''Kamu.'' ''Cristal ....'' Karin terkesiap tak menyangka ada Cristal di salah satu bilik toilet, nyaris saja ponsel dalam genggamannya terjatuh saking terkejutnya buru-buru ia mematikan sambungan telepon,''nanti aku telepon balik.'' ''Sejak kapan di si-tu?'' tanya Karin tergagap. ''Cukup untuk mendengar semua yang kalian bicarakan.'' ''Huh ... jadi kamu sudah dengar semuanya. Baguslah,'' ucapnya sinis seraya mengibaskan rambut hitamnya yang ia biarkan terurai. ''Karena kamu sudah tau jadi aku tak perlu repot-repot menutupinya lagi.'' Cristal pun melayangkan satu tamparan hingga pipi Karin memerah. Karin pun hanya bisa meringis mengusap pipinya yang terasa memanas. d**a Cristal bergemuruh, bergerak naik turun menahan sesak yang mendera, ingin sekali mengumpat dan mengeluarkan semua ka

