Fakta Yang Terkuak

1655 Kata
Sarmila masih tak beranjak sama sekali dari tempat duduknya. Dia benar-benar tak bisa bergerak sama sekali karena Gentala terus saja memegangi tangannya. Perlahan dia berusaha melepaskan pegangan tangan Gentala, saat itu juga Gentala akan mengigau dan memanggil ‘mama’. Sarmila menarik napasnya, berusaha untuk meminimalisir efek dari tangannya yang terlepas. “Ma! Mama ….” Kembali Sarmila lunglai saat tangannya lagi-lagi tak bisa terlepas. Dia memandangi bubur buatannya miris karena sudah menjadi dingin. “Harusnya buburnya dimakan pas panas-panas gitu kan? Ini dia masih aja tidur,” resahnya merasa kalau dirinya kasihan saat dirinya benar-benar memikirkan kalau Gentala terlalu banyak bekerja. Matanya masih memandangi kasihan ke arah bubur buatannya. “Kamu diabaikan ya Bur?” Malah dirinya mengajak si bubur berbicara. Jiwanya lama-lama semakin stres dengan keadaan malam yang terbilang mencekam untuknya. Bagaimana tidak mencekam? Dia hanya sendirian di kamar Gentala dengan pria itu masih saja tertidur sambil memeluk tangannya bak guling. Guling saja masih lebih besar ukurannya.   Sarmila masih duduk, namun lama-lama kantuk mulai menyerang pertahanan kelopak matanya untuk tetap terbuka. Lama kelamaan kepalanya sudah tergiring ke kanan dan ke kiri, tergantung gaya gravitasi mana yang lebih besar. Perlahan kepalanya miring ke kiri, semakin lama semakin turun sampai akhirnya. Drep! Matanya terbuka saat kepalanya dirasa kuat ditarik ke bawah. Namun, kembali lagi matanya perlahan-lahan menutup sampai kepalanya oleng ke kanan. Dan lagi-lagi … Drep! Kembali dia terkejut sampai terbangun dari rasa kantuknya yang berat.   Dia menarik napasnya dan menghembuskannya kuat-kuat. Dengan niat penuh ketulusan, tangannya pun mulai menggoyangkan lengan Gentala untuk membangunkan pria itu. “Mas! Mas Gen, ayo dong bangun,” rengeknya. “Mas Gen, ih … Mas Gen kok kupingnya enggak dengar sih? Ini kuping dua Mas, ya Allah, kok kebo banget.” Kembali Sarmila mengomel. Mendengar omelan dan rengekan panjang Sarmila mau tak mau membawa impuls tersendiri yang benar-benar membuatnya mau tak mau akhirnya membuatnya memaksa kelopak mata miliknya terbuka. Yang ditangkap menjadi objek dari retina miliknya adalah wajah wanita yang masih blur namun lama kelamaan mulai jelas terbentuk.   Sarmila sedikit menunduk, memastikan kalau Gentala sudah bangun. Dia tersenyum lega, “alhamdulillah, akhirnya Mas Gen bangun juga. Ya Allah udah kayak orang pingsan aja Mas nih ….” Mendengar suara ribut Sarmila malah membuat kepala Gentala pusing tujuh keliling. “Kau--bisakah kamu diam? Aku pusing mendengarnya,” tukas Gentala dengan suara serak. Dia mengerang, memegangi kepalanya yang dirasa begitu nyeri. “Duh Mas Gen, Mas Gen makan dulu ya?” bujuk Sarmila dengan mengambil bubur buatannya. Dia kembali duduk di samping Gentala dan mengaduk buburnya. “Kamu bisa keluar sekarang? Siapa yang mengizinkanmu masuk ke sini.” Baru Gentala sadari kalau memang dirinya berada di dalam kamar bersama dengan Sarmila. “Tante Linda tadi minta tolong sama Mila buat masak bubur. Kasihan Tante Linda sampai berantakin dapur. Jadi lah Mila yang ke sini, ayo makan dulu Mas. Mas Gen kok bisa sakit sih?” Meski memang Sarmila tulus dengan membantu Gentala, tapi mulutnya terus saja bercuap-cuap merasa ingin tahu.   Gentala berusaha untuk bangkit, dia pun sampai kesulitan bangun. Sarmila meringis, dia tak bisa membantu dengan Gentala yang bahkan tubuhnya lebih besar dari pada dirinya. “Aaa!!” Sarmila menyodorkan sendok berisi bubur setelah tadi dia tiup-tiup dulu agar dingin. Padahal memang buburnya sudah mendingin. “Biar saya sendiri,” sambar Gentala sambil merebut sendok dari tangan Sarmila. Pria itu berusaha untuk kuat. Dia sama sekali tak mau dilihat lemah oleh Sarmila yang notabene-nya adalah orang luar. “Mas Gen kok pura-pura kuat banget sih?” protes Sarmila. Namun, Sarmila tak mau mengalah. Dia bahkan sengaja menjauhkan sendoknya agar bisa menyuapi Gentala. “Mas Gen cukup mangap aja kenapa sih? Mila nolongnya enggak minta bayaran kok,” sewotnya. Mau tak mau dan karena dirinya tak bisa berdebat, pada akhirnya dia kembali duduk tenang dan terpaksa membuka mulutnya saat Sarmila menyuapinya bubur. Mulutnya terasa pahit namun … entah kenapa rasa bubur Sarmila dirasa begitu enak. Sampai tak sadar semuanya ludes sambil dirinya mendengarkan Sarmila terus mengoceh tentang sakit dan omelannya. “Lagian Mas Gen kalau kerja jangan berat-berat. Anak buah ada banyak kok bisa-bisanya kerja setiap hari duh … gemes deh Mila. Eh? Udah habis hihi ….” Gadis itu cekikikan dan merasa senang karena memang dirinya berhasil membuat bubur yang dimakan habis. “Ini, minumnya pelan-pelan Mas,” peirntahnya sambil menyodorkan gelas berisi air mineral yang dibawanya. Gentala menerimanya. Dia hampir saja tersedak saat tubuh Sarmila mendadak maju mendekat. Dia benar-benar sampai membuat tubuhnya menjauh ke belakang. Mata Sarmila yang bulat coklat pun begitu tertangkap iris Gentala detailnya. Dia diam-diam menahan napas dengan wajah Sarmila yang mendekat dan semakin detail saja. ‘Cantik.’ Tangan Sarmila terangkat dan menyentuh dahi Gentala, mengecek suhu tubuh pria itu. Gentala sendiri sampai menahan napasnya. Di pikirannya, mungkin Sarmila akan melakukan sebuah keusilan, nyatanya hanya mengecek suhu tubuhnya. Bisa-bisanya hatinya itu berpikiran sesempit itu. Sarmila kembali mundur. Dia pun membawa baki makanannya keluar kamar. “Mas Gen, istirahat aja, nanti Mila bawain obatnya. Mas demam tinggi.” Gentala memilih tak menjawab dan segera memalingkan wajahnya lantas kembali berbaring memunggungi Sarmila. Dia tak bisa mengusir gadis itu karena memang dirinya sedang dalam kondisi lemah.   Sarmila yang turun disambut Angelo dan Rosalinda yang rupanya sedang mengobrol sambil memeluk p***y, kucing kesayangan Gentala. “Bagaimana? Dia mau makan?” tanya Rosalinda sambil mendekat kepada Sarmila. Sarmila pun menunjukkan mangkuk kosong ditambah dengan cengiran khas miliknya. “Hehehe … abis dong Tan. Ini Mila mau ambil obat demam, punya Tan?” Mendengar jawaban Sarmila seketika membuat Rosalinda ikut merasa lega. Dia tak menyangka Gentala mau dipaksa makan oleh Sarmila.  “Ada kok.” “Ini obatnya.” LInda menyerahkan obat itu lantas Sarmila segera menuju ke kamar Gentala lagi.   “Mas diminum dulu obatnya.” Gentala menerimanya saja, selagi Sarmila membantunya bahkan dengan penuh kehati-hatian. Dia benar-benar memperhatikan bagaimana Sarmila memperlakukannya dengan baik. Sarmila bahkan membantu menyelimuti pria itu, membiarkan pria itu kembali tertidur karena efek obat yang baru saja diminumnya. Gadis itu merasa tenang setelah Gentala tak susah untuk meminum obat. Dia melihat jelas sekelilingnya. Dan dapat dirasakan bagaimana ruangan itu terasa dingin seperti karakter pemiliknya. Tidak ada foto, hanya hiasan benda mati dan begitu monoton. Kehidupan Gentala begitu teratur bukan main. Namun, mata Sarmila kembali melihat wajah Gentala yang damai dalam tidurnya. Tak seperti tadi yang nampak begitu gelisah. “Good night Mas, semoga besok sehat ya?” doanya penuh ketulusan. Sarmila diam-diam segera kembali ke dapur. Dia tak lagi berlama-lama di dalam kamar Gentala. Bisa menjadi godaan untuknya. “Duh, bisa-bisa aku yang terkam Mas Gen, saking seksinya,” bisiknya.   Sarmila bahkan ikut membantu membereskan kekacauan di dapur. Dia pun segera pamit. “Euhm Tan, Mila pulang dulu ya? Udah malam banget nih,” pamitnya. “Kamu mau kuantar?” Angelo menawarkan diri, dia tak sejahat itu untuk membiarkan Sarmila sendirian meskipun rumah mereka bersebelahan. “Enggak usah, Jelo. Kan rumah juga dekat.” “Sudah antarkan saja Sarmila, ya Angelo?” putus Rosalinda cepat. “Oiya, Mila? Tante boleh minta tolong? Tante akan pulang ke Belanda besok. Dan … tolong jagain Gentala sama Angelo ya? Mereka tuh cuma wujudnya aja pria, tapi masih bayi. Makan aja kadang harus dikasih,” omel Rosalinda. “Ah enggak mungkin mereka begitu lah Tan.” “Auntie jangan buat aku jelek di depan Sarmila, Aunt.” Angelo sampai merasa malu mendengarnya. Rosalinda hanya cekikikan saja. “Engga kok, Tante minta kamu buat part time di rumah Gentala, bersih-bersih sama cuci baju terus memastikan stok makanan ada. Tenang aja, Tante akan bayar kamu kok,” tutur Rosalinda. “Eh? Tapi Tan ….” “Nah bagus begitu Auntie, ayo Mila, kita pulang.” Akhirnya dia berakhir menjadi pulang tanpa bisa menolak. Sementara Angelo menemaninya berjalan di halaman luas rumah Gentala.   “Apa Auntie Linda merepotkanmu?” tanya Angelo merasa tak enak hati saat mereka sampai di depan rumah Lina. “Enggak lah, Tante Linda baik banget. Dia kan Ibu, mana bisa enggak khawatir kalau anaknya sakit sih.” Angelo bersyukur, Sarmila  tak memperlihatkan wajah bad mood seperti saat tadi makan siang. “Oiya, Mila, saya ingin mengatakan sesuatu.” Sarmila pun berdiri berhadapan, dia menunggu apa yang akan dikatakan oleh Angelo. “Maaf soal tadi siang,” sesalnya. Sarmila tertawa mendengarnya, “apaan sih? Mila emang kadang-kadang gampang berubah mood aja kok. Itu bukan salah Angelo.” “Dan … soal pertanyaan kamu tadi, sebaiknya kamu cari tahu dulu di internet ya? Jangan sampai kamu bertanya sesuatu tanpa kamu tahu itu apa, aku takut kamu akan terkejut.” Sarmila hanya berkata iya saja karena dirinya jelas tak tahu apa yang dimaksud oleh Angelo. “Makasih ya Angelo, sudah mau antar Mila,” ucapnya dengan tulus. Segera saja Sarmila masuk ke dalam rumah. Dia segera ke atas, menilik kalau Lina tak menunggunya. Dari pada dirinya harus menemani sang bibi menonton sinetron yang tak pernah dia pahami alurnya yang melingkar, bundar, tak berujung dengan episode yang berjumlah ribuan itu.   “Hah … sampai juga.” Brug! Dia menjatuhkan diri ke atas kasur. Tak peduli kalau dirinya belum mandi. Lama-lama di dalam otaknya kembali teringat dengan apa yang dibicarakan oleh Angelo. “k****m?!” Mau tak mau, dia merogoh ponselnya. Segera mencari di browser internet. Diketiknya rangkaian huruf yang menjadi pencarian tujuannya. Semuanya muncul. Mata gadis itu terbeliak terkejut, mulutnya menganga dan … Buk! Ponselnya sampai menimpa wajahnya. “Akh!” Dia mengaduh kesakitan. Lantas segera saja dirinya menjerit sejadi-jadinya. “Aaaa!!! malu banget, huhu ….” Kakinya menendang bantal dengan kencang tak peduli kalau sampai terjatuh. Dia berguling-guling melampiaskan rasa terkejutnya mengenai informasi benda ‘kontrasepsi’ itu. “Huhu … malu banget!!! kenapa kamu b**o sih Milaaa,” erangnya sembari mengingat-ingat tingkah orang di sekelilingnya saat dirinya bertanya mengenai benda itu. “Ya Tuhan … aku mau operasi wajah aja … huhu … malu banget!!!” Wajahnya ditutupi dengan bantal dan tangannya terus menerus memukuli bantal itu kencang. Rasa malunya hilang sudah, tercoreng sudah nama baiknya karena benda laknat yang bisa-bisanya dia sampai penasaran.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN