Barisan kotak berisi permen cokelat tertata apik di etalase. Catur tersenyum puas. Wanita itu berdiri membelakangi pintu masuk, sama sekali tak memedulikan pengunjung yang ia tahu pasti telah dilayani salah seorang pegawainya. Ujung jemarinya mengetuk permukaan stoples, benaknya mulai memperkirakan model biskuit terbaru. Akhir-akhir ini pesanan yang datang cukup menguntungkan dan kemungkinan besar omset akan semakin bertambah seiring Natal dan Tahun Baru. Catur hendak mengambil salah satu stoples namun pergerakannya terhenti saat salah seorang pegawainya menyela. “Bu Catur,” katanya. “Ya,” Catur menjawab. Ditatapnya gadis Sembilan belas tahun yang mengenakan celemek putih bermotif bunga-bunga. “Ria, ada apa?” “Bapak yang itu ingin berbicara dengan Ibu.” Ria menunjuk pria yang kini ber

