Chapter 10

1315 Kata
Reya duduk termenung di depan dinding kaca apartemennya seraya menopang dagunya dengan tangan kiri. Setelah mendengar penjelasan Nevan Reya benar-benar merasa lega, walaupun masih merasa sakit namun itu bukan menjadi masalah lagi buat Reya. Namun ucapan terakhir Nevan mengenai permintaan Zio meminta dirinya menjadi ibu dari anak itu berhasil membuat kepala Reya sakit lantaran ia terus memikirkan ucapan terakhir Nevan. Reya menghela napas sambil memejamkan matanya karena merasa lelah dengan ini semua, Reya lelah dengan cerita hidupnya yang selalu diberi bumbu-bumbu kesedihan. Kadang Reya berpikir, kapan ia benar-benar merasakan arti kesenangan hidup? ^•^ Reya menaruh tasnya di kursi kosong yang biasa Zio duduki sambil menatap pintu ruangan Nevan yang tertutup rapat. Lama Reya memperhatikan pintu itu sebelum akhirnya ia menghidupkan komputer mengambil beberapa map untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. "Io ikut Papi boleh?" Reya melirik ke asal sumber suara dimana Nevan baru datang ke kantor bersama dengan Zio. "Zio di sini aja, ntar Papi beliin oleh-oleh." Zio yang hendak membuka mulut untuk bersuara mengurungkannya karena melihat Reya yang sedang bekerja. Zio melepaskan genggaman tangan Nevan dan melangkah ke arah Reya. Nevan berdiri di depan ruangannya sambil menatap Zio yang sudah berdiri di depan Reya dengan memegang tepi meja kerja Reya menggunakan kedua tangannya. Sekedar memperhatikan, Nevan masuk ke ruangannya meninggalkan Zio dan Reya. "Tante Yaya," sapa Zio. Reya menatap Zio tanpa ekspresi. "Papi Io mau pelgi." Reya diam masih menatap Zio yang sedang memegang-megang map. "Io sama Tante Yaya lagi, ya?" Reya sudah tahu bahwa Nevan akan pergi sore ini, pergi ke luar negeri yang pastinya mengenai pekerjaan, namun Reya belum tau apakah Zio akan dititipkan kepadanya atau tidak. "Gak tau." Jawab Reya kembali bekerja. "Kenapa gak tau, Tante Yaya?" Reya menggeleng terlihat malas berbicara pada Zio. "Tante Yaya mau nemenin Io?" Reya berhenti mengetik sambil menatap Zio. "Kemana?" Zio tersenyum lalu berjalan semakin mendekati Reya hingga berdiri tepat di sebelah gadis itu. "Io mau es klim, beli di sana." Zio menunjuk entah kemana. "Bentar," ucap Reya menatap komputernya untuk menyimpan file yang baru saja ia buat. Reya mengambil tas selempang nya. "Tapi..." Reya yang hendak beranjak kembali duduk dengan sempurna ketika Zio bersuara. "Tapi Io gak punya uang." Lanjut Zio sambil menunduk. Karena ucapan Zio tidak penting, Reya beranjak dari duduknya memegang tangan Zio sambil melangkah. "Io gak punya uang Tante Yaya." "Pake uang aku." Balas Reya dengan tatapan lurus ke depan. ^•^ Nevan mengalihkan pandangannya dari laptop ke arah Zio yang baru masuk ke ruangannya sambil berlari. "Papi, Io minta uang." Zio mengulurkan tangannya. "Minta apa?" Nevan sedikit terkejut mendengar ucapan Zio karena baru kali ini Zio berbicara seperti itu. "Uang, Io tadi beli es klim." Zio bersandar pada kaki Nevan. "Beli es krim sama siapa?" "Tante Yaya." Nevan mengangkat tubuh mungil Zio ke pangkuannya. "Lain kali kalo mau beli apapun sama Papi aja." "Kan ada Tante Yaya." Balas Zio tidak setuju dengan ucapan Nevan. "Tante Yaya lagi kerja, jangan di ganggu, ntar kerjaan Tante Yaya gak selesai-selesai." "Papi juga kelja kan?" Tanya Zio sambil memainkan dasi Nevan membuat Nevan terdiam. "Pokoknya kalo mau beli apa-apa bilang sama Papi biar Papi temenin." Zio langsung mengangguk dan kembali mengulurkan tangannya. "Uangnya mana?" Nevan mencium Zio berkali-kali karena merasa gemas dengan tingkah serta ucapan polos Zio membuat seisi ruangan kerja Nevan dipenuhi oleh tawa keduanya. Setelah berhasil meminta uang kepada Nevan, Zio menghampiri Reya yang sedang makan karena saat ini jam makan siang sudah tiba. "Tante Yaya," Reya menoleh pada Zio dan langsung menatap tangan Zio yang tengah menyodorkan uang berwarna kebiruan dan itu berhasil membuat mata Reya terbelalak lebar. Reya terkejut karena Zio memegang uang yang bertuliskan 50 Fifty Dollars dimana jika dirupiahkan mencapai angka 500 ribu rupiah. Zio hanya memegang selembar uang namun nominalnya sungguh tidak main-main. "Ganti uang Tante Yaya." Zio menyodorkan uangnya hingga menyentuh tangan Reya sambil tersenyum. Reya masih belum mengambil uang itu dan mungkin tidak akan pernah mengambilnya karena Reya membelikan Zio es krim secara ikhlas, Reya membelikan Zio es krim potong dengan harga yang 12 ribu. "Gak usah." Kata Reya. Zio menurunkan tangannya, "kenapa? Io udah minta uang sama Papi." Reya menggeleng sambil memperhatikan wajah Zio yang terlihat sedih. "Tante Yaya gak mau?" Zio kembali menyodorkan uang yang ia pegang dan dibalas gelengan oleh Reya. "Eh jangan dibuang!" Seru Reya setelah melihat Zio membuang uang ke tong sampah yang berisikan potongan-potongan kertas. Tong sampah tersebut berada di dekat kursinya dan Reya langsung membuka tutup tong sampah untuk mengambil uang yang Zio buang. Zio tertawa melihat ekspresi Reya saat berseru kepadanya tadi. Zio tertawa sambil berlompat-lompat kecil memperhatikan Reya yang tengah mengambil uang dari tong sampah sambil berlutut. "Kenapa?" Zio menoleh, "Io buang uang di situ." Zio menunjuk tong sampah dimana Reya sudah mendapatkan uang tersebut. "Lho, kok Zio buang? Gak boleh buang-buang uang, nanti uang nya nangis." Kata Nevan dengan lembut. Tanpa Reya sadari, dirinya sedang memperhatikan Nevan dengan posisi masih berlutut sebab Reya cukup terpana mendengar perkataan Nevan barusan. "Uang bisa nangis?" Tanya Zio. Nevan mengangguk, "makanya jangan dibuang, kasihan kan kalo uang nya nangis?" Zio menatap uang yang ada di tangan Reya. "Io minta maaf?" Tanya Zio menunjuk uang tersebut. Nevan tertawa mendengar pertanyaan polos Zio. "Gak usah, tapi jangan diulangi lagi." "Promise!" Seru Zio seraya memukul telapak tangan Nevan. Nevan tersenyum, tubuhnya yang membungkuk kembali tegak sambil menatap Reya. "Sampe kapan kamu mau kayak gitu?" Reya menatap kebawah dimana dirinya sedang berlutut. "Oh," Reya langsung berdiri seraya menurunkan rok ketatnya yang sedikit naik memperlihatkan pahanya yang putih mulus. "Papi, uang nya untuk Tante Yaya, kan?" Nevan mengangguk dengan tatapan tertuju pada Zio. "Gak usah." Reya menyodorkan uang yang ia pegang pada Nevan. "Gak papa, makasih udah mau nemenin Zio beli es krim." Nevan tidak mengambil uang yang Reya pegang. "Aku sore ini mau pergi, dua hari aku pergi. Bisa aku titip Zio lagi? Kalo kamu keberatan bilang aja, aku gak mau kamu terbebani karena Zio aku titipin ke kamu." "Io mau!" Zio memeluk kaki Reya dan sempat membuat Reya terkejut. "Kalo Tante Yaya gak mau Zio sama Tante Dira aja, ya?" Zio menggeleng semakin mengeratkan lingkaran tangannya di kaki Reya. Reya yang sedang menatap Zio beralih menatap Nevan. "Gak papa, biar sama aku." ^•^ "Tante Yaya, papi udah sampe belum?" Tanya Zio pada Reya yang sedang mengikat rambut. "Baru aja pergi, ya belum sampe lah." Jawab Reya dengan nada yang tidak enak untuk di dengar. Zio duduk di tepi tempat tidur Reya menatap kakinya yang menggantung. "Tante Yaya malah Io bobok sini?" Reya melirik Zio melalui pantulan cermin. Pertanyaan Zio langsung membuatnya bungkam tak bisa berkata-kata. "Enggak." Balas Reya tanpa menatap Zio. Reya mengolesi wajahnya dengan krim malam sambil sesekali melirik Zio yang sedang tertunduk. Belum sempat jemari Reya menyentuh permukaan krim wajahnya Reya langsung berbalik ketika mendengar suara tarikan ingus. "Kamu nangis?" Tanya Reya tanpa mendekati Zio. Zio menggeleng dengan kepala masih tertunduk. Reya menaruh wadah krim nya di meja dan berlutut di depan Zio. "Kenapa nangis?" Tanya Reya dengan pelan karena ia dapat melihat jika pipi Zio basah. Zio mengusap pipi serta matanya dengan punggung tangan lalu menatap Reya. "Tante Yaya gak suka sama Io." Mata Reya langsung memanas mendengar ucapan Zio, ditambah lagi anak itu menangis karena dirinya. Reya sangat merasa bersalah sekarang. "Kata siapa?" "Tante Yaya gak pelnah senyum sama Io." Ucap Zio memperhatikan tangannya yang saling bertautan. Reya mengigit bibirnya karena ia tidak tahu harus berbicara apa, rasanya masih terlalu berat untuk menunjukkan senyum ataupun perhatian Reya kepada Zio, dan jika dilakukan dengan terpaksa Reya sungguh tidak akan bisa. "Io mau Mami, Io kangen Mami." Zio menangis  sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Reya merasa benar-benar hancur dan bersalah melihat Zio menangis untuk pertama kalinya di depannya. Tidak tau harus berbuat apa, Reya langsung memeluk Zio yang tengah menangis. "Sssttt, jangan nangis." Bisik Reya sambil mengelus kepala dan punggung Zio. Pelukan Reya berhasil membuat tangis Zio mereda, bahkan Zio langsung membalas pelukan Reya melingkarkan tangannya di leher Reya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN