Chapter 08

1232 Kata
Nevan membuka matanya secara perlahan diiringi dengan rasa sakit di bagian kepalanya yang tidak juga hilang sejak semalam. Ketika terbuka mata Nevan langsung berhadapan dengan langit-langit kamarnya seraya memijat kepalanya. Nevan menoleh saat merasa tempat tidur bergerak, tangan Nevan yang sedang memijat kepalanya mendadak berhenti melihat keberadaan Reya ditempat tidurnya sambil memeluk Zio yang tengah terlelap. Reya membuka matanya dan terdiam saat dirinya dan Nevan saling tatap. Reya ingin bangkit namun Zio memeluknya dengan begitu erat membuat Reya tidak tega melepaskan lingkaran tangan anak itu. Nevan duduk bersandar seraya menurunkan selimut sampai ke perutnya. "Aku pikir kamu pulang." Nevan membuka suara. Reya menggeleng masih berbaring menatap Zio. "Bisa tolong jauhin dia, saya mau ke kantor." Kata Reya sambil menunjuk Zio. "Gak usah ke kantor, aku gak ke kantor." "Tapi kerjaan saya masih banyak." "Ya udah pergi, aku cuma mau ngingetin kalo semua pintu keluar di kunci, cari aja kuncinya sampe ketemu." Nevan menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dan berjalan ke kamar mandi dengan badan yang masih lemas. Reya berdecak pelan mendengar ucapan Nevan. "Tante Yaya," Reya menatap Zio yang baru saja membuka mata. "Tante Yaya bobok sini." Zio tersenyum tanpa melepaskan pelukannya. Reya tidak memberikan respon apapun selain diam. "Lepas, aku mau keluar." Zio menggeleng, malah anak itu semakin mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di leher Reya. Reya menghela napas pelan karena Zio tidak kunjung melepaskan pelukannya. "Io lupa," Reya yang sedang menatap ke arah dinding beralih menatap Zio yang tengah mendongak. Zio melepaskan pelukannya dan berganti memeluk leher Reya. Mata Reya terbelalak lebar setelah mendapatkan ciuman dari Zio. Reaksi Reya membuat Zio tertawa menutup mulutnya dengan kedua tangan mungilnya. Zio menoleh ke belakang ketika mendengar suara pintu terbuka dan ternyata ada Nevan. "Papi, Io cium Tante Yaya." Lapor Zio dengan kakinya yang terlipat ke belakang. Nevan membalas ucapan Zio dengan seulas senyum. "Tante Yaya kaget." Ucap Nevan sambil menatap Reya yang terlihat masih syok. Zio menatap Reya lalu menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Reya menyentuh pipi Reya dengan kedua tangannya. "Maaf Tante Yaya." Nevan duduk di sofa menghadap Reya dan Zio, bibir Nevan menyunggingkan senyum melihat keduanya. "Iya, awas. Berat kamu." Zio langsung turun dari atas tubuh Reya memperhatikan Reya yang beranjak dari tempat tidur kemudian masuk ke kamar mandi tanpa izin ataupun permisi kepada Nevan. ^•^ "Tante Yaya masak apa?" "Ini apa?" "Tante Yaya, ini apa?" "Tante Yaya?" Reya memutar kedua bola matanya mendengar mulut Zio yang terus mengoceh tiada henti. "Aku masak sarapan untuk kamu sama Papi kamu, jangan tanya-tanya lagi. Jangan di sini, nanti kena cipratan minyak." Reya menjauhkan Zio yang berdiri di dekatnya. "Papi!" Seru Zio berlari ke arah Nevan yang baru terlihat. Reya melirik kedua orang itu dimana Zio sudah berada di gendongan Nevan dengan wajah Nevan masih terlihat agak pucat. Reya mengambil nasi menaruhnya di meja makan yang hanya memiliki empat kursi. Setelah itu Reya menaruh makanan yang sudah ia masak ke hadapan Nevan dan Zio yang duduk bersebelahan sambil menatap menu yang Reya taruh di meja. Nevan menatap Zio yang turun dari kursi berlari kecil menghampiri Reya mengajak Reya berbicara. Nevan heran mengapa Zio terlihat begitu suka dekat dengan Reya padahal Reya selalu bersikap acuh kepada Zio. "Io bantu Tante Yaya, boleh?" Tanya Zio mendongak menatap Reya. "Duduk aja." Jawab Reya sambil membuat teh. Zio berjalan dibelakang Reya ketika Reya ingin menaruh teh yang sudah dibuat ke hadapan Nevan. "Di abisin, saya mau ngambil obatnya dulu." "Kamu gak ikut makan?" Tanya Nevan membuat langkah Reya terhenti. Reya berbalik lalu memberikan gelengan kepala. "Kenapa? Kita makan sama-sama di sini." "Gak usah." Nevan pun diam menatap Zio yang sedang menatap Reya yang kembali berjalan ke lantai dua menuju kamar Nevan untuk mengambil obat. "Tante Yaya gak mamam?" Tanya Zio pada Reya yang sudah kembali sambil membawa obat. Reya menggeleng menaruh obat Nevan di dekat Nevan yang tengah makan. "Io juga gak mau mamam." Zio menunduk sambil memainkan jemarinya. Reya hanya bisa menghela napas, dengan berat hati Reya mendudukkan Zio di kursi berhadapan dengan Nevan. Reya duduk di sebelah Zio mengambil sarapan untuk Zio. "Buka mulutnya, biar apa gak makan?" Zio membuka mulutnya saat sendok sudah disodorkan ke mulutnya. "Tante Yaya mamam." Zio mendorong piring kaca mendekat pada Reya. Tidak ingin mendengar ocehan Zio lebih lanjut, Reya memasukkan makanan ke dalam mulutnya dan itu berhasil membuat Zio tersenyum dengan pipi yang menggembung sebelah. ^•^ Nevan menatap Reya yang sedang membereskan piring sisa makanan mereka. Nevan cukup merasa senang karena Reya mau makan bersama walaupun Nevan yakin jika Reya terpaksa melakukan itu. "Sampe kapan kamu mau cuek gini ke aku sama Zio?" Reya menatap sekilas Nevan mengambil gelas dan membawanya ke wastafel. "Mungkin kalo kamu cuek ke aku gak masalah, tapi jangan ke Zio." Ucap Nevan ketika Reya sudah kembali untuk mengelap meja. "Maaf," hanya kata itu yang keluar dari mulut Reya. Nevan menatap Zio yang sedang memberi makan ikan koki yang baru dibeli sekitar satu bulan yang lalu. "Kamu benci sama aku, kenapa Zio ikutan kamu benci? Karena Zio anak aku?" Tanya Nevan pada Reya yang kebetulan lewat di dekatnya. Reya berhenti melangkah menatap Nevan. "Jadi kamu beneran udah nikah?" Nevan menatap ke arah taman belakang rumahnya yang terekspos dengan jelas sebab dindingnya terbuat dari kaca. Nevan menoleh, "udah." Sambil tersenyum pahit Reya mendekati Nevan. "Jelasin semuanya." Pinta Reya dengan ekspresi yang datar. "Gak sekarang? Jadi mau kapan lagi?" Tanya Reya ketika melihat raut wajah Nevan seperti tidak siap untuk menjelaskan semuanya pada Reya. Nevan bungkam, bungkamnya Nevan membuat d**a Reya terasa sesak dan sakit, matanya juga sudah merah menahan tangis. "Tau gak sih butuh waktu berapa lama buat aku ngelupain semuanya? Buat aku ngelupain semua rasa sakit yang udah kamu buat? Kemana kamu waktu aku kehilangan Mama aku? Aku kehilangan kamu, ditambah aku juga kehilangan Mama aku. Aku hampir gila, kamu gak tau gimana hancurnya aku waktu itu. Aku udah gak punya siapa-siapa lagi, aku mau mati rasanya." Ucap Reya dengan air mata yang sudah keluar membasahi pipinya. Nevan mengepal tangannya tanpa menatap Reya. "Disaat aku hampir bisa ngelupain kamu, hampir bisa. Kenapa kamu muncul lagi?" Tangis Reya meledak membuat Zio yang berada tidak jauh dari mereka langsung menoleh. "Tante Yaya," gumam Zio dengan tangan kiri memegang bungkus makanan ikan koki nya. Mata Zio berkaca-kaca melihat Reya menangis sudah duduk di sebelah Nevan seraya memukul punggung Nevan karena Reya tengah dipeluk oleh Nevan. "Kamu ninggalin aku karena perempuan lain? Kamu ninggalin aku karena kamu mau nikah sama perempuan lain? Dimana hati kamu?" Reya terus memukul Nevan sambil terisak. Nevan tidak mampu mengucapkan apapun, yang ia perbuat sekarang adalah menenangkan Reya dengan cara memeluk mantan kekasihnya. "Aku udah jaga hati buat kamu! Kenapa kamu gak bisa?!" "Dengerin aku," Nevan beralih menangkup kedua pipi Reya dimana wajah Reya sudah merah. "Aku bakal jelasin semuanya, aku jelasin semuanya sekarang, tapi jangan nangis." Kata Nevan dengan memohon. Tangis Reya mulai mereda sambil menjauhkan tangan Nevan dari pipinya. Tangis Reya benar-benar berhenti ketika melihat Zio memeluk pinggangnya. "Tante Yaya kenapa nangis?" Reya menatap Zio yang seperti habis menangis. "Zio," Nevan menjauhkan Zio dari Reya namun Zio menolak. "Jelasin sekarang." Ucap Reya tidak memperdulikan Zio yang sedang memeluknya. Tangan Nevan yang sedang memegang bahu Zio perlahan menjauh. Nevan menunduk dengan bayangan-bayangan yang dulu mulai terlintas di kepalanya. Nevan menautkan kedua tangannya dengan tatapan tertuju pada meja makan, setelah merasa yakin bahwa inilah saatnya ia menjelaskan semuanya pada Reya, Nevan menoleh menatap Reya yang sudah sangat menunggu penjelasan dari Nevan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN