Bab 8: Ahya | Zakaria

1248 Kata
Ahya   Mereka asik belajar. Sepertinya Rahman dan Cahaya, meskipun kelas XI, sangat serius dengan lomba ini. Dea, Luna dan Amalia juga belajar bersama, meskipun kami sebenarnya akan menjadi lawan di lomba nanti. Ya, aku sudah dengar soal kehebatan SMA Empat Cahaya dari guru-guru yang sering ikut mendampingi siswa lomba tingkat provinsi. Sekarang, mereka tepat berhadapan dengan kami.   Aku tidak peduli, entah kenapa aku malas belajar. Aku memainkan handphone ku, membuka game Tetris, game tua, tapi masih menarik bagi ku. Aku tidak senang game zaman sekarang, kebanyakan dari mereka.   "Hey! Kamu asiknya main aja, belajar dong!" Terdengar suara perempuan bersungut-sungut ke arahku, sepertinya suara Luna. "Gaduh, jangan ganggu," jawabku seraya membalik arah ku yang sebelumnya menghadap ke kanan, menjadi ke kiri. "Serius dulu! Ahya!" Luna mulai memaksa lagi. Aku berhenti bermain, sepertinya kalimat terakhir itu sudah pernah ku dengar sebelumnya. Entahlah kapan. "Stop!" ucapku, mengejutkan Luna dan yang lain. "Aku bisa mengurus diri ku sendiri," jawabku. Luna tampak kembali ke grup belajar dengan muka kesal. Oke, back to the game. Sekarang ganti mainan... CoC, gak rame. BB gak rame. Injustice, gak kuat hp. Ya udah, SS aja. Aku menekan tombol sebuah aplikasi permainan dan mulai bermain.   Cukup lama aku bermain dan mereka asik belajar. Tiba-tiba, Amalia mendatangi ku. "Stop main dulu nah, ayo Ahya," ucap Amalia dengan nada memohon dan lembut. Aku terkejut dengan suaranya. Ya, dia kan dari tadi gak banyak bicara, gak heran. "Amalia tidak bisa memarahi Ahya, cie!" ejek Luna memancing. "Ayo Ahya! Stop dah mainnya!" Amalia mulai menaikkan suaranya satu oktaf. Ya, kalau naik lagi oktafnya, bakal gak enak nih telinga. "Urgh, kenapa harus berhenti. Kan aku lagi mau high score nih," balasku sekenanya. "Sudah Ah, cukup mainnya!" Suaranya semakin tinggi dan ini semakin tidak bagus. "Oke oke, tumben jadi galak dadakan," jawabku kesal. Sepertinya yang gak terima dengan kalimatku. "Apa kata mu? Aku galak! Aku gak terima Ahya! Kau ini, sudah, bantu kami-" ucapannya terpotong saat ada blitz kamera menyambar. "Luna!!!" Suara Amalia naik beberapa oktaf, yang artinya barusan tadi suaranya membuat telinga ku sedikit perih. Coba, naik berapa Desibell nih suara. Amalia mencoba mengambil handphone Luna tapi Luna menyerahkannya pada Dea, yang lebih tinggi daripada Amalia. Amalia tidak bisa mengambil handphone-nya. Kok kayak sudah kejadian deh sebelumnya. Perasaan barusan udah pernah kejadian sebelumnya. Gak mungkin, aku kan baru kenal mereka gak sampe setahun.   ***   Amalia Matahari pagi mulai muncul di ufuk timur. Aku bersama Luna, Cahaya dan Dea kembali ke kamar kami, setelah sholat subuh berjama'ah di Musholla kecil kampus in, giliran kedua karena sedikit telat. Kebetulan tadi kami berjama'ah dengan Ahya sebagai imam, dan makmumnya sebagian besar peserta lomba, entahlah kenapa, suara Ahya mengingatkan ku pada suara Zakaria saat jadi imam. Di sana, kami menyiapkan diri untuk lomba yang akan di mulai sebentar lagi.   Lomba pun akan di mulai. Aku, Luna dan Ahya adalah tim 1 pada lomba ini, yaitu lomba CC Matematika. Jumlah peserta ada 15 tim, yang artinya ada 45 peserta karena ada 3 orang per tim. Entahlah, aku malas untuk kenalan, apalagi mengingat nama. Penontonnya sangat banyak, karena ini lomba publik.   Babak 1, soal berbobot. Setiap yang benar bernilai bobot x 10, yang salah bobot x -5, kalo pass tidak ada nilainya. Maks 3 kali pass. Tidak di lempar dan unik per tim. Nilai maksimal 350, bobot soal adalah 1,2,3,4,6. Tim kami giliran pertama. Waktu menjawab semua soal 15 menit.   Semua berjalan lancar, hingga soal ke 15 datang, yang sekaligus soal terakhir tim kami. Bobotnya 6, yang artinya kami harus dapat, karena nilainya 60. Nilai kami saat ini adalah 290 (5 bobot 1, 5 bobot 2, 2 bobot 3, 2 bobot 4). Waktu tinggal 1 menit, dan Luna juga tampak garuk-garuk kepala kebingungan. Bagaimana ini? Kita tidak akan- Teet!! "100 tambah 28x per 19y," ucap Ahya seraya mengangkat kertas nya. "Benar," jawab juri. Tim lain tampak tidak percaya dengan Ahya menjawab dengan benar. Aku dan Luna tersenyum bahagia. Bagaimana Ahya bisa menjawab soal seribet itu? Bahkan dalam hitungan detik saja lagi waktu nya. Pertanyaan itu terbesit di hati ku. Tapi aku mengacuhkannya.   (NB : Authornya ngaco aja sebenarnya, makanya soalnya gak di lampirin, ribet mikirin soalnya gimana gitu. Pokoknya sulit, yang penting buat sambung ceritanya)   "Senang?” tanya Ahya kepada ku dan Luna sementara kelompok lain sibuk menjawab. "Bagaimana kau bisa menjawabnya?' Tanyaku, masih dengan senyum bahagia. "Begitulah," jawabnya sekedarnya. Ahya, bagaimana kau bisa sepintar itu, padahal kemarin kau santai dan hampir tidak buka buku (belajar) sama sekali?   Kami terus memperhatikan tim yang lain. Meskipun sebagian tim mempunyai skor tinggi, tak ada yang menyikat bersih. Otomatis, sementara klasemen di pimpin oleh kami. Setelah itu, pembawa acara membaca peraturan babak kedua, yaitu soal Penjelasan. Setiap tim harus mengirim satu representasi untuk maju menjelaskan jawaban mereka, dan anggota lain boleh menambahkan jawaban serta penjelasan setelah penjelasan dari representasi selesai. Jumlah soal ada 5 dan tidak ada lemparan. Rentang nilai 0-100 dan di tentukan oleh juri. Waktu representasi 5 menit.   Soal pertama muncul, semua tim, termasuk tim kami, sepertinya hanya bisa terdiam karena soal itu nampak sangat sulit. Teet!! Aku terkejut, siapa yang menjawab. "Saya akan menjawab," ucap yang menekan bel, ternyata Ahya. Apa aku kebayakan melamun? "Silahkan," ucap dewan juri.   Ahya menjelaskan dengan rinci jawabannya. Tunggu dulu... Caranya menjelaskan mirip sekali dengan cara Zakaria menjelaskan jawabannya dua tahun lalu, meskipun Zakaria tidak gelagapan seperti Ahya saat ini.   "Terima kasih, silahkan kembali," ucap dewan juri.   "Bagaimana Ahya?” tanya Luna. "Begitulah, ku rasa cukup," jawab Ahya santai.   Soal kedua muncul. Kami hanya termenung melihat soal itu. Memang, soalnya sangat sulit.   Teet!! Ya, Dea mengetuk bel nya, dan dia maju menjelaskan. Setelah beberapa lama, dia kembali ke tempat duduk.   "Sepertinya Dea akan menyusul kita," bisik Luna kepada ku. "Sabar, kita masih banyak kesempatan," balasku berbisik.   Soal ketiga. Kali ini, kami benar-benar bengong. Soal ini mempunyai hitungan yang sangat kompleks. Kami tidak bisa mencapainya ke nalar kami... Dan...   Teet!! "Silahkan," ucap dewan juri. Ternyata, Ahya lagi. Sejak kapan kau sehebat ini Ahya?   Ahya nampak tegang menjelaskan, sepertinya dia ragu-ragu. Tapi aku melihat dia berusaha untuk selalu tersenyum. Kami memandangnya penuh harap bahwa dia bisa memberi hasil bagus dengan dewan juri.   "Terima kasih, silahkan kembali," ucap dewan juri.   Ku lihat tim lain mulai nampak putus asa, sepertinya Ahya benar-benar menusuk mereka. Entahlah, tapi apakah mereka merasakan apa yang kurasakan, apakah mereka merasa seperti aku bahwa sebenarnya Zakaria ada di sini, di antara kami? Aku yakin Zakaria melihat kami bertanding di sini, tapi dia tidak mungkin ikut bersama kami.   Soal ke empat. Kali ini Ahya sepertinya sangat tenang dan bersiul saja. Dia tidak mengetik tombol bel yang ada. Waktu sudah 20 detik dan tidak satu tim pun yang menekan bel.   Teet!! Kami melirik ke tim-tim lain. Ternyata tim ke 14 yang menyalakan bel. Perwakilan mereka maju, tunggu, sepertinya dia pernah ku kenal. Tapi siapa ya?   Setelah penjelasan, dia kembali ke tempat duduk.   Dan ini pertanyaan kelima. Sepertinya aku harus mencoba. Bismillahirrahmanirrahim!   Soalnya pun muncul. Aku melihat angka-angka nya dan ya!   Teet!! Aku menekan bel. Sepertinya tim lain nampak terkejut, begitu pula penonton yang hadir, yang tidak terlalu ku pedulikan dari awal tadi. Menekan bel dalam 4 detik setelah waktu di mulai. "Silahkan," ucap dewan juri.   Aku maju ke depan. Hatiku berdegup kencang. Ya Allah, tolonglah hamba.   Aku mulai menghitung di depan dan secepat mungkin ku bisa. Begitu aku menjawab, tiba-tiba ada suara. "Amalia, hasilnya bukan 90 akar 8x tapi 95 akar 8x. Kau salah hitung," aku melihat ke sumber suara, ternyata Ahya. Aku langsung mengoreksi hitunganku dan menulis ulang hasilnya.   Sesi pertanyaan pun di mulai, aku berusaha untuk menjelaskan semaksimal mungkin aku bisa, meskipun aku tak yakin. Tak yakin aku bisa menjawabnya!   Aku berhasil melaluinya, meskipun Ahya berulang kali mengintervensi jawabanku dan menambahkan apa yang kurang. Aku berharap itu tidak membawa terlalu banyak nilai minus.   "Makasih," ucapku seraya duduk kembali. "Tak apa. Kau mengingatkan ku pada teman ku dulu. Dia juga gelagapan seperti mu saat lomba seperti ini," jawab Ahya. Aku hanya tersenyum keheranan dengan jawabannya.   "Cie," ucap Dea dari tempatnya, tim 2. Aku berusaha untuk tidak acuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN