Tak terasa 25 hari sudah berlalu.
Kurang 2 hari untuk Riska menjawab lamaran dadakan yang diajukan dokter Farhan padanya.
Kalau kata papa dan mama nya. “Sekali ada pria yang datang ke rumah dan berniat melamar, kenapa enggak?”
Niat dokter Farhan juga sangat baik. Tapi kembali lagi pada Riska yang lagi-lagi meragukan motif dibalik lamaran itu.
Aneh saja, jika hari-hari sebelumnya dia di bingungkan dengan alasannya. Hari ini pun sama, bedanya hari ini dia kembali memikirkan perlakuan dokter Farhan kepadanya.
Setelah acara ajuan lamaran itu, tidak ada interaksi spesial antara Riska dan dokter Farhan. Mereka cenderung biasa dan bahkan seperti tidak terjadi apa-apa. Jujur, Riska agak risih dengan itu semua.
Dan karena itu pula dirinya ragu dan terus meragu.
Apalagi, saat dia memaksakan hatinya untuk mencintai dokter Farhan. Hasilnya nihil.
“Hayo, ngelamun aja.”
Suara itu membuat Riska menoleh dan tersenyum pada pelaku yang baru saja berbicara. “Udah selesai urusan sama dokter Azzam nya?” tanya Ika, pada wanita yang berdiri di depannya.
“Hooh jelas udahlah, orang dua cuma minta di temenin makan siang. Upsss, keceplosan ngomong di depan jomblo.” ucap Syasya.
Aish, wanita cantik yang berstatus sebagai istri dari dokter bedah--Profesor Azzam, itu tersenyum jail kearah Riska.
“Mentang-mentang udah nikah, terus sahabatnya diledekin tiap hari. Awas aja kalau aku udah nikah, bakalan adu kemesraan didepan kamu.” kesal Ika.
Huft, untung saja wanita bernama Syasya itu sahabatnya, dan tahu masalah apa yang akhir-akhir ini membuat pekerjannya sedikit berantakan.
“Kenapa sih?” tanya Syasya. Wanita itu memutuskan duduk di kursi yang sama dengan Riska. Memperhatikan raut wajah sahabat karibnya, selama menjadi koas di rumah sakit ini.
“Mikirin lamaran dokter Farhan?” tebak Syasya, yang langsung mendapatkan anggukan dari Riska.
“Udah hampir sebulan dan kamu masih ragu aja sama dia. Emang apa sih yang kamu raguin lagi? Jelas-jelas dokter Farhan itu pria yang baik loh, kalau kata mas Azzam sih, dia tipe pria yang nyaris sempurna.”
“Bukan gitu nya Sya. Gimana ya, setelah lamaran itu, sikap dokter Farhan ke aku itu tetap sama dan gak ada perubahan. Ya kayak dokter sama koas, gak lebih gak kurang. Apalagi dia gak nunjukin kalau dia suka ke aku, minimal tertarik lah.” keluh Riska. Wanita itu rupanya terlihat sangat frustasi, dengan pikiran-pikiran buruk di kepalanya.
“Astaghfirullah, kalau cuma itu mah jangan diambil pusing. Aku sama mas Azzam juga kayak gitu kok. Dia malah gak ungkapin cinta ke aku, tau-taunya udah cinta aja dan langsung datang ngelamar di rumah. Bayangin, gimana itu.”
“Kamu harus percaya. Sekarang aku tanya deh, setelah dokter Farhan ngajak kamu nikah dihadapan orang tua kamu, perasaan kamu ke dia itu kayak apa? Ada rasa cinta, sayang atau yang lainnya gitu?” tanya Syasya.
“Sama sekali gak ada. Cenderung hambar, tapi dari sholat istikharah yang akhir-akhir ini rutin aku lakuin, jawabannya itu dokter Farhan terus.” ucap Riska.
Syasya tersenyum, “Artinya itu jawaban yang sebenarnya.”
“Inilah saatnya kamu kejar kebahagiaan kamu. Mungkin menikah dengan dokter Farhan adalah jalan menuju bahagia bersama. Entah kamu cinta apa enggak, intinya jawaban istikharah nya kan dokter Farhan. Ya kamu tinggal yakinin hati aja. Bisa?” lanjut Syasya. Dia menanti jawaban sahabatnya.
Cukup lama terdiam, sampai seutas senyum terbit dibibir merah muda milik wanita bernama Riska.
“Iya, aku bakalan yakinin hati. Bukankah ini saatnya untuk mencapai kebahagiaan?”
“Iya benar, jadi jangan ragu lagi.”
“Makasih ya Sya. Dan sekarang yang harus aku lakuin adalah yakin, yakin hati dan juga jawaban.” ucap Riska mantap, wanita itu tersenyum tipis, sebelum senyumnya menjadi lebar.
Ah, Inilah saatnya.