Ikhlas

1165 Kata

Di sinilah aku saat ini, berdiri di depan gundukkan tanah bertabur bunga. Aku menatap gundukkan tanah itu, air mataku kembali berjatuhan tak dapat aku tahan, dadaku kembali sesak. Inikah rasanya kehilangan, rasanya benar - benar sakit, lebih sakit dari luka goresan sangkur ataupun luka tembak yang pernah aku rasakan. Semua keluarga dan pelayat sudah pulang, kini tinggal aku di sini di temani ke empat abangku. Aku berjongkok mengusap nisan, merapalkan do'a - do'a untuknya, agar dia bahagia di surga-Nya. Impianku, kebahagianku, semua harapan di masa depan yang sudah aku rancang untuknya, ikut terkubur di dalam tanah di depanku ini. "Ikhlaskan, agar dia tak terbebani dengan air matamu Ndra." Tepukan di bahuku dari bang Andi yang saat ini berjongkok di samping kananku, membuat aku menoleh

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN