Bab 7: Mengulang Waktu

1338 Kata
Amalia   "Ibu akan ikutkan kamu untuk lomba Matematika sama Luna dan Ahya," ucap bu guru matematika yang membuatku terkejut. Ahya? Kan tuh siswa belum lama bener di sini, emang bener bagus Matematikanya? "Oke, ibu sudah urus administrasi lomba. Esok kalian akan berangkat dan menginap di sana," ucap bu guru yang membuatku masih kecewa. Kenapa tidak Nita aja, dia kan sekarang rangking 3 waktu semester 2 kemarin dan Matematikanya sangat baik. Kenapa harus Ahya Sholihin? "Kalau saya mengerti kenapa saya dan Lia di pilih bu, tapi kenapa si Ahya?” tanya Luna yang ikut denganku ke ruang guru ini. Kau mengeluarkan uneg-uneg ku Lun, makasih! "Begini, pihak sekolah membuka dokumen Ahya dan mengatakan banyak pencapaian matematika nya," jawab bu guru. "Apa?" Kami sama-sama terkejut. Kalau bukan karena ruang guru, kami bakal teriak sudah. "Bukankah SMA Maret gak pernah juara 1?” tanya Luna terkejut. "Bukan gak pernah sih, jarang. Ibu kurang tahu soal juara 2 atau 3 nya," jawab bu guru. Kami hanya mengangguk. Mungkin jadi juara 2 atau 3 sering dia yang dapat. Lagipula aku tidak sering ikut lomba matematika.   ***   Esok harinya, aku berangkat ke sekolah dengan perlengkapan untuk lomba. Ya, lombanya bakal menginap satu hari, di kampus Universitas 1 Januari. Lombanya dari jurusan matematika dan berskala provinsi, jadi tak heran menginap.   Sesampainya di sekolah, kami bertiga (Aku, Luna, Ahya) berkumpul dan pak Abdullah mengantarkan kami ke kampus. Beliau izin kembali untuk mengurus sekolah, dan meninggalkan kami di sana, setelah urusan administrasi tentunya. Aku dan Luna di beri kamar di lantai 2 (khusus akhwat).   Sesampainya di kamar, aku dan Luna langsung bersantai. Yang mengejutkan kami adalah, 10 menit setelah kami datang, seorang siswi masuk ke dalam kamar kami. Tubuhnya cukup mungil untuk SMA. "Permisi kak," ucap siswi itu. Lambang bajunya menandakan dia kelas XI. Wajar aja. "Kakak, saya meletakkan barang di sini ya kak," ucap siswi itu. "Santai aja, gak usah terlalu formal kok," balas Luna. "Nanti ada kakak kelas saya kak, nyusul," kata siswi itu. Belum dia beranjak keluar, kakak kelasnya sudah di depan pintu. Sepertinya dia cukup familiar...   "Dea!" teriak Luna kegirangan. Tunggu, Dea? Apakah dia... "Apa kabar Lun?" sapa Dea kegirangan. Benar, Dea yang dua tahun lalu ikut lomba ini juga. Ya, ini lomba yang sama dengan lomba aku mendapatkan foto itu. "Kakak, kakak kenal sama kakak ini?” tanya siswi kecil itu. "Ah iya, dek. Lun, ini namanya Cahaya. Cahaya, ini namanya kak Luna," ucap Dea menjelaskan kepada Luna. "Salam kenal kak Luna," ucap Cahaya, siswi kecil itu. "Oh ya, ini teman kakak," ucap Luna seraya menunjukku. "Lia!" teriak Dea kegirangan. "Hai," jawabku datar. Entahlah, aku masih belum bersemangat. "Tumben gak bersemangat sama sekali," balas Dea. "Cahaya, ini namanya kak Amalia," jelas Dea kepada siswi itu seraya menunjukku. "Hai kak," ucap Cahaya. Dia tampak bersemangat.   "Hey, kita makan yuk," ucap Dea. Luna dan Cahaya mengangguk bersemangat. Aku tak membalas. "Kenapa tuh si Lia?” tanya Dea ke Luna. Dia memang tidak masalah dengan sikapnya seperti itu. "Lagi ada malasah," jawab Luna. Aku lihat dia mencoba menghindar dari menjelaskan. "Masalah apa?” tanya Cahaya penasaran. "Sebaiknya tidak usah di bahas," balas Luna. Aku mungkin perlu berterima kasih nanti. "Oke kak!" jawab Cahaya dengan senyum mungilnya.   Kami berempat pergi makan siang, hari menunjukkan jam 12 lewat 39 menit di handphone ku. Aku yakin Ahya sedang sholat Jum'at saat ini. Kawan-kawan ku terus berbicara, dan aku tidak peduli. Aku masih hanyut dengan perasaan ku. Kenapa aku memikirkan Ahya Sholihin di antara pikiran ku? "Kau tampak tak bicara sama sekali, hampir tak sama sekali," ucap Dea santai. Dia sepertinya memancingku berbicara. "Tak apa, aku tidak mood," balasku. "Kau datang dengan si Zakaria?” tanya Dea, yang langsung seperti belati menusuk d**a ku. "Tidak," jawabku, menahan air mata. "Ada apa kak?" tanya Cahaya. Sepertinya dia sadar dengan genangan air mata ku. "Jangan di bahas," balas Luna. Luna mengalihkan topik dan aku membuka buku matematika yang ku bawa ke ruang makan. Aku tidak peduli dengan mereka.   Setelah sholat Zuhur masing-masing di kamar, Cahaya mengajakku dan yang lain ke kamar teman laki-lakinya. Katanya dia ingin belajar dengan temannya itu. "Cahaya mau belajar sama Rahman kan?” tanya Cahaya kepada Dea. "Kan akhwat gak boleh ke kamar ikhwan," balas Dea. "Kalau kakak temani aku kan gak sendirian," ucap Cahaya penuh harap. "Oke oke, Luna, Amalia, ikut?” tanya Dea kepada kami. "Boleh, hitung-hitung tanya ama Ahya kalo dia tahu jawaban soal ini," balas Luna seraya menunjuk bukunya. Soal no 18 paket 2 buku OSN Provinsi. Soal itu tampak sangat sulit dengan akar-akar dan logaritma yang ada. Aku berpikir tentang soal itu, sepertinya aku pernah menjawabnya. Aku membuka buku ku, dan ku temukan coretan hitungan nomor itu di dalam buku ku. "Ini," ucapku seraya memberi jawabannya. "Makasih Li! Aku-" ucapan Luna terhenti seketika. "Ada apa Lun?” tanya Dea. "Ini... Tulisan ini..." Ucapan Luna terpatah-patah. Aku bergegas mengambil kertas itu. Tulisan Ahya... Gumamku seraya mengembalikan tulisan itu ke tangan Luna. "Sudah beres?” tanya Dea. "Oh iya, gak jadi. Kami tinggal aja di sini," balas Luna. "Gak nyesel?” tanya Dea penuh arti. Sepertinya dia ingin mengerjai kami. "Gak bakal!” balas Luna bersemangat. "Oke deh," jawabnya santai. "Ayo dek!" Ucap Dea bersemangat membawa Cahaya ke kamar Rahman.   Ahya   Aku masih makan siang dengan teman baru ku, yang juga merupakan junior. Namanya Rahman, dia berasal dari SMA Empat Cahaya, yang berada di kabupaten yang cukup jauh dari sini. Sekarang kami masih asik dengan diskusi kami, yang tak terarah. "Kak, kakak pernah punya gebetan?” tanya Rahman, membuatku hampir tersedak karena aku masih minum. Gak ngejutin juga kali. "Gak," jawabku santai. "Beneran kak?” tanyanya penuh selidik. "Kamu gak percaya sama kakak ini ya?" balasku bertanya dengan santai. "Oke deh kak," balas Rahman seraya melepaskan topik itu. Aku meminum air putih yang tersisa di gelas ku.   "Assalamu'alaikum!" teriak seorang perempuan. Tubuhnya cukup tinggi berbaju muslimah dan kalau diperkirakan, dia siswi kelas XII. Di sampingnya ada siswi kecil dengan baju muslimah. Mereka seperti kakak adik. "Wa'alaikumussalam," jawabku dan Rahman bersamaan. "Kak Dea, ada apa kak? Kenapa bawa Cahaya segala?” tanya Rahman kepada siswi yang bertubuh tinggi. "Tadi kami cari kamu ke kamar, eh gak ada," jawab siswi bernama Dea itu sekenanya. "Man, kok kamu gak bilang kamu keluar dari kamar," ucap siswi kecil bernama Cahaya ke arah Rahman. "Ini sama kak Ahya, kami lagi diskusi," balas Rahman santai. "Kenalan ya, nama saya Dea Fitriani," ucap siswi dengan tubuh tinggi memperkenalkan diri. "Dan nama saya Cahaya Rahmah, salam kenal kak," ucap siswi dengan tubuh kecil memperkenalkan diri dengan baik. "Salam kenal, namaku Ahya Sholihin, Kelas XII dari SMA Januari," ucapku memperkenalkan diri. "SMA Januari? Berarti kamu sama Amalia dan Luna?” tanya Dea. "Ya, mereka teman-temanku," balasku dengan senyuman. "Kau kenal Zakaria Ahya?” tanya Dea penuh selidik. "Ya," jawabku. Sebenarnya tahu namanya aja, hehehe. "Kenapa gak ikut lomba dia tuh?” tanya Dea to the point. "Kak, Zakaria Ahya yang kakak maksud itu yang sering juara lomba matematika ya?” tanya Rahman. "Ya, Zakaria yang itu," jawab Dea. "Aku tak tahu kenapa dia tak ikut. Yang pasti aku dapat amanah buat ikut dari guru," ucapku santai. "Kau tahu, kau mengingatkan ku pada seseorang, tapi aku tidak yakin siapa," jawab Dea. Entahlah, saat dia mengatakan itu, aku merasa seperti aku sudah mengenal si Dea ini.   Aku dan Rahman menyelesaikan makanan kami dan kembali ke kamar bersama Dea dan Cahaya. Kami yakin panitia tidak akan keberatan, toh nggak berduaan juga kok. Saat kami kembali ke kamar, aku berpas-pasan (bertemu) dengan kak Fath. "Kak, tumben di sini?" Ucapku dengan nada menanya. "Ada urusan di sini sama teman, dia perlu bantuan buat ngurus barang-barang gitu," jawab kakakku santai. Entahlah, tapi sepertinya dia dengan nada setengah berbohong. Astaghfirullah! Jangan suudzon! "Kakak permisi dulu," ucap kak Fath seraya pergi berlalu dari kami. "Kau kenal dia?” tanya Dea. "Dia kakakku," balasku santai. Dea, Cahaya dan Rahman tampak berpikir. "Gak usah di pikirin, ayo!" Ucapku membuyarkan mereka berpikir.   Di depan kamar, kami di kejutkan dengan keberadaan Luna dan Amalia. "Luna? Amalia? Ngapain disini?” tanyaku dengan nada penasaran. "Kami tadi bertemu kak Fath dan dia bilang dia ingin titipkan ini kepada mu," ucap Luna seraya mengunjuk sebotol aqua. "Tadi ketemu di jalan, kenapa titip ke kalian?” tanyaku penuh selidik. "Tahu, kami cuma di suruh, jadi, ya begitulah," jawab Luna sekenanya. Sepertinya ada yang di sembunyikan. "Oh ya, Dea, tadi ada pesan masuk ke handphone mu," ucap Luna seraya menyerahkan handphone Dea kepada Dea. "Dari siapa?” tanya Dea. "Dari Abdul Karim," jawab Luna santai. Wajah Dea tampak memerah. Merona penuh kebahagiaan. "Kenapa Dea?” tanyaku, sebenarnya dari wajahnya yang merona aku sudah bisa menebak. Abdul Karim, nama itu tak asing di telinga ku... "Tak apa-apa," balasnya, sepertinya dia malu karena dia langsung menutup wajahnya. "Cie kakak," ucap Cahaya seraya menyenggol Dea, sepertinya Dea adalah kakak kelasnya. "Kak Dea sekalinya, aduh ai," lanjut Rahman. Kami masuk ke kamar, yaitu kamar ku bersama Rahman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN