Angelo.
“Mila … kamu kok pergi?!” Angelo malah ikut berteriak sambil terus membawa boneka wayang yang memang dia beli untuk Sarmila tanpa tahu kalau pemikiran gadis itu sangat out of the box.
Mereka yang berkejar-kejaran menjadi perhatian banyak orang, termasuk para tamu dan staf yang lewat dan mengenali mereka berdua.
“Om buang dulu jenglotnya!!!” teriaknya sambil berlari kecil dan kepalanya sesekali menoleh ke belakang.
“Kamu jangan percaya takhayul dong, ini hanya mainan dan budaya saja kok,” bujuk Angelo yang terengah-engah, tak menyangka larinya Sarmila sebegitu kencanganya. Patut dia acungi jempol dan juga sepertinya Sarmila memang atlet lari.
Ah, lari dari kejaran sang emak dan Abah, saat dia nakal barangkali.
“Mila, berhenti, aku tak kuat lari.”
“Om buang dulu makanya! Nanti aku ngambek nih ya?! Aku enggak mau ketemu Om lagi, biar aku sama Mas Gen terus saja!”
Angelo kesal sendiri, kenapa juga Sarmila selalu membawa-bawa Gentala.
“Oke, oke, aku buang boneka jenglotnya, kamu puas?” Akhirnya dia menyerah.
Sarmila mengangguk, dia menuding tempat sampah yang tak jauh dari Angelo. “Itu! Buang aja di situ!”
Angelo tak habis pikir, seberapa anehnya pemikiran Sarmila tapi dia … malah semakin menyukainya.
Pluk!
“Oke, sudah? Kamu kenapa jauh-jauh sih?” Angelo tak tahan jika Sarmila malah menghindarinya begini.
Sarmila merajuk, “salah Om sendiri malah bawa jenglot, kurang duit hah?!” Masih saja dia julid soal duit.
“Oke, oke, taruh sapunya. Orang-orang melihat kita, takutnya mereka berpikir aku menyakitimu atau menculik kamu.”
Sarmila kini terdiam, dia masih memeluk erat gagang sapu yang terbilang seperti apa yang tengah dicintainya saat ini. Dia mulai melirik horor, ternyata tatapan mata jenglot tak lebih seram dari pada tatapan para wanita yang iri dan siap berjulid.
Prak!
“Ayo Om, beliin aku coklat!”
Seketika dia menghampiri Angelo dan menarik tangan Angelo, berusaha kabur dari tatapan setajam silet yang siap menyayat kulitnya habis-habisan. Lama-lama sudah jadi kulit crispy dengan bumbu BBQ.
“Loh? Kok jadi memaksa begini?” Angelo masih mencoba untuk tak tersenyum, merasa lucu dengan perubahan sikap Sarmia, padahal tadi berteriak histeris ketakutan.
“Udah deh Om, enggak usah bawel!”
Sarmila mendengus kesal, sungguh dia lapar akibat kehilangan banyak energi akibat shock trap yang dibuat oleh Angelo.
Dia segera melepaskan pegangannya, menyadari kalau dia sedari tadi menyeret Angelo.
Mereka sudah sampai di kantin, mencoba mencari camilan. Da butuh asupan. Angelo berdiri, melihat Sarmila yang masih tak bertanya soal sosok sepupunya. Dia sangat bersyukur untuk saat ini.
“Om, mau yang mana?” tanyanya sambil memilah-pilah es krim di kontainer ice box.
“Maybe … hazelnut?”
Sarmila tahu, setidaknya yang disebutkan oleh Angelo memiliki tulisan di bungkus es krimnya.
“Nih.” Dia memberikannya kepada Angelo.
Segera mereka menuju kasir, kantin karyawan sepi karena memang sudah sedikit yang masuk kerja di sore menuju malam.
Angelo menggeleng-gelengkan kepalanya saat Sarmila berjalan mendahuluinya dengan beberapa es krim di tangannya.
Saat mereka sampai di kasir, gadis itu menoleh kepadanya.
“Apa?” Pria bule itu malah asyik berpura-pura.
“Om kok pura-pura O2N sih? Ya Om bayarin lah es krim Mila.”
Sudah dia masih single, tapi sudah dipanggil Om seperti punya keponakan. Padahal umur mereka tak beda jauh sama sekali. Hanya berjarak beberapa tahun yang bahkan kurang dari sepuluh tahun.
“Hm, maaf, aku tak punya keponakan seusia kamu. Terlalu tua.” Angelo mencoba menggoda gadis yang ada di sampingnya.
“Om!” Spontan Sarmila menaikkan nada suaranya.
“Lalala … lilili … tralala ….”
Mereka berdua seperti dua anak kecil yang sering saja berebut benda saat ini, padahal umur sudah jauh menua.
“Euhm … Abang Jelo … Baby, yuhuu … darling ….” Mendadak Sarmila mengubah panggilannya sambil mendekati Angelo, menempel di lengan pria itu. Tangannya sudah jelas melingkar di sana dan menyandarkan kepalanya.
Seketika Angelo diam kaku, dia tak menyangka akan ada reaksi lain yang diberikan Sarmila kepadanya, dan terlalu dekat.
Merasakan kontak sentuhan yang mengintimidasi dirinya dengan kata romantis.
“Aku enggak punya uang loh By, masa kamu suruh aku bayar sendiri?” Dan bisa-bisanya suara Sarmila semakin mendayu untuk menggodanya.
Mendadak membuat kepalanya memiliki alarm peringatan tanda bahaya.
Srek! Dia melepaskan diri, menggeser tubuhnya sedikit berjarak. Mendadak tubuhnya sudah kaku dan dia semakin memiliki reaksi karena sentuhan yang dilakukan Sarmila.
“Ini, saya bayar.” Dia mengeluarkan debit card berlogo Union Pay yang jarang digunakan oleh masyarakat pada umumnya.
Sang wanita penjaga kasir pun tersenyum menerimanya. Senyumannya sangat tulus karena di hadapannya ada pria tampan menawan yang sudah menjarah pemandangan.
Sarmila terkekeh geli melihatnya. Tak tahu kalau godaannya mampu membuat Angelo tak berkutik sama sekali. Rayuan maut yang bisa dia andalkan untuk memanfaatkan pria berdarah eropa itu.