Luhan POV
“Sudah datang? Cepat sekali.”sapaku begitu membuka pintu ruangan.
“Paman Luhan.”suara khas itu, Naya yang sedang duduk di pelukan Nina langsung sigap berlari ke arahku. Dia tersenyum dan memelukku erat sekali. Berbeda dengan Abian, walau aku merasa kami sudah akrab, dia tetap memasang tembok pemisah. Sulit untuk dijangkau.
Sedangkan Nina? Seperti biasa. Dia selalu tampil mengagumkan dengan pakaian apapun yang dia kenakan. Senyumannya tulus, dia menatapku, membuatku sedikit gugup.
“Maaf ya, hari ini aku membawa anak-anak. Mereka memaksa untuk ikut, jadi aku tidak bisa menolaknya. Ayahnya masih sibuk, hari ini pun katanya ada urusan di luar kantor.”
“Tidak apa, sudah aku katakan, panggil saja aku jika butuh sesuatu.”
Nina terlihat tidak enak hati. Padahal sebenarnya aku senang karena tadi pagi dia mengirimiku pesan duluan. Bahasa lembut dan sopan, bahkan saat membacanya saja aku bisa merasakan nadanya. Sayangnya aku bisa bertemu dengannya setelah sore, tepatnya setelah aku bertemu dengan salah satu klien penting. Dia klien VVIP Mr.Cupin lebih tepatnya, dan aku juga beberapa kali berhadapan dengan Bobby.
“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?”
“Begini…” Nina mengalihkan perhatian sejenak dan memesan beberapa menu. “Sayang…”
“Eh?” Aku memotong Nina. Tapi tau dia memanggil Nayara membuatku malu sendiri. Sialan, semoga wajahku tidak memerah.
“Naya mau apa?”
“Mau burger, sama kayak abang.”
“Okey boleh, tapi Naya duduk yang bagus ya, gak boleh ngerepotin omnya.”
“Ma, Abi mau ekstra cheese boleh?”
“Aigoo…boleh dong sayang mama.”
Nina mengecup pipi Abian dan mengacak rambutnya. Nayara juga sudah berpindah ke arah Nina. Seketika tubuhku mematung, kenapa rasanya Nina tidak berubah sama-sekali? Hati lembutnya, sifat keibuannya, dan senyuman itu. Sejak dulu selalu sama. Dan…dia juga pernah memperlakukanku selembut itu saat aku sakit dulu.
“Luhan?”
“Eh…Ya?” Aku berdehem, menghilangkan rasa gugup. “Maaf, tadi aku sedang kepikiran tugas di kantor.”
“Kamu pasti sibuk sekali ya, maaf ya, lain kali aku tidak akan mengganggumu.”
“Tidak, bukan begitu.” Bodoh. Kau bodoh Luhan, apa yang baru saja kau jadikan sebagai alasan? Padahal aku sangat senang, Nina dan kedua malaikat kecil itu menghiburku di saat tumpukan pekerjaan menyedot semua energiku. “Aku justru senang bisa bertemu dengan kalian.”
“Benarkah? Naya juga senang sekali bertemu denganmu, entahlah, dia kerap kali bertanya kapan bisa bertemu denganmu lagi.”seru Nina sambil terkekeh. “Oh ya, kamu mau pesan apa?”
Percakapan kami terhenti, aku memesan beberapa menu juga memesan ice cream sebagai dessert. Anak-anak sangat suka ice cream.
“Abi tidak mau nambah pesanan lagi, nak?”
“Gak.”
“Isss, gak boleh ngomong kayak gitu sama pamannya, gak baik.”
“Papa kemana sih mah? Kenapa makin jarang main, Abi maunya sama papa.”
“Papa sibuk kerja sayang, kan biar Abi bisa sekolah, kuliah, sama beli jajan.”
Itu wajar, aku tidak tahu sejarang apa Rinaldy di rumah, tapi sepertinya akhir-akhir ini mereka jarang bertemu? Jujur, setelah mengetahui latar belakang suami Nina, membuatku tidak percaya diri. Lelaki itu seorang penguasa yang memulai bisnisnya dari kecil hingga selang beberapa tahun bisa berkembang besar dan memiliki banyak anak cabang. Juga merintis usaha di bidang-bidang lain, wajar jika Rinaldy sibuk.
Tapi Abian memilih untuk murung.
“Maaf ya, Luhan. Abian memang akhir-akhir ini sering mencari papanya.”
“Tidak apa, itu wajar.”
“Oh ya, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan beberapa hal kepadamu.”
“Terkait?”
“Penerbitan.”
“Memangnya ada apa?” sambil bicara, aku sigap membantu Nina untuk melap makanan yang belepotan di wajah Naya, lalu kembali menatapnya. Dia sepertinya sedikit terkejut dengan tindakanku. “Maaf, aku hanya refleks saja.”
“Tidak apa. Oh ya, sebelum memilih penerbit ini, aku juga sudah mengirimkan naskah ke penerbit yang lain. Tapi mereka tidak mengirimkan balasan kurang lebih 3 bulan, dan secara tidak tertulis itu artinya bukuku ditolak. Namun, usai buku itu aku terbitkan, mereka memberikan surat bahwa aku melanggar aturan mereka. Sekarang aku…”
“Berikan nama dan informasi lengkap terkait dengan penerbit lamamu. Segera aku urus.”
“Benarkah?”
Aku mengangguk sambil tersenyum melihat reaksi Nina yang sangat senang. Wajahnya sekarang jauh lebih legah. Ya Tuhan, ijinkan hati ini untuk tidak melakukan kesalahan. Aku tidak ingin merusak dan menjadi sumber masalah rumah tangga orang lain.
Bunyi ponselku membuat perhatianku teralihkan. Ternyata Laras? Aku menoleh ke arah pintu, dan memang dia sudah berdiri di sana dengan wajah ditekuk. Sial. Aku sampai lupa jika membuat janji makan malam dengannya untuk mengganti janji minggu lalu. Arghh…dasar bodoh.
“Kenapa, eh…Laras?”
Nina ternyata lebih dulu melihat. Laras juga sudah berjalan ke arah kami. Aku tidak enak dengan anak-anak, juga Nina.
“Boleh saya bergabung?”
“Iya, duduk saja. Tidak apa-apa kan, Luhan?”
“I…iya.” aku hanya bisa tersenyum bodoh, kenapa harus seperti ini?
Situasi sedikit canggung karena Laras sejak duduk hanya diam saja, tidak mengatakan apa-apa. Untungnya Naya yang sudah di pangkuanku banyak bicara, menyodorkan makanan dan ice cream. Jadi bisa menyamarkan situasi. Aku tahu Laras kini tengah menahan marah.
“Oh ya, nanti aku akan mengabari masalah yang kamu bilang tadi, Na.”
“Iya, terima kasih banyak ya. Maaf aku sering merepotkanmu.”
“Tidak masalah.” Hening sejenak, aku menatap Laras. “Laras? Kamu tidak pesan apa-apa?”
“Tidak. Aku hanya ingin bicara denganmu sebentar.”
Nina menatapku dan Laras bergantian. Dia tersenyum, dan mulai mengemasi barang-barangnya dibantu Abian.
“Sepertinya waktunya memang kurang tepat ya, jika begitu, aku dan anak-anak pulang duluan ya. Naya, ayo sayang.”
“Ehh…kenapa buru-buru? Aku…”
Laras memijak jari kakiku. Aku menghela nafas.
“Naya pulang ya om.”
“Gak cium om dulu?”
Cup. Nayara menurut, dia tersenyum sekali lagi baru turun dari pelukanku. Jantungku berdebar, rasanya hangat. Perasaan menjadi seorang ayah, sosok yang ingin melindungi mereka. Tapi apalah daya, itu sangat tidak mungkin untukku. Mungkin tidak akan pernah?
“Biar aku yang bayar, Na. Pulang naik apa? Anak-anak jika…”
“Aku bawa mobil kok, kalian bicara saja. Maaf ya jadi merepotkan. Kami pulang ya.”
“Dadaaa paman Luhan, tante. Naya pulang ya.”Nayara melambaikan tangan. Senyumannya sungguh candu.
“Tadi…”
“Aku ingin bicara, Luhan.”suara Laras membuatku bergidik, dia bahkan menahan tanganku agar tidak beranjak dari kursi untuk sekedar mengantar mereka ke pintu.
Kini tinggal aku dan Laras. Wajahnya masih ditekuk. Aku tahu aku salah, sangat malah. Harusnya aku tidak pernah membuat janji padanya.
“Kau tahu aku berapa lama menunggumu seorang diri?”dia mulai, membuatku menahan diri.
“Laras, maaf. Aku benar-benar minta maaf. Tadi aku sangat lupa jika sudah membuat janji denganmu. Sungguh aku tidak bermaksud untuk melakukan hal itu, tapi…”
“Lantas, kau tidak lupa dengan janjimu dengan Nina? Sebenarnya, kau ini menganggapku apa sih?”
“Aku…Laras, aku minta maaf. Aku benar-benar lupa.”
Laras diam. Tapi wajahnya sudah memerah dan matanya berkaca-kaca. Jangan, aku mohon jangan menangis Laras. Jangan pernah menangisi lelaki seperti aku. Itu tidak pantas untukmu. Dan yang tidak aku sangka-sangka, dia menjatuhkan tubuhnya ke pelukanku. Meneteskan air matanya di dalam dekapanku.
Tubuhku menegang. Aku menepuk bahunya untuk menenangkannya. Dia pasti semarah itu, aku juga tidak tahu kenapa bisa sampai selupa itu. Tapi sejak tadi pagi, lebih tepatnya sejak Nina mengirimi pesan, aku langsung mengiyakannya dan sepanjang hari fokusku tertuju pada Nina dan anak-anaknya yang lucu.
Sampai-sampai aku tidak sadar melukai hati seseorang.