Amalia
Aku masih terenyuh dengan kemampuan Ahya. Dia sangat, dan aku akan menekankan sangat, karena dia memang mempunyai kemampuan matematika mendekati Zakaria Ahya. Ahya Sholihin, sebenarnya kau siapa, Ahya?
Babak ketiga, babak rebutan di mulai. Ini adalah babak yang sangat penting, karena skor di sini sangat menentukan peluang menang. Bagi semua tim, babak ini adalah kunci kemenangan yang penting. Setiap soal bernilai 20 dan jumlahnya 50 soal.
Babak ke empat adalah mengerjakan soal essay. Setiap tim di beri essay sebanyak 10 buah untuk di selesaikan dalam 15 menit. Nilai maksimal essay adalah 200, artinya per soal 20.
Setelah babak itu selesai, aku menarik napas lega dan pergi ke kantin kampus ini. Luna menyusulku dari belakang.
Di tengah jalan, ada siswi yang cukup kami kenal... Tunggu, dia kan...
"Assalamu'alaikum Amalia," sapanya ramah. Aku masih ingat wajahnya, dan aku masih ingat apa yang dia perbuat pada Zakaria. Dia adalah Aliyah, dulu siswi terkaya di SMA Januari dan juga cewe populer di sekolah. Tapi setelah dia menabrak Zakaria, dia di keluarkan dari sekolah. Aku masih menaruh kesal dan perasaan sakit hati terhadapnya, sakit hati karena dia membuat Zakaria tiada, pergi dari kehidupan ini.
Melihat penampilannya yang berjilbab syar'i dan tertutup membuatku heran untuk beberapa detik, karena kalau bukan wajahnya, aku pasti tak mengenalinya. Dia berubah 180 derajat!
"Wa'alaikumussalam," balasku bersamaan dengan Luna. Hatiku bergejolak mencoba melawan, tapi aku tidak mau membalas perbuatannya dulu. Dari dia mengancam ku sampai membawa geng sekolah untuk memaksa ku menjauhi Aliyah. Aku mencoba untuk tersenyum sabar.
"Tumben di sini," ucap Luna memulai pembicaraan.
"Oh iya, perkenalkan, ini teman-teman dari MA ku, MA Ahmad Kabir, kami tim 14 di lomba ini," balas Aliyah seraya menunjuk teman-temannya.
Berarti, dia yang maju barusan tadi saat babak dua?
"Hai," ucap Luna dan aku bersamaan, menyapa teman-temannya.
"Hai!” balas mereka penuh semangat.
Aku mengajak Aliyah dan Luna keluar dari kantin. Kami bertiga duduk di kursi dekat sebuah pohon beringin besar.
"Jadi masuk MA?” tanya ku kepada Aliyah. Aku terus mencoba untuk bersabar.
"Iya, kejadian itu membuat ku tersadar. Aku minta ayah supaya masukin ke MA, ayah setuju dan aku masuk MA Ahmad Kabir. Maafkan aku Amalia, maafkan aku," ucap Aliyah, dengan tetesan air mata mengucur dari matanya.
"Tak apa, aku memaafkan mu kok," balasku. Aku tahu hati kecil ku masih ada yang menolak, tapi aku selalu berusaha untuk memaafkan. Apalagi sekarang dia mengakuinya di hadapan ku.
"Kau tahu, semenjak Zakaria tiada, aku terus belajar matematika dengan giat. Alhamdulillah, berkat kehendak Allah dan perjuangan gigih hamba ini, kita bertemu seperti ini, dan aku bersyukur kita bertemu. Allah memberikan ku kesempatan meminta maaf!" Ucapnya bahagia.
"Syukurlah, semoga Allah menjaga hidayah-Nya pada jiwa mu," jawabku sambil tersenyum.
"Makasih," jawab Aliyah.
"Kau tahu, Ahya Sholihin dari sekolah mu mengingatkan ku dengan Zakaria Ahya. Kemampuan Zakaria memang sangat terkenal. Aku ada menonton dokumentasi lomba ini 2 tahun lalu dan melihat Zakaria presentasi mirip dengan si Ahya Sholihin itu," jelas Aliyah secara mendadak.
"Jadi, Ahya Sholihin dan Zakaria Ahya ada hubungannya?” tanyaku penasaran dengan penjelasannya. Hipotesis apa yang dia berikan, mungkin akan membantu menjawab kuis kak Fath.
"Mungkin jadi," jawab Aliyah.
Luna yang sedari tadi diam tiba-tiba berkata, "Ahya Sholihin dan kak Sholihin Fath itu kakak beradik,"
Aliyah tampak terkejut. Aku tenang-tenang saja, karena kejadian di sekolah beberapa hari lalu sudah menjelaskan dengan baik.
"Berarti dia adik kak Fath?” tanya Aliyah penasaran.
"Ya, dan adik kandung," jawab Luna.
Ada yang janggal, kenapa ya?
"Aku permisi dulu," ucapku kepada Aliyah dan Luna.
"Kemana Li?” tanya Luna dan Aliyah bersamaan.
"Ada yang mau ku cari dulu," jawabku sekenanya.
"Hati-hati, Assalamu'alaikum," ucap Luna dan Aliyah bersamaan.
"Wa'alaikumussalam," jawabku.
Aku berjalan menuju kantin. Sepanjang jalan, aku mendengar orang berbisik-bisik.
"Kau tahu, siswa SMA Januari itu hebat sekali, gimana bisa dia sehebat itu?"
"Mungkin dia terlalu tekun matematika,"
"Bisa jadi,"
"Dia seperti sang legendaris Zakaria Ahya, dari sekolah yang sama,"
"Kok Zakaria Ahya tidak ada dalam daftar peserta lomba di pintu masuk acara ya?"
"Mungkin tak ikut?"
"Zakaria Ahya itu orang yang hebat, dan sepertinya Ahya Sholihin mengikuti langkahnya,"
"Ah, bisa jadi Zakaria nya yang mengajarkan,"
Kalimat terakhir yang ku dengar membuat ku terdiam. Apakah mungkin Zakaria Ahya masih ada? Kak Fath tidak pernah menunjukkan prestasi matematika yang seberapa, jadi tidak mungkin dia bisa mengajarkan Ahya semua ilmu sulit yang hari ini Ahya tunjukkan, kecuali Zakaria yang mengajarkannya kepada Ahya!
Atau mungkin jadi memang berkah dan rahmat dari Allah, karena kuasa Allah tak mengenal batas. Aku lebih yakin dengan yang terakhir.
"Amalia!" Terdengar suara teriakan, sepertinya suara Ahya.
"Ya?” tanyaku ke arah sumber suara.
"Kau dari mana saja? Aku mencari mu. Ini, ada titipan dari kakak mu, Kak Latief namanya kalau gak salah," ucap Ahya seraya memberikan beberapa kantongan plastik.
"Makasih," balasku sekenanya. Dia hanya tersenyum dan pergi meninggalkan ku.
Saat melihat senyum nya, aku merasa seperti melayang.
Astaghfirullah! Amalia, turunkan pandangan!
"Cie!" Terdengar suara di belakang ku.
Aku berbalik ke arah sumber suara, ternyata Dea meledekku.
"Gak lucu Dea!" Ucapku dengan nada bersungut-sungut kesal.
"Hahaha! Lihat wajahmu Amalia!” balasnya. "Merah merona!" Sambung Dea.
Cahaya dan Rahman tampak senyum, mencoba menahan tawa.
"Tak lucu Dea, tak lucu!” balasku kesal.
"Santai aja dong," balas Dea.
"Oke deh," balasku, mencoba menahan amarah.
Akhirnya, waktu pengumuman pun tiba. Sekarang dewan juri mengumumkan nilai hasil dan para juara.
"Juara tiga, jatuh kepada.... Tim 14, yaitu MA Ahmad Kabir! Dengan skor 525!"
Suara penonton bertepuk tangan.
"Juara kedua, jatuh kepada... Tim 2, yaitu SMA Empat Cahaya! Dengan skor 640!"
Suara penonton kembali bertepuk tangan bisa terdengar, kali ini lebih kencang.
"Juara pertama, jatuh kepada... Tim 1, yaitu SMA Januari! Dengan skor 680!"
Suara penonton bertepuk tangan dengan riuh dan kencang bisa terdengar. Bahkan lawan-lawan kami pun bertepuk tangan. Sepertinya banyak dari mereka yang menyorot ke kami dengan takjub.
Setelah penerimaan hadiah, trofi dan piala, aku, Luna dan Ahya berkumpul di halaman depan kampus menunggu jemputan. Aku memutuskan untuk sholat Zuhur bersama Luna, sementara Ahya menjaga barang. Dia bilang dia sudah sholat Zuhur duluan.
Setelah kami sholat Zuhur, saat kami kembali ke tempat kami, ternyata Ahya sudah memasukkan barang-barang kami ke mobil sekolah. Rupanya pak Abdullah datang untuk menjemput kami.
Bapak Abdullah membawa mobil melaju kembali ke sekolah. Jarak universitas dengan sekolah kami memang terbilang jauh, tapi kalau menang begini, gak apa-apa. Banyak dapatnya.
"Jadi, gimana lombanya?” tanya Pak Abdullah.
"Yah begitu lah pak. Kan namanya kami pak," ucap Ahya santai.
"Jadi, juara 1 ya?” tanya Pak Abdullah, sepertinya sengaja.
"Alhamdulillah pak, berhasil," balas Ahya.
Entahlah, tapi kalimat terakhir sepertinya pernah ku dengar sebelumnya dengan aksen yang mirip... tunggu...
Ya, ini adalah komentar Zakaria dua tahun lalu! Siapa kau sebenarnya, Ahya?