Keseharian yang terbilang sangat biasa bagi Sarmila. Bagaimana tidak? Pergi bekerja, pergi ke rumah Gentala, menggoda pria itu namun tak kunjung mendapatkan respon positif.
Sungguh keterlaluan!
Sarmila misuh-misuh sendiri saat datang ke rumah Gentala, dia hanya disambut kekosongan sementara Gentala memang berada di luar kota, begitu kata sang sepupu yang juga ikut pergi.
Lalu kenapa dia ada di sini?
Tugasnya menjadi ART untuk membersihkan rumah Gentala sudah dipatenkan oleh Linda dan dia juga sudah menerima upahnya.
Dengan lesu dan malas-malasan pun pada akhirnya dia membersihkan debu-debu yang dirasa tak akan kelihatan oleh matanya sekali pun jeli. Saking tak pernah disentuh oleh pemilik rumah.
“Huh! Orang mah kasih kabar kek biar enggak ngenes-ngenes amat lah, ini mah beboro!” racaunya berbicara pada dirinya sendiri. Sungguh dia merasa kesepian.
Setelah menyelesaikan tugasnya, dia pun berbaring di sofa. Hanya seorang diri di sana. Jadilah dia berleha-leha, tak akan ada yang melihatnya bukan?
Kadar kebucinannya pun terbilang naik karena rasa percaya diri untuk mendapatkan Gentala.
Tiba-tiba terlintas satu ide nakal yang bersarang di dalam pikirannya.
Dia yang sudah berganti baju dress floral berbahan lembut kalau terkena angin semriwing, baju yang biasa digunakan dinas oleh para ibu-ibu itu sengaja dipelorotkan bagian bahunya sampai menampakkan bahu mulusnya.
Kamera ponsel sudah standby ditambah dengan rambutnya yang berantakan dan juga wajah sedikit berkeringat.
Sarmila malah berpose menggoda. Ingat akan pesan dari Nia, rekan kerjanya.
“Kalau mau dapat cowok mah gampang, cowok tuh bereaksi kalau udah liat yang beuh … mantul! Seksi sedikit auto gasak!” Nia sedang menjelaskan soal bagaimana trik mendapatkan pria jitu yang tak mampu ditolak.
“Kalau enggak mempan?” tanya Sarmila.
“Kalau enggak mempan, cinta ditolak dukun pun bertindak. Kasih dong jaran goyang!” seru Nia kembali saat mereka makan siang di kantin.
“Lama-lama aku yang goyang di atas Mas Gen,” kekeh Sarmila sambil berusaha mengambil angle yang pas untuk selfie.
“Oke, siap!”
Dia sudah mendapatkan sudut yang pas, yang memperlihatkan pose dirinya yang setengah berbaring di sofa, sedikit miring.
Lantas dia mengatur timer, ibu jarinya menekan bagian center. Dia tersenyum menjulurkan sedikit lidahnya di sudut bibirnya dan matanya tertutup sebelah. Wajah genit dengan baju melorot pun menjadi foto yang dia dapatkan.
“Siiip! Kalau Mas Gen nolak, berarti abnormal!”
Dengan semangat 45, ibu jarinya menekan enter untuk mengirimkan foto itu pada Gentala bertuliskan caption ‘Mas Gen … kapan pulangnya? Mila menunggumu di rumah, mmuach! Love you Mas Gen …’
Seketika dia merinding sendiri membacanya, namun karena perasaannya juga dia malah spaneng.
Godaan-godaan maut yang sering dia lemparkan kepada pria itu hanya didapatkan dengan dengusan saja. Bahkan terkadang Gentala akan mengatainya anak kecil, anak bau kencur, gadis ABG, atau apa pun sebutannya yang terbilang tak pantas untuknya mengejar pria itu.
Di sisi lain, Gentala yang baru saja selesai rapat pun membuka ponsel miliknya begitu terdengar getaran. Dia pun melihat notifikasi yang muncul, ABG Jail. Begitu nama kontak untuk Sarmila, saking seringnya wanita itu mengirim pesan padanya sampai akhirnya dia pun menamai kontaknya.
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa begitu tak habis pikir.
“Kau pusing?” tanya Angelo yang melihat Gentala mendesahkan napasnya kasar.
“Ah, tidak. Kita makan dulu, aku lapar,” balas Gentala.
Dia memaku ponselnya dengan telapak tangannya dan sikunya menahan tangannya di atas meja.
Ibu jarinya tak sengaja menekan pesan chat yang dikirim oleh Sarmila.
“Oh shitt!” umpatnya karena tak sengaja menekan pesan milik Sarmila. Namun, terlanjur.
Dia pun membacanya.
Mas Gen, berapa lama di Surabaya?
Mas Gen, Mila tuh kangen tau!
Ih, Mas Gen enggak balas-balas ya?
Mas Gen, oh Mas Gen … ke mana dirimu tak pulang-pulang?
Oh … inikah namanya cinta ….
Cintaku entah berantah, ditolak mentah-mentah
Mas Gen, hari ini Mila bersihin rumah Mas Gen loh ….
Tadi, Auntie Linda transfer uang karena Mila bersihin rumah Mas Gen.
Mas Gen, Coba dibalas kek chat Mila yang bejibun ini, di read aja enggak!
Sampai pada chat terakhir, ibu jarinya berhenti menggulir layar ke bawah. Dia mematung, melihat foto yang dikirim oleh Sarmila.
Matanya kain terbelalak dan jantungnya berdegup hebat saat irisnya memindai foto berpose ‘nakal’. ya, pose Sarmila yang selfie malah seolah menjelma menjadi wanita dewasa yang rindu akan kehangatan ranjang.
Aura keperkasaan dirinya tertarik hebat. Sarmila baru saja menekan titik sensitifnya, memancing gairahnya yang terkubur dalam-dalam pada awalnya.
Deg! Deg! Deg!
Tubuhnya terpaku, dan matanya tak mampu beralih untuk beberapa detik.
Sampai kesadarannya mengambil alih dan berakhir dengan mengumpat, “shittt! Damn-hell!” desisnya sambil menutup layar ponselnya.
“Kau kenapa?” Angelo bahkan bisa mendengar u*****n-u*****n Gentala.
Dia sedang memesan menu makanan mereka, merangkap makan siang yang terlambat dan makan malam yang terlalu dini.
“Tidak ada.” Gentala berusaha menutupi reaksi dirinya karena kiriman foto dari si janda yang sering dia juluki anak kecil itu.
Selagi menunggu, otaknya berusaha untuk menekan gairahnya disertai dengan bayangan-bayangan foto itu yang masih berseliweran secara kurang ajar.
Dia baru saja menyadari, kalau memang Sarmila adalah wanita dewasa, yang terkadang bertingkah kekanak-kanakan saja, pada akhirnya wanita itu memperlihatkan sejatinya dia yang telah dewasa dan pernah gagal menjalin asmara dalam biduk rumah tangga.
Sekarang Gentala ragu untuk menyebutnya anak kecil.
***
Sarmila berteriak kegirangan, dia yang tadinya berbaring jadi segera berdiri dan melompat karena pesan-pesannya pada akhirnya dibaca oleh seseorang yang berhasil merebut hatinya itu.
“Yeyy … Mas Gen akhirnya baca chat juga, hihi ….”
Padahal dia hanya membaca pesan, tapi karena itu juga Sarmila semakin hangat, dadanya semakin berdebar saat memikirkan Gentala akan membalas pesannya.
Sarmila pun segera keluar dari rumah Gentala sambil terus memperhatikan ponsel miliknya. Ah, baju yang tadi dia buat seseksi mungkin pun sudah normal kembali menutupi bahu dan juga kakinya yang jenjang.
Dia tersenyum girang diiringi dengan langkahnya yang terasa begitu ringan.
Gadis itu berjalan di sisi jalan, melihat sore yang dirasa begitu indah. Banyak para ibu-ibu komplek yang berkumpul sekadar bergosip, mengasuh anak atau berjalan-jalan di sekitar.
Terasa ramai dan menyenangkan.
Langkahnya terhenti saat melihat motor dan pemiliknya terparkir di depan rumah bibinya. Motor bebek yang sangat dia kenali dan terkadang mengantarnya pulang.
Oji.
Ponselnya berdering kencang, membuat si penelepon pun menoleh ke arahnya.
Pria yang duduk di atas motornya itu tersenyum senang mendapati kalau wanita yang akan diajaknya keluar pun sudah ada di luar.
“Mila,” panggilnya.
“Eh, Bang Oji? Kok di sini?” Gadis itu berjalan menghampiri Oji yang masih berada di motornya.
“Jangan bilang kamu lupa deh ….”
“Eh?” Seketika Sarmila mengingat kesanggupannya untuk diajak keluar hari ini. Dia menepuk jidatnya dan meringis kepada Oji. “Mila beneran lupa Bang.”
“Yah elah … pantesan masih dasteran begini.” Oji terkekeh.
Sarmila memperhatikan Oji, tak biasanya pria itu memakai kemeja dan juga celana jeans. Meskipun semi formal, tak pernah Oji mengajaknya pergi dengan baju seperti saat ini.
“Ya udah, ganti baju gih. Gue tunggu.”
Sarmila mau tak mau mengangguk, “iya Bang. Bang Oji masuk dulu yuk? Minum sebentar,” ajak gadis itu.
Tentu pria dengan kemeja biru dan juga rambut yang tersisir rapi itu pun mengangguk tak keberatan. Dia mengekor di belakang Sarmila.
Lina yang melihat tayangan televise pun menanyakan sosok pria yang dibawa keponakannya.
“Loh, siapa nih Mil? Ada tamu rupanya,” selorohnya sambil berdiri, menyambut kehadiran Oji.
“Iya Tan, ini Oji, teman kerja Mila di hotel. Bang Oji, ini Tante Lina.” Sarmila memperkenalkan satu sama lain.
Sedikit berbincang dan dipersilakan duduk, Lina pun menemani Oji mengobrol.
“Mila ganti baju dulu ya? Ini diminum tehnya.” Beberapa saat Sarmila datang membawa segelas teh panas dan diletakkan di meja.
Dia meninggalkan Lina dan Oji, entah apa yang diobrolkan oleh dua generasi berbeda itu, yang jelas dia bisa mendengar gelak tawa Lina saat naik ke lantai dua, tempat di mana kamarnya berada.
Dia menatap cermin dalam diam, merasa tak enak. Entah kenapa hatinya merasa tak suka dengan kedatangan Oji saat ini, semakin dirasa semakin dirinya teringat akan rumah tangganya.
“Sadar Mil, jangan kegeeran!” sentaknya demi menghilangkan pikiran kalutnya itu.
“Oke, sudah cantik!” Dia tersenyum, memandangi dirinya yang mengenakan atasan oversize dan juga rok selutut berbahan beludru yang dibelinya saat mendapatkan uang dari Linda, ibu tiri Gentala.
Dia bergegas keluar dengan sling bag mini yang tercangkol di bahu kirinya, miring ke sebelah pinggul kanannya.
“Bang Oji,” panggilnya.
Lina pun segera mempersilakan keduanya pergi sambil diiringi senyuman kecil, “jangan pulang malam-malam ya?”
Lina mengangguk, menyalimi punggung tangan sang bibi.
Setelah tiga puluh menit duduk di boncengan, dia pun turun.
Oji menyeretnya menuju rumah makan, ah lebih tepatnya restoran. Entah restoran atau kafe, yang jelas Sarmila merasa semakin enggan.
“Ih, enggak biasanya Bang Oji ajak Mila ke sini,” celetuknya sambil menyengir kuda.
Oji semakin percaya diri, “iyalah, emangnya Bang Oji enggak bisa apa ajak kamu ke sini.”
Kenapa juga Oji jadi menyebut dirinya Bang Oji? Sarmila semakin merasa tertekan.
Mereka duduk berhadapan, Sarmila hanya memesan menu ringan, banana chocolate dan juga smoothie. Dia memakannya perlahan, sementara di hadapannya, Oji semakin sering tersenyum sambil melahap makanan yang dipesannya.
“Ehem.” Oji berdeham begitu dia menyelesaikan makannya.
“Enggak enak ya?” tanyanya melihat Sarmila ogah-ogahan memakan makanan yang ada di depannya.
“Eh?” Sarmila sedikit terhenyak, dia menggelengkan kepalanya cepat-cepat. “Enak kok, enak!”
Oji tersenyum.
“Mil,” panggil pria itu, nada suaranya mulai serius.
“Ya Bang?”
Sarmila merasa enggan untuk terus menatap wajah Oji yang serius. Dia merasa tak enak hati, jika bisa dia ingin menghindarinya.
“Gue … entah kenapa sekarang mikirin buat serius membina rumah tangga.”
Sarmila terkekeh mendengarnya, “bagus dong Bang.”
“Gue udah menemukan seseorang yang tepat.”
Sarmila mengangguk-anggukan kepalanya dengan serius juga.
“Gue … ah, gue mau melamar lo, buat jadi istri gue?”
Deg!
Deg!
Deg!
Srakkkk! Sarmila berdiri tiba-tiba.