Curhatan Pria

1615 Kata
Angelo berjalan lunglai ke dalam rumah Gentala, sementara pemiliknya menatap keheranan sambil menggendong peliharaannya, si kucing angora bernama Puschy. “Tumben sekali kamu pulang tak bersama ku?” tanyanya. Angelo duduk, dia menuangkan wine yang tengah diminum oleh Gentala juga. Menenggaknya sedikit demi sedikit agar bisa merasakan aroma anggur yang kuat namun memikat, sama halnya dengan seorang wanita yang tengah membuatnya jatuh hati saat ini tapi sekaligus patah hati. Gentala lalu duduk kembali, si kucing kesayangannya malah nyaman berada di pangkuannya. “Kau kenapa sih? Tidak mungkin tiba-tiba minum wine begini.” Gentala kembali mencurigai Angelo. “Aku baru ditolak oleh seorang wanita.” Angelo terkekeh, matanya memandang nanar pria yang ada di depannya itu. “Itu hal biasa. Seorang pebisnis sukses sepertimu tak seharusnya terpengaruh dengan hal itu bukan?” Angelo menggelengkan kepalanya, “kamu salah, semua pasti memiliki fase cinta. Perasaan yang bisa membuat kamu merasa menjadi bu-dak saat memikirkannya. Kamu terlalu dingin sampai tak menyadari kalau memang kamu mencintai seseorang, Gen.” Gentala diam, membiarkan Angelo terus menenggak wine sampai sebotol. Benar-benar menghabiskannya. Dia merebut botol yang sudah siap dituang isinya dari tangan pria itu. “Sudah, berhenti. Kamu harus fokus pada bisnis mu dulu baru kamu bisa seperti ini. Tak perlu kamu gundah gulana.” Angelo tak senang, dia pun menyandarkan punggungnya. “Kamu tahu apa yang membuatku merasa sakit?” gentala masih mendengarkan saja. “Karena penolakannya adalah dia menyukai pria lain.” Lalu Gentala bangun, meletakkan kucing yang sudah mendengkur di pangkuannya ke box milik si kucing. “Maka kamu harus melupakannya.” Saran yang sangat sederhana dan singkat, tapi Angelo yang sudah setengah mabuk pun semakin meracau, membicarakan soal cinta. “Gentala, kapan kamu jatuh cinta?” Pertanyaan itu malah dibalas dengan kekehan dari seorang Gentala. “Itu hanyalah urusan anak kecil, bukan umurku yang harus berbicara soal cinta.” “Ya, kamu tak pernah percaya cinta karena memang kamu melihat ibumu disakiti oleh ayahmu. Kenapa kamu masih mengingatnya? Kenapa kamu tak melupakannya? Auntie Rosalinda sangat baik padamu bahkan selalu memikirkanmu.” Gentala diam, merasa sesak saat Angelo mengungkit masa lalunya. Dia menuju rak wine dan mengambil salah satunya. Lantas menuangkannya pada gelas berkaki bagiannya dan juga milik Angelo. Dia mulai menyesap perlahan, merasakan hangat yang meluncur ke tenggorokannya sampai menimbulkan sensasi terbakar. “Kamu terlalu ikut campur, Angelo,” desisnya menatap Angelo yang sudah mabuk dan enggan membuka matanya. Angelo tertawa mendengarnya, “hehe … bagaimana kalau ada perempuan yang mampu mematahkan dan menghapus trauma yang kamu miliki?” “Tidak mungkin.” “Kamu boleh berkata begitu sekarang, sepupuku. Tapi nanti? Tidak ada yang tahu takdir seperti apa yang akan kamu hadapi setelah hari ini. Masa depan selalu menjadi misteri.” Angelo berbisik penuh rasa sakit, “aku hanya belum bisa merelakannya dan kuharap pria yang disukai olehnya benar-benar menolaknya dan tak mencarinya, agar aku bisa menggantikannya.” “Sudahlah, ayo ke kamar.” Gentala sesak, mendengar bagaimana perasaan Angelo yang tersakiti. Dia memilih mengakhiri percakapan absurd itu saat ini. Membopong Angelo dan menuntunnya ke kamar sepupunya. Malam yang larut malah tak serta merta mendorongnya untuk segera tidur. Gentala malah masih mengerjakan pekerjaan kantor yang dirasa harus dia kerjakan, tak peduli tubuhnya berontak dan kelelahan. Dia pun berhenti menatap layar komputer, mengistirahatkan matanya, dan merenggangkan kedua tangannya yang dirasa kram. Entah ada angin apa, Gentala pun membuka tirai yang menutupi wall window kamarnya, melihat jelas sisi rumahnya dan juga rumah di seberangnya. Ah, sudah malam. Namun, bintang enggan berkumpul di langit Ibu Kota yang sudah dipenuhi oleh polusi cahaya atas ulah manusia. Matanya sekejap menuju sosok wanita yang tengah duduk memeluk lututnya sambil terpejam. Dia tidurkah? Tanpa sadar Gentala terus memperhatikan wanita itu, berdiri berlama-lama hanya karena matanya merasa penasaran. Sampai Sarmila membuka matanya dan merenggangkan kedua tangannya yang terasa pegal akibat jatuh tertidur saat dirinya mencari angin di balkon. Sarmila menoleh, lalu berjalan menuju pembatas balkon. Matanya pun menangkap sosok yang selalu ada di pikirannya, Gentala. “Mas Gen!” sapanya penuh rasa semangat. Gentala tersadarkan. Dia sampai berjengit terkejut atas reaksi tubuhnya. Kenapa juga dia malah menonton kegiatan wanita itu?! “Mas Gen dari tadi di situ?” Sarmila mengulas senyumannya. Gentala berpura-pura tak mendengar. Kembali Sarmila memanggilnya sedikit lebih keras, “Mas Gen! Telinganya dua tapi kok budeg sih?” Dia kesal karena Gentala selalu bisa mengabaikannya. “Hm.” Bahkan Gentala terpaksa menjaawabnya, takut kalau penghuni rumah lainnya terganggu akibat suara cempreng Sarmila. “Mas Gen kok enggak tidur?” Dan bisa-bisanya wanita itu malah bertanya hal-hal yang tak penting. “Saya sudah dewasa, mau tidur jam berapa pun tak masalah. Seharusnya kamu yang tidur, anak kecil.” Sarmila memberengut, kesal seketika saat Gentala malah menyebutnya anak kecil. Merasa tak terima, dia pun membalasnya, “Mas Gen! Enggak ada ya janda disebut anak kecil! Enggak ada!” sewotnya. “Cepat tidur, biar tubuhmu tumbuh tinggi,” kilah Gentala sambil berbalik, masuk ke kamarnya dan menutup pintu lalu membentangkan tirainya kembali. Sarmila melotot kesal, benar-benar Gentala selalu bisa membuat emosinya naik turun dalam hitungan menit, ah tidak. Bahkan hitungan detik! Mau tak mau, akhirnya Sarmila menyerah. Dia pun segera masuk ke dalam rumahnya. Menuju kamar yang nyaman baginya dan tidur. Besok dia sudah memiliki tugas untuk membuatkan sarapan bagi dua pria yang menjadi tetangganya itu. Matanya segera menutup cepat begitu tubuhnya bertemu kasur. Dia yang memang pelor alias nempel molor sudah menjadi hal biasa untuknya. *** Harapan Gentala adalah tak perlu bertemu Sarmila baik di rumah ataupun di hotel. Sayangnya, harapannya tak terkabul sejak pagi dia turun ke lantai 1. Dia yang melihat Sarmila pertama kalinya tengah memasak pun sudah mendengus, merasa harinya akan mulai berisik dengan suara wanita itu. Dia yang ingin diam-diam keluar dari rumah, pergi bekerja malah sudah terpergok oleh gadis itu. Dengan spatula yang terangkat, Sarmila memanggil Gentala, “Mas Gen?! Selamat pagi!” pekiknya senang saat matanya melihat wajah tampan sebagai vitamin paginya saat ini. “Hm, kenapa kamu bisa masuk ke rumah saya?” tanya Gentala tak habis pikir. “Kan Tante Linda yang kasih tahu password pintu belakang, Mas. Katanya aku harus siapkan sarapan untuk Mas Gen dan Om, kalian berdua katanya gampang lupa makan,” cerocos Sarmila masih mengaduk-aduk nasi goreng di panci. Gentala mengurut pelipisnya, pening saat mengingat kelakukan Linda, ibu tirinya yang selalu ikut campur soal kehidupannya. Dia tak bisa berbuat apa-apa saat ini. Pria itu pun segera duduk di kursi, menghadap kitchen island yang mengisi tengah-tengah ruang dapur. Berwarna putih gading yang dilapisi marmer mahal tentunya. Sudah tersedia di atas meja pie buah dan juga kopi espresso. “Kata Tante Linda, Mas Gen suka kopi. Jadi diminum aja Mas.” Sarmila mempersilakannya. Sementara gadis itu kembali sibuk dengan nasi goreng yang sedang dimasaknya. Gentala merasa sedikit kasihan jika menolak mentah-mentah, pada akhirnya meminumnya dan menikmati pagi yang dipenuhi makanan untuk perutnya. “Kamu kenapa senyum-senyum tak jelas begitu,” ketusnya melihat Sarmila yang terus menerus tersenyum semringah. “Oh, kan aku sudah dapat vitaminnya, jadi bisa deh senyum terus, enggak capek!” Apa yang dimaksud vitamin oleh Sarmila. Tanpa tahu, kalau Angelo baru juga turun dan tersenyum melihat kehadiran Sarmila dan mendengar penuturan wanita itu. “Loh? Memang apa vitaminnya? Aku mau juga dong!” Sarmila terdiam sebentar, mengingat kemarin malah membuat hatinya merasa tak nyaman. Namun, mengingat Angelo yang tak keberatan pun akhirnya dia mulai mencoba seperti biasanya. “Dih, Om, vitamin aku mah kebalikan sama Om. Nanti Om malah cemberut terus seharian.” “Loh? Memangnya apa?” Angelo merebut gelas kopi yang ada di tangan Gentala dan ikut menyesapnya. Membuat Gentala menggerutu, “apa kamu tak bisa buat kopi sendiri? Bisa-bisanya malah menyerobot begitu.” Angelo mengabaikannya dan memilih duduk di samping Gentala sambil melahap pie buah yang ada di piring. “Ssst, masa udah gede-gede ribut sih. Nanti Mila buatin lagi untuk Mas Gen sama Om sampai kembung.” Gentala diam saja, mengabaikan Sarmila lagi. Sarmila malah cekikikan, membuat kedua pria itu ikut memperhatikannya termasuk Angelo yang berkata, “sepertinya vitaminnya ampuh ya? Aku penasaran kamu beli di mana vitaminnya.” Sambil menyodorkan dua piring nasi goreng, Sarmila pun tersenyum semringah semakin lebar. “Vitamin ini mah gratis, bisa didapat kalau datang ke sini Om.” Angelo mengernyit bingung. Apa yang dimaksud Sarmila. “Kan vitamin aku mah Mas Gentala yang tampan sejagat raya sampai ke luar angkasa.” Sontak Angelo tertawa terbahak-bahak mendengarnya. “Hahaha! Kamu bilang dia vitamin?! Lihat wajahnya yang selalu tertekuk bak papan penggilingan itu,” ejeknya puas menertawakan Gentala. Gentala juga sebal, pagi-pagi mendapatkan godaan aneh. Dia risih sendiri, memilih melahap nasi goreng miliknya. “Mulai besok kamu tak perlu memasak di sini,” tegasnya sambil mendorong piring yang sudah kosong. “Hah? Gimana Mas? Aku enggak masak di sini? Ih, orang Tante Linda yang gaji aku kok, jadi Mas Gen enggak bisa usir aku selain atas izin Tante Linda.” “Ini rumah saya, saya pemiliknya.” “Tetap saja, ini adalah mandat Tante Linda, Mas Gen.” Gentala mengurut pelipisnya, merasa putus asa tentang Sarmila yang sudah tahu sandi rumahnya. “Lagian Mas, udah diperhatikan sama ibunya kok begitu sih? Enggak rugi kan makan masakan aku, buktinya habis!” omel Sarmila seolah menceramahi sang tuan rumah. “Berisik sekali kamu. Sebaiknya kamu pergi bekerja kalau sudah selesai urusannya, saya bisa memecat kamu dengan mudah.” Dan seorang Gentala memiliki kekuasaan di perusahaannya. Sarmila memberengut kesal, tak mampu mematahkan ancaman dari pria itu sama sekali. Salah jika dia masih berdebat, bisa-bisa dia hanya mendapatkan gaji terakhir setelah ini. “Sudahlah, abaikan saja CEO itu, ayo pergi bekerja bersamaku. Aku sudah ada motor sekarang,” sela Angelo yang juga sudah selesai sarapannya. Sarmila menoleh, menatap Angelo bingung. “Om ada motor?” gumamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN