Akan Indah Pada Waktuku

508 Kata
Usai acara semalam dan dilanjut malam malam bersama. Baik dari keluarga dokter Farhan dan Riska, tengah sibuk mempersiapkan acara pernikahan. Karena dari pihak mempelai pria menginginkan pernikahan agar diadakan satu bulan lagi, maka mau tak mau, orang tua Riska akan menyiapkan segalanya mulai dari sekarang. Seperti saat ini. Ini hari Minggu, dan Riska sibuk mengobrol di teras rumah berdua dengan sahabatnya--Syasya. “Udah sampai mana persiapannya?” tanya Syasya. Wanita itu menatap Riska dengan tatapan bertanya. “Masih 30%lah. Kan dokter Farhan sendiri juga bilang kalau jangan terlalu mempersiapkan semuanya. Soalnya dia juga udah siapin acara ini jauh-jauh hari katanya.” Syasya berdecak kagum, bagaimana bisa seorang seperti dokter Farhan bisa se--ah tidak bisa diungkapkan. “Wah, berarti dokter Farhan udah seiris itu sama kamu. Sampai-sampai mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari, padahal kamu nya waktu itu belum ngasih jawaban.” “Eh gimana ya kalau kamu nolak ajakan nikah dokter Farhan. Pasti dia kecewa banget, untung aja kamu nerima dia.” tambah Syasya. Wanita itu tersenyum manis, tak sabar melihat sahabatnya akan menempuh hidup baru bersama, seorang pria baik dan nyaris sempurna. “Udah ah jangan bahas yang itu. Aku gak mau lagi ingat-ingat yang gituan. Nanti aku ragu lagi gimana?” Syasya berdecak kesal, “Yah jangan sampai ragu lagi lah. Gimana sih, orang udah mau nikah.” Riska tertawa. Dia kembali melanjutkan aktivitasnya mencatat, sesuatu yang harus dia persiapkan. Misalnya, tamu undangan. “Aku ikutan bahagia, soalnya sebentar lagi kamu bakalan nikah sama dokter Farhan. Aku harap dia adalah pria yang baik dan yang terbaik buat kamu.” ucap Syasya tiba-tiba. Tidak ada maksud lain mengatakannya, hanya saja itu yang secara spontan terlontar darinya. “Iya, makasih ya Sya. Kamu emang sahabat terbaik aku.” ^•^•^•^•^ Satu bulan berlalu. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Hari dimana seorang wanita bernama Riska akan berubah status menjadi istri dari dokter Farhan. Dokter yang cukup terkenal di rumah sakit karena keramahan serta sikap profesional yang dia miliki. Seperti sekarang, sepasang calon pengantin duduk berdempetan dan di depannya sudah ada penghulu dan wali. Sudah ada kalimat yang terucap sebelumnya, dan hanya tersisa satu kata yang akan mengikat mereka berdua. “Sah!” Alhamdulillah. Riska, wanita itu tersenyum haru. Menatap kearah pria yang saat ini berstatus sebagai suaminya. Menyalimi tangannya, dan tersenyum hangat. “Terima kasih.” bisik Farhan sesaat setelah mencium kening sang istri. “Buat?” Tidak menjawab pertanyaan istrinya, Farhan hanya tersenyum singkat untuk merespon. Segalanya yang terjadi hari ini, adalah bentuk pengharapan yang selama ini dia lakukan. Dan kata terima kasih, seolah tak cukup untuk semua ini. “Mama sayang sama kamu Ika. Jadi istri yang penurut ya, jangan bandel-bandel lagi. Udah gak single sekarang.” ucap mama Riska, saat sang anak memeluk dirinya. “Iya nak, udah punya suami. Pemikiran kamu juga harus di upgrade jadi dewasa, jangan kekanak-kanakan ya.” tambah papanya. Riska yang mendengar titah seperti itu hanya bisa berkaca-kaca. Dia sebenarnya ingin menangis meraung-raung, tapi terlihat memalukan sekali kalau itu sampai terjadi. Ah, impiannya untuk nikah dan berumah tangga akhirnya terwujud. Mungkin jauh dari ekspektasi nya, tapi menikah dengan dokter Farhan, cukup membuat hatinya senang. Karena dari yang dia lihat dan ketahui, dokter Farhan adalah pria baik-baik. Entah, entah jika semua itu salah. Intinya, Riska hanya ingin menikmati momen bahagia seperti ini. Sekali seumur hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN