"Aku bukan Ava, dan aku jelas tidak mengenalmu."
Wanita itu terdiam saat Alexa membalas ucapannnya dengan nada dingin. Wanita asing itu sangat yakin bahwa orang di depannya ini adalah Ava, temannya yang dinyatakan mati saat berada dalam pelarian tiga tahun yang lalu. Ava memiliki mata coklat terang dengan t**i lalat disebelah kanan matanya. Ava juga memiliki rambut coklat bergelombang, ciri yang kini dimiliki semua oleh Alexa yang berdiri di depannya. Walaupun selalu dipangkas pendek, Ava berambut panjang mungkin akan mirip sekali dengan wanita di depannya.
"Tidak, kau jelas Ava. Um, kau memiliki bekas luka kecil di bahu bukan? Luka itu berasal dari luka tembak, saat kau bersamaku pada suatu misi. Kumohon Ava, apa kau tidak mengingatku sama sekali? Aku Irina, teman masa kecilmu sekaligus rekanmu saat kita ditempatkan di pasukan khusus. Kita..... Kita bahkan sudah mengaanggap satu sama lain seperti saudara Ava. Aku tidak mungkin salah mengenalimu, aku tidak akan salah dalam hal sepasti ini Ava."
Alis Alexa semakin berkerut saat wanita itu, Irina menyebutkan tentang bekas luka kecil di bahunya. Ya, dia memang memilikinya. Namun luka bekas peluru dan dirinya yang seorang tentara di pasukan khusus? Alexa tidak pernah ingat mendapatkan informasi seperti itu dari daftar riwayat hidup miliknya yang diberikan oleh Dominic.
Apalagi ketika Alexa mengingat Dominic memiliki banyak musuh yang mungkin akan menggunakannya saat ada kesempatan, Alexa semakin tidak bisa percaya ucapan wanita itu begitu saja. Wanita didepannya ini terlalu mencurigakan, siapapun bisa saja mengetahui bahwa dia telah kehilangan ingatan dan memanfaatkan celah itu untuk mendekatinya. Wanita ini mungkin hanya salah satu dari mereka, seseorang yang nekat melawan orang seperti Dominic dengan cara mendekatinya dan membuat kebohongan itu.
"Maaf, tapi aku tetap bukan Ava yang kau katakan itu. Namaku Alexa, dan aku jelas bukan seorang tentara pasukan khusus seperti yang kau bicarakan. Tolong jangan menggangguku lagi, atau aku tidak akan sebaik ini lain kali. Kalau begitu, aku permisi."
Perasaan tidak nyaman muncul saat Alexa melihat wanita didepannya tiba-tiba terlihat begitu sedih dan kecewa. Alexa mencoba menepis perasaan aneh itu, sebelum dia benar-benar melangkah menjauhi wanita itu.
"Jika..."
Langkah kaki Alexa terhenti begitu saja saat wanita itu berbicara kembali sebelum dia bisa memikirkannya. Irina menahan tangannya, lalu memberinya secarik kertas berisi nomor telepon yang tidak dikenalnya.
"Jika suatu saat nanti kau mengingat sesuatu...... Tolong..... Tolong hubungi aku..... Alexa. Aku..... Aku sangat yakin bahwa kau Ava temanku...... Aku tidak tahu mengapa dan bagaimana kau bisa kehilangan ingatanmu dan hidup dengan indetitas Alexa seperti itu. Tapi jika kau begini karena Dominic masih mengejarmu....... Aku bersedia membantumu kapanpun, Alexa. Kita..... Kita sudah berjanji bukan? Akan mencadi teman yang saling membantu untuk selamanya."
Alexa berbalik, menatap Irina dengan jejak amarah di wajahnya.
"Apa maksudmu Dominic mengejarku? Dia suamiku, dan aku bersumpah akan mencari tahu siapa dirimu jika kau sengaja mendatangiku dan membuat kebohongan hanya untuk mengancam Dominic melalui diriku," ancam Alexa serius. Irina terlihat kehabisan kata untuk beberapa saat, sebelum raut wajahnya tiba-tiba dipenuhi oleh rasa terkejut.
"Dominic......... Dia bukan Dominic Rutterford kan? Ava, katakan semuanya bohong..... Kau, suami? Dia pembunuh suamimu Ava! Ya Tuhan Ava..... Apa..... Apa yang telah lelaki itu perbuat padamu!"
"Apa yang-"
"Nona, Tuan meminta Saya menyusul karena Nona terlalu lama di-"
Rika yang baru saja masuk terlihat terkejut dan tanpa sadar menghentikan ucapannya saat berhadapan dengan Irina yang menatapnya dengan tatapan yang sama. Keduanya hanya diam, sebelum Rika memutuskan untuk membuat langkah pertama.
"Apa Nona kenal wanita ini?" tanyanya sopan. Alexa menggeleng, walaupun alisnya memiliki kerutan samar kini.
"Tidak, aku tidak mengenalnya. Perutku tadi sedikit sakit, kupikir itu karena kemarin aku terlalu banyak mengkonsumsi saus pedas," ujar Alexa berbohong. Diam-diam dia menyembunyikan kertas pemberian Irina. Ada sesuatu yang mencurigakan dari Rika. Dia terlihat terkejut, sebenarnya keduanya terlihat terkejut sebelumnya. Alexa pikir kemungkinan besar keduanya saling mengenal, dan ada kemungkinan baru bahwa kata-kata Irina sebelumnya adalah kebenaran.
Karena keduanya terlihat saling mengenal, namun enggan untuk bertindak demikian.
Rika juga, dia mengamati ekspresi Alexa lama untuk melihat apakah ada kebohongan dalam setiap ucapannya. Melihat bahwa wajah Alexa tidak menunjukan perubahan apapun, Rika menyerah. Gadis itu hanya segera menuntun Alexa untuk keluar dari kamar mandi tanpa mengatakan apapun lagi.
"Tolong lupakan jangan berbicara dengan orang asing sendirian seperti sebelumnya Nona. Apalagi wanita tadi. Dia telah berkali-kali mencoba mendekati Nona dan berbicara omong kosong seperti sebelumnya demi menjatuhkan Tuan Dominic. Dia adalah salah satu kenalan dari musuh Tuan Dominic, tujuannya mendekati Nona sejak awal tidak memiliki niatan baik sedikitpun. Di masa depan, tolong segera beritahu Saya jika dia mendekati Nona kembali."
"Musuh....... Dominic?" ulang Alexa bingung. Rika mengangguk, langkahnya terhenti sebelum mereka bisa masuk ke pandangan Dominic yang masih menunggu Alexa di meja mereka.
"Sebagai istri Tuan Dominic, banyak orang yang ingin mencelakai Nona untuk mengguncang kekuatan Tuan Dominic. Berita hilang ingatannya Nona pasti sudah menyebar luas diluar sana, dan pasti banyak pihak yang ingin memanfaatkan hal itu untuk merusak hubungan Nona dan Tuan yang baru saja membaik. Perselingkuhan Nona dulu juga...... Terjadi karena hasutan seperti itu. Saya mohon Nona, tolong jangan percaya pada siapapun selain Tuan Dominic," pinta Rika serius. Alexa menghela nafas panjang, sebelum mengangguk perlahan dengan ekspresi tidak berdaya.
"Baiklah, aku akan lebih berhati-hati di masa depan," ujar Alexa berjanji. Rika mengangguk puas mendengar jawabannya. Keduanya melanjutkan langkah mereka, meninggalkan Irina yang mengepalkan tangannya erat di kamar mandi.
To be continued