Bab 8. Otoriter

1993 Kata
Saat berjalan, kepala Meilani berputar-putar ia berusaha untuk mengejar Devano. Tapi tidak bisa, Devano malah berjalan mendahuluinya. mungkin Devano kesal padanya karena tadi saat bersilaturahmi ke rumah komandan, Meylani tidak banyak berbicara dan menjawab ucapan komandan dan istri komandan secara singkat. Dan itu membuat Devano malu, dan menyangkal Meylani begitu besar kepala. Padahal Meylani sedang merasakan kepalanya berputar-putar, ia juga merasa tubuhnya menggigil dan ketika keluar dari rumah komandannya, Devano pergi mendahului Melani meninggalkan Meilani di belakang. Saat kepala Melani terus berputar-putar, Meylani berjongkok, ia memegang kepalanya yang terasa semakin nyeri, dia melihat ke arah Devano yang sudah tidak terlihat. Rupanya, Devano sudah berbelok meninggalkan dirinya. Ia melihat ke sekelilingnya, tidak ada siapapun suasana tampak begitu sepi. “Ayah ... Ibu.” Hanya itu yang bisa Melani katakan. Saat seperti ini ia hanya ingat kedua orang tuanya 15 menit berselang akhirnya Meylani menguatkan dirinya untuk bangkit. Lalu setelah itu, ia kembali berjalan dengan pelan sambil memeluk tubuhnya terasa dingin. Akhirnya, Meylani sampai di rumah dinas yang mereka tempati, ia langsung membuka pintu dan ketika ia membuka pintu, ternyata Devano sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Wajahnya tetap dingin dan serius. Karena Meylani benar-benar tidak tahan dengan rasa pusingnya, ia langsung berjalan ke kamar, ia tidak ingin berbicara lagi terlebih dahulu dengan Devano. “Tunggu!” Melanie memejamkan matanya ketika Devano berbicara, Ia pun berbalik dan menatap Devano. “Lain kali, jaga sikap kamu. Jangan pernah mempermalukan saya lagi!” kata Devano dengan dingin. “Besok pagi keluar, bergabung dengan ibu-ibu Persit yang lain jangan sampai kamu buat saya malu lagi,” sambung Devano dengan sadis. Meylani tidak menjawab, ia lebih memilih untuk kembali berbalik lalu melanjutkan langkahnya dan setelah itu, ia membaringkan tubuhnya diranjang. Ia menarik selimut dan menyelimuti tubuhnya. Devano menggeleng, saat Meylani masuk kedalam kamar, karena menurut Devano itu sungguh tidak sopan.Devano melihat jam di pergelangan tangannya, kemudian ia bangkit dari duduknya, ia mengambil tas yang berisi peralatan fitness. Lalu keluar dari rumah dinasnya, dan masuk ke dalam mobil, lalu menjalankan mobilnya, ia berencana untuk ke tempat gym guna melepas semua amarahnya. 15 menit kemudian, akhirnya Devano sampai. Ia langsung keluar dari mobil, kemudian membawa tasnya untuk masuk. Saat masuk, langkah Devano terhenti ketika melihat Nakesya sedang berlari di Treadmill. Nakesya menggunakan kecepatan penuh untuk berlari, beberapa kali Devano melihat Nakesya mengusap matanya. Perasaan Devano campur aduk. Rasanya, ia begitu ingin menenangkan Nakesya yang tampak hancur. Ia tahu, ini masih begitu menyakitkan untuk kekasihnya, atau yang sekarang menjadi mantan kekasihnya, begitupun dengannya. Setiap ia kesal pada Meilani karena Melani lambat. Devano selalu menyesal telah mengambil langkah ini. Harusnya dia tidak bermain-main dengan pernikahan, apalagi ia menikahi wanita yang labil. Saat Devano masih terdiam Nakesya menghentikan mesin treadmill, kemudian berusaha mengatur nafasnya. Ia menggelap keringat setelah itu turun dari mesin treadmill. Saat ia akan berjalan, Nakeysa menghentikan langkahnya, kemudian menatap Devano yang juga sedang menatap ke arahnya. Nakeysa ingin sekali berlari, menghampiri lelaki itu. Memeluknya seperti biasa, tapi semua sudah berbeda. Akhirnya Nakeysa pun berbalik, memutuskan untuk beristirahat di ruangan lain. satu jam kemudian Devano sudah selesai dengan acara berolahraganya, Ia pun segera merapikan semuanya dan berencana untuk membilas tubuhnya. “Devano ...” tiba-tiba terdengar suara Nakeysa dari arah belakang, hingga Devano memejamkan matanya. Mati-matian, Ia yang menghindari mantan kekasihnya agar tidak goyah. Tapi sekarang, Nakesya malah memanggilnya. Nakesya sengaja menunggu Devano. Rasanya, ia tidak sanggup menahan semua yang bergejolak hingga Ia memutuskan untuk menunggu Devano Devano menoleh kemudian berbalik. “Nakeysa!” panggil Devano dengan lirih, wajahnya berbinar penuh Nakesya penuh cinta. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan Nakeysa dalam waktu yang singkat, sedangkan Nakesya adalah wanita yang sangat ia cintai, dan sudah menemaninya selama 5 tahun. tanpa basa-basi Nakesya langsung maju kemudian memeluk Devano, membuat tubuh Devano menegang. “Devano, aku tidak bisa seperti ini. Aku tidak mau seperti ini!” ucap Nakeysa, ia kembali menumpahkan tangisannya, hingga air mata membasahi wajah cantiknya. Devano memalingkan tatapannya ke arah lain. Rasanya, Ia juga tidak sanggup melihat Nakesya seperti ini. “Nakesya jangan begini!” kata Devano. dia berusaha untuk memegang teguh kesetiaannya. Ia berusaha melepaskan tubuh Nakeysa dari tubuhnya. Namun, Nakesya malah memeluknya semakin erat. Tangisan Nakesya begitu mengetuk hati Devano. telinga Devano rasanya begitu sakit ketika mendengar pilunya tangisan wanita yang kini menjadi mantan kekasihnya, dan sedetik kemudian Devano membalas pelukan Nakesya. lelaki itu terbuai dengan perasaannya sendiri, ia melanggar teguh kesetiaan yang selama ini ia pegang. ••••• Meilani meremas kepalanya kala kepalanya semakin berputar-putar. Tubuhnya sudah dialiri keringat dingin, wajahnya sudah memucat tidak ada obat di rumah dinas yang ia tempati. Barusan Meylani sempat tertidur Namun, ia hanya tertidur dengan waktu singkat. Setelah kembali terbangun, Meylani melihat jam di dinding ternyata waktu menunjukkan pukul 09.00 malam, Meilani mengambil ponselnya. Ia menelepon Ayah dan ibunya. Namun, ayah dan ibunya tidak mengangkat panggilannya, begitupun Bara dan Ayla yang tak lain ayah kandung dan ibu tirinya, yang juga tidak mengangkat panggilannya. Keluarga Meilani sengaja tidak mengangkat panggilan Meilani, agar Meilani tidak terus mengeluh. “Aaaaa!” Meilani berteriak sekencang-kencangnya, ia membanting ponselnya hingga layar ponselnya pecah. Ia benar-benar tidak sanggup hidup seperti ini. Perlahan Meylani pun bangkit dari berbaringnya dan memutuskan untuk pergi keluar untuk mengambil air. Setelah minum, Meylani, mengedarkan pandangannya. Tidak ada makanan, tidak ada cemilan di rumah dinas yang di tempatinya dan itu benar-benar membuatnya gila. Tak lama, terdengar suara deru mobil Devano Rupanya lelaki itu baru pulang dari tempat gym. kemudian pintu terbuka, muncul sosok Devano hingga Meylani menoleh. “kepalaku pusing, perutku lapar, kak!” tanpa basa-basi, Meylani langsung mengatakan Apa yang dirasakan olehnya. Seperti biasa, Devano sama sekali tidak bereaksi, ia masuk ke dalam kamar kemudian ia membuka kopernya. Lalu mengambil kotak obat kecil yang ada di dalam koper tersebut. “Makan obat Ini!” kata Devano. Tidak ada kehangatan dalam nada suaranya. Dengan cepat, Meylani mengambil obat itu dan meminumnya. “Kak aku lapar,” ucap Meylani dengan nada yang lirih. Tak pernah terbayangkan olehnya dia akan seperti ini, bahkan ia seperti pengemis yang harus meminta makan pada suaminya. Devano mengusap wajah kasar. “ Seharusnya kamu bilang dari tadi. Apa kamu tahu tidak tahu saya lelah,” balas Devano dengan sadis, inikah yang dinamakan akan bertanggung jawab, inikah yang akan dinamakan akan menjadi suami yang baik seperti ucapan Devano saat dulu “Tunggu sebentar, saya akan belikan keluar!” Devano keluar dari rumah dinasnya, sedangkan Meilani langsung merebahkan kepalanya di kursi, ia begitu lemas tidak bertenaga. Rasanya ia sudah tidak bersemangat menjalani hidupnya, ia benar-benar merasa ditinggalkan oleh keluarganya. “Aryan!” dalam setiap sedihnya, ia selalu menggumamkan nama Aryan. Lelaki terbaik yang pernah ia kenal, yang selalu memperlakukannya bagai ratu dan selalu mengerti dirinya. “ Saya akan berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu!” Melani berdecih saat mengingat kata-kata Devano saat itu. 20 menit kemudian, terdengar suara deru mobil. Devano sudah kembali, hingga Melani langsung menegakkan tubuhnya, dan Devano masuk ke dalam rumah sambil membawa kresek. Devano mengambil piring, kemudian Ia membuka kotak. Setelah itu, ia menuangkannya pada piring dan memberikannya pada Meilani. “Ini makan dan habiskan. Besok pagi, kamu harus ikut dengan kegiatan ibu Persit, karena ada acara. Jangan membuat saya malu lagi, berbaur dengan mereka dan jangan seperti tadi!” ” Belum reda rasa sakit kepalanya, sekarang ia harus mendengar gerutuan Devano, membuat kepalanya semakin nyeri. Setelah mengatakan itu, Devano pun langsung pergi ke kamar. Ia berencana untuk tidur terlebih dahulu, karena dia besok harus berdinas pagi. 2 jam kemudian, Meylani terbangun dari tidurnya. Sedari tadi makan, Meilani tanpa sadar tertidur hingga saat ia bangun, Meylani menegakkan tubuhnya, kemudian ia bangkit dari duduknya. Lalu berjalan ke arah kamar. Saat berada di kamar, ia melihat Devano yang sudah memejamkan matanya. Lagi-lagi hati Melani berdesir pedih, 2 minggu ini mereka memang selalu tidur bersama. Tapi mereka selalu tidur saling memunggungi. Jika sudah begini, sekarang ia harus bagaimana, ia tidak mungkin meminta pada Devano , ataupun menggunakan uang suaminya karena ia yakin Devano mengontrol pengeluarannya dan ia yakin Devano pasti mengetahui jika ia menghambur-hamburkan uang. Meylani kembali berbalik. Lalu setelah itu, Ia memutuskan lagi untuk keluar dari kamar. Meylani kembali menundukkan dirinya di kursi yang tadi. Setelah dia duduk, ponselnya berdering. Satu panggilan masuk kedalam ponselnya, ia tidak mengetahui siapa yang menelponnya, karena layar ponselnya retak.. Walaupun tidak terlihat, Meylani menekan bagian yang ia yakini itu adalah tombol hijau. “Hallo!” panggil Meylani, ia berharap yang meneleponnya adalah Aryan. “Hallo!” panggil Meylani lagi. Tidak ada yang bersuara, hanya terdengar suara deru nafas, membuat jantung Meylani tiba-tiba berdegup kencang. “Aryan, Apakah ini kau?” tanya Meilani tiba-tiba panggilan terputus, membuat Meilani menutup wajahnya seraya menangis tergugu. •••• Aryan mematikan panggilannya saat Meylani menyebut namanya, ia menjambak rambut kasar saat mendengar nada Melani terdengar pilu. Sial! Ia kembali menguruk dirinya sendiri, seandainya saat itu ia tidak terbang ke luar negeri, ia tidak akan seperti ini. Sebenarnya Aryan tidak berniat untuk membatalkan ijab kabul yang akan dilakukan. Namun saat dini hari, saat ia bangun dan bersiap temannya menelpon dan mengatakan bahwa temannya tidak jadi pergi ke luar negeri dan memberikan tiket masuk pada Aryan. Saat itu, Aryan dilanda kebingungan. Di satu sisi, ia akan menikah. Tapi sisi lain, klub bola favoritnya akan tanding dan ia tidak bisa menyia-nyiakan hal itu, karena sudah lama sekali ia ingin menonton klub bola itu secara langsung, dan saat kemarin klub bola itu akan bertanding Aryan tidak kebagian tiket. Tapi saat ia akan menikah, tiba-tiba temannya memberikan tiket itu padanya. ijab kabul akan dimulai. Tapi Aryan tidak bisa mengabaikan keinginannya yang sudah sedari dulu ia pendam, dan pada akhirnya, Aryan memilih pergi di hari pernikahannya hanya untuk menonton klub bola kesayangannya. Aryan berpikir, entah kapan dia bisa menonton lagi klub bola kesayangannya secara langsung, karena itu semi terakhir dan dia berpikir mungkin pernikahan bisa ditunda. Dan sekarang Aryan, menyesali keputusannya, apalagi saat ia mendengar dari temannya yang datang, bahwa Devano menggantikannya. Sekarang, dia tidak bisa pulang. Ayahnya akan membunuhnya jika ia pulang, dan barusan rasanya jantungnya Aryan berdebar saat mendengar suara Meilani, ia begitu rindu calon istrinya yang sekarang menjadi kaka iparnya. Tapi dia tidak bisa berbuat banyak, untuk berbicara lewat ponsel saja ia tidak berani. ••• dua hari kemudian Meylani terdiam di kantin, sedari tadi ia melamun. Hari ini ia sudah mulai berkuliah lagi, ia melamun memikirkan bagaimana caranya Ia mendapat ponsel baru lagi, sedangkan ponsel lamanya sudah tidak bisa terpakai. Devano memang memberikan kartu kredit padanya. Tapi rasanya Melani tidak seberani itu untuk menggunakannya untuk membeli ponsel, ia takut Devano emosi lagi sama seperti kemarin. Uang bulanan yang diberikan Devano pun hanya sedikit, uang bulanan yang ia dapat dari Devano adalah uang mingguan yang selalu ia dapat dari orang tuanya. Devano sudah memberikan ultimatum keras padanya, agar dia tidak berfoya-foya dan itulah yang membuat Meylani bingung. Ia bisa saja meminta atau datang pada ke kantor ayah tirinya, atau Ayah kandungnya, untuk meminta ponsel baru. Tapi sikap keluarganya setelah dia menikah benar-benar membuat Meylani kecewa, hingga rasanya Meylani begitu enggan menemui keluarganya. “Hei!” tiba-tiba terdengar suara Hana yang tak lain adalah sahabat Meylani menyadarkan Meylani dari lamunannya. “ Kau kenapa?” tanya Hana, Meylani menggeleng. “Aku hanya lelah,” jawabnya. “Apa kau sudah bermain dengan suamimu? Bagaimana rasanya bercinta dengan calon kakak iparmu?" “Mulutmu Hana!” kata Meilani, membuat Hana tertawa Hana mengeluarkan ponselnya Kemudian menyodorkannya pada Meylani. “Besok aku ulang tahun, belikan aku ini!” Tiba-tiba d**a Meylani bergemuruh saat mendengar permintaan Hana. Sedari dulu, setiap mereka ulang tahun mereka akan memberikan kado dengan keinginan mereka masing-masing. Jika Melani ulang tahun, ia akan meminta sesuatu pada Hana, begitupun dengan Hana dam sekarang, Meylani bertambah bingung. Dua bulan lalu saat ia ulang tahun, Hana memberikannya hadiah yang berharga fantastis dan sekarang rasanya ia tidak tega jika harus mengatakan yang sejujurnya. Meilani mengambil ponsel Hana, lalu ia menelan saliva saat melihat tas seharga 32 juta. “Baiklah,” jawab Meylani. Pada akhirnya,.ia pun menyetujui keinginan Hana dia akan mencoba berbicara baik-baik pada Devano.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN