Sarmila pun kali ini kembali pergi bekerja, seperti biasa. Hanya selalu menjadi kegiatan sehari-hari yang tak boleh dia lupakan tentunya. Ah, katakan saja dia mulai bosan dengan new habit yang bernama pekerjaan.
Setidaknya, dia tak lagi merasa sedih. Sedihnya sudah terhempas jauh-jauh.
“Hempas sana, hempas sini! Hah! Hah!” Malahan gadis itu berjoget sendiri, menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, lantas menatap cermin sambil mengguncang-guncang bahunya.
“Iiihaaa … hoi, hoi, hari ini … hari selasa, maunya libur nanti lusa … oh … libur, libur, libur telah tiba, libur telah tiba!”
Suara melengking mengisi kamar sempit miliknya, dia tak peduli kalau itu lirik lagu asal-asalan, yang jelas dia hanya ingin mengembalikan mood dirinya.
Napasnya terengah-engah, wajahnya pun berkeringat bukan main karena tarian absurd miliknya. Barulah dadanya terasa plong.
Tok! Tok! Tok!
“Mil, lo enggak berangkat kerja?”
Dion melongokkan kepalanya, masuk ke kamar sepupunya itu. Sarmila mengangguk cepat-cepat sembari mendorong Dion keluar.
“Ih, Dion! Enggak sopan masuk-masuk, sana, sana!” usirnya panik.
Dion tertawa dari luar, “hahaha! Udah liat kok, tarian Oma Inul yang legendaris! Enggak cocok, pantatnya tepos!” kelakarnya sembari kabur.
“Dionnn!” Sarmila berteriak nyaring sejadi-jadinya karena tingkah usil Dion.
Dia pun segera mengganti pakaiannya dengan pakaian formal, ah anggap saja begitu. Hanya kemeja panjang putih, celana hitam dan juga sepatu.
“Beres!” Dia tersenyum sembari menatap cermin, menggerakkan lipstik di bibirnya. Mengolesinya agar bibirnya berwarna indah dan sedikit bisa dipandang perempuan meskipun dia tak tahu kalau dirinya sudah banyak diincar oleh para pria single maupun pria gatel.
Dia pun menenteng tas harga lima puluh ribuan di bahu kirinya, menuruni satu per satu anak tangga dan pamit.
“Kamu sudah enggak diare?” tanya Lina sambil menghampiri Sarmila.
Sarmila menggelengkan kepalanya sambil menyengir lebar, “sudah enggak kok Tan. Serius deh, Mila sudah sehat walafiat kok.”
Lina menatap lamat-lamat sang keponakan, tapi memang wajah Sarmila menampakkan keceriaan yang seperti biasanya kembali. Mau tak mau dia harus percaya ucapan Sarmila.
“Ya sudah, berangkat sana. Hati-hati, jangan melamun.”
Sarmila berbalik, meninggalkan Lina. Dia menyetop mobil angkutan umum.
Dia tak tahu kalau Angelo menunggunya di kantor. Pria itu terus menerus bulak-balik bertanya kepada staf house keeper yang berjaga kalau-kalau Sarmila sudah datang. Dia ingin mengalihkan perhatian Sarmila agar tak shock.
Cklek!
“Mila belum datang juga?” tanyanya.
Beberapa orang di dalam ruangan pun menggeleng bersamaan. Kembali dia menghela napasnya, lalu menutup pintu kembali.
Sarmila yang melihat sosok Angelo pun tersenyum. “Om,” sapanya.
Angelo tegang seketika, dia berbalik mendapati Sarmila yang sudah berdiri di belakangnya.
“Kamu kenapa malah tidak bilang sih kalau sudah datang?” dengusnya.
Tentu saja Sarmila bingung, pasalnya dia baru tiba dan mendengar Angelo menanyakan soal dirinya.
“Om juga, ngapain nyariin aku?” Sarmila menatap penuh selidik sampai Angelo mengusap lehernya sendiri, salah tingkah.
“Eh?”
“Om udah pulang ya? Berarti Pak Gentala juga?” Sarmila tiba-tiba terlintas memikirkan Gentala, dia yakin kalau pria tampan itu sudah ikut kembali.
Semakin paniklah Angelo, tapi dia memiliki satu ide utuh, di mana dia memang harusnya bisa mengalihkan perhatian wanita itu sesaat.
“Aku mencari kamu karena mau memberikan sesuatu, mau tidak?”
Diiming-imingi hadiah tentu saja membuat Sarmila tak menolak dan kegirangan. “Seriusan Om?!” teriaknya, matanya terbuka lebar, irisnya membulat penuh.
Angelo ikut menyengir, merasa kalau syndrom ceria milik gadis itu menular kepadanya. “Iya serius, ayo ke ruangan aku.”
Dengan senang hati gadis itu mengekor, tak peduli tatapan dari banyak pasang mata yang mengenali dirinya dan Angelo. Yang jelas, dia sangat senang barang gratis dan juga hadiah. Sesuatu yang bisa membuatnya tersenyum dan tak perlu memikirkan biaya setelahnya.
Sarmila berdiri di samping Angelo, sangat timpang tingginya dengan pria berambut brunette itu. Angelo menekan tombol lift yang menuju ke lantai tempat di mana ruangannya berada.
“Apa kabarmu?” Angelo membuka percakapan.
“Kabar aku? Kemarin-kemarin sih baik, tapi tadi malam tuh enggak,” ungkap Sarmila jujur. Dia merasa bisa jujur dan memberitahu Angelo segala hal yang bisa dia ungkapkan.
Angelo berbalik, kini menatap Sarmila dengan seluruh pusat pandangannya. “Kenapa?”
Pria itu mendadak ikut merasa khawatir juga.
“Euhm ….” Wanita itu mengetukkan telunjuknya ke dagunya, berpura-pura tengah berpikir lantas menatap Angelo serius, “itu Om … kemarin sore tuh, kan Bang Oji ngajakin Mila jalan Om, abis itu ….”
“Setelah itu?” Angelo ikut menimpalinya.
“Abis itu, dia ….” Sarmila menoleh ke kiri dan ke kanan, padahal di dalam kubik yang bergerak itu hanya mereka berdua. Lantas tangannya bergerak, meminta Angelo mendekat.
Angelo menurut, dia sedikit membungkukkan badannya dan Sarmila mendekatkan mulutnya di telinga Angelo sambil berbisik, “dia malah mau melamar Mila, tapi enggak jadi.”
“Apa?!” Nada suara Angelo pun naik satu oktaf mendengarnya. Dia sudah kembali berdiri tegak dan menatap galak Sarmila. Tak menyangka kalau ada pria yang bisa-bisanya melamar gadis itu.
Dia hanya menganggap Gentala saingannya, bukan pria lain. Kalau pria lain, itu artinya mengusik ketenangan dan kompetisi yang dia buat.
“Ish Om!” Sarmila mendesis, kesal karena reaksi Angelo.
“Bagaimana bisa?” Angelo mencecar, dia ingin penjelasan lebih lanjut. “Lalu kamu senang? Menangis bahagia karena lamaran dia?” tuduhnya.
Sarmila melotot mendengarnya, dia yang belum selesai menjelaskan pun menjadi ikut-ikutan kesal. Buk! Dia menendang tulang kering pria itu, ganas.
“Akh!” Angelo mengangkat sebelah kakinya, merasa nyeri.
“Makanya dengar dulu! Om nih, tua-tua ambil kesimpulan sendiri aja!” Sarmila merengut sebal.
“Oke, oke, tapi … kamu menendang saya? Ini menyakitkan Mila.”
Sarmila menoleh sekilas, “siapa juga yang senang sih Om? Tau enggak? Aku tuh nangis Om, menangis sedih.”
Angelo mulai tak paham, lalu Sarmila menatapnya serius. “Dia enggak tahu bagaimana rasanya gagal membina rumah tangga dan diusir. Sejujurnya Mila enggak siap Om, mendengar lamaran itu. Malah buat Mila jadi enggak nyaman.”
“Kamu menangis di depan dia?” Angelo kembali bertanya.
Sarmila menggeleng, “ya pas udah sampai rumah lah Om, ya kali. Tengsin banget.”
“Lalu apa yang kamu lakukan?”
“Mila pura-pura kena diare, mules-mules.”
Doeng! Angelo diam, dia tak mengira kalau Sarmila akan melakukan hal konyol begitu.
Mendadak tawanya meledak.
“Hahaha! Are you serious now?!” Dia sampai terbahak-bahak.
Sarmila melirik datar, tak menyangka kalau reaksi orang yang sedang mendengar ceritanya itu malah menertawakan dirinya.
Ting! Suara lift yang sudah sampai dan pintunya terbuka pun membuat dia melangkah keluar. “Om, nanti Mila ngambek nih ya?” ancamnya sambil berlalu meninggalkan Angelo.
Angelo mencoba berhenti tertawa dan mengikuti langkah gadis itu. “Mila, wait, wait.”
“Wait, wait, wait matamu!” dengusnya sambil sedikit mengomel.
Sarmila yang tahu di mana ruangan Angelo pun berbelok. Sementara pria bule itu juga mengekor padanya.
Sarmila diam menahan napas, tak jauh dari tempatnya ada Oji yang sedang berjalan mendekat.
Sret! Dia balik kanan dengan cepat, menghampiri Angelo yang lumayan jauh.
“Loh kenapa kamu kembali lagi?”
Sarmila segera mengangkat telunjuknya ke bibirnya. “Sssst! Jangan keras-keras, di depan ada Dion Om.”
Bahkan gadis itu menyembunyikan tubuhnya di belakang Angelo yang tinggi menjulang. Bersyukur Angelo memiliki tubuh yang terbilang besar dari pada orang Indonesia pada umumnya.
“Ah dia?” Angelo menyeringai.
Dia berdiri, menutupi Sarmila tentunya.
Benar saja, Oji berjalan ke arah mereka. Oji yang melihat Angelo pun tersenyum dan mengangguk. Dia menyapa pria yang dia ingat pernah mengajak Sarmila pulang bekerja bersama.
“Halo Pak, selamat pagi,”sapanya sopan.
Namun, berkebalikan dengan Oji. Angelo malah menampilkan wajah datar seolah tengah menemukan pesaing dirinya.
“Ya pagi.”
Oji sampai mengerutkan dahinya, merasa tak direspon.
Pria itu melewatinya, Angelo pun berbalik diikuti oleh Sarmila yang ikut beranjak agar tubuhnya tak kelihatan.
“Oiya, kamu … temannya Mila?” tanya Angelo tiba-tiba.
Oji berhenti, berbalik sebentar dan menjawab, “ya Pak?”
“Sepertinya kamu menyukai dia ya?”
Dan bisa-bisanya Angelo bertanya begitu. Yang ditanya jadi salah tingkah, “kenapa Pak?” tanyanya tak mengerti.
Angelo mengibas-kibaskan tangannya, “jangan kamu tiba-tiba melakukan pernyataan cinta yang membuat shock, itu bukan trik yang baik.”
Oji ternganga mendengarnya, dia tak tahu Angelo akan tahu hal seperti itu.
Angelo menyeringai, “karena itu juga Mila jadi pergi bukan? Ah, wajar, mana ada wanita yang tak kaget jika begitu,” cibirnya setengah menghina.
Sarmila ikut terbeliak, terkejut saat mendengar ucapan sumbar dari Angelo. Dia sedikit kesal, sengaja mencubit pinggang Angelo dengan capitan kepiting yang benar-benar maha dashyat nyeri dan perihnya.
Seketika Angelo merasakan sengatan luar biasa yang membuat bibirnya terbuka lebar namun setidaknya dia mengontrol suaranya agar tak menjerit histeris.
Sarmila masih menjiwit bagian permukaan kulit Angelo dengan beringas.
“Kok Bapak tahu?” Oji ikut bertanya.
“Ah!” Angelo berteriak, mengeluarkan jeritan rasa sakitnya, tepat memberikan jawaban. “Itu, karena saya berada di sana. Ah, sudah dulu ya? Saya buru-buru,” selanya sambil berusaha menghentikan tangan jahil Sarmila.
Oji mengangguk dengan bingung, namun dia yang tak mau berlama-lama ada di sana pun ikut berlalu.
Angelo mendesah lega, dia berbalik dan malah mendapatkan tatapan setajam silet dari mata Sarmila. Dia merinding seketika, “kenapa kamu mencubitku?” sewotnya.
“Om ngapain begitu ke Bang Oji sih?”
Angelo mendadak cengengesan saja, dia memilih meninggalkan Sarmila yang masih kembang kempis hidungnya akibat dikerjai oleh seseorang yang tak bisa dianggap atasan namun penting.
Dia pun mengekor, mau tak mau berlanjut mengikuti Angelo.
“Om, tunggu dong!” teriaknya.
Mau dia berteriak bagaimana, tak akan ada yang peduli di lantai yang dikhususkan untuk para eksekutif itu.
Sarmila segera berlari kecil, menyusul Angelo kembali. Padahal tadi dia kesal akibat ulah Angelo sekarang malah seolah tengah membutuhkan pria itu.
Angelo malah berdendang, dia sengaja membuat pintu ruangannya ternganga terbuka. Sarmila pun ikut masuk, melihat Angelo yang sibuk merogoh tas miliknya.
“Om, cari apa sih?” Lama-lama Sarmila tak tahan juga karena menunggu lama.
“Sebentar, saya sedang mencarinya.”
Sarmila diam. Diam-diam, sudut matanya terus memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh pria itu.
“Nah ketemu!” Angelo tersenyum puas sambil mengangkat sesuatu yang kecil di tangannya.