Gadis itu menyengir, menampilkan barisan gigi-giginya meskipun di pojok bibir terlihat gingsul. Dia berdiri, mendorong kursi yang didudukinya ke belakang. “Bang Oji, Mila mules,” ringisnya.
Padahal hanyalah berpura-pura belaka demi mengakhiri pembicaraan serius yang membuat perutnya ngilu sendiri disertai dadanya berdebar karena rasa panik.
Oji tersentak mendengarnya, dia kikuk. “Oh, I--iya Mil, sok ke WC dulu aja,” pintanya.
Sarmila memutar otak, kalau dia ke toilet saat kembali dia akan ditodong pembicaraan yang sama.
“Maaf Bang, Mila enggak bisa … pup di … toilet umum. Mau pulang aja, bisa?” tanyanya penuh hati-hati.
Sejenak Oji diam, dia benar-benar merasa salah dan kecewa. Saat waktu kurang tepat, dia hanya bisa tersenyum kaku setelahnya.
“Oh, iya Mil, enggak kamu habisin dulu makanannya?” tanyanya kembali.
Dia sendiri ikut merasa canggung setelahnya.
“Eung … Mila mules banget nih Bang, boleh balik aja enggak?” Sarmila bahkan harus berakting meringis sambil memegangi perutnya.
Mau tak mau, dengan rasa percaya saja pada Sarmila, Oji pun ikut berdiri. “Oke deh, ayo Mil, kasihan kamu.”
Dalam hatinya, gadis itu mendesah lega. Setidaknya alasan saat ini benar-benar membantunya untuk kabur sementara. Entah kapan lagi Oji akan berkata serius soal pernikahan dan lain sebagainya. Dia tak siap dan trauma mendalam soal pernikahan.
Kepalanya mendadak pusing saat mendengar pembicaraan serius di samping dia yang harus menghadapi pria yang terpaut beberapa tahun dengannya itu.
Bahkan sepanjang jalan, dia tak banyak bicara melainkan diam menikmati deru angin yang menyapu sisi wajahnya dan Oji pun hanya bisa fokus untuk mengendarai motornya melaju di tengah-tengah kendaraan besar, dia juga kehilangan separuh obrolan karena tadi benar-benar nervous soal keadaan dia yang menyatakan perasaannya.
Sialnya, hal itu hanya sebatas terucap sepertiga di mulutnya.
Sampai dia memberhentikan motor bebeknya di depan rumah Lina, Sarmila segera turun, melepaskan helmet yang ada di kepalanya dan menyerahkannya secara terburu-buru.
“Bang, maafin Mila ya? Mila beneran enggak tahan ini ….”
Oji menerimanya canggung, bibirnya tak lagi tersenyum seperti sebelumnya. Semuanya dihempas hebat hanya dengan apa yang dialami oleh Sarmila, mulas dan akan buang-air besar.
Bahkan wanita itu hanya mengatakan selamat jalan tanpa ada embel-embel lain dan segera melesat masuk ke dalam rumah.
Brak!
Pintu yang dia tutup pun dihempas sekuat tenaga karena terlepas dari pegangannya. Sarmila berdiri, bergeser, tersembunyi di balik jendela yang tertutup tirai. Memastikan suara motor Oji yang menjauh.
Dia menghela napasnya pelan, merasa lega. Lina yang terkejut mendengar suara debaman pintu pun melihat pada sosok yang datang.
“Ya Allah Mila, pelan-pelan dong tutup pintunya,” tegurnya.
Namun, melihat Sarmila yang berdiri tanpa beranjak pun malah semakin menarik atensinya untuk memperhatikan keponakannya. Pucat pasi.
“Ya Allah Mila, kamu kenapa?” tanyanya sambil melihat seluruh tubuh Sarmila.
Sarmila lemas, dia merasa kehilangan tenaganya, tubuhnya merosot ke lantai dengan wajah seputih kertas.
Lina panik, dia ikut berjongkok.
“Kamu kenapa? Sakit? Pucat banget,” berondong Lina memeriksa suhu tubuh Sarmila dengan punggung tangannya.
Suara gadis itu tercekat, seolah tertelan ke dasar begitu dirinya meluruh. Tenaganya terhisap akibat otaknya yang memikirkan masa lalunya.
“Enggak apa-apa Tan, kayaknya … Mila diare, mules banget.” Itu adalah kebohongan yang diucapkan Sarmila kepada bibinya.
“Ya Allah, kamu makan apa emangnya? Ayo bangun, ke kamar aja, di sini dingin, apa mau BAB dulu?” Lina berusaha menopang tubuh lemas Sarmila.
Sarmila menggeleng pelan, “ke kamar aja Tan,” balasnya lirih.
Lina membantu Sarmila berjalan, tak lagi banyak bertanya. Dia panik, merasa bersalah karena tak memperhatikan Sarmila. Merasa kalau Sarmila sakit karena memang kurang perhatian darinya.
Dia membukakan selimut untuk Sarmila, membantu keponakannya berbaring ke kasur dan menyelimutinya.
Sejenak Sarmila merasa sedih, menyadari kalau Lina seorang yang akan memperhatikannya. Sejenak dia menyadari, betapa sulitnya kehidupan dia saat ini. Bercerai dan sebatang kara. Tak ada yang bisa diandalkan saat ini.
Air matanya pun mengalir deras, rasa sedih yang tertumpuk di hatinya mulai memicu tangisan itu. Tangan kirinya terangkat, menutupi kedua matanya yang terpejam dan masih menangis.
Dia tergugu, merasakan kesepian yang dahsyat di hatinya.
Lina terkejut, dia semakin panik.
“Ya Tuhan, Mila, kamu kenapa?” tanyanya.
Dia berpikir kalau gadis itu kesakitan karena diare. “Tante ambilkan obat ya?”
Dia segera keluar kamar, mencari-cari obat yang bisa digunakan agar rasa sakitnya reda. Lina panik, tak biasanya Sarmila yang selalu tersenyum ceria dan kini malah menangis hebat.
Segera saja dia mengambil segelas air, datang dan segera membangunkan paksa Sarmila. Gadis itu masih terisak-isak saat dipinta bangun. Napasnya sampai naik turun, tersendat-sendat.
“Cup, cup … ini minum obatnya dulu ya?”
Sarmila hanya duduk, menerima obat diare, menelannya dan masa bodo dengan yang namanya salah obat. Dia hanya tak mau dicurigai Lina soal perasaan hatinya yang sedang tak baik-baik saja itu.
Barangkali nanti dia akan terkena mulas baru akibat meminum obat dan overdosis, dia tak peduli. Dia hanya perlu membiarkannya saja, dulu. Sampai hatinya merasa tenang setelahnya.
Sarmila meringkuk, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, tak peduli hawa panas yang akan menyerang tubuhnya. Tak peduli dengan kekhawatiran Lina padanya. Dia hanya perlu berdamai dengan masa lalunya.
“Tante tinggal enggak apa-apa?” tanya Lina kembali, namun tak mendapatkan jawaban.
Dia menghela napasnya sesaat barulah setelahnya dia pun beranjak dari sana, kasur yang berderit menandai bahwa Lina sudah pergi.
Cklek.
Pintu yang tertutup malah semakin memancing Sarmila untuk menangis lebih kencang, tangannya membekap mulutnya sendiri.
Kembali tubuhnya meringkuk seperti larva kedinginan, menangis sepuas-puasnya.
Lina yang masih berada di depan kamar Sarmila hanya bisa mendesah saja, merasa kalau ada sesuatu yang ditutupi Sarmila kepadanya.
Sarmila tak peduli, meskipun dia lelah menangis dan kesulitan bernapas sekali pun, dia memang tak peduli. Lelahnya menangis seolah menjadi pengorbanannya dulu. Sampai-sampai karena saking lelahnya, malam itu dia jatuh tertidur sambil terisak-isak kecil.
Lina yang turun ke lantai bawah dengan perasaan yang juga tak karuan karena memikirkan keadaan Mila pun menjadi pusat perhatian anak-anaknya yang sudah pulang.
“Mama kenapa?” tanya Dion.
Begitupun Meydi yang juga melihat Lina dengan rasa penasarannya. Tak pernah ibunya sampai sebegitunya.
“Hm.”
Hanya dehaman yang menjadi jawabannya dan juga Lina pun duduk begitu saja, bengong sendiri.
Meydi ikut duduk di samping sang ibu, menyerong. “Mama kenapa?” tanyanya lembut.
Lina menatap kedua anaknya, kini malah ikut menangis. Seketika Dion dan juga Meydi panik, bisa-bisanya ibu mereka menangis.
“Huhu … Mey, Ion, Mama sedih, huhu.”
Sambil sesenggukan dan air mata yang mengalir pun membuat Meydi dan Dion saling bertatap-tatapan satu sama lain, ikut bertanya-tanya yang nampak dari mimik wajahnya.
Meydi merangkul bahu sang ibu, mencoba ikut menenangkan ibunya yang terbilang sedang aneh.
“Mama kalau memang ada masalah kan bisa cerita dengan Meydi, kok malah tiba-tiba nangis, nanti Bapak malah jadi bingung melihatnya. Dikira uang bulanan enggak cukup,” seloroh sang anak sulung berusaha menghibur.
Dion yang mendengarnya pun tak tahan untuk tak menjitak sang kakak, “kalau ngomong kadang-kadang ya … nanti Dion minta tambahan duit jajan deh sama Bapak,” kekehnya seraya kabur saat Meydi melotot garang.
Lina mengambil tisu berlembar-lembar, membuang ingus yang menutup lubang hidungnya sampai tak bisa bernapas.
Srooot! Sretttt! Hruuup!
Meydi meringis ngeri menyaksikannya, dia benar-benar tak tahu kalau ibunya sedang semengerikan saat ini penampilannya.
“Wajah Mama bengkak tuh karena nangis, bingung deh Mey, Mama nangis kenapa coba?”
“Adik sepupumu, Mey. Dia tadi pergi sama temannya, Oji, tapi … pulang-pulang katanya diare, di kamar lagi nangis-nangis. Mama merasa bersalah, hiks ….”
Meydi mendengarkannya betul-betul. Dia paham kalau ibunya sudah banyak memikirkan keluarga mereka dan sekarang ditambah dengan kedatangan adik sepupunya, Mila yang juga terbilang bermasalah.
“Mungkin Mila memang lagi putus cinta saja, Ma, kenapa Mama malah ikutan menangis? Kan harusnya menghibur dia dong?”
“Mama … takut. Kasihan dia karena ulah mantan suaminya.”
Meydi ikut setuju pada hal yang satu ini.
***
Sarmila menatap cermin dengan wajah memberengut, dia tak memperhatikan penampilan dan tak mengontrol tangisannya, sampai-sampai wajahnya bengap seperti diantup tawon. Matanya sudah betem dua-duanya, karena kelamaan menangis. Dan juga sekarang dia malah menjadi si buruk rupa.
“Ih … jeleknya deh ini muka! Kesel deh!” serunya memaki dirinya sendiri.
Dia berbalik, memikirkan hal semalam. Tangannya menutup wajahnya sendiri, “haduh! Habislah! Bentar lagi juga Tante bakalan tanya ini itu. Duh, diare alasan! Mikir dong Mila, ayo mikir,” racaunya pada dirinya sendiri.
“Gara-gara Bang Oji nih, Mila jadi ingat masa lalu lagi,” desahnya lalu kembali merebahkan diri di atas kasur.
Ah, untungnya shift malam, tak perlu takut kesiangan.
Dia berusaha untuk tidur kembali.
“Ayo, bangun-bangun jadi putri cantik lagi ya?” Dia mengucapkan manteranya sambil tersenyum.
Tak mau berlarut-larut dalam trauma yang berkepanjangan. Dia juga hanya ingin berusaha untuk tak kehilangan jati dirinya saat ini.
Diam-diam Lina mengintip dari celah pintu yang terbuka, berusaha untuk melihat apakah memang Sarmila, keponakannya itu baik-baik saja? Dia hanya takut kalau Sarmila kenapa-kenapa, tak mau dia melihat anak yatim piatu itu menderita.
Dia menghela napasnya, melihat Sarmila yang masih meringkuk nyaman.
Segera saja dia kembali ke bawah, tak mau mengganggu Sarmila yang menikmati tidurnya.
Gadis itu terbangun setelah 3 jam tertidur, di jam sembilan pagi. Segera turun dengan wajah bantal tanpa ada lagi rasa malu karena wajahnya hampir kembali normal.
Sarmila sedikit meringis saat melihat Lina yang berkutat di dapur. Ah, setidaknya Lina seorang diri karena masing-masing sudah pergi bekerja dan kuliah.
Dia menghela napasnya lega, bersyukur kalau saat ini tak diinterogasi.
“Tante,” panggilnya.
Lina berbalik, diam sejenak melihat wajah keponakannya. “Sudah bangun?” tanyanya dan mendapatkan anggukan kecil dan juga cengiran khas keponakannya itu.
Lina segera menuangkan minuman yang dibuatnya dan juga menyodorkannya kepada Sarmila. “Ini, minum dulu. Katanya jambu batu bagus buat orang diare. Jadi Tante buatkan jusnya.”
Sarmila sampai kelabakan menerima segelas besar jus jambu batu itu.