10. Mari Mencobanya, Pak!

1513 Kata
Sarah POV Rinaldy jauh lebih dingin ketimbang semalam. Bahkan untuk minta maaf saja dia tidak melakukannya? Demi apa? ini membuatku hampir gila. “Sarah?” bruk. Sial, kenapa dia harus tiba-tiba muncul, seperti hantu saja. Buru-buru aku menutup ponsel yang tadi sempat jatuh dan berdiri. Menatap matanya yang jauh lebih segar. Sepertinya dia sudah mendapat asupan dari istrinya. “Ya, pak?” “Nanti siang, kita rapat.” “Rapat, pak? Tapi harusnyakan sekitar 2 hari lagi pak.” “Rapat dadakan sekaligus evaluasi.” “Baik, saya segera umumkan.” “Terima kasih.” Dasar tidak berperi kemanusiaan. Aku tahu rapat ini hanya untuk petinggi dan pemegang jabatan di kantor. Tapi mereka juga pasti akan bersungut-sungut dan itu hanya diberitahu padaku. Ibaratnya mereka juga kesal denganku karena tidak bisa menolak. Menjadi sekretaris memang serba salah. Tapi biarlah, aku harus tetap bertahan. Dan situasi rapat sedikit tegang. Beberapa petinggi dari masing-masing departemen sudah hadir di ruang rapat. Rinaldy dan William—tangan kanannya—sudah sejak awal menunggu. On time. Sedikit tentang William, yang aku dengar, dia sudah menjadi kepercayaan Rinaldy sejak kantor ini masih kecil sekali. Tidak heran jika dia tetap setiap menjadi pengikutnya. Awalnya, aku juga tertarik pada lelaki tinggi itu. Tapi apalah daya, jika Rinaldy dingin, dia lebih parah. Bahkan dengan sentuhan wanita saja dia ilfill. Pernah sekali aku tidak sengaja menyentuh pergelangan tangannya ketika di pantry, dia langsung mengeluarkan hand sanitizer ke tangannya. Sungguh luar biasa. Dia pikir aku ini sejenis virus apa? Point minus lainnya, dia itu sangat jarang bicara. Jadi sulit untuk ditebak seperti apa kepribadiannya. “Maaf karena mengganggu waktu kalian, aku tau kalian sibuk. Tapi, ada laporan yang saya terima tentang penerimaan suap dan rencana untuk mengetahui rahasia perusahaan yang ternyata dilakukan oleh anak buah JYP Corp. Rival terbesar perusahaan kita.”William langsung berbicara pada intinya. Deg. Jantungku mendadak berdetak jauh lebih kencang, dan menatap Rinaldy yang masih memejamkan matanya dengan kedua tangan diletakkan di atas meja. Pembawaannya tenang. Sialan, apa aku sudah ketahuan? Padahal aku belum menemui Bobby. Aku masih memikirkan tawaran kerja sama yang dia kirim lewat email. Bonusnya tidak main-main. Sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan. “RN corp mulanya juga perusahaan kecil dengan 10 orang pegawai, salah satunya adalah mbak Elsa. Kami memulai perusahaan ini dengan kepercayaan atasan kita, tapi saya pribadi kecewa karena yang melakukan hal ini juga hadir di ruangan ini.” Sialan. William sempat melihatku. Demi apa, aku juga belum melakukan apa-apa. wajahku sudah memerah. Rasanya aku ingin kabur dari ruangan ini. “Pak Dedy, tidak ingin mengatakan sesuatu?” Semua mata tertuju pada Pak Deddy, kepala divisi HRD. Dia memang kelihatan panik dari awal. Tapi entah kenapa aku tidak kepikiran dengan hal itu. Namun jika diingat-ingat lagi, aku juga pernah melihat pak Dedy di JYP, dan berbicara dengan Bobby. Apa memang selama ini dia yang selalu meretas sistem database perusahaan? Aku juga pernah dengar dari divisi IT, bahwa sistem sering kena virus. Aku tahu untuk perusahaan sebesar RN corp ini, akan banyak perusahaan yang berusaha meretas sistem, merusak file dan data. Menjadi pegawai yang selalu berpindah-pindah membuatku banyak tahu hal itu. “Maaf, pak Rinaldy. Saya…saya mengakui hal itu, tapi tolong, jangan penjarakan saya.” Pak Deddy langsung berlari ke depan dan berlutut di bawah kaki Rinaldy yang hanya diam saja. Entah apa yang kini sedang lelaki itu pikirkan, tapi auranya cukup buruk. Aku sampai tidak yakin itu adalah dirinya. “Menyingkir dari kaki saya, pak Deddy.” “Pak, saya mohon maaf. Tolong jangan penjarakan saya pak, saya rela dipecat, tapi tolong…” Brug—tubuh pak Deddy dilempar begitu saja ke depan. Persis sekali di hadapanku. Aku menelan ludah kasar. Ini memang kali pertama aku ikut rapat evaluasi pada petinggi di kantor, dan tidak tahu jika hal ini sering terjadi? Rinaldy sudah membuka kedua matanya, berdiri dengan santai dan mengeluarkan pistol? Aku menelan ludah gugup. Tapi semua orang di ruangan tidak ada yang terkejut melihat hal itu, apa mereka sudah tahu? Atau itu memang rahasia para petinggi? “Maaf pak, saya salah, jangan bunuh saya. Masih ada anak istri yang harus saya nafkahi.” Pak Deddy berusaha meraih ujung sepatu Rinaldy, tapi ujung jarinya di injak begitu saja. Aku menoleh ke arah lain, ini cukup kejam. “Dan kita merugi sekitar 2 miliar dari apa yang sudah anda lakukan, pak Deddy.”William menggeser slide presentasi dan menunjukkan posisi saham yang memang turun. “Bu Elsa, menurut anda bagaimana?” “Dengan grafik segitu, mustahil bisa memperbaikinya dalam waktu yang sebentar. Dari tim keuangan sudah melakukan analisis sebelumnya.”Elsa berbicara dengan nada tegas, dia bisa dikatakan ibu-ibu yang selalu update dengan perkembangan zaman. Yang aku dengar, dia juga sudah lama di perusahaan ini. “Maaf, pak. Saya minta maaf.”pak Deddy menangis tersedu-sedu, membungkuk seperti seorang sampah. Seharusnya dia sudah tahu akibat dari yang dia lakukan.” “Will, bereskan.” “Pak! Pak Rinaldy, saya mohon.” “Tidak ada kata maaf bagi penghianat perusahaan.” “Pak…”Pak Deddy tiba-tiba berdiri, berniat menyerang Rinaldy yang baru saja berbalik. “Pak, awas.”Sontak aku bangkit dari dudukku, menarik tangan Pak Deddy. Tapi sialnya tubuhku malah terhempas ke lantai. Keributan terjadi di ruang rapat, dan aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya karena pandanganku kabur dan kepala bagian belakangku sakit. *** Rinaldy POV “Pak, awas.”suara teriakan dan bunyi jatuh itu membuatku lekas berbalik, begitu terkejutnya melihat Sarah yang terjatuh. Deddy masih ingin menyerangku, untungnya William lebih dulu dan menahan Deddy. Beberapa karyawan lain juga bertindak. Aku tahu dia pasti akan sebenci itu padaku. Tapi perusahaan ini aku dirikan dengan prinsip. Siapapun penghianat akan berakhir sesuai perjanjian. Dan semuanya berbondong-bondong membawa Sarah ke klinik. Aku juga ikut, sebab yang aku dengar dia berusaha melindungiku. Kini tinggal aku dan dia di klinik, yang lain sudah kembali bekerja. Sarah? Aku berniat untuk memecatnya atas apa yang terjadi beberapa hari lalu. Tapi, aku tidak bisa, sebab aku juga yang sempat memberinya kesempatan. Dia gadis yang nekat, juga pemberani. Padahal dia berparas cantik, juga blasteran. Kenapa dia harus senekat untuk mencari perhatianku? Dan aku juga merasa bersalah. Mungkin aku yang berada di posisinya sekarang. Jarinya sedikit bergerak. Aku langsung sigap. “Sarah? Apa kau mendengarku?” Matanya berkedip beberapa kali. “Pak? Saya…” Membantunya untuk duduk, dan segera mengambilkan air. “Ini diminum dulu, bagaimana perasaan kamu.” “Saya baik pak.” Hening selama beberapa menit. Aku memperhatikan gerak-geriknya, dan pasti dia juga merasa canggung atas apa yang terjadi hari itu. “Saya antar pulang, ini sudah jam pulang kerja juga.” Di mobil pun kami diam. Dia tidak mengatakan apapun selama di jalan. Dan rasa bersalahku juga semakin besar, aku merasa tidak enak padanya. Padahal jika dibandingkan dengan William, Sarah memang jauh lebih kompeten. Aku tidak berbohong. Mobil berhenti tepat di lokasi aku menciumnya. “Pak, pintunya tidak bisa dibuka.” “Eh?”Sial. Lagi-lagi aku melamun. “Sarah…” “Ya, pak?” “Terima kasih sudah menolong saya tadi. Saya juga minta maaf atas kejadian tempo hari, saya kelewat batas dan tidak seharusnya melakukan hal itu. Kamu juga sudah jelas tahu bahwa saya sudah punya istri dan anak.” “Pak, sebaiknya buka saja pintunya. Kepala saya masih sedikit sakit.” “Saya serius, Sarah. Tolong untuk jaga sikap jika hubungan kerja kita ingin berlangsung dengan baik.” Diam. Dia duduk dan menatap lurus ke depan. Aku menghela nafas. “Kamu dengar saya…” “Lantas, apa maksud bapak mencium saya? Apa itu karena nafsu saja, pak? Saya memang tertarik dengan bapak, setiap hari bertemu membuat saya frustasi dan tidak bisa menahan perasaan itu. Lantas, kenapa bapak memberi saya peluang?” Deg. Jadi dugaanku benar? Aku memang berfeeling jika Sarah menyukaiku. Tapi…ini salah, aku tidak bisa. “Saya sudah punya istri…” “Saya lebih tidak peduli, pak.”mata Sarah berkaca-kaca, dia menatapku dengan tatapan terluka. “Andai bapak tidak melakukannya, maka saja tidak akan berpikir lebih. Tapi…apa memang bapak mencium wanita sembarangan jika…” “Sarah dengarkan saya, hari itu…” “JADI BENAR PAK?” Dia menangis, membuatku merasa sakit. “Jika memang bapak tidak menaruh perasaan pada saja, jangan jadikan istri bapak sebagai alasan. Itu membuat Sarah jadi lebih frustasi, pak.” “Saya…” aku menelan ludah kasar, sialan, kenapa aku harus terjebak dalam lingkaran setaan ini? Kenapa? “Pak…”Sarah menyentuh tanganku, menggenggamnya dan menatapku. “Tatap Sarah, dan katakan bahwa bapak memang tidak menaruh rasa agar Sarah paham dan menyerah. Katakan dengan jelas, pak Rinaldy.” Bisakah aku berbohong? Aku memalingkan wajah, namun dia menarik wajahku mendekat. Jantungku berpacu lebih cepat. Membuat wajahku memerah. “Katakan pak.” “Saya…saya. Arghh…ini salah Sarah, sangat salah. Walau saya juga tidak bisa menyangkan perasaan itu. Tapi ini salah, kau dan aku tidak ditakdirkan bersama dan saya…” Mataku melebar begitu wajah Sarah semakin dekat. Bibirnya menempel dengan lembut di atas bibirku. Batinku sukses berdebar dan berteriak. Aku sudah gila dan membalas ciuman itu. Hampir 10 menit sampai dia melepas diri. “Aku tahu posisi bapak, tapi setidaknya mari mencoba.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN