Chapter 14

1765 Kata
Reya buru-buru berjalan ke arah pintu karena bel rumah Nevan berbunyi. Ketika sudah membuka pintu Reya melemparkan seulas senyum sedangkan yang diberi senyum terpaku tanpa berkedip. "Reya?" Reya mengangguk, "masuk Om, Tante." Ardhan dan Rara tampak terkejut dengan kehadiran Reya, apalagi Reya sedang berada di rumah Nevan sekarang. "Kamu..." "Iya Tante ini saya, Reya." Reya tersenyum sambil mengantar Ardhan dan Rara ke sofa ruang tamu. "Kenapa kamu bisa ada di sini?" Tanya Ardhan terlihat tidak terlalu terkejut seperti Rara. Saat Reya hendak menjawab Nevan datang bersama dengan Zio. "Oma, opa!" Pekik Zio berlari ke arah Rara dan Ardhan. Reya pergi ke dapur untuk membuatkan minum sedang Nevan duduk bersamaan dengan Rara dan Ardhan. "Kenapa Reya ada di sini? Kenapa kalian bisa ketemu lagi? Gimana ceritanya?" Tanya Rara dengan rasa penuh penasaran. "Reya sekretaris Raihan, Nevan udah cerita sama Papa kalo Nevan sama Raihan bakal tukar posisi sekretaris masing-masing, ya udah deh Nevan ketemu sama Reya." Jawab Nevan sambil memperhatikan Zio yang sedang berbicara pada Ardhan. "Reya udah tau semuanya?" Tanya Ardhan tanpa menatap Nevan. Nevan mengangguk, "udah, udah Nevan ceritain ke Reya. Ya sekarang hubungan Nevan sama Reya baik-baik aja." Rara menghela napas seraya menoleh ke arah Zio, "kalo emang jodoh gak kemana sih." Nevan tersenyum. "Tapi kenapa kalian tinggal sama?" Rara langsung menatap Nevan dengan mata yang sedikit melotot. "Zio yang minta Reya tinggal di sini, lagian kan ada Zio, bukan cuma ada Nevan sama Reya." Rara mengangguk kecil. "Eh, gak usah repot-repot, Tante bisa ngambil minum sendiri kok." Kata Rara pada Reya yang sudah kembali seraya meletakkan gelas teh di depan Rara dan Ardhan. "Gak papa Tante," balas Reya diselingi senyuman. Reya duduk di sebelah Nevan masih dengan nampan yang berada di tangannya. "Jadi hubungan kalian apa sekarang?" Tanya Ardhan. Reya melirik Nevan. "Balik kayak dulu." Jawab Nevan. "Emang kamu Reya, mau nerima Nevan yang udah pernah nikah?" Tanya Ardhan lagi. Reya tersenyum kikuk, "gak papa kok, Om. Gak masalah, lagian kan itu udah berlalu." Mendengar jawaban Reya Ardhan mengangguk. "Semoga kalian ketemu karena emang jodoh ya, bukan karena kebetulan." Kata Rara sambil mengelus rambut Zio. ^•^ "Kenapa mereka udah pulang?" "Setiap bulan Mama sama Papa aku emang ke rumah, ngeliatin terus ngurus Zio. Tapi karena ada kamu mereka cuma sebentar di sini." Balas Nevan sibuk dengan map yang bertumpuk di meja kerjanya. "Udah gak diminum lagi kan kopinya?" Nevan menatap gelas kopi yang masih tersisa sedikit kemudian menatap Reya dan menggeleng. "Aku bawa," "Hari ini kamu mau pulang atau tidur di rumah aku lagi?" Reya mengambil gelas kopi Nevan dari meja. "Kayaknya mau pulang aja." "Kalo Zio gak ngizinin gimana?" "Bilang aja kamu yang gak ngizinin." Nevan mengulum senyum. "Gak ada niat mau pindah ke rumah aku?" Reya langsung menggeleng. Nevan beranjak berdiri dari kursi besarnya dan malah duduk di tepi meja kerjanya berhadapan dengan Reya. "Kenapa?" Reya menggenggam erat piring kaca yang menjadi alas gelas kopi Nevan karena jantungnya sedang bermasalah sekarang, Reya heran mengapa jantungnya mudah sekali berdebar hanya karena berdekatan dengan Nevan ataupun sekedar ditatap. "Emm..." Reya mengalihkan pandangannya ke arah jendela besar tidak kuat terlalu lama beradu pandang dengan Nevan yang Reya akui terlihat semakin wah saja. "Di rumah kan ada Zio, bukan cuma kita berdua. Lagian kalo ada kamu rumah gak sepi-sepi banget." Kata Nevan sambil menaruh tangan kirinya di tepi meja. "Kamu juga tidurnya di kamar lain, tapi aku gak keberatan kalo kamu mau satu kamar." Reya langsung memicingkan mata membuat Nevan terkekeh. "Gak bisa sembarangan, bukan muhrim." Reya berbalik berjalan ke arah pintu untuk segera keluar. "Mau aku halalin sekarang?" Reya pun langsung berhenti melangkah melirik ke samping kanan dengan pipi yang sudah bersemu merah. Nevan tersenyum melihat Reya kembali melangkah keluar dari ruangannya. ^•^ "Sorry," Ucap Reya terbelalak lebar ketika ia tidak sengaja menabrak seorang perempuan yang merupakan karyawan di depan ruangan Nevan. "Dimana sih mata Lo?!" Bentaknya karena sisa kopi milik Nevan tumpah ke baju nya yang berwarna putih juga gelas yang dibawa Reya sudah terjatuh di lantai. Reya sempat terkejut karena ternyata perempuan itu adalah orang Indonesia, ia pikir asli warga Singapura. "Maaf, saya gak sengaja." "Pake mata Lo!" Reya buru-buru berjalan ke arah meja nya yang berada tepat di depan ruangan Nevan untuk mengambil tisu. "Walaupun Lo sekretaris pak Nevan, Lo jangan suka-suka ya di sini, Lo tuh masih anak baru!" Bentaknya lagi merampas tisu yang Reya berikan kepadanya. Reya mengangguk kecil, "sekali lagi maaf." "Maaf-maaf! Liat nih baju gue, kotor kan? Mana mahal lagi." Katanya sambil membersihkan kopi yang sudah merubah warna bajunya menjadi kecoklatan. Reya berjongkok untuk mengutip pecahan gelas serta piring yang berserakan di lantai. "Kenapa ini?" Reya mendongak dan mendapati Nevan sedang berdiri di ambang pintu. "Ini pak, sekretaris bapak numpahin kopi ke baju saya." Ucapnya seolah-olah mengadu. Reya bungkam kembali membersihkan pecahan kaca. "Gak usah dibersihin, nanti OB aja yang bersihin." Kata Nevan pada Reya. Rea pun mendengarkan perkataan Nevan dan menjauh dari pecahan kaca tersebut. "Masuk," ucap Nevan pada perempuan yang masih berusaha membersihkan baju nya dari noda kopi. Perempuan tersebut menatap sinis Reya sebelum masuk ke ruangan Nevan karena ia memang ada perlu dengan bos nya itu. Reya menghela napas lalu duduk di kursinya memperhatikan pecahan kaca yang berada di depannya. "Tante Yaya," Reya menoleh pada Zio yang sedang berjalan ke arahnya. "Diem di situ." Reya langsung beranjak dan menghampiri Zio membawa anak itu ke gendongannya. "Io kok di gendong?" Tanya Zio. "Ada pecahan kaca, nanti kaki kamu kena." Reya menunjuk pecahan kaca yang belum juga dibersihkan. Ketika Reya dan Zio sudah duduk datanglah seorang OB membersihkan pecahan kaca tersebut. "Kamu dari mana aja?" Tanya Reya sambil menghidupkan komputernya. "Main sama Tante Dila." "Terus Tante Dira nya mana?" "Kelja." Balas Zio sambil membuka pembungkus permen. "Tante Yaya mau pelmen?" Reya menoleh. Saat Reya menoleh Zio mengeluarkan sebungkus permen dari kantong baju nya. "Gak usah, makan aja." Ucap Reya sambil tersenyum. "Tapi Io ada banyak kok pelmen nya." Reya pun mengambil permen yang Zio sodorkan padanya dan langsung memakannya. Reya dan Zio sama-sama menatap ke arah pintu ruangan Nevan dimana perempuan yang marah-marah kepada Reya keluar dengan wajah yang merah seperti menahan tangis. Merasa tidak beres, Reya masuk ke ruangan Nevan sambil membawa Zio. "Perempuan tadi kenapa?" Tanya Reya ketika sudah duduk di depan Nevan yang terlihat fokus dengan laptopnya. "Aku pecat." Jawab Nevan dengan enteng sambil membolak-balikkan lembaran kertas. "Kenapa?" Tanya Reya terkejut. "Karena kamu." Reya ingin membuka suara lagi namun ia tahan karena Nevan sedang berbicara melalui telepon. "Kenapa karena aku?" Tanya Reya ketika Nevan sudah selesai menelepon. Nevan menatap Reya, "aku gak suka dia marah-marah sama kamu, aku tau tadi dia marah-marahin kamu, aku sengaja gak langsung keluar karena aku mau liat seberapa hebat dia di sini." Setelah berbicara seperti itu Nevan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Reya tidak dapat berkata-kata apalagi, sesungguhnya ia tidak sakit hati dengan ucapan perempuan tadi karena itu memang murni kesalahannya, Reya sudah menabrak perempuan tersebut hingga menyebabkan baju nya terkena sisa kopi ditambah lagi gelas yang ia bawa jatuh ke lantai. "Tapi gak perlu kayak gitu juga, itu keterlaluan." "Menurut kamu, menurut aku enggak. Kamu bisa terima kalo kamu dimarah-marahin kayak tadi, tapi aku gak bisa terima." Reya menyadarkan tubuhnya sambil memperhatikan Zio yang sedang bermain sendirian. "Kayaknya satu kantor harus tau kalo kamu..." "Gak usah!" Potong Reya. "Biar mereka gak bisa seenaknya." "Tapi aku gak enak kalo mereka harus segan cuma karena kita punya hubungan. Gak usah, biarin aja." Nevan mengangguk seraya menyimpan map di laci meja kerjanya. "Tapi jangan salahin aku kalo harus ada yang aku pecat lagi cuma karena mereka bersikap seenaknya sama kamu." Reya membuka mulutnya untuk protes namun ditahan oleh Nevan dengan cara mengangkat tangannya tidak mengizinkan Reya untuk berbicara ataupun mengajukan protes. ^•^ "Kamu gak usah masuk kantor, gak papa?" Reya mengangguk sambil mengelus rambut Zio. Pagi ini ia berada di rumah Nevan karena Reya kembali tidur di rumah laki-laki itu sebab Zio melarangnya untuk pulang sampai Zio mencak-mencak menginginkan Reya tetap berada di rumahnya. "Kalo Zio udah bangun kasih obat, obatnya ada di lemari dapur." Reya kembali mengangguk. "Aku pergi," pamit Nevan. "Hati-hati," Nevan mengacungkan jempolnya dan keluar dari kamarnya. Reya menatap Zio yang sedang tertidur dengan gelisah. "Minum obat dulu, ya. Biar reda demamnya." Ucap Reya ketika mata Zio sudah terbuka. Zio sempat diam saja hingga akhirnya anak itu mengangguk. Reya menggendong Zio membawa Zio ke dapur mendudukkan Zio di kursi meja makan. Reya menuangkan sirup pereda panas pada tutup botol sebagai takaran. "Bisa dipegang sendiri?" Tanya Reya karena tutup botol yang sudah berisikan sirup diambil oleh Zio. Zio mengangguk dan langsung meminum sirup tersebut dengan cepat. Reya duduk di depan Zio seraya tersenyum melihat Zio tidak sulit dalam minum obat. "Pahit?" Tanya Reya karena wajah Zio terlihat sedikit masam setelah menelan obatnya. Zio menggeleng mengambil air putih yang ada di botol dan meminumnya. Setelah itu Zio menunduk menopang keningnya dengan kedua tangan yang berada di tepi meja makan dan Reya tertawa kecil melihat tingkah Zio yang menurutnya menggemaskan. "Kemarin Papi kamu yang sakit, sekarang kamu?" Zio mengangguk masih dengan posisi menunduk dengan tangan berada di keningnya. "Kita ke dokter, mau?" Zio menyadarkan tubuh serta kepalanya dengan mata yang terpejam kemudian menggeleng sebagai jawaban. "Tante Yaya bobok sini." Kata Zio dengan suara yang sedikit serak. Reya tertawa karena masih sempat-sempatnya Zio berbicara seperti itu. ^•^ Nevan terbangun dari tidurnya ketika merasakan pergerakan yang begitu gelisah di sebelahnya. Tubuh Nevan yang berbaring terlentang berubah menjadi menyamping seraya mengelus punggung Zio menenangkan Zio yang sedang bergerak tidak nyaman. Nevan beranjak membawa Zio ke gendongannya dan keluar dari kamar melangkah menuju ruang tamu untuk sekedar menenangkan Zio yang merengek. Usapan lembut di kepala serta punggung Zio melambat ketika Nevan mendengar gumaman Zio. "Mami," gumam Zio dengan mata yang tertutup dan masih merengek. Nevan semakin memeluk Zio dengan erat karena ternyata Zio mengucapkan kata itu tidak hanya sekali, melainkan berkali-kali. Nevan menoleh ke arah Reya yang baru saja berdiri di sebelahnya sambil menatap Zio. Nevan sengaja membawa Zio ke lantai bawah agar tidur Reya tidak terganggu tapi ternyata Reya terbangun, entah memang karena mendengar rengekan Zio atau karena terbangun dengan sendirinya. Reya memindahkan Zio ke dalam gendongannya. Sama seperti yang dilakukan Nevan, Reya mengelus-elus punggung dan kepala Zio seraya menggerakkan tubuhnya agar Zio berhenti merengek. "Mami," gumam Zio masih merengek. Reya memegang kepala Zio yang bersandar di bahunya seraya terus menggerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri. "Sssttt," bisik Reya mencium pipi Zio. "Ini Mami." Bisik Reya lagi mengeratkan pelukannya. Seketika, rengekan Zio berhenti dan tubuhnya juga berhenti bergerak dengan gelisah saat mendengar bisikan lembut Reya. Dan bisikan Reya membuat Nevan tersenyum dimana Nevan juga dapat mendengar bisikan lembut tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN