5. Not The First Time

1379 Kata
Tok tok tok "Sayang? Bolehkah aku masuk?" Alexa yang semula tengah bersandar nyaman di bath tub kamar mandi miliknya segera membuka mata begitu dia mendengar suara akrab milik suaminya. "Tunggu sebentar," ujarnya sedikit berteriak sebelum perlahan keluar dari bath tub. Sambil berjalan, Alexa meraup asal bath robe miliknya yang tergantung di sebelah pintu kamar mandi. Alexa berjalan cepat kearah pintu, wajah tampan Dominic segera menyambutnya begitu pintu akhirnya terbuka. "Ah, kamu baru selesai mandi ya?" Melihat tetesan air yang masih menetes di rambut Alexa, Dominic bertanya. Alexa mengangguk sekali, membuka pintu kamarnya lebih lebar agar Dominic bisa masuk kedalamnya. "Masuklah. Kau pasti lelah berdiri setelah bekerja sejak pagi," ujar Alexa. Dominic tersenyum kecil menanggapi perhatian itu. Perlahan tapi pasti, Alexa mulai kembali menunjukan perhatian untuknya. "Tidak apa-apa Sayang. Um, tunggu sebentar. Aku akan membantumu mengeringkan rambut." Sebelum Alexa bisa menolak, Dominic segera berjalan menuju meja rias untuk mengambil hair dyer dari salah satu lacinya. Alexa tidak mau repot bertanya mengapa Dominic tahu dimana dia menyimpan benda itu. Lelaki itu pasti memerhatikannya setiap dia berkunjung ke kamar Alexa. Semenjak berkunjung ke kantor waktu itu, Dominic memang semakin lengket terhadap Alexa. Setiap hari sepulang bekerja, hal yang pertama Dominic cari pasti Alexa. Dia akan mengobrol ringan dengannya, makan bersama, dan mengantarnya ke ruang tidur saat hari sudah mulai larut. Mereka mungkin masih tidur di kamar yang terpisah, namun kedekatan keduanya bahkan bisa dilihat dengan jelas oleh Rika dan beberapa pelayan yang benar-benar Dominic pekerjakan setelah Alexa memintanya. Alexa bahkan sudah bebas pergi ke kota kapanpun dia mau sekarang. Rika memang masih mengikutinya seperti bayangan, namun Alexa tahu suaminya itu hanya ingin menjaganya dengan caranya sendiri. Perlahan tapi pasti, keharmonisan mereka sudah mulai kembali lagi. Alexa bahkan tidak keberatan lagi dengan panggilan Sayang yang semakin sering diucapkan oleh Dominic. Di dunia dimana semua orang terasa asing baginya, Dominic adalah orang pertama yang mampu membuatnya nyaman melanjutkan hidup walaupun tanpa ingatan tentang kehidupan masa lalunya sedikitpun. "Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" Sambil menikmati sapuan hair dyer yang mengeringkan rambutnya perlahan-lahan, Alexa bertanya. Dia memang tidak diijinkan membantu Dominic dalam hal lain, namun setidaknya dia ingin membuat Dominic tersenyum dengan pertanyaan sederhana yang sama setiap harinya. Dan seperti biasa, pantulan wajah Dominic yang terlihat di kaca rias Alexa menunjukan senyuman kecil. Dominic menyisir rambut Alexa dengan hati-hati, hair dyer dia matikan saat rambut Alexa telah kering sepenuhnya. "Banyak yang harus kutangani setiap harinya, dan masalah selalu datang tanpa henti. Tapi tahukah kamu? Semua stresku seakan hilang saat aku kembali ke rumah ini. Ke rumah kecil kita dimana kau berada di dalamnya, menanyakan bagaimana kabarku dengan suara lembutmu setiap harinya," jawab Dominic lembut. Alexa berbalik menatap lelaki itu. Yah, dia memang masih bisa melihat jejak-jejak kelelahan di mata gelap itu. Dengan satu tarikan nafas, Alexa memberanikan dirinya untuk mendekatkan wajahnya kearah Dominic. Tangannya bergerak menahan wajah Dominic saat bibir mereka akhirnya bersatu. Alexa telah memikirkan ini sejak lama, bukankah ini sudah waktunya dia menjalani kewajibannya kembali sebagai seorang istri? Rasanya pasti berat bagi Dominic untuk menahan nafsunya saat istrinya sendiri tidak ingin disentuh olehnya. Alexa takut Dominic akan mencari pelepasan lain diluar sana jika dia masih keras kepala menolak melakukan kewajibannya. Dia tidak ingin Dominic melakukannya dengan wanita lain. Membayangkan suaminya menghabiskan malam bersama wanita lain hanya akan membuatnya marah. Alexa adalah satu-satunya istri sah Dominic, dia tidak ingin wanita lain berbagi kehangatan dengan suaminya. Mata Dominic melebar saat dia melihat wajah lembut Alexa begitu dekat dengan wajahnya. Deru nafas keduanya bersatu, apalagi saat Alexa mengambil inisiatif untuk memperdalam ciumannya. Seolah tersadar, Dominic secara tiba-tiba mendorong pelan bahu Alexa hingga ciuman mereka terlepas. Wajahnya memerah karena gairah, sementara matanya terkunci pada Alexa yang terlihat kecewa melihat penolakannya. "Kau...... Tidak mau ya?" bisik Alexa kecewa. Berbagai skenario jelek segera terbayang saat Dominic menolaknya tadi. Dengan uang berlimpah dan wajah tampan, apakah Dominic benar-benar telah mencari perempuan lain ssemenjak dia mulai menolak disentuh semenjak hilang ingatan? Ah tidak, mungkin jauh sebelum itu. Apakah Dominic sudah menemukan pelepasan lain semenjak mereka bertengkar dulu yang berakhir dengan komanya Alexa selama beberapa bulan? "Sayang......" Melihat wajah sedih Alexa, Dominic segera menangkup wajah cantik itu lembut. Lelaki itu menghela nafas panjang, sebelum membelai pipi Alexa menggunakan ibu jarinya. "Kau yakin ingin aku melakukan ini hm? Aku tidak ingin memaksamu Sayang, namun itu bukan berarti aku mencari pelepasan lain di luar sana. Jangan sedih oke? Aku minta maaf telah mendorongmu sebelumnya" ujarnya merasa bersalah. Alexa menatap mata Dominic setelah lelaki itu selesai berucap. Tidak ada kebohongan, Dominic benar-benar serius tidak mencari perempuan lain selama tidak behubungan dengannya selama ini. Alexa tersenyum, tangannya balas menangkup wajah tampan Dominic. "Kenapa aku bisa seberuntung ini Dom? Kau terlalu sempurna untuk menjadi suamiku. Sampai sekarang, aku bahkan masih bertanya-tanya mengapa kau bisa sebaik ini padaku," bisik Alexa pelan. Matanya meenatap yakin Dominic. Dia telah menentukan pilihannya sekarang, tidak ada lagi rasa ragu saat Alexa menatap mata penuh kasih sayang itu. "Itu karena kau terlalu-" "Lakukan Dom," potong Alexa serius. Matanya menatap langsung kearah pupil berwarna gelap itu. Sekarang dia sudah benar-benar siap, lagipula mereka pasti pernah melakukannya bukan di masa lalu? "Aku akan baik-baik saja," lanjut Alexa. Bibirnya tersenyum, sebelum wanita itu memutuskaan untuk kembali mendekat dan melumat bibir seksi Dominic. Mendapat undangan seperti itu, Dominic tidak ingin menolaknya lebih jauh lagi. Kini dia balas mencium Alexa. Ciuman ganas, yang tidak Alexa harapkan dari orang selembut Dominic. Dengan lembut, Alexa merangkul leher Dominic dengan kedua tangannya. Dia memaksa lelaki itu untuk berbaring diatasnya. Suara ciuman terdengar semakin jelas, sebelum digantikan dengan suara nafas yang terputus-putus. Hari itu, Alexa akhirnya benar-benar menyerahkan dirinya untuk Dominic seorang. ***** "Bos?" Dominic menoleh saat dia disapa oleh Rika yang kebetulan berpapasan dengannya saat Dominic baru saja keluar dari kamar Alexa. Gadis itu sepertinya baru saja kembali dari tugas malamnya, pakaian lapangannya bahkan ternoda darah di beberapa bagian. "Ah, kau sudah kembali. Kerja bagus Rika," ucap Dominic murah hati. Rika mengangkat alisnya heran, apa hal baik baru saja terjadi pada bosnya yang hampir tidak pernah memujinya ini? Mata Rika jatuh pada pakaian Dominic yang berantakan. Dominic adalah pria perfectionis yang bahkan membenci satu kerutan dalam pakaiannya. Namun kini kancing kemejanya terpasang tidak beraturan. Dini hari, dan baru saja keluar dari kamar Alexa. Bukankah itu berarti...... Menyadari pemikirannya sendiri, Rika tersenyum kecil. "Selamat Bos, kau mendapatkan hatinya kini," ujar Rika. Dominic mengangguk, matanya memancarkan binar kebahagiaaan saat dia mengingat bagaimana hebatnya malam ini untuknya dan Alexa. "Aku hanya bisa berharap kita melakukannya lebih sering di masa depan. Aku ingin Alexa segera mengandung anakku, agar aku bisa mengikatnya untuk selamanya kali," ujar Dominic senang. Senyum hangat yang selalu dia pasang didepan Alexa perlahan memudar, digantikan senyum mengerikan yang sarat akan obsesi samar. "Aku telah menjadi pria yang dia inginkan sekarang. Tulus, lembut, dan perhatian. Aku bahkan memberinya kebebasan kini. Rika, dengan begitu dia tidak akan pergi lagi bukan? Dengan begini, dia akan memaafkanku, dan perlahan-lahan akan mencintaiku lagi bukan? Dia juga akan sadar betapa besar aku menyayanginya selama ini. Aku selalu percaya padanya, dan aku tidak pernah bermaksud menyakitinya dalam artian apapun." Rika menatap bosnya dalam diam kini. Awalnya, dia pikir Dominic hanyalah pria kejam yang hanya peduli pada uang dan kekuasaan. Dia selalu kejam pada musuhnya, dan hanya baik pada seseorang yang bisa dia manfaatkan. Dominic seperti iblis di dunia bawah, kejam dan tanpa ampun pada orang lain di sekitarnya. Namun setelah dia mulai bekerja padanya, Rika baru tahu bahwa Dominic tetaplah seorang manusia jauh didalam hatinya. Dia mencintai seseorang dengan seluruh hidupnya. Dia telah melakukan banyak hal untuk satu wanita, satu wanita yang tidak pernah mencintainya sebagaimana Dominic begitu mencintainya. "Aku percaya Alexa akan sadar betapa kau mencintainya kali ini Bos. Tindakannya hari ini membuktikan bahwa dia sudah mulai membuka hatinya untukmu lagi," ujar Rika. Dominic mengangguk, senyumnya luntur saat dia menatap Rika dengan wajah yang serius. "Namun, itu bukan berarti kita boleh lengah Rika. Tetap bersikap seperti yang aku minta padamu. Kita akan terus melakukannya, sampai Alexa benar-benar percaya aku begitu mencintainya selama ini," peringat Dominic. Rika mengangguk. "Aku mengerti Bos," balasnya yakin. Setelah puas, Dominic berlalu. Namun dia tiba-tiba berhenti di tengah jalan untuk berbalik dan menatap kembali Rika yang masih diam menatap kepergiannya. "Pastikan dia tidak melewatkan obatnya sedikitpun Rika. Aku percayakan dia padamu, seperti sebelummnya," ujar Dominic sebelum benar-benar pergi ke kamarnya sendiri kali ini. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN