Lalitta
Beruntung.
Yah, mungkin itulah kata yang paling tepat. Well, dia memang bukan putri dari sebuah keluarga kaya raya. Tapi paling tidak, dia masih hampir selalu bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Keluarganya pun bukanlah sebuah keluarga sempurna yang tidak pernah ada perkara di dalamnya. Kadar konflik dalam keluarganya biasanya hanya sebatas Mama yang selalu meneriaki untuk meletakkan barang-barang sesuai pada tempatnya. Overall, keluarganya masih dapat diklasifikasikan sebagai keluarga yang harmonis. Paling tidak, setiap anggota keluarga masih bisa saling bertemu, bertukar cerita, makan bersama, serta hangout bareng di kala weekend.
Jika dilihat dari prestasi akademis, bisa dibilang dia juga nggak pintar-pintar banget tapi cukup pintar untuk bisa masuk ke kelas unggulan. Di kelas unggulan ini, ia memang hanya berada di urutan kelima belas. Tak cukup untuk bisa dibilang sebagai sesuatu yang membanggakan. Tapi kalau dibandingkan dengan kelas lain, nilainya sudah bisa dikategorikan sebagai rangking satu. Dalam lingkup bermasyarakat, ia juga biasa-biasa saja dan tak pernah terlihat begitu menonjol. Tapi paling tidak, dia sering ikut ambil bagian dalam berbagai acara. Itulah yang membuatnya cukup dikenal. Dia merasa cukup bahagia karena punya banyak teman yang baik dan peduli padaku. At least, jika suatu saat aku butuh seseorang untuk berbagi, aku tahu ke mana aku harus pergi. Ya, dia adalah teman-temanku.
Dia tidak cantik, biasa-biasa saja, dan juga tidak modis. Bukanlah seorang korban mode yang selalu ganti gaya mengikuti tren-tren masa kini. Dia juga tidak pernah koleksi a must have item seperti yang selalu dikutip oleh majalah-majalah fashion khas anak muda saat ini. Dia beli majalah bukan hanya untuk melihat kolom fashion-nya, namun lebih karena nggak mau ketinggalan berita yang sedang in. Dia nggak mau aja dibilang sebagai anak katrok yang nggak tahu perkembangan zaman.
Dia berparas biasa-biasa saja dan berpakaian biasa-biasa saja, namun merasa sangat beruntung karena memiliki pacar yang sangat tampan. Yah, untuk ukuran cewe biasa-biasa aja dengan gaya yang juga biasa-biasa aja, bisa dikatakan dia ini sangat-sangat beruntung bisa mendapatkan cowo sekeren Tama. Pokoknya, Tama adalah tipe cowo idaman setiap wanita. Dia baik, perhatian, penyayang, setia, pintar, tajir, dan yang pasti ganteng tingkat dewa. Coba angkat tangan, siapa yang ngga mau punya pacar kayak gitu? Dia yakin, nggak satu pun cewe yang ngga mau angkat tangan wkwkwk.
“Litta! Lalitta!!!" dia pun langsung menoleh ketika mendengar teriakan yang heboh meneriakkan namanya. Tia, sahabatnya, memanggilnya sambil berlari-lari menghampiriku.
"Gila! Masak hari ini aku harus ngerjain semua tugas yang dikasih Pak Doni?! Liat deh, Akuntansi, Sejarah sama Sosiologi," gerutunya.
Litta dan Tia memang berbeda kelas. Jadi tugasnya pun berbeda. Karena kelas kami berbeda, maka kami hanya bisa bertemu di saat-saat seperti ini, sebelum bel masuk, istirahat, dan pulang sekolah. Mereka memang sudah akrab sejak kelas satu SMA. Waktu itu mereka berdua satu kelas. Namun hingga saat ini mereka sudah duduk di kelas tiga dan tidak pernah satu kelas lagi.
"Ya udah, nikmatin aja," ujarnya mencoba menghibur.
Yah, sesungguhnya ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tia adalah seorang aktivis di karang taruna dan hampir setiap malam selalu mengikuti pertemuan. Entah rapat untuk mempersiapkan sebuah event, ataupun hanya kumpul-kumpul. Apalagi menjelang hari kemerdekaan bangsa seperti saat ini, Tia pasti sibuk. Nah, jika sebuah perbincangan sudah dimulai dengan keluhan-keluhannya tentang tugas-tugas sekolah maka Litta juga sudah bisa menebak, ke mana pembicaraan ini akan berujung.
"Tolong bantuin aku ya, Ta?" ujar Tia merajuk
sambil menggelayuti lenganku.
Hmm... persis seperti yang Litta pikirkan. Tia akan memintanya untuk membantu mengerjakan tugas-tugas yang dikasih Pak Doni tadi.
"Kebiasaan deh, kamu! Aku juga lagi banyak tugas nih!" jawab Litta sok sibuk. Sebenarnya sih, ngga juga. Dia hanya tidak mau saja Tia terus-menerus seperti ini. Dia takut Tia jadi ketergantungan dan akhirnya jadi menggampangkan semuanya.