Part 3

1824 Kata
Author POV "Rav, aku susah kemana-mana kalau gak ada mobil,” keluh Amaya pada Raven yang sedang berbaring di kasurnya. Sudah seminggu ini Amaya mulai masuk kantor. Kalau pagi kadang dia berangkat bareng Raven, tapi pulangnya dia selalu naik taksi. Belum lagi kalau ada ketemu klien di luar atau kalau dia ingin pergi-pergi. Naik taksi setiap hari kan pemborosan juga. "Aku mau beli mobil saja." "Beli mobil tidak seperti beli baju May, habis beli langsung bisa dipakai, ada prosedurnya juga.” Raven bangkit dari tidurnya lalu duduk di sofa hitam disamping Amaya. "Ya makanya aku minta bantuan kamu ngurus itu, aku terima beres aja, langsung pake." Amaya duduk bersila menghadap Raven, laki-laki itu menyandarkan kepalanya di bantalan sofa. "Nanti aku urus, tapi mungkin kamu bisa pakainya nggak dalam waktu dekat ini, kan nunggu plat nomor dan sebagainya juga." "Oke boss! Thanks!" Amaya berjalan ke jendela di pojokan dan membuka tirainya. Tidak ada bintang di langit, hanya gelap mendung. "Kau masih berhubungan dengan cowok sipit itu?" Pertanyaan Raven membuatnya mengalihkan pandangan dan menatap laki-laki itu. "Tidak." Raven tampak senang dengan jawaban Amaya. "Baguslah, aku tidak menyukainya, tatapannya seolah-olah akan melahapmu utuh-utuh." Amaya tidak menanggapinya dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia memang menjalin hubungan beberapa kali di Sydney, tapi biasanya tidak pernah lebih dari setahun. Laki-laki yang berhubungan dengannya terlalu mengontrolnya dan dia tidak suka itu. Memangnya dia boneka. Setahun terakhir dia memang fokus dengan kariernya dan tidak menjalin hubungan dengan siapapun. Raven melihat Amaya yang sedang melamun, "Kau sudah janji ketemu dengan papamu?" Amaya diam sebentar sebelum menjawab, "Aku tidak punya alasan untuk menemuinya dalam waktu dekat ini." Raven mengangkat alis bingung dengan jawaban sepupunya itu. "Dia papamu dan akan terus begitu. Kau tidak bisa terus-terusan marah padanya." "Aku tidak marah, kami masih berhubungan baik." Raven mendengus pelan mendengar jawaban itu. "Jadi yang kau maksud hubungan baik itu menelpon setaun sekali saat lebaran, kau bukan anak kecil lagi May, seharus... “ "Karna aku bukan anak kecil lagi, jadi tolong berhenti mencampuri urusanku itu Rav, kau tidak perlu mendikteku apa yang harus kulakukan," kata Amaya menatap tepat di manik mata Raven. "Dasar keras kepala! Hidup sendiri bertaun-taun tidak menjadikanmu berpikir dewasa tapi menjadi egois!" "Aku tidak mau kita bertengkar karena masalah ini." Amaya berjalan keluar kamar Raven setelah sebelumnya mengatakan kalimat itu dengan tatapan tajam. Masalah dengan papa adalah isu sensitif bagi Amaya. Dia ingin melupakan kejadian masa lalunya, menutup itu rapat-rapat untuk dirinya sendiri. Seperti yang dikatakannya, dia masih berhubungan dengan papanya, walau jarang sekali. Benar kata Raven mungkin hanya setahun sekali mengabari. Kalau harus bersikap ramah seolah tidak terjadi apapun di antara mereka, Amaya tidak bisa. Tidak akan bisa melihat papanya seperti sebelum masalah itu terjadi. Tidak Raven dan keluarganya, apalagi orang lain, hanya dirinya yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan papanya pun tidak mengetahui kalau Amaya mengerti dengan jelas apa yang telah terjadi dengan keluarganya. Papanya yang membuat alasan sendiri sehingga Amaya tidak bisa bersikap seperti yang Raven bilang. Toh papanya sudah punya kehidupan baru sekarang, dimana Amaya tidak lagi ada di dalamnya. Seperti yang dilakukannya selama ini, Amaya selalu membuat jarak yang tegas dengan papanya, mungkin juga dengan semua orang. …   "May, mau ikut kita makan nggak?” Gea rekan kerjanya melongokkan kepala dari kubikel samping Amaya. "Boleh," jawab Amaya setelah berpikir sebentar. Lagian dia juga sedang malas bertemu Raven di rumah. Akhir-akhir ini mereka jarang bicara. Amaya lebih sering menghindar kalau mereka bertemu di dapur atau ruang TV. Dia melihat jam tangannya, jam delapan malam. Lalu segera membereskan tumpukan kertas-kertas artikelnya yang berserakan di meja. Amaya berjalan di lobby bersama tiga temannya yang lain. Mereka tersenyum dan mengangguk pelan ketika berpapasan dengan pemimpin redaksi mereka. "Pada mau pesen apa?" Gea bertanya sambil membuka buku menunya saat sudah duduk di bangku restoran. Mereka menyebutkan pesanan masing-masing. Ketika pelayan yang mencatat makanan pergi, Intan mengeluarkan lipgloss dan memoleskan ke bibirnya. "Emang mau kemana Non, pake dandan segala?"Nina berkomentar lebih dulu. "Gak kemana-mana, bibir gue kering aja," "Bilang aja habis ini mau ketemu Bang Bima,” goda Gea. "Bima yang dari litbang itu?" tanya Amaya. "Siapa lagi, cuma dia yang namanya Bima di kantor kita." Amaya tersenyum kecil melihat wajah memerah Intan. "Beneran sama Bima sekarang Tan?” Nina memastikan perkataan Gea. "Baru deket aja, dia orangnya enak diajak ngobrol,” Intan menjawabnya sambil tersenyum malu-malu. "Iya sekarang sih bilangnya enak diajak ngobrol, trus ntar enak diajak curhat, akhirnya enak diajak nikah." Celotehan Gea sontak membuat mereka tertawa. "Banyak banget makannya Nin, gak takut gendut?"  Intan mencomot kentang goreng lalu memasukkan ke mulutnya. "Enggak, lagian Abian gak pernah protes tentang berat badanku." "Iya yang sudah dibutakan cinta,” ledek Gea. "Ya emang harus gitukan kalo cinta, gak harus merubah apapun yang ada di kita, bukan berubah dulu baru cinta, tapi cinta dulu baru berubah." Nina dengan serius menjelaskan. "Jangan pada mau kalo kita disuruh diet, senyum ala putri kerajaan lah, harus gini gak boleh gitu lah. Emang kita pajangan apa, harus perfect di depan semua orang,” tambahnya. Amaya tersenyum pelan mendengar penuturan temannya ini yang tiba-tiba bijak soal cinta. Di antara mereka, hanya Nina yang sudah menikah. Saat Amaya mengedarkan pandangan sambil masih tersenyum mendengar celotehan teman-temannya, matanya bertemu dengan manik hitam yang menatapnya dingin. Ohhh s**t! Kenapa laki-laki itu ada di sini. Segera Amaya mengalihkan pandangannya dan fokus pada pembicaraan teman-temannya. Tapi sebentar kemudian dari sudut matanya dia melirik laki-laki yang berselang empat meja darinya itu. Dengan setelan kemeja biru tua dan celana hitamnya, dia berkumpul dengan dua temannya di sana. Entah apa yang mereka bicarakan Amaya tidak bisa mendengarnya. "May nanti pulang bareng aku aja." Ajakan Gea mengalihkan perhatiannya. "Gak usah, rumah kita kan beda arah, ntar kamu kejauhan, aku naik taksi aja,” tolaknya. "Gak papa, daripada malem-malem gini naik taksi, bareng kita aja," Intan ikut membujuknya. "Udah biasa kok, lagian taksi di depan kan banyak." Mereka tampak berpandangan sebentar lalu mengiyakan. Setelah selesai makan, mereka berpisah di parkiran. Intan ikut naik mobil Gea, karena rumah mereka searah. Nina dijemput suaminya. Sedang Amaya berjalan ke arah halte yang tidak terlalu jauh. Tapi sebentar kemudian dia merasakan tangan kanannya ditarik seseorang. Sosok yang tadi dilihatnya kini berdiri menjulang di hadapannya. Aura laki-laki ini membuatnya sesak napas. "Apaan sih!" katanya judes dan menarik lengannya yang dipegang laki-laki itu. "Kau tidak lihat ponselmu, Raven menghubungimu sejak tadi." Amaya menekuk wajahnya mendengar nada dingin pria dihadapannya ini. Dia memang men-silent ponselnya. Lagian dia masih marah dengan Raven. Paling juga dia menerornya dengan pertanyaan kapan pulang. Akhir-akhir ini Amaya memilih lembur di kantor sampai larut karena malas bertemu Raven di rumah. Setiap hari sepupunya itu terus-terusan mengiriminya pesan yang sama. Melihat wanita di depannya ini terus diam, Aryan kembali menariknya ke parkiran. "Apaan sih, lepasin!" Amaya yang sedikit kaget ditarik Aryan, mencoba melepaskan tangannya. Tapi cekalan laki-laki itu semakin kuat. Alhasil dia pasrah dengan wajah cemberut mengikuti laki-laki itu menuju mobilnya di parkiran. Ketika mereka sampai di mobil laki-laki itu, ada seseorang yang memanggil Aryan. Amaya ikut menoleh ke sumber suara. Seorang lelaki yang tadi bersama Aryan di dalam restoran berdiri di belakang mereka sambil memegang sebuah map biru. "Gue cariin juga, draft lo ketinggalan,” laki-laki itu menyerahkan map yang dibawanya ke Aryan. "Cewek lo? kok nggak pernah dikenalin sih." Amaya mengernyit bingung dan menatap Aryan yang masih diam ketika temannya itu menyodorkan tangannya untuk kenalan. "Hei, gue Fandi." Amaya kembali menoleh ke Aryan, tapi laki-laki itu hanya menatapnya datar. Dengan ragu-ragu Amaya menyambut uluran tangan laki-laki itu. "Amaya,” katanya pelan. "Bilangin yang lain, gue duluan Fan, besok ketemu di lokasi langsung," kata Aryan. "Oke, duluan May,” ujar Fandi sambil tersenyum kecil dan berbalik masuk ke restoran lagi. "Masuk!" kata laki-laki itu dengan nada memerintah. Inilah salah satu yang tidak disukainya dari laki-laki dihadapannya ini, suka memerintah. "Aku bisa naik taksi." Amaya segera berbalik dan berjalan ke halte lagi. Dia pikir siapa, bisa menyuruh seenaknya. Tapi belum genap tiga langkah, lengannya kembali ditarik. "Kau hanya perlu duduk diam dan mengunci mulutmu yang suka membantah itu!" Aryan menatapnya dingin dan menariknya masuk ke mobil laki-laki itu. Amaya mendengus sebal mendengar nada dingin yang memerintah itu. Aryan meletakkan map di kursi belakang dan mulai mengemudikan mobilnya. Keheningan mengisi mereka berdua. Amaya memperhatikan gerimis kecil yang mulai membasahi jalanan lagi. Tadi sore memang sempat hujan, tapi sudah reda mulai jam tujuh tadi dan sekarang mulai hujan lagi. Nada dering ponsel memecah keheningan di antara mereka. "Ya?" Amaya melihat sekilas ke arah Aryan yang sedang mengangkat ponselnya. "Di jalan, …… oke" Lelaki itu menyerahkan ponselnya membuat Amaya mengangkat alisnya bingung. "Raven,” Aryan menjawab kebingungan gadis itu. "Aku tidak mau bicara dengannya," katanya menolak ponsel yang disodorkan padanya. Aryan hanya mendengus pelan, "Kau dengar sendiri, dia tidak mau bicara denganmu …… Hmm" Aryan menutup teleponnya dan kembali diam. Namun tidak lama kemudian terlihat di depan mereka deretan mobil tidak bergerak. Amaya menegakkan punggungnya ketika mobil Aryan berhenti. Lelaki itu membuka pintu mobilnya dan hendak keluar. "Ke mana?" tanya Amaya. "Tunggu saja di sini." Lalu laki-laki itu setengah berlari di tengah hujan yang mulai lebat, menuju ke warung pinggir jalan yang terlihat penuh orang yang berteduh. Amaya mengamatinya yang berbincang sebentar dengan seorang lelaki paruh baya di sana. Lalu laki-laki itu kembali ke mobil. "Ada apa?" tanyanya ketika Aryan sudah di dalam mobil. Kemeja birunya agak basah terkena hujan. "Di depan ada kecelakaan" Amaya berdecak kesal. Ini sudah lewat jam sepuluh dan mereka malah terjebak macet yang entah berapa jam. Laki-laki itu kembali mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Amaya menyandarkan kepalanya, dia ingin cepat pulang, mandi dan tidur di kasurnya sambil memeluk guling. Tubuhnya membutuhkan itu, dia memejamkan mata sambil mencari posisi nyaman. Aryan mengamati wanita disampingnya yang mulai terlelap. Gadis itu terlihat begitu polos kalau sedang tidur begitu alih-alih sebagai gadis galak yang angkuh dan keras kepala. …   Amaya merasakan lengannya digoyangkan pelan. "May bangun, sudah sampai." Amaya hanya bergerak sedikit tanpa membuka matanya. "Amaya!” Kali ini suara itu terdengar lebih keras. Amaya mengguman pelan dengan mata masih tertutup,"Jangan menggangguku, aku mau tidur." Aryan tersenyum tipis mendengar Amaya yang cemberut karena tidurnya diganggu. "Lanjutkan tidurmu di kamar, bangunlah dulu kita sudah sampai,” Aryan kembali menguncang pelan lengan Amaya. Perlahan Amaya membuka matanya, "Di mana aku?" Membuat Aryan tersenyum geli melihat Amaya yang masih linglung, "Di mobilku, kita sudah sampai" Amaya sedikit terkejut melihat senyum geli di wajah Aryan. Hanya sebuah tarikan sudut bibir laki-laki itu, tapi entah kenapa membuatnya terpaku. Mungkin karena dia tidak pernah melihat laki-laki itu tersenyum sebelumnya. Dirinya berdehem pelan dan merapikan rambutnya yang berantakan, "Jam berapa sekarang?" "Tengah satu, cepat masuk sana." Amaya menoleh ke pintu rumah Raven yang dibuka dan melihat Raven keluar. Segera dia keluar dari mobilnya diikuti Aryan di belakangnya. Ketika melewati Raven, Amaya tidak menoleh sama sekali dan langsung masuk. "Anak itu benar-benar." Dia mendengar Raven mengomel padanya. Kemudian berbicara pada Aryan. Sesampai di kamar Amaya langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur tanpa mengganti bajunya lebih dulu. Matanya sudah tidak bisa diajak kompromi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN