Cup
"Pagi Sayang....."
Esok harinya, ada sesuatu yang berbeda dari pagi yang biasa Alexa jalani. Kali ini, bukan suara ketukan dan suara monoton Rika yang membangunkannya di pagi hari. Wajah tampan Dominic, kecupan di keningnya lah yang mengawali harinya. Alexa tersenyum, menggeliat pelan untuk bangun dan meregangkan tubuhnya.
"Pagi Dom."
Dengan tangannya yang bebas, Alexa balas menjawab sebari mengusap pelan pipi Dominic. Keduanya menikmati momen kecil itu, sebelum Alexa memutuskan untuk bangun dan duduk dengan malas di kasurnya.
"Bekerja sepagi ini?" tanya Alexa saat dia sadar Dominic telah kembali rapi dengan three pieces suit nya seperti biasa. Dominic tersenyum, tanpa menjawab lelaki itu beranjak untuk membuka gorden kamar Alexa dan membiarkan cahaya matahari masuk kedalam kamar yang semula minim cahaya.
"Jika matahari secerah ini kau bilang terlalu pagi, ya, aku bekerja sepagi ini. Nyatanya, ini memang jam aku biasa berangkat kerja Sayang. Tadinya aku hanya ingin mampir untuk membangunkanmu dan memeriksa keadaanmu sebelum berangkat bekerja. Apa kau baik-baik saja?" tanya pria itu lembut. Alexa tertawa sebagai balasan, sebelum bangun dari tempat tidur perlahan-lahan. Dia berjalan malas mendekati Dominic, sementara tangannya segera mengalung dengan manja di leher Dominic begitu dia cukup dekat dengan pria itu. Kakinya berjijit, saat dia mencium pipi Dominic dengan mulus.
"Aku baik, kau hebat kemarin malam," puji Alexa kecil. Dominic tertawa, jujur saja dia sangat suka Alexa yang terbuka padanya seperti ini.
"Terimakasih Sayang. Sekarang, apa kau ingin sarapan denganku?" tanya Dominic. Alexa mengangguk, sekarang mana mungkin dia menolak ajakan seseorang yang dengan perhatian telah membantunya mandi dan tidur dengan nyaman di malam hari? Juga, membangunkannya dengan lembut di pagi hari sebelum pria sibuk itu berangkat untuk bekerja.
"Tunggu aku di meja makan oke? Aku ingin mencuci wajahku terlebih dahulu," ujar Alexa. Dia segera masuk kamar mandi saat Dominic mengangguk. Setelah gosok gigi dan membasuh wajahnya dengan cepat, Alexa segera keluar untuk pergi ke ruang makan.
Disana, sudah duduk Dominic yang kembali disibukan dengan ponselnya. Dia menoleh saat Alexa menghampirinya. Tersenyum, sebelum kembali fokus menjawab seseorang yang tengah menelfonnya.
"Aku akan mengirimkan barangnya padamu malam ini."
"Ya, di tempat biasa. Jam 10 malam, jangan sampai terlambat atau aku akan menjualnya pada yang lain."
"Selamat pagi Nona."
Alexa yang semula tengah mendengarkan obrolan Dominic menoleh saat Rika menyapanya sambil menyimpan sepiring pancake didepannya.
"Pagi," balas Alexa dengan senyum di wajahnya. Kali kedua Alexa memerhatikan Dominic, lelaki itu telah selesai dengan obrolannya pada siapapun yang menjadi lawan bicaranya. Lelaki itu tersenyum lembutt saat tahu Alexa terus saja memerhatikannya. tangannya mengusap rambut Alexa lembut, sebelum dirinya sendiri ikut duduk untuk menikmati pancake yang disajikan oleh Rika.
Tidak butuh waktu lama sebelum sepiring pancake akhirnya mereka habiskan tanpa obrolan yang menyela mereka. Dominic berdiri, mengecup pipi Alexa sebelum mengenakan mantelnya yang telah disiapkan Rika seperti biasa.
"Kalau begitu, aku pergi dulu Sayang."
"Tunggu."
Belum sempat Dominic berbalik, Alexa menahan tangannya. Wanita itu tersenyum, saat dia menepuk sekali pundak Dominic dengan lembut.
"Apakah kau ada waktu siang ini? Aku ingin makan siang bersamamu," ujar Alexa. Dominic tersenyum, sebelum merangkul pinggang Alexa dengan lembut.
"Aku selalu ada waktu untukmu Sayang. Rika akan mengantarmu ke restoran favorit kita nanti siang. Sudah lama juga kita tidak makan disana," ujar Dominic. Alexa mengangguk puas, dia mengecup pipi Dominic sekali sebelum memperlebar jarak diantara mereka.
"Kalau begitu sampai nanti," ujar Alexa. "Sampai nanti," balas Dominic lembut. Alexa keluar untuk mengantar Dominic masuk ke mobilnya. Tangannya melambai, saat mobil Dominic perlahan melaju meninggalkan halaman rumah mereka yang luas.
Saat mobilnya benar-benar hilang, barulah Alexa masuk kembali. Bibirnya masih memiliki senyum samar, mereka baru berpisah namun Alexa sudah kembali tidak sabar menantikan makan siang mereka nanti. Dia harus memilih baju yang pantas, untuk menghibur Dominic siang nanti.
*****
"Kau sudah tiba disana Sayang? Ah, aku sebentar lagi sampai. Silahkan tunggu aku di dalam saja, aku sudah memesan tempat atas namaku tadi pagi."
"Ya, Rika sudah melakukannya sekarang." Alexa membalas suara Dominic yang terdengar di panggilan yang dia lakukan sambil menatap Rika yang tengah berbicara dengan resepsionis di restoran megah itu. Seorang pelayan datang untuk mengantarkan mereka pada meja yang telah dipesan Dominic. Sebuah meja yang terletak di pinggir kaca jendela besar, dengan pemandangan kebawah yang mengarah langsung ke sungai besar yang membelah perkotaan sibuk.
"Sayang? Apa kau sudah menemukan tempatnya?" tanya Dominic memastikan. Alexa mengangguk, sebelum sadar bahwa Dominic tidak bisa melihat tindakannya.
"Ya, aku sudah menunggumu sekarang. Pemandangannya bagus Dom, suasana didalam sini membuatku tenang," komentar Alexa. Dia dapat mendengar suara tawa kecil Dominic di ujung sana, bersatu dengan suara seseorang yang bicara dan suara pintu mobil terbuka.
"Jika kau ingin, kamu bisa memesan makanannya terlebih dahulu Sayang. Aku akan memakan apapun yang kamu pesan."
Entah kenapa, Alexa tiba-tiba malu saat Dominic bicara padanya dengan nada lembut seperti itu. Alexa berdehem pelan, sebelum menjawab ucapan Dominic.
"Kalau begitu, aku akan memesan," ujarnya pelan. Panggilan segera dimatikan setelahnya, apalagi saat dia tahu Dominic mungkin akan sampai sebentar lagi.
Setelah Alexa menyimpan ponselnya, perhatiannya kembali pada pelayan yang sebelumnya mengantar mereka dan masih menunggunya untuk memesan dengan senyuman sopan. Pelayan itu menyerahkannya buku menu, sementara Alexa sedikit kebingungan saat melihat daftar menu yang terasa asing baginya.
Baik, Alexa hilang ingatan. Dia tidak ingat lagi apakah dia pernah ke tempat seperti ini atau memakan makanan yang tertera didalam menu atau tidak.
"Um...... Rika, aku dan Dom sering kesini di masa lalu bukan?" tanya Alexa ragu. Rika mengangguk, gadis itu lebih memilih untuk berdiri di belakang Alexa daripada duduk bersama Dominic nantinya.
"Ya Nona. Sejauh yang Saya ingat, Tuan biasanya memesan foie gras dengan wine pineau des charentes sebagai minumannya. Tuan menyukai berbagai makanan Prancis Nona, karena itulah dia sering makan di restoran ini dengan ditemani oleh Nona," ujar Rika menjelaskan. Alexa mengangguk, sebelum menatap pelayan itu lagi.
"Kalau begitu, aku pesan foie gras dengan wine pineau des charentes untuk dua orang," ujar Alexa memesan. Pelayan tersebut mengangguk, sebelum mencatat pesanan Alexa dengan cepat.
"Foie gras dengan wine pineau des charentes untuk dua orang. Apa ada pesanan lainnya Nona?" tanya pelayan itu ramah. Alexa menggeleng, menutup buku menu tersebut sebelum memberikannya pada si pelayan.
"Untuk sekarang hanya ini. Aku akan memanggilmu lagi jika membutuhkan sesuatu," balas Alexa yakin. Pelayan tersebut mengangguk, buku tamu dia ambil sebari dia sendiri menutup buku catatan kecil yang selalu dia bawa.
"Kalau begitu, silahkan tunggu sebentar Nona. Makanannya akan kami siapkan sesegera mungkin," ucapnya sebelum menunduk dan pergi menjauhi Alexa dan Rika. Alexa menghela nafas, dia memerhatikan pemandangan di jendela sebelum suara bisikan di sekitar mengalihkan perhatiannya.
Dari arah lift, Dominic datang dengan Jasper dan Flora yang selalu mengekor di belakangnya. Keberadaan lelaki itu terlihat begitu dominan disana, Alexa bahkan bisa melihat beberapa gadis muda menatap suaminya dengan tatapan malu kini.
Namun sayang. Begitu Dominic melihatnya, tatapan lelaki itu langsung hanya terkunci padanya seorang. Bibir itu mengeluarkan senyum lembut, saaat kakinya berjalan cepat untuk segera sampai di sisi Alexa.
"Maaf membuatmu menunggu Sayang."
Tanpa peduli mereka tengah berada di tempat umum, Dominic mencium dahi Alexa cepat sebelum tersenyum. Wanita itu dibuat memerah dengan perlakuannya. Melihat tatapan orang lain pada suaminya dan bagaimana suaminya menanggapi itu semua, perhatian ini benar-benar membuat Alexa merasa begitu spesial dan dicintai.
"Tidak apa-apa. Aku sudah memesan tadi, Rika bilang itu makanan favoritmu," ujar Alexa memberitahu. Dominic mengangguk, dia duduk berhadapan dengan Alexa sementara para bawahannya kini duduk di meja lain dan memesan makanannya sendiri.
"Kau lelah?" tanya Alexa memulai pembicaraan. Dia bisa melihat raut lelah yang sama sejak tadi pagi di wajah Dominic. Lelaki itu juga pulang begitu malam kemarin, belum lagi bukannya beristirahat mereka malah melakukan hal ini dan itu setelahnya.
Melihat wajah khawatir Alexa, Dominic tersenyum kecil.
"Aku baik-baik saja. Makan siang denganmu membuatku kembali bersemangat Sayang," ujarnya membalas. Alexa tertawa pelan mendengar jawaban itu. Dia mengusap punggung tangan Dominic pelan, sebari menatap pria itu dengan tatapan yang lembut.
"Beristirahatlah jika kau lelah. Kau tidak akan bangkrut bukan, dengan mengambil libur selama satu hari?" saran Alexa. Dominic menatapnya lama, tidak langsung menjawab sebelum menghela nafas panjang.
"Aku tidak akan bangkrut memang. Namun ada masalah yang harus aku selesaikan secepat mungkin sekarang. Masalah itu hanya akan bertambah besar jika aku lengah sedikit saja dalam menyelesaikannya."
Mendengar penjelasan Dominic, Alexa tahu bahwa masalah itu ada kaitannya dengan masalah keluarga yang sepertinya belum selesai sampai saat ini. Alexa tidak bisa banyak membantu untuk masalah itu. Ah, nyatanya Alexa memang belum bisa melakukan apapun untuk saat ini.
"Hei...... Jika aku bisa membantumu dengan cara apapun, beritahu aku oke? Aku juga ingin membantumu Dom. Aku tidak ingin selamanya hanya diam di rumah dan melihat kau kesusahan sendiri."
Entah itu hanya perasaan Alexa atau bukan, tubuh Dominic seakan kaku saat dia selesai berucap tadi. Senyum pria itu bahkan seperti dipaksakan, saat dia menangkup tangan Alexa dengan kedua tangannya.
"Dengan berada di sisiku saja, kau sudah banyak membantuku Sayang. Kau tidak perlu melakukan apapun, hanya...... Tetaplah berada di sisiku oke?" ujar Dominic meminta. Melihat wajah khawatir itu, Alexa perlahan mengangguk. Setelahnya, Alexa memutuskan untuk berdiri dan memutus suasana buruk yang tanpa sengaja malah dia ciptakan.
"Dom, aku ingin ke toilet sebentar. Aku akan segera kembali oke?"
"Kalau begitu biarkan Rika ikut-"
"Aku akan baik-baik saja bahkan jika Rika tidak mengikutiku Dom. Toiletnya ada disana bukan? Aku akan cepat, kau tidak perlu khawatir," potong Alexa cepat. Wajah Dominic terlihat tidak yakin, sebelum dia dengan sedikit tidak rela tetap melepas tangan Alexa.
"Kau...... Tidak akan pergi kemanapun bukan?" ujarnya khawatir. Alexa menggeleng, bibirnya menampilkan senyum lembut saat dia tahu Dominic mungkin hanya takut kehilangannya.
"Aku hanya akan pergi ke toilet sebentar Dom. Tenang saja Sayang, aku tidak akan pergi kemanapun. Aku milikmu ingat?"
Wajah khawatir Dominic segera digantikan dengan wajah senang saat dia mendengar Alexa memanggilnya Sayang dan menyatakan dia miliknya untuk pertama kalinya. Dominic tersenyum, dia mengangguk yakin kali ini sebelum Alexa melangkah pergi ke toilet.
Di dalam sana, Alexa menghela nafas lelah. Baik, dia tidak boleh membuat Dominic khawatir lagi seperti tadi. Lelaki itu terlihat sekali takut kehilangannya, hal yang tidak aneh Dominic lakukan setelah dia dinyatakan berselingkuh dan hampir mati dulu.
Untuk sekarang, yang bisa Alexa lakukan mungkin hanya menghibur Dominic sebanyak yang dia bisa. Mungkin sambil berusaha mengingat sesuatu, bagaimanapun dia sebenarnya masih penasaran dengan masa lalu yang sampai sekarang tidak bisa dia ingat sedikitpun.
"Ava?"
Sebuah suara asing dan tepukan di bahunya membuat Alexa menoleh dengan bingung. Seorang wanita asing yang gagah menatapnya tidak percaya, sebelum dia mendekat dan mengguncang bahu Alexa dengan kuat.
"Astaga! Kau Ava kan? Ya Tuhan, kau masih hidup! Kau masih hidup di depanku!" teriak wanita itu senang. Menyadari bahwa dia tidak merasa familiar sedikitpun dengan wanita ini, Alexa tiba-tiba menyingkirkan tangan wanita itu. Wanita itu terlihat terkejut, sebelum menatap Alexa dengan raut wajah sedih.
"A-ada apa Va? Apa kau-"
"Aku bukan Ava, dan aku jelas tidak mengenalmu," potong Alexa dengan dingin.
To be continued