Karena Tama selalu mampu meyakinkannya bahwa kata-katanya itu tulus. Lalitta sendiri dapat melihat ketulusan itu dalam sorot matanya, mata indah yang membuatku tak pernah bosan memandanginya.
"Jadi cuma hari ini aja, nih?" jawab Litta sok nggak terima.
Sean yang mendengarnya tertawa. Sampai sekarang Lalitta masih selalu terkesima pada mata itu. Pada dua buah lesung pipit mungil miliknya setiap kali tertawa. Itulah yang sangat disukain dari sosok Tama. Senyumnya selalu bisa menentramkan hati Lalitta.
“Gimana sekolahmu hari ini?” Tama memulai pembicaraan lagi.
"Baik-baik aja kok. Kamu sendiri, bagaimana kuliahnya?" tanya Lalitta saat itu.
"Tadi ada kelas pagi tapi cuman sampai jam sepuluh," jawabnya.
“Loh, bukannya hari ini kamu ada kelas sampai jam tiga ya?" tanya Litta kemudian.
"Biasa, dosennya nggak masuk," jawab Tama santai.
Mereka terus mengobrol sepanjang perjalanan. Hal lain yang juga sangat Lalitta suka dari Tama. Dia akan selalu menanyakan bagaimana harinya dan selalu siap sedia mendengarkan semua keluh-kesahnya. Bagi Lalitta, Tama adalah diary berjalannya yang ngga cuma siap dibombardir dengan segala macam keluh-kesah tapi juga dengan sabar dan cerdik selalu berhasil memberinya nasihat ataupun motivasi. Dia pacar, sekaligus teman, kakak, serta ayah bagi Lalitta
Setengah jam kemudian mereka tiba di resto. Begitu tiba, mereka langsung disambut oleh seorang pramusaji berparas manis di sana. Setelah mengecek nama Tama di buku reservasi, dia segera mengantar mereka ke tempat yang telah pesan. Jujur, Lalitta bingung. Ini kalinya pertama ia makan di restoran semewah ini.
Bukannya tidak menyangka bahwa Tama akan mengajaknya makan di restoran mewah. Menilik bagaimana caranya meminta Lalitta untuk mengenakan dress, dia tahu bahwa ngga mungkin mereka makan di emperan kaki lima.
Lalitta hanya tidak menyangka aja bahwa restonya ternyata akan semewah ini. Selain bingung dengan aturan makannya, Lalitta juga bingung dengan menu yang tertera di buku menu. Nggak ada satu pun menu yang familiar dengannya. Semuanya bikin sakit mata.
"Kamu mau pesan apa, Ta?" tanya Tama pada Lalitta.
"Hmm... apa, ya? Honestly aku gak ngerti," jawab Lalitta sambil tersenyum. Senyum kikuk yang begitu jelas terbaca oleh mata Tama.
"Aku pesen yang sama aja deh sama kamu. Tapi harus enak ya, rasanya?” tuntutnya kemudian.
"Rasa kan selera, Ta," jawab Tama sambil tertawa.
Ingin rasanya, Lalitta membalas dengan mengerucutkan bibir karena dia sama sekali ngga ngerti makanan apa yang enak! Jangankan untuk milih, bacanya aja susah!
"Habis aku nggak ngerti," jawab Litta polos setengah depresi, membuat Tama tak tahan untuk tidak tersenyum.
"Yakin nih, nggak mau milih sendiri? Mau samaan
aja sama aku?" tanya Tama memastikan.
Lalitta menjawabnya dengan dengan satu anggukan mantap.
"Ya udah, kamu percaya aja sama aku, ya? Ini menu favoritku. Kamu pasti suka," ujar Tama mantap.
“Kayaknya enak," jawab Lalitta berharap.
Setelah memesan makanan, Tama mengawali pembicaraan dengan mengenang kembali memori saat mereka pertama kali bertemu. Lalitta masih bisa mengingatnya dengan sangat jelas. Mereka bertemu di Pulau Lombok. Kala itu, Lalitta sedang berlibur bersama Tia. Well, kepergiannya ke sana waktu itu sebenarnya dalam rangka menemani Tia yang sedang broken heart. Karena ngga kuat lihat mukanya yang terus-terusan kusut kayak baju ngga disetrika, akhirnya Lalitta merasa perlu mencarikan sedikit ketenangan bagi Tia.
Waktu itu emosi Tia memang sedang tidak stabil. Dia jadi pemurung dan mudah marah. Oleh karena itu, aku rasa dia perlu membiarkan dirinya mengeluarkan seluruh beban emosinya di tempat yang ngga terbuka untuk semua mata. Tia yang sedang luar biasa melankolis ini memang suka ngga peduli tempat kalo lagi marah ataupun nangis, membuatnya miris tiap kali melihatnya saat itu. Setelah mencari berbagai informasi, maka tujuan kami jatuh ke sebuah pulau itu namun luar biasa indah. Cocok sekali untuk orang yang sedang patah hati. Yah, setidaknya itulah yang dirasakan oleh Tia.
However, di sisi lain, pulau yang mungkin terlihat kelam di mata Tia ini, justru merupakan tempat yang luar biasa indah buat Lalitta dan Tama. Ironis memang. Litta tidak bermaksud bersenang-senang di atas penderitaan sahabatnya. Tidak sama sekali. Tapi hati ini juga tak kuasa menolak pangeran setampan Tama.
Dia tak bisa melewatkan kesempatan ini, karena dia yakin, berkah seperti ini tak akan datang dua kali. Saat itu Tama juga sedang berlibur di pulau ini bersama teman-teman sejawatnya, berbeda dengan Lalitta yang hanya berdua dengan Tia. Tama datang bersama rombongan yang cukup besar, sekitar lima belas orang. Tama memang beruntung. Dia memiliki banyak teman yang sangat kompak. Mereka berlima belas adalah teman dekat Tama di universitas.