Chapter 13

2288 Kata
Reya menambahkan sedikit liptint pada bibirnya yang sudah terlihat pink serta menambah sedikit blush-on agar pipinya terlihat merah merona. Selesai merias wajahnya dengan polesan make-up yang terlihat natural cocok pada wajah Reya, Reya pun keluar dari kamar untuk menjalankan tugas barunya. Membuat sarapan untuk Nevan dan Zio yang sudah seperti suami dan anaknya saja. Dengan memakai pakaian kerjanya Reya berjalan kesana-kemari di dapur untuk mengambil beberapa bahan makanan yang akan ia olah menjadi sarapan. Dapur Nevan yang terbuka tanpa ada pintu ataupun celah membuat Reya dapat melihat Nevan yang baru saja menuruni tangga sambil menggendong Zio yang terlihat baru bangun, Zio yang sudah bangun sekitar pukul enam kembali tertidur dan bangun di pukul tujuh. "Duduk di sini, ya." Nevan mendudukkan Zio di kursi dekat mini bar. Reya memberikan kopi yang kebetulan sudah Reya buat. Nevan bersandar di mini bar meminum kopinya sambil melirik Reya yang ia akui terlihat menggoda hanya dengan berjalan di dapur dan memasak, mungkin rok ketat yang dipakai Reya lah yang menjadi alasan utama Nevan menganggap Reya terlihat menggoda. "Di minum susunya." Nevan menatap segelas s**u yang Reya berikan pada Zio. "Pelan-pelan, agak panas." Ujar Reya sambil menaruh alas di bawah gelas Zio. Nevan mengetuk-ngetuk mini bar dengan kedua jemari tangannya bingung harus melakukan apa untuk pagi ini. "Hari ini jadwal aku apa aja?" Tanya Nevan akhirnya menemukan topik pembicaraan. "Ada rapat jam sepuluh, ada makan siang juga sama kolega dari Penang, cuma itu." Nevan mengangguk kecil. "Kamu gak usah ke kantor." Reya langsung menoleh sambil memegang spatula, "kenapa?" "Temenin Zio aja, Zio gak mau ikut ke kantor. Lagian kerjaan kamu gak ada, kan?" "Bapak lupa, siapa yang nyuruh nyusun terus buat notula rapat seminggu yang lalu? Ditambah buat laporan keuangan bulan ini, siapa yang nyuruh kalo bukan bapak?" Reya kembali menghadap penggorengan lalu mengambil piring untuk memindahkan nasi goreng yang sudah ia buat. "Suruh aja Dira," balas Nevan dengan enteng. "Mbak Dira di atas aku, mana bisa main suruh-suruh gitu aja." Reya berubah cerewet. "Tante Yaya kok malah-malah?" Reya menghela napas karena baru sadar jika ia baru saja marah-marah kepada Nevan. "Enggak marah, kesel aja, sedikit." Kata Reya memberikan Zio nasi goreng yang sudah ia bentuk dengan lucu sedangkan nasi goreng untuk Nevan terlihat acak-acakan tidak sebagus milik Zio. "Seenggaknya dirapihin," ucap Nevan menatap nasi gorengnya. "Suka-suka dong, kamu aja meluk aku suka-suka kamu, masa aku gak bisa suka-suka." Nevan mengerenyit, "kapan?" Reya yang sedang menuangkan air putih seketika berhenti dan langsung menatap Nevan. "Masa sih aku meluk kamu?" Tanya Nevan terlihat kebingungan. Reya meremas gelas yang ada di tangannya. "Emang Papi ada peluk Tante Yaya?" Tanya Nevan pada Zio yang sudah makan. Zio mengangguk dan menelan makanannya, "ada." Jawab Zio seraya menyendokkan nasi goreng buatan Reya yang terasa sangat lezat bagi Zio. Reya tersenyum puas di dalam hati melihat Nevan langsung bungkam. "Gak sengaja," ucap Nevan sambil menyeruput kopi nya. "Tolong jangan suka seenaknya." Reya menarik kerah kemeja Nevan begitu juga dengan dasi Nevan yang belum dipasang. Reya memakaikan dasi Nevan tanpa memperdulikan tatapan Nevan. "Good..." Reya langsung menoleh dan mendapati seorang perempuan yang pernah ia lihat datang ke kantor Nevan sudah berada di rumah Nevan sekarang. Paula, perempuan yang Reya ketahui namanya dari Dira tengah menatapnya dengan tatapan bingung dan terkejut. "Who are you?" Tanya nya dengan kedua tangan berada di lekukan tubuhnya. Reya menjauhkan tangannya dari kerah dan dasi Nevan. "Apa hal awak kat sini?" Reya menaikkan alisnya karena kurang mengerti pertanyaan perempuan bertubuh seksi itu. "Macam pernah nampak, tapi kat mane." Paula tampak berpikir, tak lama ia menjentikkan jarinya. "Oh, awak setiausaha, betol?" Reya menatap Nevan yang terlihat acuh dengan keberadaan Paula. "Biarlah, awak tak boleh macam-macam." Paula menunjuk Reya. Reya yang sedikit mengerti menganggukkan kepala. "What are you doing, baby?" Paula mencolek dagu Zio. Sikap Zio sama seperti Nevan, cuek. Namun Zio masih mau menatap Paula. "Oh, ape aktivi hari ni, madu?" Reya bergidik jijik pada Paula yang sedang memeluk lengan Nevan. Nevan yang sedang minum kopi berhenti sejenak untuk menatap Paula. "Gue, bukan lebah." Balas Nevan sarkas. Reya menunduk menahan tawa karena senyum Paula yang memperlihatkan gigi nya langsung hilang begitu saja. Paula menatap sinis Reya karena ia sadar jika Reya sedang menahan tawa. "Udah sana pulang, ngapain sih ke sini? Ganggu." Ucap Nevan saat mulut Paula terbuka untuk berbicara. "But, i nak..." "Jangan berharap sama gue, gue udah punya calon istri." Reya menatap Nevan. Reya memperhatikan Nevan yang sedang membawa Paula keluar dari rumah tersebut kemudian Reya duduk di sebelah Zio. "Tante itu siapa?" Tanya Reya pada Zio. Zio mengangkat kedua bahunya, "Io gak suka sama Tante itu." "Kenapa gak suka?" "Io gak suka Tante itu deket sama Papi." Balas Zio sambil menarik gelas s**u nya. "Tapi, aku juga deket sama Papi kamu." Zio menjauhkan gelas dari bibirnya karena tadi ia hendak minum. "Io suka sama Tante Yaya, Io gak malah Tante Yaya deket sama Papi." Jawaban Zio membuat Reya tersenyum. ^•^ Reya benar-benar tidak pergi ke kantor karena Nevan bersikeras meminta Reya untuk di rumah dengan tujuan menjaga Zio. Karena malas berdebat dan mulutnya masih belum begitu lancar berbicara pada Nevan, Reya pun menuruti perkataan Nevan. "Tante Yaya buat apa?" Reya menatap Zio yang ada di dekatnya dimana anak itu sedang memegang aquarium bundar dari bahan kaca yang tidak terlalu besar dan juga air yang diisi hanya setengah sehingga tidak terlalu berat bagi Zio untuk memegang dan membawanya. "Buat kue, kamu suka kue?" Zio menaruh aquarium ikan koki kesayangannya di lantai dan mendekat pada Reya berusaha menatap apa yang ada di mini bar. "Kue apa?" "Cupcake," Zio mengangguk lalu duduk di depan ikan koki nya yang sedang berenang di situ-situ saja karena memang tempat tinggal ikan tersebut tidaklah besar. "Tante Yaya bobok sini lagi, kan?" "Enggak," balas Reya seraya memasukkan bahan-bahan untuk membuat cupcake ke sebuah wadah. "Kenapa? Tante Yaya bobok sini lagi." Reya menggeleng sambil mengocok adonan untuk cupcake nya nanti. "Hari ini aku pulang." Kata Reya menatap bungkus tepung. Reya beralih menatap ke bawah dimana ada Zio yang sedang memeluk kakinya. "Tante Yaya di sini aja sama Io, sama Papi." Reya tersenyum kecil menatap adonan cupcake nya. "Aku punya rumah, rumah aku gak di sini." "Tapi Io mau Tante Yaya di sini." "Kenapa?" Reya menoleh sekilas. "Io sayang Tante Yaya." Reya menyudahi mengocok adonan cupcake nya mendengar ucapan Zio, lagi pula adonan nya sudah pas untuk segera dimasukkan ke kertas cupcake nanti. "Kita bisa ketemu di kantor Papi kamu." Zio menggeleng sudah melepaskan pelukannya pada kaki Reya. "Kapan Tante Yaya jadi Mami, Io?" Reya hanya tersenyum lalu mengangkat tubuh Zio dan mendudukkan Zio di kursi mini bar. "Bantuin aku aja, yuk." Reya mendekatkan toping untuk cupcake pada Zio dimana toping yang terdiri dari irisan coklat, potongan kacang almond, serta meses warna-warni dimakan oleh Zio. Setelah menuangkan adonan ke dalam kertas cupcake Reya pun memasukkan nya ke dalam oven kurang lebih selama 12-15 menit. Selagi menunggu, Reya membereskan mini bar yang cukup berantakan. Setelah selesai Reya mengambil aquarium ikan Zio yang berada di lantai dan menaruhnya di atas mini bar. "Papi kapan pulang, Tante Yaya?" "Bentar lagi," Reya melirik jam dinding yang ada di dapur yang menunjukkan pukul lima sore. "Tante Yaya bobok sini kan?" Reya menggeleng. "Tante Yaya gak boleh pulang!" Zio memukul aquarium nya dengan kedua tangan. "Iya aku gak pulang, asal aku tidurnya bukan di kamar Papi kamu." Zio mengalihkan pandangannya dari ikan nya. "Kenapa?" "Karena aku emang gak bisa tidur bareng Papa kamu." "Papi Io wangi." Reya tertawa. "Bukan soal wangi apa enggak, tapi aku emang gak bisa tidur sama Papi kamu, gak boleh." "Kenapa gak boleh?" Jika Reya mengatakan bahwa dirinya dan Nevan tidak menikah mungkin saja Zio akan menyuruh mereka menikah untuk yang kedua kalinya. "Gak papa, gak boleh aja." Reya beranjak karena mendengar dentingan suara oven pertanda jika cupcake nya sudah matang. ^•^ Zio berlari ke arah Nevan yang baru saja tiba di rumah dipukul tujuh malam, padahal Nevan sempat mengatakan akan pulang sore, nyatanya ia pulang di malam hari. "Udah mamam?" Tanya Nevan sambil mencium Zio. "Udah," Zio membalas ciuman Nevan. "Tante Yaya masih di sini kan?" "Masih, ada di dapul." Zio menunjuk ke arah dapur. Nevan melangkah ke arah dapur sambil menggendong Zio. Ketika sampai di dapur Nevan mendapati Reya sedang menyusun cupcake di sebuah piring. "Tante Yaya, Papi pulang." Ucap Zio membuat Reya mengalihkan tatapannya. Reya hanya menatap Nevan sekilas dan kembali menyusun cupcake buatannya. Nevan menurunkan Zio membiarkan Zio bermain sendiri, sedangkan Nevan duduk di depan Reya memperlihatkan gadis itu. "Udah makan?" Tanya Reya tanpa menatap Nevan. "Udah," Nevan menatap cupcake buatan Reya dengan punggung tangan berada di pipinya. Nevan heran mengapa Reya tidak menawarinya malah menawari cupcake tersebut pada Zio, padahal Nevan juga ingin. "Emm... Enak." Kata Zio setelah memakan cupcake Reya. "Papi mau?" Zio menyodorkan cupcake nya. Nevan membuka mulut untuk memakan cupcake yang ada di tangan Zio, tinggal beberapa senti lagi Nevan dapat memakan cupcake tersebut, Zio malah menarik tangannya. "Ambil," Zio menunjuk susunan cupcake yang ada di piring. Nevan menghela napas kecil, ia pikir Zio akan membantunya dalam mencoba cupcake tersebut, nyatanya tidak sama sekali. ^•^ Nevan meminum teh yang ia buat sendiri sambil duduk di kursi mini bar menatap ke arah luar melalui dinding kaca rumahnya dimana langit sedang ditemani oleh bulan dan sekumpulan bintang-bintang. Sedangkan Nevan, hanya sendiri, tidak ada yang menemani. Nevan menoleh ketika mendengar suara langkah kaki. Reya memperlambat langkahnya karena ternyata ada Nevan di dapur yang sedang minum teh. Jika Nevan tidak menyadari kehadirannya, Reya akan langsung berbalik pergi ke kamarnya. Namun karena sudah ketahuan, Reya pun terus melangkah mengambil air putih yang ada di mini bar. "Belum tidur?" Tanya Nevan. Reya menggeleng lalu minum. Selesai minum Reya masih berdiri di tempat karena ia bimbang apakah harus pergi atau tetap di situ menemani Nevan. "Kenapa belum tidur?" Reya yang bertanya. "Baru aja selesai kerja." Balas Nevan sambil meminum teh nya. Reya menatap jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam. "Besok Mama sama Papa aku mau ke sini." Reya yang sedang memperhatikan gelasnya langsung menatap Nevan. "Kamu gak perlu pulang, di sini aja gak papa." Reya mengangguk kecil sambil menunduk. "Makasih udah mau nerima Zio." Reya kembali mengangguk, hanya mengangguk tanpa diselingi senyuman. "Artinya kamu setuju sama permintaan Zio?" Tanya Nevan. "Gak ada bilang setuju." "Kamu juga belum jawab pertanyaan aku." "Yang mana?" Reya menatap Nevan sekilas. "Memangnya pertanyaan aku ada berapa banyak sampe kamu gak tau?" Nevan tertawa kecil. Reya tidak menjawab melainkan kembali minum walaupun ia tidak haus. "Apa aku masih pantes buat kamu, itu pertanyaan aku." Nevan yang semula menatap Reya beralih menatap ke arah lain karena Reya hanya diam saja. "Rasa sakit hati kamu masih ada makanya kamu gak bisa jawab?" Tanya Nevan tanpa menatap Reya. "Yang kamu bilang itu bener?" Gantian Reya bertanya tanpa menjawab pertanyaan Nevan tadi. "Aku sayang kamu?" Tanya Nevan malah membuat jantung Reya berdebar. Reya mengangguk tanpa berani menatap Nevan. "Menurut kamu aku bohong?" Dengan jujur Reya mengangguk. Nevan menghabiskan teh nya tanpa bersisa memutar tubuhnya menghadap Reya. "Kenapa kamu bisa mikir aku bohong?" Nada suara Nevan terdengar serius dan malah membuat Reya tidak enak hati atas kejujurannya barusan. "Sikap kamu berubah, sikap kamu nunjukin kalo kamu udah gak ada perasaan apapun ke aku, termasuk perasaan sayang kamu." "Jadi kamu mau aku buktiin ke kamu kalo aku ini beneran sayang sama kamu?" Reya malah terdiam. "Tanpa kamu sadari aku selalu nunjukin rasa sayang aku ke kamu. Mulai dari kasih kamu tempat tinggal yang punya fasilitas lengkap biar kamu nyaman, nyuruh kamu untuk gak masuk ke kantor biar kamu bisa istirahat, nitipin Zio ke kamu biar kamu ada temennya walaupun kamu gak suka sama Zio waktu itu, mau kamu dateng telat ke kantor aku gak marah, kerjaan kamu jarang selesai aku maklumi karena aku gak mau liat kamu kecapekan. Itu semua aku lakuin karena aku sayang sama kamu." Reya mengigit bibir bawahnya dengan tatapan lurus ke arah gelas yang ada di tangannya. "Aku rasa udah gak ada lagi halangan buat kita balik sama-sama. Sekarang yang pengen aku tau, aku masih pantes buat kamu?" Reya menghela napas sebelum ia menoleh pada Nevan. "Gak pantes, gak pantes kalo kamu nyakitin aku lagi." Nevan tertawa sambil menunduk sejenak. "Kalo aku gak nyakitin kamu lagi berarti aku masih pantes buat kamu?" Reya mengalihkan tatapannya, "maybe." "Kok malah kayak gitu jawabnya?" "Intinya kamu bener-bener gak pantes untuk aku kalo kamu nyakitin aku lagi." "Aku gak bisa janji." Reya yang semula pasrah ketika Nevan menariknya langsung menjauhkan tangan Nevan dari tangannya. "Karena kalo aku janji tapi aku gak bisa tepati janji itu rasa sakit nya nambah berkali-kali lipat. Tapi... Aku bakal berusaha untuk gak nyakitin kamu, tegur aku kalo kamu ngerasa mulai sakit hati sama sikap atau kata-kata aku, jangan tegur aku waktu kamu udah sakit hati, rasanya itu percuma karena aku gak siap kalo harus kehilangan kamu lagi. Aku bakal berusaha." Nevan tersenyum tulus kembali menarik Reya dengan lembut mendekat padanya. Reya menahan tubuhnya agar tidak menempel pada tubuh Nevan dengan kedua tangannya berada di d**a Nevan. Tinggi tubuh mereka hampir sama karena Nevan duduk sedangkan Reya berdiri membuat keduanya leluasa memperhatikan wajah pasangan mereka. Reya menelan ludah ketika melihat Nevan mendekatkan wajah, bahkan kedua mata Nevan sudah terpejam. Semakin dekat hingga membuat tubuh Reya lemas mendadak karena pikirannya sudah menjalar kemana-mana. Ikut terbawa suasana yang bisa dikatakan cukup intim Reya memejamkan matanya, Reya memejamkan matanya erat-erat saat merasakan hembusan napas Nevan yang menerpa hidung serta bibirnya. "Makasih udah mau ngasih kesempatan." Mata Reya terbuka lebar, Reya menatap tangan Nevan yang tengah merengkuh tubuhnya. Diam-diam Reya bernapas lega karena ternyata Nevan memeluknya, bukan menciumnya seperti apa yang Reya pikirkan. Tanpa menunggu lama, Reya langsung membalas pelukan Nevan karena sejujurnya ia sudah sangat merindukan pelukan hangat Nevan. Balasan pelukan Reya membuat Nevan semakin mengeratkan pelukannya karena ia juga sangat merindukan Reya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN