Sarmila terdiam sebentar, lantas dia menoleh dan menatap horor wajah Angelo. Seketika dia melangkah mundur, tangannya mendadak menjadi perisai, menyilang di dadanya. Angelo merasa terkejut melihatnya sekaligus bingung dengan apa yang sedang terjadi pada Sarmila. “Ja--jangan bilang--” Dia sampai menggantungkan kalimatnya, merasa shock dengan over thinking yang dimilikinya. “Apa?” Semakin Sarmila menatap was-was pada sosok pacarnya sendiri. “Aku mau menginap di rumah Mbak Nia aja!” cetusnya, otaknya dengan canggih bisa menemukan nama ‘Nia’ di daftar pertemanan yang diingat Sarmila. “Kamu serius? Di sudah tidur barangkali.” “Biar, ayo antar aku!” Dan gadis itu dengan berpura-pura tegar dan sok tahu, terburu-buru melipir masuk ke dalam mobil. Entah kenapa, situasi dan kondisi kali ini

