Malam ini, tepat hari dimana dokter Farhan kembali datang ke kediaman keluarga Riska. Dan kali ini, dokter Farhan ditemani oleh kedua orang tuanya.
Setelah beberapa jam lalu, Riska memberikan jawaban 'Iya' malam harinya dokter Farhan datang dan meluruskan semuanya.
Pria itu ingin segera ke jenjang yang lebih serius. Entah apa yang ada dipikirannya, baginya untuk menikahi Riska adalah sebuah keharusan.
Dia tidak ingin kehilangan sosok yang membuatnya jatuh ke lubang kebahagiaan.
Cinta?
Pria itu belum bisa mendeskripsikan itu. Baginya ini perasaan semu dan ingin memiliki. Mungkin sebagian akan menyebut ini semua hanyalah nafsu dan obsesi belaka. Tapi untuk pria bernama Farhan, ini sangatlah berbeda.
“Jadi kedatangan saya hari ini, untuk menentukan tanggal pernikahan dan menyelenggarakan secepatnya.” ucap Farhan.
“Iya pak, putra kami sudah memutuskan untuk lanjut ke jenjang serius secepat mungkin. Bukankah lebih cepat lebih baik.” sambung sang ayah--Tio--ayah Farhan.
Baik dari mama dan papa Riska, mereka mengiyakan saja keinginan itu. Toh, Farhan sebelumnya juga sudah mengatakan ingin menikah secepatnya setelah Riska mengiyakan lamarannya.
“Gimana pa?” tanya Riska.
“Papa setuju, lebih cepat lebih baik. Apa lagi udah sebulan kamu mulai pendekatan dengan nak Farhan, dan papa rasa itu lebih dari cukup.”
Riska tersenyum tipis, pendekatan apanya? Yang ada, di antara dirinya dan dokter Farhan hanyalah ada kecanggungan. Mereka bagaikan orang asing saat di rumah sakit.
Mungkin dokter Farhan ingin profesional, jadi ya begitulah. Riska harus memahaminya.
“Untuk selanjutnya, seperti acara akad dan lain-lain, sudah kami rencanakan jauh-jauh hari, sebelum nak Riska menjawab lamaran anak saya.” sambung Lidya--Ibu Farhan.
Kedua orang tua Riska tersenyum manis. Mereka lega Riska--anaknya akan mendapatkan suami seperti dokter Farhan, dan keluarga yang baik seperti ini. Rasanya, mereka tidak takut lagi untuk melepaskan anak satu-satunya, untuk dijadikan istri oleh pria bernama Farhan.
Karena orang tua Riska tahu, Farhan adalah pria baik-baik. Itu tidak boleh diragukan lagi, dan jangan sampai meragu.
“Sebelumnya saya juga berterima kasih karena kamu mau menerima ajakan nikah saya. Mungkin bagi kamu ini terlalu tiba-tiba, tapi bagi saya enggak. Kalau saya ingin menikah, saya akan menikah. Seperti halnya, kalau saya suka kamu, akan saya ungkapkan.”
Blush
Wajah Riska merona merah. Mungkin ucapan dokter Farhan terkesan biasa saja, bahkan tidak ada apa-apanya. Tapi bagi gendang telinga Riska, ucapan itu seperti sihir yang langsung menghipnotis dirinya.
Ini baginya adalah kalimat romantis yang paling dia sukai.
Mungkin tidak kata cinta, tapi kata suka saja membuat hatinya kelimpungan sendiri.
Benar-benar menggelikan.