Karin terus mendesak Cristal hingga terpojok ke tembok mengungkung antara ke dua tangan dan wastafel. Kini ia sudah tidak sabar ingin merusak wajah, Cristal. Menggores beberapa bagian sepertinya itu menarik. Tak ingin membuang waktu mumpung suasana cukup sepi, kapan lagi dapat kesempatan langka ini. Karin kembali menekan silet pada pipi Cristal hingga menampakkan satu luka tipis dan sedikit mengeluarkan darah. Bau anyir terasa menyeruak menembus hidung, Cristal merasa perih dan sakit saat benda tajam itu menggores permukaan kulitnya. Tapi semua tak seberapa dibanding luka hati dan kekecewaannya yang ia rasakan saat ini. ''Tenang aja habis ini, kamu bisa operasi plastik kok. Pacar kamu kan orang kaya,'' ucap Karin datar seraya tersenyum manis, dan itu membuat Cristal bergidik ngeri. ''Di

