Godaan Syaithan Kegenitan

1450 Kata
Sarmila memegangi mata sebelah kirinya sambil menunduk, dia meringis sejadi-jadinya karena kesakitan sampai Gentala ikut mendekat, merasa khawatir karena Sarmila yang tak tahu kenapa malah tiba-tiba mendadak bertingkah janggal. Janggal yang tak biasa, benar-benar di luar kewarasannya. “Sarmila, kamu baik-baik saja? Coba saya lihat,” tukas Gentala berusaha untuk melihat wajah Sarmila. Sarmila menggeleng, “mata saya Pak … perih, gatal,” keluh gadis itu masih mencoba untuk menutupinya. Gentala semakin khawatir, rasa khawatirnya mendadak muncul begitu Sarmila semakin menunduk dalam-dalam. Tak mau sama sekali mengangkat wajahnya. Tiba-tiba saja Sarmila merasakan nyeri entah karena apa di matanya. Seperti ada serangga yang tiba-tiba terbang mengarah pada matanya dan terjebak di sana. “Ishhh … ini kayaknya semut Pak, enggak mau keluar,” adunya masih dengan menggosok matanya kasar. Gentala memaksa tangannya untuk ikut menarik wajah Sarmila. “Coba saya lihat.” “Enggak bisa Pak, ini … huhu … gatal!” Kembali Sarmila merengek, dia benar-benar tak bisa melepaskan tangannya. “Jangan kamu gosok terus, sudah merah mata kamu!” Sarmila menggeleng, dia tak bisa menghentikan tangannya sama sekali. Benar-benar dirinya merasa sangat gatal di area matanya saat ini. Gentala semakin tak tahan. Wajah wanita muda yang menjadi karyawannya itu bahkan sudah merah bukan karena rona dan matanya yang sudah berair akibat ulah tangannya yang sama sekali tak berhenti. “Coba saya lihat dulu,” tukas Gentala kembali sambil mencoba menarik paksa tangan Sarmila. Sarmila diam, dia masih memejamkan matanya. Yang sebelah terpaksa dia pejamkan karena kelopak matanya sama sekali tak mau dibuka dan yang satunya ikut terpejam karena merasakan derita kawannya. Gentala berusaha merendahkan tubuhnya, menyejajarkan posisi mereka agar bisa melihat bagaimana mata Sarmila yang terus berair. “Kamu buka mata dahulu,” pintanya lembut. Nada suaranya bahkan terbilang lembut. Sarmila berusaha, namun matanya masih saja terus menerus mengeluarkan air karena rasa gatal dan perih. Warna bola matanya memerah akibat munculnya pembuluh darah dengan jelas. Gentala berusaha untuk ikut membantu. Dia meniupkan angin dari mulutnya agar bisa membuat reda rasa gatal itu. Sarmila tak tahan, dia merengek dan berusaha untuk meraih matanya kembali. “Pak, gatal banget! Ih … huhu … semutnya enggak mau keluar!” “Sabar, sabar, kalau kamu masih menggosoknya kamu malah merobek mata ini, sebentar.” Gentala berusaha untuk membujuk Sarmila agar diam barang sebentar saja. Sarmila berusaha, dia malah menatap wajah Gentala yang jaraknya dekat, tapi hatinya tak bisa konsentrasi akibat tubuhnya yang terganggu karena serangga kecil yang gaib dan malah mengganggu matanya saat ini. Resepsionis yang berjaga melihat interaksi Gentala dan Sarmila. Mereka diam tak mengganggu, takut kalau nanti kena sembur karena berusaha ramah pada sang CEO. Tak banyak orang di lobby, karena memang jam malam, karyawan tak banyak yang berkeliaran di area hotel yang selalu dipijaki oleh para tamu yang akan menginap dan datang ke restoran yang ada di Menhatten Sky sekadar untuk dinner romantis dan sebagainya. Gentala kesulitan menenangkan Sarmila. Dia butuh duduk untuk menolong gadis itu. “Kamu bisa diam tidak?” Sudah semakin kesal dirinya karena tak didengar sama sekali. “Bapak! Ini gatal banget, perih! Saya kalau bisa buang sendiri enggak akan lasak begini!” erang Sarmila yang juga ikut kesal. Gentala menghela napasnya, mencoba memupuk rasa sabarnya. “Oke, sebentar, kita duduk dulu? Oke?” Gentala membujuk, dia benar-benar butuh duduk. Sarmila mengangguk, tangannya mendadak digandeng oleh Gentala. Gentala menuntun gadis itu agar bisa duduk di sofa dekat mereka. Sarmila yang duduk berhadapan dengannya pun benar-benar mengikis jarak. Gentala sedikit maju, kedua lututnya mengapit kaki kecil Sarmila. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, wajah mereka kini saling berhadapan satu sama lain dengan jarak luar biasa dekatnya. Sarmila berusaha tenang saat Gentala menyentuh sisi wajahnya. Berusaha untuk membuat tubuhnya terkendali seiring dengan matanya yang sedang diamati. Gentala masih berusaha meniupkan udara ke matanya. Fuuuuh … fuuuh …. Amat sangat perlahan sampai-sampai hembusannya seperti tiupan angin yang membawa tidur. Sarmila bersyukur, aroma jigong pria itu tak terendus oleh hidungnya. Jelas saja, pria mapan yang rupawan sekaligus hartawan memang tak diragukan kualitasnya. Aroma segar menguar saat Gentala meniupkan udara ke matanya. Bau mint yang khas! Perlahan rasa gatal dan perih itu menghilang meskipun harus banyak memproduksi air mata. Sarmila masih diam. “Coba buka matanya perlahan-lahan,” perintah Gentala lembut sembari menunggu. Sarmila mencoba melakukannya, berusaha membuka mata dan Gentala meniup-tiup matanya, perlahan-lahan dan terus saja mengamati mata gadis itu. Sementara yang dibantu sudah kembali normal. Namun, irisnya yang mendapatkan objek pandangannya itu sangat dekat jaraknya, otak gadis itu luar biasa cepat dalam memikirkan rencana lain untuk menggoda pria yang tengah mengkhawatirkannya itu. “Aduh! Aaa! Pak, perih lagi!” racau Sarmila sambil menutup sebelah matanya, memundurkan wajahnya sedikit. Dia meringis, sungguh cantik aktingnya. Sarmila memejamkan sebelah matanya, berkerut karena dipaksa menutup. “Aaaa! Pak, semutnya belum keluar!” teriaknya kembali, menambah rasa terkejut Gentala. Padahal tadi dia merasa kalau mata gadis itu sudah baik-baik saja dan sekarang malah kembali kesakitan. Entah karena Gentala yang mudah tertipu atau memang pria dewasa itu masih polos, Gentala percaya sampai dia ikut panik. “Sebentar, sebentar! Jangan kamu kucek matanya lagi!” Tangannya berusaha menghalau tangan Sarmila yang sudah menyentuh matanya. Dia berusaha menghentikan aksi gosok menggosok wanita itu. “Aaa Pak, tiupin! Perih ….” Kembali Sarmila merengek. “Fuh, fuh! Fuh … fuh ….” Gentala melakukan intruksi Sarmila. Sarmila diam, diam-diam dia sudah tak berakting. Matanya terbuka normal dan melihat wajah Gentala yang sangat jelas ada di depannya. Tak sampai sepuluh senti jaraknya. Satu kata yang dia rapalkan di dalam hatinya, sempurna! Menyadari kalau Gentala sedekat itu dengannya. Wajahnya bahkan bisa dia amati sedetail-detailnya. Hidung mancung bak perosotan, garis rahang yang tegas dan tulang pipi menonjol membingkai kedua matanya yang membulat besar dengan alis tebal. Ah, jangan lupakan bibirnya yang lembab dan cipokable itu! Sialnya dia harus menyaksikan kesempurnaan paripurna pria tampan bernama Gentala. Sampai-sampai jantungnya bertalu-talu sendiri tanpa sadar, membayangi kalau pria itu akan bersanidng dengannya secara kurang ajar dan tanpa permisi. Benar-benar dilanda euforia luar biasa di hatinya. Dadanya ikut berdebar diiringi perutnya mulas melilit. “Kamu sudah baikan?” Gentala bertanya, membangunkan lamunannya. “Eh, eung, masih gatal sih Pak. Kayaknya bukan karena semut lagi,” sela Sarmila berusaha menjauhkan jarak wajahnya, memundurkan wajahnya. “Coba saya lihat?” Seketika Sarmila semakin mundur, “biar saya saja, Bapak jauh-jauh,” perintahnya. “Kenapa lagi?” Gentala was-was mendengarnya, kekhawatirannya kembali naik ke permukaan. “Ini mata saya tergoda karena kegantengan Bapak,” seru Sarmila blak-blakan. Kali ini senyuman di bibirnya terulas, membuat Gentala menyadari kalau Sarmila sudah kembali seperti semula. Kegenitan. “Ya sudah, saya mau pulang. Kerja yang benar.” Gentala bangkit dari duduknya, dia berusaha bersikap biasa saja padahal dia dongkol sendiri akibat digoda oleh gadis ingusan seperti Sarmila. “Lah Bapak kok pulang?” Gentala melirik datar gadis itu, “memangnya saya kerja 24 jam?” Kejudesannya kembali menguar. Sarmila merengut mendengarnya, “ya siapa tahu Bapak super perhatian sama anak buah Bapak kan? Di sini kan banyak kamar, CEO mah bebas tidur di kamar mana aja, Mila sudah bersihkan kok,” kelakar gadis itu ikut berdiri dan mengekor pada Gentala. Gentala berbalik, diam menatap Sarmila yang juga ikut berhenti berjalan. Sarmila menatap terang-terangan wajah Gentala. Kalau ada yang bilang segan, maka Sarmila tak merasakannya. Dia senang, senang memiliki rasa untuk pria itu. “Kerja sana, mau saya pecat?” Ctak! Gentala menjentikkan telunjuk ke dahi Sarmila sampai gadis itu mengaduh nyeri. “Akh!” Bahkan Gentala merasa menertawakan Sarmila, dia tak doyan dengan anak bau kencur. “Ngayal saja, jangan ketiduran! Saya potong gaji kamu!” serunya sambil pergi menjauh meninggalkan Sarmila. Saat dia sudah masuk ke dalam mobilnya, rupa-rupanya Angelo menunggu. “Tumben lama sekali kamu keluar?” Gentala mendengus kesal, “ada syaithan kegenitan tadi,” celetuknya. “Hah? Kau berubah jadi indigo?” seloroh Angelo berusaha untuk menangkap ucapan sang sepupu. “Sudahlah, fokus saja pada presentasimu.” Angelo manggut-manggut sendiri mendengarnya. Sepupunya terlalu kaku untuk diajak mengobrol ringan. Sarmila masih saja tersenyum semringah, padahal dia sedang mengepel lantai marmer yang diinjaknya. Bahkan matanya seolah melihat wajah Gentala ada di lantai. Segera Sarmila berjongkok, menyandar di tiang pel. “Bapak … Eh, maksud saya Mas Gen yang ganteng, Mas Gen enggak mau gitu date sama saya?” Diam-diam memang kondisi gadis itu mengkhawatirkan. “Mas Gen, Mila tuh jatuh cinta pada pandangan pertama tauk, enggak ilang-ilang sampai sekarang. Love at first sight kalau kata Om Angelo,” selorohnya, mengajak ubin yang dingin berbicara. “Mas Gen … sekali aja, coba terima cinta Mila yang super duper tulus ini, enggak akan menyesal loh ….” Seseorang yang berdiri di belakangnya sampai menggeleng-gelengkan kepalanya, takjub dan keheranan. “Ampun …. shift malam menyeramkan! Ada cewek kerasukan!” sentaknya sampai membuat Sarmila berjengit terkejut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN