Catur tak menyuarakan kepedihan hatinya kepada siapa pun. Sebaliknya, ia memilih duduk terdiam sembari memandangi cek yang tergeletak di meja. Djarno sudah terlebih dahulu meninggalkan bakery. Lelaki itu bahkan tak mau repot-repot menanyakan kabar Catur. Setelah sekian lama, tak ada sedikit pun cinta yang mungkin tersisa. Hanya Catur seorang yang mengharapkan kepedulian Djarno. Catur mungkin terlalu banyak berharap. Wanita itu berpikir bahwa hati seseorang mungkin bisa disembuhkan. Dia masih mengingat saat pertama kali berjumpa dengan lelaki itu. Di pertengahan bulan Oktober, saat hujan turun rintik-rintik. Ia berlindung di halte, memandangi langit kelabu yang semakin gencar menjatuhkan rinai air. Dan entah takdir atau memang sudah seharusnya Catur berjumpa dengan Djarno yang secara tak se

