Gentala Sakit?!

1723 Kata
“Iya, Gentala sakit.” “Sakit apa Tante? Kok bisa sakit?” Sarmila semakin memberondong Rosalinda dengan banyak pertanyaan saat itu juga. Dia benar-benar khawatir. Tak tahu kalau Gentala juga bisa terkena sakit. “Kok bisa sakit ya Tan?” tanyanya kembali sambil mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas besar nan canggih di dalam rumah Gentala itu. “Kan anak Tante juga manusia Mil.” “Iya … manusia es kutub selatan,” bisiknya. Tanpa tahu kalau Rosalinda menguping soal itu. Dia terkekeh mendengar ucapan Sarmila. “Jadi anak Tante beruang dong kalau kutub selatan?” “Eh, enggak, enggak gitu Tan.” Sarmila menjadi kalap sendiri, berusaha untuk mengklarifikasi jawabannya. “Enggak ada maksud, Mila ngomong begitu Tan,” imbuhnya dengan sedikit menyesal. “Hahaha, ya sudah. Enggak apa-apa kok, Tante juga paham. Memang Tante sampai merasa bersalah karena menyuruh Gentala kencan buta. Tapi gimana dong Mil, Tante takut dia jadi bujangan lapuk dan akhirnya enggak menikah. Kasihan cewek-cewek cantik yang Tante bawa, semuanya ditolak sama dia,” tutur Rosalinda yang berdiri dan mengamati bagaimana Sarmila mencuci beras dan memasaknya.   “Itu enggak kesedikitan airnya, Mil?” tanya Linda merasa ingin tahu. “Enggak dong Tan, tapi ukurannya itu pakai garis-garis jari ini. Kalau cuma dua tiga gelas cukup sampai satu garis telunjuk ini aja.” Rosalinda mengangguk tanda paham, dia tak menyangka kalau Sarmila lebih bisa untuk memasak. Jarang sekali ada gadis muda yang bisa memasak begitu. “Terus setelah masak nasinya, apa lagi Mil? Sini deh Tante bantu.” Sarmila sebenarnya tersenyum, senyuman yang penuh keraguan. Dia bingung apa yang bisa dilakukan Linda saat ini sebagai bentuk bantuannya. Saat tadi dia memasuki dapur saja dia sampai terbengong-bengong. Dapurnya sudah berubah menjadi kapal pecah. Tak menyangka kalau Rosalinda hampir saja meledakkan dapur milik Gentala. Dengan panci gosong yang masih di atas api besar lalu kulit dan daging sayuran yang ikut terpotong banyak membuatnya menatap miris, ditambah dengan baskom dan juga peralatan dapur di mana-mana, persis habis perang masalah rumah tangga.   Sarmila sampai terbelalak ngeri saat Rosalinda sudah mengambil pisau dibarengi dengan sekeranjang kentang yang dibawanya. “Eh, Tante?!” panggilnya memekik, membuat Rosalinda akhirnya melihat ke arah gadis itu bingung. Segera Sarmila merebut kentang di tangan Rosalinda. “Tante, bisa mengupas bawang kan? Kupas bawang merah 5, dan bawang putih 3 siung tapi dicincang halus ya? Lalu bawang bombai satu nanti dibelah jadi dua,” jelas Sarmila berusaha memberikan pekerjaan yang paling mudah. “Oh … oke!” Pada akhirnya Rosalinda pun mengambil bawang-bawangan yang diminta Sarmila. Dia berusaha mengupasnya dan Sarmila menontonnya.  Sarmila sampai meringis sendiri, miris meihat bagaimana Linda mengupas bawang hampir kehilangan banyak lapisan, dan juga bagaimana Linda sampai mencincang bawang putih namun tak semua dicincang, ukurannya sudah besar kecil. Sarmila menghela napasnya, dia membiarkan saja. Dengan cepat tangannya mengambil bahan sayuran lainnya. Mulai memotong kecil-kecil daun bawang, lalu mengupas kentang dan memotongnya dadu ditambah wortel yang dipotong jullien. Semuanya dengan cepat dia kerjakan dari pada dirinya merasa kasihan saat sayuran itu pada akhirnya tersiksa dipotong tak jelas oleh ibu Gentala. “Sudah Mil!” seru Rosalinda merasa senang. Sarmil melihatnya. Oke setidaknya lebih baik, potongan bawangnya selesai. Dia menghembuskan napasnya merasa lega, menilik kalau bawang-bawangan itu tak berakhir di tempat sampah lagi seperti tadi.   Rosalinda menikmati dengan bagaimana gadis itu memasak di dapur penuh cekatan. Tak ada yang bisa menarik perhatiannya dengan memasak. Tapi, berbeda dengan Sarmila. Rosalinda senang melihatnya. “Duh, pantas Lina selalu cerita kamu ya? Wong kamu bisa masak sepintar ini. Lina selalu aja cerita soal kamu.” Mendengar ucapan Rosalinda, Sarmila menjadi salah tingkah dan tersipu malu. “Duh, Tan. Itu mah biasa aja kok. Tante yang hebat bisa besarin Gentala jadi orang sukses.” Pujian balik membuat Rosalinda semakin senang. Sarmila dengan pintar mengambil hatinya. Rosalinda benar-benar merasa terhibur saat ini. “Duh Tan, saya jadi malu deh hehehe ….” Mereka berkutat di dapur diselingi tawa dan canda serta gosipan-gosipan para artis yang ditonton oleh Rosalinda maupun Lina, Tante dari Sarmila.   Tawa mereka yang heboh membuat Angelo penasaran. Dia baru saja keluar dari kamarnya dan turun ke lantai satu. Belum apa-apa bahkan sudah kembali terdengar suara cekikikan. Dia pun melongok ke dapur, tak tahu kalau ada Sarmila di sana. “Loh? Sarmila?” gumamnya. Sarmila berbalik, dia tersenyum dan menyapa Angelo. “Halo Om, dari mana aja?” Angelo menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Aku hanya di kamar saja hehe ….” “Ah, ngomong-ngomong kenapa kamu di sini?” sambungnya cepat. Linda pun ikut menjawab, “itu … Auntie minta tolong Sarmila untuk memasak bubur, tadi Tante gagal buatnya. Gentala kasihan,” tukasnya. “Oh … ya kalau Auntie yang memasak sih, syukur-syukur jadi, biasanya kan dapur hancur duluan.” Angelo benar-benar mampu membuat bibinya merasa malu di depan Sarmila. “Ih, kamu kenapa bilang-bilang begitu sih?” protesnya. “Kasihan saja kalau sampai Sarmila yang membereskan kekacauan di dapur karena ulah Auntie.” Sarmila sendiri tertawa mendengarnya dan itu baru saja terjadi padanya. “Om mau bubur juga?” tawarnya. Angelo tentu tak menolak jika ditawari oleh Sarmila. “Duh, boleh banget. Aku lapar, sedari tadi menunggu makanan tapi Auntie sepertinya gagal memasaknya.” “Kamu selalu saja meledek Auntie ya?” “Enggak kok, Om enggak mungkin meledek Tante. Hanya bercanda saja,” sela Sarmila berusaha menghibur Linda.   Rosalinda terdiam, dia menatap Sarmila. “Lalu, kenapa kamu memanggil Angelo pakai ‘Om’? Dia bahkan lebih muda dari Gentala. Dia bukan suami Tante, suami Tante mah cuma ayahnya Gentala saja.” Mendengar komentar malah membuat Sarmila kembali malu. Lupa akan panggilannya yang belum saja berubah. Dia meringis, “keceplosan Tan, waktu pertama ketemu kan Om--eh, eung … Angelo enggak cukur jenggot sebersih sekarang Tan.” Sarmila ikut melihat wajah Angelo yang memang sekarang nampak lebih muda dengan wajah yang bersih. Rosalinda pun ikut melihatnya, “iya ya? Dia kan paling malas merawat wajah. Kenapa sekarang mendadak bersih begini?” Ucapan dan tatapan dua wanita berbeda generasi yang tertuju padanya itu membuatnya kikuk. “Eh … itu … karena ya berganti gaya saja.” Padahal itu hanyalah sebuah alasan saja. Sarmila dan Rosalinda kompak mengangguk-angguk saja mendengarnya.   Sarmila segera menuangkan bubur ke mangkuk putih berbahan keramik. Mangkuk mahal yang baru dilihatnya ada di dapur ini. Bagaimana jari-jarinya menyentuh mangkuk itu, dia tahu kalau mangkuk yang ada di dapur Gentala bukanlah mangkuk murahan. Tak mungkin juga dia mampu membelinya. Perlahan sendok sayur digunakan untuk menuangkan bubur yang lumayan cair ke mangkuk. Lalu ditaburinya dengan bawang goreng ditambah topping sayuran yang tadi dia buat sebelum akhirnya diberi kuah yang dibuat olehnya. Angelo dan Rosalinda menonton saja. “Jadi deh, silakan dicoba Tuan dan Nyonya,” ucapnya mempersilakan Angelo dan Rosalinda mencicipi makanannya. “Wah … enak sekali,” komentar Angelo yang sudah kembali memakan bubur buatan Sarmila. Rosalinda pun mengangguk setuju. “Enak banget ya, Jel?” tanyanya. Angelo mengangguk-angguk beberapa kali tanpa suara. “Auntie enggak tahu kalau Mila bisa memasak seenak ini.” “Iya benar, Auntie. Kalau Sarmila sekolah memasak pasti akan membuat restoran laris deh.” Mereka malah berdiskusi berdua yang tak dapat dipahami oleh Sarmila sama sekali. Dia hanya tersipu malu mendengar banyak pujian terlontar untuknya sedangkan kedua orang di hadapannya terus saja asyik membicarakannya padahal objek yang dibicarakan ada di depannya. “Aku antar buburnya untuk Mas Gen deh ya Tan?” izinnya. Rosalinda dengan senang hati mempersilakan.   Sarmila membawa baki makanan, berisi bubur dan minum untuk Gentala. Dengan berhati-hati dia menaiki tangga takut kalau tergelincir dan membuat bubur buatannya terjatuh berserakan. Di depan pintu kamar Gentala, tangannya berusaha mengetuk pintu. Tok! Tok! Tok! “Mas Gen,” panggilnya. Namun, tak ada sahutan sama sekali meskipun dia melakukannya tiga kali. Akhirnya dia berinisiatif untuk membuka pintu kamar Gentala. Cklek! “Mas Gen, maaf ya Mila enggak sopan, masuk nih ya? Abis enggak ada suaranya,” ucapnya sambil melangkah masuk. Sarmila memperhatikan kamar Gentala yang gelap tanpa penerangan. “Mas Gen, kok lampunya enggak dinyalain sih?” tanyanya sambil meraba-raba dinding untuk mencari saklar lampu. Trek! Kamar itu menjadi terang benderang. Dia terbelalak dan ternganga dibuatnya. Kamar milik Gentala yang begitu besar ditambah dengan perabotan mahal ada di dalamnya. Guci besar dan juga meja kerja yang besar disertai rak buku yang penuh. Lalu di tengah-tengah ada ranjang. Ya, ranjang besar! Sarmila berhenti mengagumi kamar bernuansa abu-abu yang terbilang manly itu segera setelah matanya menatap pria yang terbaring lemah di ranjang.   “Eungh!” Gentala mengerang saat cahaya lampu mengganggu tidurnya. Dia ingin bangun dan mematikan lampu saja tak bisa. Mendadak kepalanya begitu berat dan tubuhnya sangatlah kelelahan. “Mas Gen, makan dulu yuk?” Sarmila berusaha membangunkan Gentala, tapi pria itu malah tak berkenan bangun sama sekali. Diletakkannya nampan di atas nakas samping ranjang Gentala. Dia pun berusaha untuk membangunkan Gentala dengan menyentuh lengan pria itu. Namun, dia sampai menarik tangannya kembali. Terasa begitu panas. “Astaghfirullah,” pekiknya. “Mas Gen, ayo bangun dulu, makan dulu,” bujuknya. Yang ada di pendengaran Gentala hanyalah suara kecil saja. Dia tak mampu membuka matanya. Di telinganya semakin lama terdengar suara lembut yang begitu dia rindukan. “Mama,” panggilnya dengan penuh gelisah. Sarmila kembali mencoba membangunkan Gentala, namun lagi-lagi Gentala malah mengigau. “Mas Gen, ayo bangun dulu,” pintanya sambil menggoyangkan lengan besar Gentala. Sarmila bersiap mengambil mangkuk bubur, namun tangannya malah digenggam erat oleh tangan besar dan panas milik Gentala. Grep! “Ma! Ja--jangan pergi!” pinta Gentala dalam mimpinya. Bahkan wajahnya dipenuhi peluh sebesar butiran jagung. Sarmila terkejut, dia merasakan rasa panas menjalar di telapak tangannya akibat genggaman tangan Gentala. Dia berusaha membangunkan Gentala tapi pria itu tak kunjung bangun. Ingin dilepaskan pun di tak kuasa. Pada akhirnya dia pun menyerah, berdiri dengan tangan yang masih berada di dalam genggaman Gentala. Perlahan tubuhnya duduk di sisi Gentala yang berbaring. Pria itu kembali tenang setelah Sarmila tak berusaha melepaskan tangannya. Sarmila harus puas dengan jantungnya yang sedang berdetak hebat, begitu kencang sampai-sampai rasanya dadanya pun terdobrak oleh jantungnya di balik rusuk-rusuk yang memenjarakannya. Deg! Deg! Deg! Bahkan darahnya berdesir saat menyadari kalau tangannya sedang dipegang oleh Gentala. Begitu panas namun yang dirasakannya malah kehangatan. Matanya terus memandangi wajah pucat Gentala. Dia memperhatikan detail wajah Gentala yang tertidur. Begitu menenangkan sampai-sampai rasanya dia ingin ikut membaringkan tubuhnya di samping Gentala. “Duh, Mas Gen, makin lama pesonanya makin kuat,” bisiknya. “Padahal lagi sakit begini.”      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN