Sarmila melesat kabur, sementara di dalam rumah, Brisia berteriak nyaring, “Babu kurang ajar!!! awas kamu! Aku bilangin sama Tante Linda!!”
“Ups!!! enggak takut Tante dempul, wleee!” balas Sarmila sambil menjulurkan lidahnya saat sudah mencapai pintu.
Gentala terperangah melihatnya, dia tak percaya pada apa yang diperbuat Sarmila pada Brisia, sedikit terhibur karena pada akhirnya ada yang bisa menghentikan aksi PDKT penuh tingkah liar milik wanita itu.
Dia menjinjing tas, “kamu minum air sana, setelahnya ayo keluar. Sopirku akan mengantarmu.”
Itu artinya Gentala sudah mengusir halus Brisia, dia juga sudah bersiap keluar.
Brisia ingin mengadu, namun dia tahu diri. Gentala tak akan meladeninya jika begini, jadi segera saja dia menenggak air mineral dan mengikuti pria itu keluar rumah.
“Kenapa aku enggak pergi bareng kamu saja sih?” gerutunya dengan nada manja, yang tentu dibuat-buat.
Gentala menghentikan langkahnya, dia berbalik. Melihat Gentala berhenti, Brisia tersenyum senang. Namun, senyumannya luntur begitu mendengar teguran dari bibir pria yang disukainya itu.
“Dan … jangan kamu masuk sembarangan! Saya tak suka dengan kamu yang seenaknya saja di rumah saya.”
Seketika Brisia terpaku, merasa tak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini. “Tapi … kita sahabat, Gen,” lirihnya.
Gentala tak mau ambil pusing, dia tak pernah menganggap adanya sahabat antara pria dan wanita. “Kita sudah dewasa untuk tahu bagaimana membedakan sikap kekanak-kanakan,” ucapnya sambil berlalu.
Angelo masih tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya setelah tahu aksi Sarmila yang mengerjai Brisia. Tak tanggung-tanggung, bahkan di depan Gentala, gadis itu terlalu berani.
“Om ketawa mulu,” sungut gadis itu sedikit keki.
Mereka menunggu sang empunya membukakan pintu mobil untuk mereka. Siapa lagi kalau bukan Gentala?
“Ups, hahaha! Sorry, I can’t stop to laugh now, really!” Bahkan Angelo masih terbungkuk-bungkuk karena masih menertawai reaksi Brisia.
Brisia yang ada di belakang Angelo pun memukul punggung pria itu dengan hand bag yang dibawanya.
Bug!
“Akh!” Angelo mengaduh, punggungnya sampai tegap melenting efek nyeri panas yang menjalar di kulitnya.
Sarmila terperangah melihatnya, dia ternganga menyaksikan wanita itu terlalu bar-bar. Sedikit melipir agar dirinya tak terkena sasaran amukan si Tante Dempul.
“Awas kamu ya, anak kecil!” desis Brisia, bersumpah akan membalas Sarmila.
Namun, Sarmila malah berpura-pura menghadap ke arah lain, demi tak melihat tatapan setajam silet milik Brisia.
“Sudahlah Brisia, kamu memang bersalah, menganggapnya sebagai pembantu padahal dia tetangga saya saja. Bersikaplah dewasa.” Kembali Gentala menegur wanita yang memang sudah dikenalnya lama.
Sarmila berbalik, tersenyum senang saat dibela oleh Gentala. Dia merasa di atas awan akibat pembelaan itu, dan masih bisa-bisanya menjulurkan lidah untuk mengejek wanita berdandanan tebal itu.
Brisia ingin sekali rasanya menarik rambut Sarmila, tapi dia hanya bisa menahan diri, berdiri dan tersenyum saja.
Gentala segera membukakan pintu Mercedes Benz yang akan mengantarkan Brisia.
Sarmila terbelalak melihatnya.
“Masuklah Brisia, saya yakin kamu tak mau terlambat bukan?”
Kini berganti Brisia yang tersenyum bangga, berjalan lenggak-lenggok penuh percaya diri seraya melambaikan tangannya, “aku duluan ya Angelo, dan … tetangga Gentala,” pamitnya mengejek.
Sarmila panas hati, di kepalanya sudah banyak asap yang mengepul karena terpancing rasa cemburu luar biasa.
Merasa iri, kenapa Gentala tak pernah memperlakukannya begitu?
‘Oh, sadarlah duhai bawang putih yang menjadi babu, kamu siapanya dia?’ Batinnya malah menyindirnya, membuatnya kembali mengingat posisinya.
“Om, bukain pintu mobilnya dong! Biar kayak si Tante Dempul!” perintahnya pada Angelo.
Angelo semakin tertawa melihatnya, dia pun membukakan pintu mobil belakang untuk Sarmila. “Silakan masuk Nona manis,” ucapnya.
Dengan wajah mendongak, sengaja menampilkan sikap arogan, dia meniru gaya Brisia saat memasuki mobil dan duduk nyaman.
Gentala menggeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan persaingan kedua betina yang tak paham sedang bersaing dalam hal apa.
Dia segera masuk ke dalam mobil yang ditumpangi Sarmila, dan Angelo tentu yang mengendarai mobilnya mengingat dia sedang tak enak badan.
“Kok Mas Gen enggak satu mobil aja sih sama Tante Dempul?” Kali ini Sarmila mulai menjulid.
“Kamu mau saya turunkan?” ancam Gentala.
Sarmila segera mengunci mulutnya rapat-rapat, dia kehilangan sikap julidnya seketika melihat wajah dingin tanpa ekspresi milik Gentala yang duduk di kursi depan.
“Sudah, duduk tenang Mila. Jika kamu tak mau terlantar di jalan,” imbuh Angelo sambil terkekeh geli.
Sarmila menatap sengit Angelo, dia akhirnya hanya bisa duduk saja tanpa bicara apa-apa lagi.
“Dan kamu juga, kenapa bisa-bisanya menaruh garam dalam teh?” tanya Gentala.
“Oh itu … mata saya kayaknya minus deh Mas, soalnya saya sampai susah bedakan mana garam mana gula, pas udah satu sendok, saya baru sadar, tapi ya sudah sekalian saja saya tambah lagi deh,” ujar Sarmila dengan wajah tanpa dosanya.
Gentala menggeleng-gelengkan kepalanya saja tak bisa berkata apa-apa lagi setelahnya. Sungguh atensi seorang Sarmila bisa membuat dunia tenangnya seperti medan perang meski kurang dari satu jam.
Mereka sudah sampai di parkiran hotel yang ada di bawah gedung. Sarmila segera keluar, dia merasa tak enak kalau ujungnya sampai harus membuat nama Gentala tercoreng. Dia tahu posisi Gentala penting.
“Oke, terima kasih Pak Gentala atas tumpangannya, semoga hari ini semua urusan lancar,” doanya penuh ketulusan. Membungkukkan tubuhnya lalu tersenyum, dia pun segera melesat pergi. Bersyukur area parkir masih sepi.
Buru-buru Sarmila berlari menuju pintu ground dan naik lift menuju di mana ruangan staf house keeping berada.
Dia tersenyum puas, paginya merasa tak begitu biasa hanya karena membuatkan sarapan untuk Gentala.
“Loh? Enggak kepagian kamu datang?” tanya Nia yang juga baru datang, pasalnya masih satu jam lagi dari mereka masuk jam kerja.
Sarmila melangkah keluar dari kurungan balok yang membawanya ke lantai atas.
Sarmila tersenyum lebar, dia menyambar lengan wanita yang usianya lebih tua darinya itu, dan sama-sama memakai seragam tim kebersihan.
“Halo Mbak Nia, good morning!” sapanya.
Nia terkekeh, meledek, “alah bisa-bisanya kamu good morning, good morning, bahasa ingggris ae ndak iso.”
“Yeee kan kita harus mulai belajar dan mempraktekan dong Mbak, biar bisa dapat pacar bule,” dalih Sarmila sambil tertawa-tawa.
Tawa yang dimiliki Sarmila memang menghibur dan menambah semangat tersendiri bagi yang dekat dengannya.
“Kita mau cari sarapan dulu enggak? Aku belum makan nih,”
Sarmila menggeleng, “aku kan sudah makan di rumah Pak Gentala.”
Sontak Nia menengok, menatap horor dengan mata melotot. “Seriusan kamu?!” pekiknya.
Sarmila mengangguk-angguk saja, merasa bangga.
“Oh Em Ji!!! kok bisa?!” Kembali Nia bertanya nyaring, terkejut dengan apa yang diperbuat oleh Sarmila.
“Kan calon mantu hihi, jadi sudah pasti dong sarapan di sana.”
Pletak!
“Gundulmu mantu, sok iya kamu.” Nia bersungut-sungut sendiri mendengarnya, “ngayal kamu kejauhan Mil, Mil.”
Sarmila tertawa terbahak-bahak mendengar reaksi dari bibir teman kerjanya itu. Dia segera berganti baju untuk melakukan pekerjaannya.
Sarmila sudah siap tempur, dia sudah semakin terbiasa dengan pekerjaannya saat ini.
“Mil, coba mangap!” seru Aji, yang tiba-tiba sudah masuk ke dalam ruangan.
Spontan gadis itu latah, membuka mulutnya lebar-lebar. “Aaaa!”
Hup!
Sarmila menutup mulutnya yang kemasukan sebiji permen mint. “Gimana permennya? Enak?”
Sarmila mengangguk-angguk setuju, dia tertawa kembali. “Mila langsung kerja ya Bang, dadah ….”
Aji, pria dengan potongan rambut yang baru itu mencegah kepergian Sarmila. “Et, bentar dulu dong.” Tangannya mencekal lengan milik gadis itu sampai Sarmila berbalik, menatapnya bingung.
Seketika Aji berdeham, dia pun mulai mengusap rambutnya licin sambil berpose miring, “gimana, gimana, perubahan gue? Oke enggak nih?”
Semakin Sarmila mengernyitkan dahinya kebingungan. “Bang, ke klinik geh? Siapa tau gegar otak,” celetuknya.
Aji segera menegakkan tubuhnya kembali, sedikit jengkel saat gadis itu malah tak peka.”Lo nih ya, gue potong rambut tau!” dengusnya.
Seketika Sarmila tertawa mendengarnya, “hahaha, maaf Bang, cakep kok, gantengnya dua kali lipat.”
Pintar sekali gadis itu dalam memuji namun lebih pada berbohong.
Nia yang baru masuk ke ruangan kembali malah mempraktekan bagaimana dia mual mendengarnya, “hueeek! Ada ya cewek ngegimbal,” timpalnya.
Sarmila semakin tertawa-tawa, sedangkan Aji sudah terdiam saja, merasa kalau dirinya malah jadi bahan candaan.
“Udah sana lo, balik kerja!”
Seketika dua wanita itu keluar ruangan, berlari membawa keranjang peralatannya. Cekikikan saat harus mendengar bagaimana Aji kesal sendiri karena ulah mereka berdua.
“Oiya, kamu bagian official ya?” tanya Nia saat mereka masuk ke dalam lift.
“Iya nih, official, hahaha saatnya berburu cowok Mbak,” kekeh Sarmila sambil berkaca di dinding besi yang memantulkan wajahnya.
“Ya Allah, lebarkanlah kesabaran hamba menghadapi wanita genit ini ….”
Sarmila kembali tertawa mendengarnya, tak biasa sekali saat mendengar ratapan sang teman.
“Oke, babay, Mbak, doakan aku dapat cogan,” bisiknya genit seraya keluar dari lift sementara Nia melanjutkan berada di dalam lift untuk menuju lantai lebih atas.
Sarmila mulai mendorong keranjang miliknya, kain lap sudah tersampir di bahunya siap berperang di medan kotor.
Tok! Tok! Tok!
Sengaja dia mengetuk pintu, demi kesopanan. Dia membuka pintu, melongok ke dalam dan melihat isinya, hanya beberapa kepala saja yang ada di sana. Mengangkat pandangannya dan hanya ber-oh ria saja saat melihat siapa yang datang.
“Permisi, mau saya bersihkan dulu ya, Pak, Bu?” izinnya.
Seorang pria yang bekerja menjadi staf di sini, berkulit kecoklatan ala pria jawa pun tersenyum, “silakan Mbak, santai saja.”
Sarmila pun menyeret keranjangnya ke dalam ruangan.
Dia segera membersihkan lantai dan seisinya, berusaha membersihkan tiap detail sampai dirinya sedang menyapu lantai. Di belakangnya datang dua wanita cantik dengan rok pendek selututnya.
“Mana tempat sampahnya?”
“Buangin sampah kita ya?”
Bagaimana pertanyaan dan ucapan itu terdengar merendahkan, namun Sarmila mengangkat pandangannya, tersenyum dan mengangguk, “ siap Mbak,” jawabnya riang.
Mereka tertawa meremehkan bagaimana penampilan Sarmila yang bekerja menjadi tukang bersih-bersih, digosipkan seantero kantor soal kedekatannya dengan Gentala.
“Yah elah, tukang bersih-bersih begini dideketin CEO kita, mustahil banget!” Wanita itu kembali nyinyir, diangguki oleh temannya.
Sarmila mendengarnya, tapi dia lebih memilih mengabaikan ucapan itu saja. Dia memilih membersihkan ruangan dengan tenang.