Mendengar jawaban Sarmila semakin membuat Angelo tertawa kesenangan.
“Bagaimana? Kamu masih tak mau memberikan jawaban kepadaku?” tanyanya sambil menatap Sarmila penuh perasaan.
Sarmila mencebik, “ish! Udahlah Om! Ini aku gimana jadinya?” Sarmila bangun dari duduknya dan menatap tubuhnya yang sudah memakai dress yang dia kagumi di manekin tadi.
Seketika, semua kata-kata tersirap cepat di dalam otaknya sementara matanya memandangi pantulan dirinya sendiri.
Berdiri tegak dan tubuhnya …. dress itu ….
“Indah!” gumamnya penuh rasa tak percaya.
Angelo berdiri di belakangnya. Ikut menatap Sarmila, dia harus memuji bahwa mata Sarmila bisa memilih pakaian yang cocok untuknya.
Dress floral dengan V-neck dan juga tangan merumbai indah, menutupi tubuh kurusnya tiga per empat. Bagian pinggang yang memiliki kerutan menambah kesan seksi diiringi kakinya yang tertutup sampai betis. Namun, area betis ke bawah nampak jelas.
“I should be proud if you admit me as your boyfriend, so gorgeous, Young Lady,” pujinya sungguh-sungguh.
Sarmila membalikkan tubuhnya, merengut karena Angelo memakai bahasa asing lagi.
“Om ngomong apa sih? Bikin aku bad mood aja,” keluhnya.
Angelo tertawa mendengarnya. “Ya sudah, ayo keluar.” Dia menggiring Sarmila untuk keluar ruangan.
Namun, kaki wanita itu tertahan. “Eh? Ta--tapi gimana bajunya Om? Harus dilepas dulu.”
“Tidak perlu, kamu sudah cantik begini.”
Semakin Sarmila menahan kakinya saat Angelo berusaha mendorong tubuhnya keluar ruangan.
“Ada apa lagi?”
“b*****g tadi …. gimana?” Dia berbalik, menatap sang pria berdarah Eropa dengan pandangan memelas.
“Kamu harus minta maaf, begitupun dia. Ayo, beranikan dirimu. Kamu tadi segarang singa jantan tapi kenapa sekarang menjadi tikus begini?” ejeknya.
Sarmila diam saja sampai tangannya digandeng oleh Angelo, menarik gadis itu agar segera berjalan mengikuti kakinya ke mana melangkah.
“Kamu mau pulang atau tidak nih?” ancam Angelo.
Sarmila mengangguk, pada akhirnya berjalan ogah-ogahan mengikuti Angelo.
Mereka sudah kembali berhadapan dengan Miska, si pemilik butik yang tengah mengompres telinganya karena perih akibat jeweran Sarmila.
Pria melambay itu pun mendelik, mulai emnatap tajam dan awas Sarmila yang menunduk.
Angelo tersenyum, “dia ingin meminta maaf. Dan kurasa aku harus mendengarkan versi kamu dulu bukan? Miska?”
Miska mendengus, dia enggan untuk menjawab pertanyaan pembeli setianya itu.
“Huh, tumben sekali kamu membawa wanita bar-bar begini?” sindir Miska sambil melipat kedua tangannya, masih bertindak arogan.
Sarmila mengangkat pandangannya, dia mulai ikut mendengus, merasa kalau pria melambay itu akan membuat cerita mengarang.
“Om! Dia tuh tadi tiba-tiba buka tirai, aku kan cuma pakai dalaman saja!” serunya sambil menunjuk Miska dengan telunjuknya.
Miska sedikit berjengit, tak terima. “Loh? Memangnya kenapa? Kalau kamu takut saya akan menerkam kamu, kamu salah. Yang aku terkam sejenis Angelo bukan kamu!” Dia menjelaskannya dengan bangga.
“Bodo amat! Mau kamu belok, lurus, vertikal horizontal, aku enggak peduli! Tapi kamu itu enggak sopan! Izin dulu, aku kan sedang berganti baju! Sok menyarankan begitu dan mau membantu lagi!”
Suara keduanya sama-sama meninggi, mau tak mau Angelo kembali melerai keduanya. “Sudah! Sudah! Apa benar begitu, Miska?” Dia mulai bertanya kepada pihak lainnya.
Miska sendiri kembali mengompres telinganya dengan ice bag. “Iya,” jawabnya singkat.
Angelo menarik napasnya, dia pun menyerahkan debit card platinum yang dia keluarkan dari dompetnya. Lalu diserahkan kepada pegawai yang ada di sana.
“Nona, saya mau bayar dress yang dipakai dia ya?” ucapnya lalu disambut dengan senyuman manis dari pegawai yang bekerja di butik itu.
Lalu kembali dia menatap kedua orang yang berbeda gender itu. “Oke, saya akan berkata kalau kamu salah, Miska, karena tak izin.”
Merasa dibela, Sarmila ikut mengimbuhi, “nah kan? Makanya enggak usah songong!”
Angelo kini menatap Sarmila, “dan kamu bukan berarti diperbolehkan menyerang fisik, setidaknya tegur saja dan minta dia menutup kembali tirainya, bukan?”
Mendadak Sarmila pun menjadi diam seribu bahasa karena terkena teguran. Dia ingin menyangkal tapi di hadapannya seolah-olah hakim persidangan.
Miska juga diam.
“Kalian sama-sama bersalah. Dan meminta maaf untuk damai tak masalah bukan? Atau mau dilanjutkan kembal keributannya?”
Sontak keduanya menggeleng bersamaan.
“Oke, cepat selesaikan.”
Angelo menjadi berdiri di tengah-tengah, sementara si pelaku pertikaian saling berhadapan.
Mau tak mau, dengan ogah-ogahan akhirnya Sarmila mengangkat tangannya. “Saya minta maaf, Tante b*****g--”
“Eh apa kamu bilang?!” Miska berteriak mendengar Sarmila yang terlalu jujur.
“Mila.” Angelo menegurnya.
“Iya, iya, saya minta maaf Om Miska!” serunya meski tak suka.
“Miska, please.”
Angelo sudah merasa lelah, dia mau segera mengakhiri sebuah perang aneh di dalam butik langganannya itu.
“Oke, saya juga minta maaf.”
Keduanya saling bersalaman meskipun tatapan matanya masih saja saling menghunus.
***
“Om … serius bayar baju ini? Tapi mahal banget,” adu wanita yang kini berjalan di sisi Angelo. Mereka sedang berjalan bersisian di taman sekitar mall yang ramai dengan pengunjung. Taman dekat apartemen elite.
“Hm? Tidak ada yang mahal untuk kamu, selama itu cocok.”
Jawaban santai Angelo malah semakin menambah keseganan Sarmila untuk memberikan penolakan soal ajakan Angelo berpacaran.
Mengingat harga yang disebutkan oleh pegawai saja sudah membuat matanya terbelalak penuh rasa terkejut, dia semakin berat untuk menghitungnya. Uang yang diberikan Angelo seolah tak bisa dia gantikan dengan jumlah gajinya saat ini.
“Om, ini mahal. Aku merasa kayak utang,” akunya jujur.
Angelo berhenti melangkah, dia berbalik, berhadapan dengan Sarmila. Gadis yang menawan hatinya.
“Saya tak pernah meminta balasan atas apa yang saya berikan. Uang itu … tidak ada artinya bagi saya, percayalah. Saya tulus memberikan baju cantik itu untuk kamu, kamu cocok menggunakannya.”
Sarmila melihat hidung Angelo dan meringis, “Om, lukanya--”
“Santai saja.”
“Maaf,” sesalnya.
“Sudahlah! Kamu kenapa mellow begini sih? I am ok, ini hanya luka gores saja!”
Perkataan Angelo seolah menjadi penenang rasa khawatir Sarmila.
Dia menyadari ada hal yang terus membuatnya tak segan berada di sisi Angelo.
Sebuah pertanyaan tiba-tiba terlintas dari bibirnya. “Kenapa Om suka sama aku?”
Matanya memandang terang-terangan pada wajah tampan yang masih saja nampak terlihat cerah kulitnya di bawah cahaya malam lampu taman.
“Hm, harus kujawab?” tanya Angelo sambil tersenyum lalu diangguki oleh Sarmila.
“Karena … segudang alasan membuatku jatuh hati padamu. Sejak kita pertama kali bertemu. Aku penasaran, kenapa kamu bisa dekat dengan Gentala saat itu dan bisa-bisanya kamu meminta bertemu dengannya secara langsung soal lamaran pekerjaan. Tapi, kurasa alasan itu hilang setelahnya. I have this feeling because you without a reason, anything.”
Sarmila berusaha menerjemahkan dalam otaknya. Meski hanya pada akhirnya dia sedikit paham.
Angelo kembali berucap, “aku menyukaimu, tanpa alasan apa pun saat ini.”
Seandainya kalimat itu ditujukan kepada wanita yang menyukai Angelo pasti akan terbang melayang dibuatnya, sayangnya ini adalah Sarmila.
Jawaban itu semakin menambah beban, bingung bagaimana cara menolaknya secara halus. Bahkan sehalus apa pun penolakan akan menjadi sebuah pisau yang melukai hati.
“Om … bagaimana kalau aku menolak perasaan Om?” tanyanya setengah tertahan.
Jari-jarinya saling tertaut di belakang.
Angelo sendiri diam, dia menatap Sarmila masih dengan tatapan yang sama. Sudah wajar kalau dia mendapatkan penolakan dengan aksi nekad yang dilakukannya tadi.
“Karena kamu tak suka padaku?” tanyanya namun Sarmila seketika menggeleng.
Tapi terlintas satu hal yang membuat Sarmila menolaknya secara langsung. “Kamu menyukai Gentala?” tanyanya penuh rasa pahit, suaranya seolah sudah habis begitu saja.
Kali ini Sarmila bergeming, tak memberikan gelengan kepala. Tanda kalau wanita yang ada di hadapannya itu memanglah menyukai sepupunya.
“Ah, sudahlah. Ayo.”
Sarmila diam sesaat, mencoba melihat apakah memang Angelo baik-baik saja atau … terluka di dalamnya.
“Om, andai aku bertemu Om duluan, kayaknya aku akan suka Om. Enggak ada wanita yang enggak jatuh hati sama Om,” utasnya sambil berjalan di samping pria itu.
“Ada, kamu. Kamu tak suka padaku.”
Sarmila diam mendengarnya.
“Apa Om marah? Atau Om akan menghilang?”
Sarmila merasa tak rela membayangkannya. Dia baru saja menemukan teman yang bisa membuatnya tertawa maupun nyaman. Ada pelindung yang dia bisa percaya di belakangnya, Angelo.
Angelo berhenti melangkah. “Siapa bilang? Kenapa kamu berpikir begitu?”
“Karena ….”
“Aku tak sepicik itu, aku masih sama, tak berubah. Lagi pula, kamu belum resmi mendapatkan Gentala, jadi aku berhak ada di sisi kamu bukan?”
Mendadak Sarmila merasa lega, hatinya haru biru hanya karena ucapan Angelo yang benar-benar menenangkannya.
“Om janji?”
Dia bahkan mengulurkan kelingkingnya.
Angelo terkekeh, dia mengaitkan kelingkingnya, “ya, pinky promise. Kamu boleh berlari kepadaku saat sedih maupun senang.”
Ah, Angelo terlalu baik, sampai-sampai menyarankan hal yang tak pernah dia lakukan untuk wanita lain.
Perasaannya membuat segala tindak tanduknya berubah seketika. Tak tega dengan kondisi Sarmila yang menatapnya penuh harap.
Padahal hatinya sedang meraung tak terima. Ada ego yang tersindir saat ditolak namun sisi sayangnya mengalahkan itu semua, sampai dia menelan mentah-mentah getirnya penolakan.
“Ayo pulang.”
“Hu’m.”
“Kamu akan mengejar dan berusaha mendapatkan Gentala?”
“Kalau bisa Om, tapi rasanya tak mungkin.”
“Why?”
Setidaknya kata yang satu ini sudah tahu artinya bagi Sarmila, sampai dia bisa menjawabnya.
“Karena … bagai pungguk merindukan rembulan. Posisi ku dan dia berbeda jauh, langit dan bumi.”
Membayangkan Gentala memang sebuah angan saja meskipun terkadang seorang Sarmila ebrani bersikap sembrono.
“Berusahalah dulu sampai kamu mendapatkan jawaban yang tegas darinya. Tak ada yang tahu bukan?” Angelo malah mendorong wanita itu untuk berusaha.
Sarmila menoleh, menatap lembut Angelo, “kalau aku ditolak gimana Om?”
“Maka itu akan menjadi bagianku. Cepat kamu nyatakan saja rasa sukamu, nanti akan menjadi waktuku untuk mendapatkanmu! Hahaha!”
Angelo tertawa terbahak-bahak sambil berjalan, merasa kalau dia memang bisa dekat dengan Sarmila.
“Ih! Om kok jahat sih?!” Sarmila mengejarnya sampai mereka berlarian menuju tempat penjemputan. Angelo sudah memesan taksi online untuk mereka pulang.
Sarmila sudah lelah, dia sudah tertawa senang tanpa bingung lagi. Ditemani Angelo merasa terlindungi.
“Terima kasih ya Om?” ucapnya tulus.
Angelo mengangguk.
Angelo menatap Sarmila yang sudah memejamkan mata di sisinya. Wanita itu sepertinya terlalu lelah sampai jatuh tertidur di dalam mobil.