Angelo yang tak sengaja melihat Sarmila direndahkan saat dirinya keluar dari ruangan manajer pun sedikit merasa kasihan. Merasa kalau hatinya tak bisa menerima perlakuan yang didapatkan oleh Sarmila. Ada masalah apa jika Sarmila berdekatan dengan Gentala yang seorang CEO? Dia merasa Sarmila tak memiliki motif apa pun untuk saat ini dan wanita muda itu hanya bekerja saja tentunya. Aneh melihat bagaimana karyawan bisa merundung Sarmila dengan mudahnya.
Dia yang keluar ruangan pun mencoba bersikap biasa. Rambutnya yang tersisir rapi dengan jas krem yang dikenakannya membuat tubuhnya nampak mendukung untuk proposional. Pria berdarah Eropa itu pun melangkah keluar. Dua karyawati yang baru saja merundung Sarmila menjerit tertahan begitu melihat sosok Angelo yang baru saja keluar ruangan itu.
Sarmila yang mendengar nama Angelo disebut pun begitu paham situasinya. Mengingat Angelo bisa terbilang bibit unggul yang terbilang setara dengan Gentala.
“Liat tuh liat, Angelo, saudaranya CEO kita, duh single enggak ya?”
“Mau banget aku jadi pacarnya,” timpal salah satu teman wanita itu.
Karyawan yang ada di sana sedikit cemburu dengan sosok yang sedang dielu-elukan itu. Merasa kesal sendiri dengan eksistensi seorang Angelo yang tentunya dengan standar ketampanan dan kecantikan yang jauh dari ekspektasi keturunan orang Nusantara.
Sarmila melanjutkan membawa keranjang peralatannya keluar ruangan. Dia segera menuju ruangan CEO yang memang harus dia bersihkan juga.
Sedikit merasa tak enak hati jika membersihkan ruangan milik Gentala itu. Jelas dia sudah diwanti-wanti dalam kontrak kerjanya, kalau dia harus menjaga rahasia di mana dia membersihkan tempat termasuk salah satunya adalah ruangan CEO.
Dengan berat hati dia menghela napasnya kencang sebelum akhirnya tersenyum kepada sekretaris yang memang memiliki sekat tersendiri di samping pintu sang CEO.
Wanita itu bahkan sudah stand by berjaga. “Halo Mbak, saya mau membersihkan ruangan Pak Gentala,” izin Sarmila sambil tersenyum kikuk.
Dia sendiri merasa masih trauma dengan penolakan saat melamar kerja meskipun wanita yang menjadi sekretaris Gentala itu tak ikut menolak seperti sang resepsionis.
Wanita itu tersenyum, “masuk saja,” ucapnya memberikan izin.
Sarmila mengangguk sopan, segera melipir masuk. “Permisi,” cicitnya dengan melongokkan kepalanya.
Dia seolah tak melihat apa-apa selain ruangan kosong. Sedikit membuat dadanya terasa lega. Menghembuskan napasnya sebentar lalu mendorong pintu ruangan untuk dirinya bisa masuk.
Segera saja Sarmila menutup pintu perlahan agar tak meninggalkan suara yang berdebam. Dia pun segera menaruh peralatannya di pojok ruangan dan segera mengambil sapu dan serokan.
“Wah … gede banget, bersihinnya encok pasti,” racaunya sambil melihat-lihat sekelilingnya.
Dia tak tahu kalau kantor CEO bekerja akan semewah saat ini ruangannya. Lantai marmer yang dipijaknya benar-benar dirasa mahal sampai langkah kakinya terdengar nyaring. ditambah porselen-porselen mahal yang menjadi hiasan ruangan.
“Gilaaa! Udah beda kelas aku mah,” ucapnya sedang mengagumi ruangan.
Dia masih berkeliling, merasa kalau di ruangan itu hanya dia seorang. Dia masih saja terpana, tak bisa terbilang kalau dirinya akan ingat bekerja jika suasana kantor senyaman ini.
Gentala yang sedang memeriksa laporan pun memutar kursi kebesaran yang sedang didudukinya, merasa kalau dirinya sedang bersama orang lain karena suara yang terdengar.
Saat berbalik, malah mendapati seorang wanita yang bekerja di bidang kebersihan menengadah ke atas, memandangi lampu gantung.
“Anda datang ke sini ingin bekerja atau ingin melihat-lihat?” tegurnya dingin.
Sarmila yang masih menenteng sapu dan serokan pun sampai menjatuhkan kedua alat perangnya.
Trak! Dia berhenti mengagumi area atas ruangan saat mendengar suara yang sangat dia kenal. Membalikkan tubuhnya dan mematung saat melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini.
“Mas Gen?” gumamnya spontan saat melihat wajah yang sangat dikenalinya yang tengah memandanginya.
Gentala menatap tajam, “kamu tidak belajar sopan santun?”
Mendengarnya saja membuat gadis itu kicep, menutup bibirnya rapat-rapat. Diam lalu menyengir kuda, “hehe, maaf Pak. Saya mau bersihkan ruangan Bapak kok,” balasnya berusaha santai.
“Cepat bersihkan, saya tidak mau kalau sampai kedatangan tamu dan ruangan saya masih berantakan.”
Tentu Sarmila segera mengangguk, lalu membungkukkan tubuhnya untuk mengambil sapu dan serokan. Ah, bukan, malah dia menggunakan vacuum cleaner juga.
Sarmila diam-diam memandangi wajah serius Gentala yang masih memeriksa laporan. Tanpa ada suara, yang ada hanyalah suara pena saat dia menandatangani kertas-kertas yang baru dianalisanya itu.
Sarmila tak bisa menahan senyumannya. Dia sudah benar-benar jatuh cinta kepada pria dewasa itu, maskulinitas yang dimiliki Gentala dan segala potensi kesuksesan pria itu benar-benar menjadikan hatinya tertaut kagum, dan lama kelamaan ada sisi-sisi lain yang dia saksikan di sosok Gentala, membuatnya terbiasa untuk merasakan debaran jantungnya sendiri.
“Permisi Pak,” ucapnya pelan saat dia ingin membersihkan area meja Gentala.
Gentala sendiri memilih bangkit, menghubungi seseorang dan pindah berdiri jauh dari mejanya.
Sarmila berusaha berkonsentrasi membersihkan ruangan Gentala.
Mata Gentala mengawasinya sementara dia masih berbicara dengan seseorang di telepon. “Jangan kamu bereskan mejanya, itu urusan sekretaris saya,” tegurnya.
Sarmila yang baru saja mau membersihkan debu di meja pria itu pun segera menarik kemoceng yang ada di tangannya.
“Iya Pak.”
Dia sendiri akhirnya mundur, membersihkan yang lainnya. Berusaha membuat Gentala kagum dan itu berhasil. Saat dia masih bekerja membersihkan meja Gentala, pria itu tengah menilai kinerjanya yang terbilang sangat rapi.
Pria itu masih berdiri, tangan yang bebas masuk ke dalam saku celananya dan tangan lainnya menyangga benda pipih yang ada di sisi telinganya.
“Soal makan siang sepertinya memang sekalian bisa untuk digunakan sebagai agenda meeting saja,” tuturnya.
Matanya melihat bagaimana gadis yang berstatus janda itu masih diam dan berkutat dengan tugasnya sendiri.
Ironi saat dia sendiri terkejut mendengar status yang disandang gadis itu. Apa seberat itu? Mendadak pikirannya mempertanyakan kondisi kehidupan seorang Sarmila.
Sarmila menoleh, merasa aneh saat Gentala menatapnya terang-terangan. “Sudah Pak,” lapornya.
Gentala diam sesaat, mendadak merasa malu saat dipergoki oleh Sarmila saat dirinya memperhatikan wanita muda itu.
Tangan Gentala segera mengibas tanda dia memang ingin wanita itu segera keluar ruangan.
Sarmila manut katutut saja, segera keluar ruangan tanpa bersuara. Mengingat Gentala sedang menelepon, dia tak mau disindir soal sopan santun lagi, takut-takut nanti gajinya malah dipotong akibat mengganggu sang CEO.
Pekerjaan hari ini terbilang ringan bagi Sarmila. Dia yang baru saja selesai mengganti baju pun kembali ke ruangan staf. Suasana begitu sepi, padahal banyak orang di sana.
“Kok pada diam-diam begini sih?” tanyanya keheranan sambil membuka loker miliknya, menaruh seragam miliknya dan juga mengambil tas mini yang dibelikan oleh Lina, tantenya.
Staf pekerja lain yang melihat kedatangannya pun memintanya tutup mulut melalui mata dan pergerakan bibir mereka.
“Kalian kenapa sih pada tatap-tatap aku?” tanyanya kembali sambil masih cengengesan.
Malah semakin tertawa melihat Nia yang duduk kaku menatapnya dan memintanya diam. “Hahaha, Mbak Nia lagi pantomim ya? Kok gitu-gitu sih?” ledeknya.
Ingin rasanya Nia menutup mulut Sarmila dengan lakban saat itu juga, padahal maksudnya memperingatkan Sarmila agar tak berbicara sembarangan.
“Ayo lah balik Mbak, katanya mau makan mi ayam ih?” Sarmila kesal sendiri sebelum matanya menatap sosok pria bule yang berjalan ke arahnya.
Angelo.
Barulah dia sadar bahwa rekan kerjanya sedang berusaha menjaga sopan santun dan juga pembawaan diri yang tak dicap jelek oleh pria itu nantinya.
“Sudah selesai?” tanya Angelo.
Sarmila terdiam sesaat lantas mengangguk, “iya Pak.”
“Tadi kamu bilang mau makan mi ayam dengan temanmu?” tanya Angelo.
Sarmila sendiri heran kenapa juga Angelo malah ada di ruangan yang sama dengannya.
“Pak Angelo kenapa ada di sini?” tanyanya terang-terangan.
Angelo sendiri tersenyum melihat Sarmila yang dirasa sudah lelah bekerja namun wajahnya masih saja riang, seolah tak ada beban di sana.
“Saya mau mengajak kamu pulang bersama,” ungkapnya dengan lantang, menatap sekeliling mereka. Sengaja memberitahukan kehadiran dan tujuannya agar tersebar bahwa Sarmila memiliki dirinya untuk membela gadis itu.
Nia sudah tahu kalau Angelo pernah pulang bersama dengan Sarmila, tapi tidak dengan lainnya. Mereka benar-benar terkejut mendengarnya, bahkan tadi mereka mendapatkan desas-desus tak menyenangkan soal Sarmila.
“Tapi saya mau pulang bareng Mbak Nia, Pak. Kami mau makan--”
Nia segera menyambar ucapan Sarmila. “Duh, sori nih Mila, saya enggak bisa, adik saya minta cepat-cepat saya balik.”
Sarmila menoleh, merengut tak suka. “Kok begitu sih Mbak? Katanya adik Mbak lagi mau menginap di teman?” protesnya.
Angelo paham soal tujuan Nia.
“Kalau begitu, sekalian dengan saya saja makan mi ayam?” Angelo segera mengambil alih topik untuk membuat Nia terbebas dari rasa canggung.
“Ih orang saya maunya sama Mbak Nia juga,” ketus Sarmila.
Nia segera tersenyum, merangkul gadis itu, “maaf ya mendadak? Enggak apa-apa kan lain kali? Kasihan adik Mbak nih, kamu bisa sama Pak Angelo makan mi ayam loh … ditraktir,” bujuk Nia.
Dia benar-benar tak mau menjadi pengganggu saat tahu kalau Angelo mengincar rekan kerjanya itu.
Katakanlah Sarmila terlalu polos, dia mudah dipengaruhi soal gratisan. Langsung saja matanya menatap Angelo berbinar, melupakan formalitas dan kesopanannya, dia segera bertanya untuk memastikan, “betulan Om?”
Semakin terkejutlah orang-orang yang diam-diam bersiap meninggalkan ruangan, tak menyangka kalau ada seseorang yang memanggil Angelo dengan sebutan ‘Om’.
Angelo tersenyum, mengangguk. Tangannya spontan menarik pergelangan tangan Sarmila. “Iya, aku traktir, ayo jalan.”
Sarmila masih ingin berbicara dengan Nia malah sudah diseret keluar ruangan. Nia sendiri melambaikan tangannya sambil tersenyum dan berucap tanpa suara, “semoga sukses.”
Melihatnya saja membuat Sarmila keheranan.
Dia tak menyadari kalau tangan Angelo masih menyeretnya. Sarmila malah menyejajarkan langkah mereka.
“Semoga sukses apaan sih?” tanya Sarmila tak paham.
“Apa?” Angelo yang mendengar ucapan tak jelas Sarmila pun ikut bertanya.
“Oh enggak Om, itu … kita mau makan di mana?” tanya Sarmila.
Mereka dilihat dan disaksikan oleh banyak orang, membuat Sarmila bertanya-tanya sendiri, namun matanya kini turun memandang lengannya yang masih digandeng oleh Angelo. Dia melupakan statusnya dengan Angelo.
“Om ngapain coba pegang-pegang saya?” celetuknya sambil menarik tangannya lepas dari genggaman Angelo.
Angelo berhenti, segera menggenggam tangan Sarmila kembali. “Kenapa? Tidak boleh?”