Chapter 11

1998 Kata
Reya duduk di tempat tidur sambil mengikat asal rambutnya, setelah selesai mengikat rambutnya Reya menoleh ke arah Zio yang masih terlelap. Reya menarik selimut sampai ke bahu Zio kemudian beranjak dan pergi ke kamar mandi. Selesai mandi, Reya langsung keluar dengan sudah memakai pakaian, Reya berhenti di depan pintu kamar mandinya ketika melihat Zio sudah terbangun terlihat dari kaki Zio yang sedang bergerak tanpa tertutupi selimut. Reya menghela napas sebelum kembali melangkah dan berdiri di depan Zio. Zio menatap Reya dengan mata yang sedikit sayu tanpa mengeluarkan suara ataupun menyapa Reya seperti biasa. Reya duduk di tepi tempat tidurnya menatap Zio yang sedang menatap ke arah jendela yang tidak tertutupi gorden. "Mandi yuk." Zio tidak menjawab melainkan menarik selimut sampai menutupi seluruh wajahnya. "Mandi dulu, abis itu sarapan terus main." Zio kembali tidak menjawab. "Kamu lagi ngambek sama aku?" "Iya!" Reya tampak terkejut, Zio yang ia ketahui memiliki sifat ramah dan banyak bicara bisa terlihat kesal juga. Reya tersenyum kecil sambil menarik selimut yang menutupi wajah Zio. "Bentar lagi Papi kamu pasti nelfon, gak mau mandi dulu?" Zio merubah posisi menyamping nya menjadi terlungkup membuang wajahnya. "Ntar kita jalan-jalan, mau?" Zio mengangkat kepalanya secara perlahan untuk menatap Reya. "Tante Yaya gak malah sama Io?" Reya menggeleng, "aku gak marah. Ayo mandi." Reya menggendong Zio membawa anak itu ke kamar mandi dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan lagi. ^•^ Reya duduk di sebelah Zio yang sedang memegang krayon mencoret-coret tidak jelas gambar yang ada di selembar kertas putih. Zio menaruh krayon berwarna hijau dan mengambil krayon berwarna merah. Reya tidak melakukan apa-apa selain memperhatikan Zio ataupun memperhatikan sekitarnya. "Tante Yaya," Zio menepuk-nepuk tangan Reya. Reya menoleh menaikkan alisnya. "Ini Papi, Io, Tante Yaya." Zio menunjuk satu persatu gambar tiga orang menggandeng anak kecil yang berada di tengah yang sudah diberi warna oleh Zio. Reya memperhatikan gambar tersebut kemudian ia tersenyum kecil. "Ayo di scan gambarnya." Zio langsung berdiri sambil memegang kertas gambar nya dengan kedua tangan. Setelah men-scan gambar yang yang diwarnai oleh Zio, Reya dan Zio berdiri di depan dinding 3D yang memperlihatkan seluruh gambar yang sudah di scan, termasuk gambar Zio nanti. "Itu punya Io!" Seru Zio ketika sudah melihat gambar nya muncul di projektor tembok. Reya berdiri di belakang Zio sambil memegang kertas gambar Zio, Reya melipat lalu memasukkan kertas gambar tersebut ke dalam tas nya kemudian berdiri di sebelah Zio sambil ikut memperhatikan gambar Zio. Setelah merasa puas dan hari sudah siang, Reya membawa Zio keluar dari Art Science Museum untuk segera makan siang. Sesampainya di tempat makan Reya terlebih dahulu menyuapi Zio karena Zio tidak ingin makan jika tidak disuapi oleh Reya. Selesai Zio makan barulah Reya memakan makanannya sedangkan Zio tengah memperhatikan kertas gambar milik Zio tadi. "Papi kapan pulang, Tante Yaya?" "Besok," balas Reya tanpa menatap Zio. "Io mau kasih ini sama Papi," Reya mengangguk saat Zio menunjuk kertas gambarnya. "Tante Yaya, Io mau sekolah." Lapor Zio karena ia ingat bahwa Nevan pernah mengatakan jika anak itu akan masuk sekolah dalam waktu dekat. Reya mengelap mulut dan tangannya dengan tisu karena sudah selesai makan. "Umur kamu berapa?" "Eng..." Zio yang semula menatap Reya beralih menatap kertas gambarnya karena sejujurnya ia lupa berapa umurnya sekarang. "3 tahun?" Tanya Reya membantu Zio. Zio menoleh pada Reya, "mungkin." Reya tersenyum tipis mengalihkan pandangannya mendengar jawaban Zio yang terdengar seperti orang dewasa saja. ^•^ "Tante Yaya," Reya yang sedang mencuci piring menoleh kebelakang dimana ada Zio yang berjalan dengan langkah kecil, rambut acak-acakan sambil mengucek mata karena anak itu baru saja bangun tidur sore. "Io mau pulang." Ucap Zio dengan memelas. "Ngapain? Papi kamu belum pulang." Zio duduk di lantai dekat dengan Reya yang sedang mencuci piring. "Besok Papi kamu pulang, di sini aja." Reya kembali lanjut mencuci piring. "Tapi Io mau pulang." Ucap Zio sambil menatap lemari dapur Reya dan memegang kelingking kaki nya yang mungil. "Di rumah kamu sama siapa? Mau sendirian?" Zio mendongak menatap Reya, "sama Tante Yaya." "Mau ngapain sih pulang?" Nada ketus Reya kembali setelah sebelumnya ia berusaha bersikap baik pada Zio. Zio bangkit berdiri keluar dari dapur tanpa mengucapkan apapun pada Reya. Reya meletakkan piring kotor yang belum sempat ia cuci lalu mendongak menenangkan dirinya yang entah mengapa tiba-tiba saja kesal. Reya mencuci tangannya yang dipenuhi busa dan mengelapnya untuk menyusul Zio. Reya masuk ke kamar dimana ada Zio yang sedang terlungkup, Reya pikir Zio sedang menangis ternyata tidak, anak itu hanya berbaring sambil menatap ke arah jendela kamar Reya yang memperlihatkan keadaan luar. Reya duduk di tepi tempat tidur, "kamu mau pulang?" Nada suara Reya melemah. Zio mengangguk. Reya mengambil ponselnya yang kebetulan terletak di nakas mengotak-atik nya sebentar lalu memberikannya pada Zio. "Papi kamu, bilang kalo kamu mau pulang." Reya menyodorkan ponselnya. Zio beralih duduk mengambil ponsel Reya memegangnya dengan kedua tangan. "Kenapa gak Tante Yaya?" Gantian Zio yang menyodorkan ponsel tersebut. Reya menggeleng karena ternyata panggilan telepon nya sudah terhubung dan Reya langsung mendekatkan ponselnya ke kuping Zio. "Papi," sapa Zio. "Oh Zio, Papi pikir Tante Yaya." Reya dapat mendengar suara Nevan karena disekitar mereka sunyi hanya suara jarum jam saja yang terdengar. "Io mau pulang." "Ngapain pulang, besok Papi udah pulang kok. Lagian kalo di rumah sama siapa?" Zio menatap Reya karena ponsel yang di pegang beralih ke tangan Reya. Bukan Reya yang ingin berbicara pada Nevan melainkan ia hanya ingin menghidupkan loudspeaker ponselnya agar ia dapat mendengar dengan jelas suara Nevan. Zio yang duduk berubah menjadi terlungkup dengan ponsel Reya berada di tempat tidur. "Sama Tante Yaya." Zio menatap Reya. "Emang Tante Yaya mau?" "Tante Yaya mau, kan?" Tanya Zio pada Reya. Reya sedikit mendelik menaruh telunjuknya di bibirnya sendiri. "Oh, ada Tante Yaya juga." "Ada. Io mau liat Papi." Zio memberikan ponsel Reya kepada sang empunya. "Io mau liat Papi." Setelah Zio berkata seperti itu panggilan telepon terputus dan langsung berganti dengan panggilan video call. Dan sekarang Zio sudah kembali berbicara dengan Nevan secara tatap muka. Sedangkan Reya hanya diam mendengarkan obrolan kedua orang itu. "Zio udah mamam?" "Udah, sama Tante Yaya. Tadi Io jalan-jalan sama Tante Yaya." Lapor Zio dengan semangat membuat Nevan tersenyum. "Jalan-jalan kemana? Seru jalan-jalannya?" Zio langsung mengangguk dan menatap Reya. "Gambal Io mana Tante Yaya?" Reya beranjak dari tempat tidur mengambil tas nya dan tergantung di dekat lemari. Zio mengambil kertas gambarnya dan menunjukkan hasil gambarnya pada Nevan. Sama seperti Reya, Zio juga menjelaskan arti dari gambar itu bahwa tiga orang yang ada di gambar tersebut adalah mereka. Reya ingin sekali melihat reaksi Nevan namun tidak bisa karena layar ponselnya terarah pada kertas gambar Zio, Reya penasaran bagaimana reaksi laki-laki itu terhadap gambar Zio. "Bagus." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Nevan. "Tante Yaya Mami Io." Ucap Zio ditujukan untuk Nevan namun ia menatap Reya. Reya memberikan senyum kecilnya. "Iya kan Papi, Tante Yaya Mami Io?" Tanya Zio pada Nevan. "Bukan, Tante Yaya bukan Mami Zio." Senyum Reya berubah kecut. "Mami Io!" Seru Zio kesal dengan ucapan Nevan. Anak itu sudah berubah cemberut sekarang. "Mami Zio kan di surga." "Tapi sekalang Mami Io Tante Yaya." Kata Zio dengan suara rendah. "Zio sama Tante Yaya aja, ya. Jangan pulang, besok Papi udah pulang, Papi jemput Zio di rumah Tante Yaya. Dadaaa..." Zio melambaikan tangannya sambil tersenyum. Ketika panggilan video call sudah berakhir Zio memberikan ponsel Reya. "Io gak jadi pulang." Kata Zio sambil tersenyum. Reya tidak membalas ucapan Zio dan langsung pergi keluar dari kamar. Zio yang sudah terbiasa dengan sikap cuek Reya pun terlihat acuh dan mengambil mainannya. ^~^ Reya berdecak kecil mendengar mulut Zio yang terus mengoceh tiada henti, ditambah lagi ocehan Zio mengenai hal yang sama. Memintanya untuk ikut pulang bersamanya. "Tante Yaya ke lumah Io, ya?" Entah sudah berapa kali Zio mengucapkan kalimat itu. Reya berjalan ke arah pintu apartemennya karena mendengar suara bel apartemennya bunyi. "Yeeeeyy! Papi home!" Pekik Zio langsung berlari ke arah Nevan dan dengan senang hati Nevan membawa Zio ke pelukannya. Reya pergi ke kamarnya untuk mengambil tas Zio dimana semua keperluan Zio sudah ia kemas dalam tas imut milik Zio. "Tante Yaya ikut pulang ya Papi?" Nevan menatap Reya yang sudah kembali sambil memegang tas Zio, tidak ada ekspresi apapun di wajah cantik itu selain ada ekspresi datar. "Rumah Tante Yaya kan di sini." Zio malah merengek, "tapi Io mau Tante Yaya!" Nevan memegang punggung Zio karena tubuhnya sengaja dilengkungkan kebelakang sambil merengek. "Kamu bisa ikut aku sama Zio?" Rengekan Zio langsung berhenti mendengar ucapan Nevan dan ia langsung menatap Reya. Reya memperhatikan Zio dimana ekspresi anak itu berubah sangat memelas. Reya mengangguk kecil membuat keduanya tersenyum. Reya menganggap senyum Nevan adlah senyum kesenangan dimana dirinya setuju untuk ikut bersama Nevan dan Zio, namun yang sebenarnya adalah Nevan tersenyum karena Zio tidak lagi merengek. Ketika sudah berada di rumah Nevan, Zio menarik telunjuk Reya membawa Reya ke ruang mainnya. Bukan hanya mainan, di ruang main Zio juga terdapat mandi bola walaupun ukurannya tidak terlalu besar. Lantai ruang main Zio di lapisi oleh karpet yang cukup tebal dan lembut. Reya duduk di dekat mobil-mobilan Zio memperhatikan Zio yang sedang mengambil sebuah benda berbentuk persegi. Zio duduk di depan Reya dan meletakkan papan puzzle nya di tengah-tengah antara dirinya dan Reya. Zio membongkar puzzle yang sudah di susun memperlihatkan gambar sebuah danau, pohon, dan beberapa ekor burung. "Tante Yaya bantu Io, ya?" Tanya Zio sedikit menganggukkan kepalanya. Reya mengangguk diselingi senyum tipis. "Yang ini dulu," Reya mengambil satu bagian puzzle dan meletakkannya di papan yang sudah disediakan. Keduanya mulai asyik menyusun puzzle hingga tidak sadar akan kedatangan Nevan yang sudah mengganti pakaian kerjanya dengan kaus berwarna merah serta celana training berwarna abu-abu lalu duduk di belakang Zio. Reya yang pertama kali menyadari kehadiran Nevan hanya meliriknya yang sedang duduk di beanbag sofa tanpa rangka yang dapat diduduki secara fleksibel mengikuti lekuk tubuh penggunanya. "Tante Yaya ini dimana?" Zio menunjuk bagian puzzle yang lain. "Di sini," Reya menunjuk bagian puzzle yang kosong. "Yeeey! Selesai." Zio bertepuk tangan. Saat Zio hendak berbalik ia kaget melihat Nevan duduk di belakangnya. Reya memperhatikan Zio dan Nevan yang sedang berpelukan sambil Nevan mencium Zio. Setelah itu Zio mengambil sebuah buku dan memberikannya pada Nevan. "Tante Yaya sini," Zio menepuk sisi karpet yang kosong yang ada di dekatnya. Sempat ragu, akhirnya Reya mendekati Zio dan Nevan. "Papi, Io mau sekolah kan?" Tanya Zio. "Iya, mau sekolah kan Zio?" Tanya Nevan balik sambil membuka buku edukasi milik Zio. "Mau, tapi siapa yang ngulus Io?" "Papi dong," Nevan meletakkan buku di depan Zio. "Tante Yaya, Io mau Tante Yaya ulus Io." Nevan menatap Reya yang hanya tersenyum pada Zio. Nevan bingung, sejak kapan Reya mau tersenyum seperti itu pada Zio? "Aku kan bukan Mami kamu." Ucap Reya dengan pelan seraya melirik Nevan. Zio langsung mendekat pada Reya hingga memeluk pinggang Reya. "Tante Yaya Mami Io." "Bukan, aku bukan Mami kamu. Aku aja gak nikah sama Papi kamu, aku bukan Mami kamu." "Papi nikah sama Tante Yaya!" Ucapan Zio berhasil membuat mata Nevan dan Reya terbelalak. Keduanya sama-sama tidak menyangka jika Zio dapat berkata seperti itu. "Zio tau apa soal nikah?" Nevan tertawa sambil mengelus rambut Zio sejenak. Zio malah menenggelamkan wajahnya di perut Reya kemudian menoleh pada Nevan. "Tante Yaya Mami Io, ya Papi?" Pinta Zio sangat memohon. Senyum yang terbit di bibir Nevan mulai memudar. Nevan menatap Reya yang ternyata juga sedang menatapnya. Nevan menghela napas. "Memangnya aku masih pantes buat kamu? Sedangkan aku udah terlalu sering nyakitin kamu." Nevan tersenyum getir. Reya mengalihkan tatapannya karena matanya sedikit berkabut dan panas, tenggorokan Reya juga terasa sakit. "Kamu sering bersikap cuek sama Zio, tapi kenapa Zio minta kamu jadi Mami nya?" Reya tidak membalas ucapan Nevan, begitu juga dengan tatapan mata Nevan, Reya tidak lagi membalas tatapan mata laki-laki itu. "Kayaknya bakal banyak yang gak setuju kalo kamu jadi Mami Zio, yang artinya kamu bakal jadi istri aku karena aku sering nyakitin kamu, pasti mereka pikir aku ini bukan laki-laki yang baik buat kamu. Tapi tolong kamu jawab, karena ini bakal ngaruh sama keinginan Zio..." Nevan diam sejenak sebelum mengeluarkan kalimat, "apa aku masih pantes buat kamu?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN