Flashback on.
Laki-laki dengan lengan kemeja putih yang digulung sampai ke siku serta dua kancing dibagian atas terbuka sedikit memperlihatkan d**a bidangnya berjalan ke tempat yang sepi dengan rokok yang terselip diantara telunjuk dan jari tengahnya.
Ia keluarkan pemantik api dengan rokok yang sudah terselip di sudut bibirnya. Tangannya menutupi rokok itu kala pemantik api sudah dihidupkan agar tidak mati saat melawan angin.
Nevan, menghembuskan asap rokok dari mulutnya dengan satu tangan masuk ke kantong celana bahannya menatap kebawah dimana dimana sepatu yang ia pakai masih terlihat mengkilap.
"Hiks..."
Nevan langsung menoleh ketika samar-samar mendengar suara tangis. Rokoknya pun sudah menjauh dari bibirnya namun suara tangis itu hilang membuat Nevan meyakini bahwa pendengarannya salah.
"Hiks... Hiks!"
Rokok yang kembali terselip ia jauhkan, matanya langsung menatap ke arah tangga yang menghubungkan langsung dengan rooftop gedung pencakar langit. Penasaran dengan suara itu, Nevan berjalan ke arah tangga menaikinya dua tangga sekaligus.
Nevan membuka pintu menuju rooftop, ketika pintu sudah terbuka ia mendapati seorang perempuan tengah berdiri di pinggiran rooftop yang tidak memiliki pembatas apapun.
Nevan mendekati perempuan itu dan berdiri dengan jarak kurang lebih dua meter.
"Lo siapa?"
Perempuan itu tampak terkejut dan berbalik.
"Jangan ngelangkah!" Seru Nevan karena satu langkah lagi ia berjalan maka perempuan itu akan terjatuh dari ketinggian.
Tubuh perempuan itu tampak bergetar dan wajahnya terlihat pucat, sepertinya perempuan tersebut sedang ketakutan.
Nevan membuang asal rokoknya lalu mengulurkan tangannya dan langsung dibalas gelengan oleh perempuan tadi.
"Pegang tangan gue." Nevan maju secara perlahan.
"Ja-jangan deket, per-pergi!" Katanya dengan nada bergetar.
"Pegang tangan gue, Lo mau bunuh diri? Gak ada gunanya."
Tangis perempuan itu meledak setelah mendengar ucapan Nevan membuat Nevan memaki dirinya lantaran sudah membuat perempuan yang tidak ia kenali menangis hebat.
"Semua laki-laki jahat!!" Katanya setengah berteriak.
Nevan refleks menggeleng. "Gue enggak."
Tangisnya langsung berhenti menatap Nevan yang masih mengulurkan tangan.
"Kamu bohong." Kata perempuan itu dengan begitu lirih dan dapat Nevan dengar.
Nevan terus melangkah secara perlahan.
Perempuan tersebut menundukkan kepala sambil meremas rambutnya diselingi tangis yang kembali pecah.
"AKU HAMIL! LAKI-LAKI ITU GAK MAU TANGGUNG JAWAB! AKU DIBUANG SAMA KELUARGA AKU! MEREKA SEMUA JAHAT! SEMUA ORANG JAHAT!" Teriak perempuan yang terlihat begitu frustasi meremas semakin kuat rambutnya.
"JANGAN!" Teriak Nevan ketika perempuan itu berbalik siap untuk melompat.
"LEPAS!!!! LEPASIN AKU!!!!" Pinta nya dengan meronta karena Nevan berhasil mencegahnya dengan cara memeluknya dari belakang.
"AKU MAU MATI! GAK ADA GUNANYA AKU HIDUP! LEPASIN AKU LEPASIN!" Teriak perempuan tersebut seperti orang kesetanan.
Nevan mengerahkan semua tenaganya untuk menghalangi tindakan konyol perempuan yang tengah ia peluk.
"BIARIN AKU MATI SAMA ANAK INI! GAK AKAN ADA SATUPUN LAKI-LAKI YANG MAU NERIMA AKU!"
"GUE MAU!"
Nevan menjauhkannya dari pinggiran rooftop membawa perempuan itu menjauh dari rooftop. Setelah merasa aman Nevan menangkup wajah perempuan tersebut dimana tangisnya mulai mereda.
"Gue mau nerima Lo, nerima anak Lo."
Flashback off.
"Secara gak sadar aku bilang kalo aku mau nerima dia..." Nevan menatap Zio yang masih memeluk Reya, "mau nerima Zio. Omongan refleks aku berhasil buat dia tenang, bahkan dia senyum dan langsung meluk aku."
Reya menoleh seraya menghapus air matanya yang terus mengalir tiada henti.
"Tiga hari setelah kejadian itu aku nelfon kamu dimana disitu aku putusin kamu. Aku takut untuk jujur, aku takut bikin kamu makin sakit kalo aku bilang aku mau nikah sama perempuan yang gak aku kenal sama sekali."
"Orang tua kamu tau soal itu?" Tanya Reya dan dibalas anggukan oleh Nevan.
"Mereka pikir aku yang hamilin dia, tapi aku ceritain semuanya dan dia juga bantu aku cerita ke Papa Mama aku, dan mereka percaya. Karena aku udah terlanjur buat kesalahan, aku harus tanggung jawab sama apa yang udah aku buat, nikahin... Talitha . Dua Minggu kita putus aku bener-bener nikah sama dia, gak ada satu orang pun yang tau kecuali keluarga aku, abis nikah aku bawa Talitha ke London aku titipin dia sama temen aku, cewek pastinya. Sedangkan aku balik ke Indonesia karena aku masih harus selesain kuliah aku. Waktu aku nikahin Talitha dia udah hamil dua bulan. Selama aku sama dia nikah kita berdua gak pernah tidur bareng, paling sekedar telfon nanya kabar karena aku nikahin dia karena bentuk tanggung jawab aku bukan karena ada rasa. Aku bohong ke Talitha kalo kuliah aku selesai enam bulan lagi, padahal sebenernya tinggal dua bulan lagi. Selesai kuliah aku ngeliatin dia terus aku bilang kalo aku mau balik ke Indonesia karena alasan kuliah aku tadi, padahal kuliah aku udah selesai. Aku pergi ke Singapura untuk ngeliat proyek yang aku bangun, proyek yang nantinya bakal jadi perusahaan aku, aku tinggal di sini, di Singapura."
Nevan diam sejenak tanpa menatap Reya.
"Usia kandungan Talitha masuk ke sembilan bulan aku pergi ke London. Waktu baru mau pergi aku dapet kabar kalo Talitha mau melahirkan. Aku sampe di London pas Zio udah lahir, Zio lahir tanpa ada aku. Baru lima hari Zio lahir Talitha meninggal karena ngalamin pendarahan hebat selesai melahirkan. Aku suami Talitha dan Zio udah jadi anak aku, walaupun bukan anak kandung Zio tetep anak aku. Aku bawa Zio ke sini, aku besarin Zio di sini tanpa ada Talitha." Nevan menelan ludahnya setelah selesai berbicara.
Nevan menatap Zio sambil tersenyum. "Zio gak pernah tau siapa Mami nya, Zio juga gak rewel terus-terusan nanya Mami nya di mana. Zio cuma nanya sekali aku jelasin ke dia kalo Mami nya ada di surga dan ternyata Zio ngerti. Zio anak yang baik, anak yang pengertian, aku udah anggap Zio kayak anak kandung aku, gak kebayang kalo anak selucu Zio harus gak ada karena ulah orang tuanya. Jujur, aku lebih takut kehilangan Zio daripada Talitha."
Reya ikut menatap Zio yang seperti tidak bisa jauh dari Reya, tanpa rasa lelah Zio terus melingkarkan tangannya di pinggang Reya. Mendengar penjelasan Nevan Reya tidak tahu harus apa, tetap marah kah atau memaklumi semuanya karena yang membuat rasa benci dan geram Reya terhadap Nevan adalah kehadiran Zio.
"Apa yang aku ceritain tadi semuanya jujur apa adanya. Aku nikah tanpa ada rasa, sekedar bentuk tanggung jawab. Mungkin kalo Talitha masih hidup sampe sekarang bisa aja aku punya rasa ke dia, tapi ternyata Talitha pergi, Talitha pergi terus kamu dateng. Aku rasa Tuhan adil, aku rasa apa yang dibilang sama orang kebanyakan itu bener, jodoh gak kemana. Mau sejauh apapun pergi, mau seberapa besar halangan kalo udah namanya jodoh pasti ketemu."
"Aku masih inget banget Zio minta kamu jadi Mami nya. Kayaknya kamu gak bisa jadi Mami nya Zio."
Reya yang sedang menatap Zio langsung menatap Nevan yang sedang tersenyum tipis.
"Karena sikap kamu ke Zio buat aku mikir berkali-kali apa kamu pantes jadi Mami Zio, dan ternyata enggak."
Mata Reya berkabut karena rasa lega yang baru saja ia rasakan kembali membuatnya tidak enak hati dan resah. Reya beralih menatap Zio, merasa ditatap oleh Reya Zio mendongak.
Zio tersenyum ketika matanya dan mata Reya bertemu.
"Papi jahat bikin Tante Yaya nangis!" Kata Zio menempelkan pipinya di perut Reya sambil menatap Nevan dengan ekspresi marahnya yang malah terlihat begitu menggemaskan.
Reya menghapus air matanya dengan rasa penyesalan yang luar biasa.