Sarmila bersemangat pagi itu, sebelum dia pergi bekerja dia mendapatkan satu amanah saat Rosalinda menghubunginya langsung untuk memasak dan membersihkan rumah milik Gentala.
Sambil bersiul-siul senang, wanita muda itu masuk ke dalam rumah Gentala. Dia sudah mendapatkan sandi pintu belakang rumah Gentala. Ya, ternyata pintu belakang menggunakan keamanan tingkat tinggi tanpa kunci fisik.
“Tiga, tujuh, tujuh, lima, dua, nol.” Telunjuknya mulai menekan screen yang menampilkan angka 0 sampai 9 itu.
Klik!
“Wah kebuka sendiri! Hihi ….” Dia terkikik senang saat mendapati bisa masuk ke rumah Gentala tanpa kesulitan.
Dia masuk dengan penuh kebanggaan saat dirinya melangkah masuk ke bangunan megah yang benar-benar menyenangkan untuk bisa selalu tinggal di sana.
Dia mulai menuju ke dapur.
Tugasnya yang paling utama adalah memasak, untuk Gentala khususnya lalu Angelo umumnya. Karena Gentala entah sudah sehat atau masih sakit yang jelas dia masih khawatir kalau pria tampan dan mapan yang siap menjadi suami idaman belum juga kunjung baikan.
“Aku bisa berangkat sama Angelo juga deh,” ucapnya merasa tenang karena memiliki tebengan untuk ke hotel nantinya.
Dia mulai membuka kulkas dua pintu yang terbilang mahal, dengan segala kecanggihannya.
Sarmila diam sesaat, dia mulai menutup mata, dengan posisi kaki yang sudah kuda-kuda. Tangannya saling bertemu lantas salah satu tangannya terjulur, membuat gerakan menggeser dari tengah sampai ke sebelah kanan.
“Hyaaah! Open sesame!” serunya.
Benar saja, pintu kulkas terbuka. “Hohoho … aku si manusia ajaib,” bisiknya senang.
Benar-benar menjadi hiburan tersendiri meski hanya mengutak-atik peralatan yang ada di dapur Gentala.
Dia mulai mengambil udang, sayuran segar, termasuk Head lettuce, selada, paprika, mentimun dan juga wortel. Tangannya dengan lihai mengupas udang dengan bersih. Telunjuknya memegang ujung tusuk gigi yang sudah menusuk bagian kotor si udang, lalu menariknya sampai semua kotoran terambil dari punggung udangnya.
Dia melakukannya beberapa kali sampai akhirnya dirasa cukup. Lalu dia pun mulai mencuci sayuran, mengupas yang perlu dikupas dan mulai memotongnya memanjang.
Wortel yang sudah terpotong shred atau memanjang nan halus. Lalu diambilnya pan dan menuangkan sedikit minyak zaitun, menumis potongan wortel sampai harum. Setidaknya dia unggul dalam hal memasak.
Eksperimen yang selalu dia buat di dapur sangat berguna untuk saat ini, semasa dia masih menikah dahulu.
Tak asing dengan segala benda yang ada di dapur, termasuk mencoba beberapa makanan asia termasuk viatnemese food salah satunya salad roll.
Setelah selesai, dia mulai mengukus si udang sampai matang. Lalu selembar demi selembar rice paper pun dicelupkan ke air matang dan dibentangkan di telenan, lalu mulai menata sayuran yang telah terpotong dan juga tiga udang yang menutupi barisan sayuran tersebut. Dilipatnya rice paper yang tergulung sempurna menjadi terbalut semuanya menjadi satu, warna-warni sayuran pun menggodanya dengan indah.
Dia puas dengan hasil karyanya.
Ditatanya ke piring dengan melingkar lalu di tengah ditaruhnya mangkuk kecil yang berisikan saus wijen sangrai sebagai saus cocolan salad roll tersebut.
Menu makanan lain yang dia buat untuk sarapan adalah American breakfast. Hanya dengan membuatkan telur mata sapi setengah matang, lalu membakar sosis, dan juga roti tawar yang dia panggang ke dalam pemanggang roti lantas diolesi salted butter.
“Beres!” Dia semakin tersenyum semringah melihat hasil kreasinya.
“Siapa kamu?!” Suara nyaring melengking membuat Sarmila terlonjak saking terkejutnya.
“Alamak! Asem!” Dia sampai kembali latah saat mendengar pertanyaan itu. Sarmila segera berbalik dan melihat siapa yang menanyakan sosoknya.
Dapat dilihatnya wanita cantik dengan rambut pirang karena cat ala-ala bule, baginya coklat, brunette maupun blonde adalah warna rambut bule. Wanita itu tinggi dengan heels yang masih dia pakai dan juga celana blue jeans yang dipadukan dengan crop top yang menampakkan pusara beserta perut ratanya.
“Loh? Mbaknya sendiri siapa?” Sarmila ikut bertanya.
Wanita berdandan menor itu memandangi Sarmila dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Sarmila yang memakai apron dengan tangannya masih memegang spatula dan juga piring kosong. Dari penampilannya pun wanita itu sudah bisa mengambil kesimpulan.
“Oh, kamu pembantu baru ya?” ujar wanita itu menghampiri Sarmila.
Sarmila tak paham, dia segera menggelengkan kepalanya mutlak. “Saya tetangga sebelahnya Mas Gen.” Dia mencoba mengklarifikasi statusnya.
“Hah?! Tetangga?! Ngarang kamu, enggak usah ngaku-ngaku kalau memang kamu babu!” Wanita itu juga ikut bersikeras soal status Sarmila.
“Ih, si Mbak ini udah kayak dukun aja bisa menerka-nerka begitu,” ledek Sarmila dengan santainya.
“Apa kamu bilang?! Kamu enggak lihat saya sudah cantik begini heh?!” Masih saja wanita itu bersemangat uji nyaring suara.
“Iya Mbak, tapi pagi-pagi ya jangan marah-marah dong, kasihan telinga saya ini loh ….”
Wanita itu tak menyangka kalau wanita yang disangka pembantu atau ART itu malah meladeninya tanpa merasa takut.
“Sudahlah! Kamu! Buatkan saya teh chamomile!” perintahnya sambil berbalik, lalu duduk di ruang makan.
Sarmila terperangah melihatnya. Dia benar-benar tak tahu kalau ada wanita paling tak sopan berada di rumah Gentala.
Bahkan dia sendiri saja belum melihat pemilik dan sepupunya, lalu sekarang ada tamu aneh yang seenaknya bisa masuk ke dalam rumah Gentala? Oke, kecualikan dirinya yang mendapatkan mandat untuk menyiapkan sarapan.
Namun, dia menggeleng-gelengkan kepalanya saja lantas segera membuatkan apa yang diminta wanita jangkung itu. Katakan saja jangkung, karena tubuhnya setipis triplek namun berlenggak-lenggok penuh rasa percaya diri.
Saat dirinya menuangkan air panas ke cawan, otak jahilnya mulai bekerja ekstra. Senyuman menyeringai mulai terkembang seiring dengan kejahilan yang akan dia lakukan.
“Oke, aku kan enggak tahu mana garem mana gula, jangan salahkan daku kalau asin ya?” ucapnya pada diri sendiri sambil mengambil stoples berisi garam dan menuangkan tiga sendok garam ke cangkir teh yang sudah dia siapkan.
“Dudu, tralala, lili, ah, eaaa!”
Bahkan dengan santai Sarmila bernyanyi dengan nada absurd.
Dia menaruh ke nampan dan segera mengantarkannya kepada wanita itu.
“Ini Mbak, tehnya, hati-hati panas,” ucapnya kalem.
Lantas segera dirinya kembali dan memindahkan sarapan yang dia buat ke atas meja makan.
Tepat, saat selesai Angelo dan Gentala turun, mengetahui ada bau makanan, mereka pun ke dapur. Melihat sosok Sarmila yang memakai apron dan juga ….
“Brisia!” sapa Angelo senang lantas segera memeluk wanita cantik itu.
“Om kenal dia?” tanya Sarmila.
Angelo mengurai pelukannya, dia mengangguk, “iya … dia sahabat kami sedari SMA.”
“Oh, kamu baru tahu ya?” sambar wanita itu penuh rasa bangga.
Sarmila mengangguk-angguk saja, dia masih memandangi Gentala yang terlihat masih pucat.
“Mas Gen masih sakit? Kok kerja?” tanyanya.
Gentala berdeham, “saya sudah baikan, jadi kamu tak perlu khawatir. Kamu pasti disuruh Ibu untuk menyiapkan ini semua ya?” tanya Gentala merasa tak enak hati, karena pada akhirnya Rosalinda malah menggunakan ketulusan Sarmila untuk mengawasinya.
Sarmila senang mendengar pertanyaan Gentala yang tergolong tak judes. “Enggak apa-apa Mas Gen, namanya juga tetangga,” timpalnya sambil melirik wanita yang tadi menyangkanya pembantu.
“Makan dulu Mas, sebelum kerja.” Sarmila menyodorkan piring kosong.
Gentala segera duduk, diikuti oleh Angelo yang kesenangan saat melihat menu sarapan yang terbilang biasa namun tak biasa.
“Wow, you cook this all? So nice Mila,” pujinya.
Sarmila yang tak paham hanya menyengir kuda saja, anggap saja itu pujian untuknya.
“Kamu duduk juga, kamu pasti belum sarapan.”
Sarmila tak menyangka Gentala tak galak seperti sebelumnya. Tentu saja disambut hangat olehnya, lantas segera duduk di hadapan Gentala. Dia ikut sarapan juga, mengambil dua salad roll dan juga roti panggang.
“Gen, kamu kok jarang banget sih telepon aku?” Wanita yang bernama Brisia itu mulai melancarkan aksinya.
Dia merasa harus terus mendekati Gentala dan mendapatkan simpatisan dari pria itu.
“Sibuk.”
Jawaban singkat Gentala membuat Sarmila menahan tawanya sendiri.
“Aku siap menemani kamu, kok. Kamu bisa calling aku,” timpal Angelo senang. Dia memang terbilang yang paling dekat dengan Brisia.
Tentu Brisia tak menggubris tawaran dari sepupu Gentala itu. Dia sudah lama mengincar Gentala dan juga mendapatkan izin dari Rosalinda untuk mendekati Gentala.
“Kamu free enggak hari minggu nanti?” tanyanya.
“Saya sibuk, Brisia,” jawab Gentala kembali tanpa mau memandangi wanita itu sama sekali.
Semakin senang Sarmila melihat reaksi pria incarannya yang tak tertarik pada Brisia. ‘Wkwkwk … cantik-cantik ternyata enggak menarik.’ Batinnya mengejek.
“Aku nanti ada pesta syukuran gitu loh, Gen. Tante Linda juga datang ke sana, katanya sekalian undang kamu juga, kita kan sudah lama dekat.”
Sengaja Brisia menjelaskan kedekatannya dengan Gentala dan sang ibunda, merasa kalau deklarasi itu membuat wanita muda yang ikut sarapan itu bisa tahu diri.
“Mbaknya over proud enggak ini?” Sarmila malah nyeletuk tanpa merasa kalau dirinya bisa saja terkena masalah karena ucapannya.
“Apa kamu bilang?!” Brisia terkejut mendapati Sarmila yang berani ikut berbicara.
Angelo sendiri menahan tawa, melihat bagaimana kerusuhan pagi ini akan tercipta. Dia sendiri sudah tahu betul kelakuan sahabat sejak SMA itu, mengenal Gentala namun mengaku sahabat sudah lama. Semua orang tahu kalau Brisia mengincar Gentala.
“Hei, kamu, anak kemarin sore yang masih bau kencur, enggak usah ikut campur sama omongan orang dewasa. Saya sama Gentala itu sudah dekat sekali, bahkan saya saja akrab dengan Tante Linda,” ujar Brisia masih berusaha memperlihatkan dirinya yang katanya dekat itu.
Sarmila masih memakan rotinya dengan kalem, tak meladeni dan memilih memuaskan diri menatap Gentala yang sedang tak garang. Kapan lagi bisa melihat wajah tampan Gentala yang terbilang high quality tanpa bersusah payah begini.
Brisia kembali tersenyum pada Gentala, “ya Gen? Kamu nanti datang kan?”
“Kalau sudah tak sibuk.” Gentala memberikan jawaban agar wanita itu diam.
Sementara Angelo kini ikut memindahkan piring kotor bersama Sarmila. “Kamu kok tak bilang akan datang ke sini?” tanyanya.
Angelo semakin dibuat kagum dengan bagaimana Sarmila memasak pagi-pagi sekali demi dia dan Gentala.
“Kan atas permintaan Tante Linda semalam, Om. Kasihan kalau kalian enggak sarapan dulu, Mas Gen kan sakit,” ucapnya.
“Gen, aku pergi kerja bareng kamu ya?” sambar Brisia tak mau kehilangan kesempatan.
“Kita beda arah, Bris,” kilah Gentala.
“Aku ke sininya pakai taksi loh ….”
Sungguh Gentala kesal, “nanti sama supirku saja,” putusnya.
Brisia diam, dia merasa gagal. Sarmila yang kembali pun semakin memandang intens saat Brisia mengambil gelasnya dan menyeruput teh yang katanya chamomile itu.
“Oucch!! asin!!!” jerit Brisia setelah meneguk teh buatan Sarmila.
Sarmila puas melihatnya, segera melesat keluar sambil berteriak, “makanya jangan over proud Tante menor!!!”