Gadis itu menyengir, menampilkan barisan gigi-giginya meskipun di pojok bibir terlihat gingsul. Dia berdiri, mendorong kursi yang didudukinya ke belakang. “Bang Oji, Mila mules,” ringisnya. Padahal hanyalah berpura-pura belaka demi mengakhiri pembicaraan serius yang membuat perutnya ngilu sendiri disertai dadanya berdebar karena rasa panik. Oji tersentak mendengarnya, dia kikuk. “Oh, I--iya Mil, sok ke WC dulu aja,” pintanya. Sarmila memutar otak, kalau dia ke toilet saat kembali dia akan ditodong pembicaraan yang sama. “Maaf Bang, Mila enggak bisa … pup di … toilet umum. Mau pulang aja, bisa?” tanyanya penuh hati-hati. Sejenak Oji diam, dia benar-benar merasa salah dan kecewa. Saat waktu kurang tepat, dia hanya bisa tersenyum kaku setelahnya. “Oh, iya Mil, enggak kamu habisin dulu m

