Chapter 12

2042 Kata
Reya membuka mulutnya namun tak lama kembali ia tutup rapat. Nevan menunggu jawaban Reya dan Zio terlihat begitu pengertian dengan suasana mereka dimana Zio diam sambil memeluk Reya. "Jujur aja, kalo emang aku gak pantes buat kamu, kalo emang rasa sakit hati kamu masih ada, bilang kamu gak bisa jadi Mami Zio." Reya menatap Zio yang terus memeluknya. "Tapi yang paling utama, kamu sayang sama Zio, kayaknya percuma kalo kamu belum bisa nerima Zio walaupun aku udah ceritain semuanya ke kamu." "Rasanya juga percuma kalo kamu nanya masih pantes atau enggak cuma karena kasihan sama Zio." Balas Reya membuat Nevan bungkam. "Untuk apa aku ninggalin Talitha setelah aku nikahin dia bahkan aku gak pernah ada di deket dia selama 24 jam kalo bukan karena aku masih sayang sama kamu. Kamu mau nanya kalo masih sayang kenapa aku gak temuin kamu? Karena aku udah cukup malu, rasanya aku udah gak ada harga diri lagi di depan kamu, aku malu nunjukin muka aku di depan kamu karena aku udah terlalu sering nyakitin kamu. Kamu mau nanya lagi apa aku masih sayang sama kamu sampe sekarang? Jawabannya, masih." Reya mulai terisak dan itu berhasil membuat Zio langsung menatap Reya. "Tante Yaya," Zio duduk di paha Reya sambil memegang kedua pipi Reya yang basah. Zio menatap Nevan yang sudah berdiri lalu keluar dari ruang mainnya. Zio kembali menatap Reya saat tubuhnya direngkuh oleh kedua tangan Reya. >• Reya tersenyum ketika tangan mungil Zio memberikan beberapa lembar tisu kepadanya. "Don't cly," ucap Zio lirih membuat Reya kembali mengulum senyum. "Papi bikin Tante Yaya nangis lagi." Mata Zio sudah berkaca-kaca. "Enggak," balas Reya sambil menyeka air matanya dengan tisu. "Tapi tadi Tante Yaya nangis." "Aku cengeng." Balas Reya lagi melipat tisu nya. Reya diam memperhatikan Zio lalu membuka suara. "Kenapa kamu mau aku jadi Mami kamu?" Tanya Reya penasaran. "Io mau punya Mami." Jawab Zio sambil mengelus-elus bulu karpet. "Karena itu? Karena kamu pengen punya Mami?" Zio mengangguk. Dan jawaban Zio meleset jauh dari perkiraan nya. "Aku kan udah jahat sama kamu." Zio menggeleng, "Tante Yaya gak jahat, Tante Yaya gak mau senyum jadi Io takut... Sedikit." Zio menyatukan ujung telunjuk dan jempolnya dan berhasil membuat Reya tertawa kecil. "Sedikit?" Beo Reya. Zio mengangguk sambil tersenyum. "Tante Yaya mau jadi Mami Io?" Reya menunduk menatap tisu yang sudah ia lipat menjadi persegi. "Papi kamu kayaknya gak mau." Jika Zio anak yang dapat mengerti maksud ucapan Reya, pasti Zio sudah sudah kesenangan karena ucapan Reya mempunyai maksud yang begitu berharga untuknya. "Papi mau." "Kayaknya enggak." "Mau," "Enggak," "Mau!" Seru Zio. "Enggak." Reya dan Zio saling berbalas hingga menyebabkan Zio menangis. "Lho kok nangis? Kan aku cuma bilang enggak." Kata Reya tidak menenangkan Zio yang sedang menangis, bahkan ia tidak takut jika Nevan datang bersama mereka. "Tante Yaya Mami Io!" Zio berdiri menghentak-hentakkan kakinya sambil menangis dan itu termasuk hiburan buat Reya karena Zio terlihat lucu. "Aku bukan Mami kamu, gak mau jadi Mami kamu." Kata Reya bermaksud menjahili Zio yang semakin terlihat menggemaskan. "Mami Io," Zio berhenti menghentakkan kakinya dengan tangis yang sedikit mereda. Reya menahan senyumnya melihat bibir bawah Zio melengkung kebawah dan kedua tangannya terkepal. Reya menarik lembut Zio hingga jatuh ke pelukan nya. "Kamu mau maafin aku yang udah jahat sama kamu?" Tanya Reya sambil mengelus punggung Zio. Zio yang berdiri memeluk leher Reya menyandarkan kepalanya di bahu Reya. "Tante Yaya gak jahat." Reya tersenyum, "tapi kamu mau maafin aku?" Zio langsung mengangguk, "mau." "Makasih," ucap Reya dengan tulus dan seketika hatinya langsung terasa tenang. Perlu diketahui, Reya meminta maaf bukan karena Nevan, karena keinginan nya sendiri. Reya menyadari perbuatannya pada Zio ketika Zio menangis di depannya saat Zio mengucapkan bahwa Reya tidak menyukai Zio. Dari situ rasa bersalah Reya terhadap Zio langsung timbul hingga ia memutuskan untuk bersikap sedikit lebih baik pada Zio, dan ternyata sikap kepura-puraan baiknya membawa dampak bagi Reya untuk memandang Zio sebagai anak kecil yang menggemaskan dan harus diberi kasih sayang dan perhatian. Tanpa Reya dan Zio sadari, Nevan ternyata mendengar pembicaraan Reya dan Zio. Nevan yang hendak melihat Zio yang tengah menangis mengurungkan niatnya karena ia sempat melihat bibir Reya menyunggingkan senyum sambil sesekali bicara pada Zio yang sedang menangis hingga Nevan memutuskan untuk berdiri di depan pintu yang tertutup menguping pembicaraan Reya dan Zio yang terdengar cukup jelas di telinganya. ^_^ Reya menaruh beberapa macam menu makanan di meja, setelah menaruh makanan Reya beralih mendorong kursi Zio mendekat pada tepi meja makan karena ia melihat Zio kesusahan mengambil piring dan juga makanan. "Nanti, aku aja yang ngambilin." Ucap Reya ketika Zio hendak mengambil nasi. Zio menjauhkan tangannya dari sendok nasi menopang pipinya dengan kedua tangannya. "Papi kamu gak mau makan?" Reya menatap ke arah tangga. "Io gak tau." "Diliat dulu ya makanan nya, aku mau manggil Papi kamu." Zio mengangguk dan Reya langsung menuju ke lantai atas. Reya menatap pintu kamar Nevan. Tanpa mengetuk pintu Reya langsung masuk dan mendapati Nevan sedang berdiri di balkon kamar dengan tangan kiri yang dimasukkan ke kantong celana. Langkah Reya langsung terhenti ketika melihat tangan kanan Nevan sedang memegang sebatang rokok yang tengah menyala. "Gak mau makan?" Nevan langsung berbalik mendapati Reya berdiri di dalam kamarnya. Reya menatap rokok Nevan dengan sekilas. Nevan sadar jika Reya sempat menatap rokok yang ia pegang, dengan santai Nevan mematikan rokoknya dan membuangnya ke tong sampah yang ada di balkon kamarnya. Nevan mengangguk pertanda bahwa ia mau makan, Reya pun berjalan terlebih dahulu diikuti oleh Nevan di belakangnya. "Mau pake ini?" Reya menunjuk cumi-cumi goreng pada Zio. Zio menegakkan tubuhnya untuk melihat lebih jelas. "Ini apa?" Tanya Zio. "Cumi goreng." Jawab Reya sembari mengambil biji semangka yang ada di tangan Zio. Zio mengangguk dengan tatapan tidak lepas dari cumi goreng buatan Reya. Setelah mengambilkan makanan Zio, Reya berganti mengambil makanan untuk Nevan yang malah hanya diam saja jika biasanya laki-laki itu selalu mengambil sendiri makanannya. "Kamu mau pake apa?" Tanya Reya. "Terserah," Nevan menatap Reya lalu menatap makanan yang dimasak oleh Reya. Tidak tahu apa yang Nevan mau, Reya mengambil semua menu yang ada berkumpul menjadi satu di piring Nevan sehingga piring makan Nevan penuh dengan berbagai macam menu. Nevan ingin protes namun ia tahan karena tidak ingin menyinggung Reya, Nevan tidak ingin Reya berpikir bahwa ia tidak suka dengan makanan yang dimasak oleh Reya, padahal Nevan merasa jika makanan yang Reya ambil terlalu banyak. "Ini, kebanyakan." Ucap Nevan. "Biar gak bau rokok mulutnya." Balas Reya menuangkan air putih dan mendekatkan gelas teh pada Nevan. Mendengar balasan Reya Nevan pun langsung diam menatap Zio yang duduk di depannya dimana anak itu sudah makan dengan lahap. Mereka bertiga pun makan bersama, jika biasanya hanya suara Zio saja yang terdengar ataupun suara Nevan, kali ini suara Reya juga ikut terdengar membuat fokus Nevan tidak lagi tertuju pada makanannya melainkan Reya yang menurutnya sudah sedikit berubah menjadi lebih lembut dan banyak bicara pada Zio. ^•^ "Aku gak tidur di sini, kamar aku..." "Ayo!" Zio menarik tangan Reya untuk masuk ke dalam kamar Nevan karena mereka tengah berdiri di ambang pintu kamar Nevan. Reya menggeleng menjauhkan tangan Zio, Reya berbalik pergi namun tubuhnya menabrak tubuh bagian depan Nevan sehingga membuatnya hampir terjatuh namun segera ditahan oleh Nevan. "Tante Yaya," Reya yang sedang adu tatap dengan Nevan langsung menoleh pada Zio yang berdiri di dekat mereka. Nevan menjauhkan tangannya dari punggung Reya. "Papi, Tante Yaya bobok di sini, ya?" Zio menunjuk kamar Nevan yang juga kamarnya. Nevan menatap Reya dimana wajah Reya terlihat memerah entah apa penyebabnya Nevan tidak mengerti. "Kamar Tante Yaya di sana." Nevan menunjuk pintu kamar tamu yang tak jauh dari kamarnya. "Io mau bobok sama Tante Yaya." "Kalo mau bobok sama Tante Yaya Zio ikut Tante Yaya bobok di sana." "Tapi sama Papi juga." Ucap Zio membuat Nevan mulai pusing dengan permintaan Zio karena tidak mungkin ia dan Reya tidur di satu ranjang, cukup sekali saja mereka tidur bersama dan itupun karena Nevan sedang sakit. "Terserah Tante Yaya aja." Nevan masuk ke kamarnya meninggalkan Zio yang sedang senang serta Reya yang kesal dengan ucapan Nevan karena itu sama saja artinya ia boleh tidur sekamar dengan Nevan atas paksaan dari Zio. "Tante Yaya, ayo bobok." Zio menarik tangan Reya dengan sekuat tenaga. Reya menggeleng menahan dirinya sendiri untuk tidak ikut masuk ke kamar Nevan dimana Nevan sudah berbaring sambil memeluk guling. ^•^ "Tante Yaya peluk Io." Zio menepuk-nepuk bagian depan tubuhnya dengan kedua tangan. Reya melirik Nevan yang tengah bermain ponsel, Reya masih berdiri di dekat tempat tidur sambil meremas baju nya. Jujur saja Reya sangat keberatan tidur di kamar tersebut walaupun ada Zio yang menjadi penghalang antara dirinya dan Nevan, Reya merasa ini sedikit tidak wajar, apalagi ia hanya memakai celana pendek yang memperlihatkan pahanya. Reya tidur selalu memakai celana pendek, dan tadi ketika ia sudah berada di kamarnya dimana Reya baru saja mengganti celana panjangnya menjadi celana pendek tiba-tiba saja Zio mengetuk pintu dan langsung membawanya keluar dari kamarnya. Dan di sinilah Reya sekarang, di kamar seorang laki-laki yang sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengannya. "Tante Yaya jangan bedili." Reya tersadar dari lamunannya. Sekali lagi Reya melirik Nevan yang masih asyik bermain ponsel. Dengan gerakan perlahan Reya naik ke atas tempat tidur membuat celana pendeknya sedikit naik karena Reya sudah duduk, paha nya terekspos semakin jelas sekarang dan Reya langsung meringis di dalam hati. Inilah pertama kalinya Reya memperlihatkan pahanya di depan Nevan, memperlihatkannya dengan perasaan sangat tidak ikhlas. Reya menatap selimut yang dipakai oleh Nevan lalu beralih menatap sisa selimut yang cukup untuk dirinya dan Zio. Untuk menarik selimut itu saja Reya segan, padahal ia sudah sangat tidak nyaman karena pahanya terekspos. "Ganti aja kalo emang gak nyaman." Reya menoleh pada Nevan yang masih setia dengan ponsel. Bagaimana Reya mengganti celananya jika Zio sudah menempel pada dirinya, apalagi mata Zio sudah tertutup. Reya khawatir jika dirinya bergerak Zio akan bangun. Nevan menoleh pada Reya yang masih duduk dalam diam. "Kalo gak nyaman, kamu bisa pindah. Zio udah tidur kan?" "Lho belum," lanjut Nevan karena kepala Zio bergerak ke arahnya dengan mata yang sedikit sayu. "Tante Yaya jangan pelgi." Zio memeluk perut Reya. "Tante Yaya ayo bobok." Zio mendongakkan kepala. Reya pun mengangguk melepaskan ikatan rambutnya dan berbaring. Zio memeluk leher Reya membenamkan wajahnya di ceruk leher Reya. Reya menggesekkan kedua kakinya ketika Nevan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Zio. Reya memejamkan matanya sambil memeluk tubuh mungil Zio. Antara sadar dan tidak sadar karena kantuk sudah menyerang Reya, Reya merasa sisi tempat tidur bergerak. Ia tidak tahu apakah Nevan juga tertidur atau malah beranjak. ^•^ Reya terbangun dari tidurnya mengumpulkan semua nyawanya yang masih berada di alam bawah sadar. Setelah terkumpul Reya membuka mata. Reya membuka mata dan merasa jika dibagian pinggangnya seperti ada yang menimpanya karena rasanya cukup berat, mata Reya langsung terbelalak karena ternyata dirinya tidur di dalam pelukan Nevan. Reya langsung mencari-cari Zio yang ternyata duduk di sebelah Nevan yang tengah tidur menyamping sambil memainkan ponsel Nevan. Jangan ditanya lagi bagaimana kondisi jantung Reya sekarang, rasanya jantung Reya berdetak sangat kencang hingga mau copot rasanya. "Zio," panggil Reya dengan pelan. Zio langsung menatap Reya, "Tante Yaya panggil Io?" Tanya Reya karena baru kali inilah namanya di panggil oleh Reya. Gerak tubuh Reya terbatas karena pelukan Nevan. "Bangunin Papi kamu." "Papi udah bangun." Balas Zio kembali bermain ponsel Nevan tanpa menyadari mata Reya terbelalak semakin lebar. Reya tertawa kecil, "udah bangun dari mana, bohong kamu ya?" Zio menggeleng. "Papi udah bangun, tadi Io pipis Papi temenin Io." Tangan Reya yang berada di d**a Nevan mendorong pelan tubuh Nevan karena ia merasa mulai sesak. Ternyata tidak sulit keluar dari pelukan Nevan, pikir Reya. Setelah bebas dari Nevan Reya mengambil ikat rambutnya dan mengikatnya. Dan ternyata benar yang diucapkan oleh Zio bahwa Nevan sudah bangun, buktinya setelah Reya bebas dari pelukan Nevan, Nevan langsung merubah posisi menyamping nya menjadi telungkup menghadap Zio dan tangan kekar Nevan berganti memeluk tubuh Zio yang sedang duduk. Reya menyumpah serapah Nevan dengan rasa kesal yang amat luar biasa, bisa-bisanya laki-laki itu memeluknya seenak jidat! Reya keluar dari kamar Nevan dengan wajah yang cemberut. Wajah Reya memang terlihat masam, namun hati Reya tidak bisa berbohong bahwa dirinya seperti tengah merasakan jatuh cinta, kembali. Dan perbuatan Nevan barusan menyadarkan Reya bahwa apa yang Nevan ucapkan padanya benar, Nevan masih menyayanginya. Reya tersenyum sambil membuka pintu kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN